
Terlalu fokus mencari kesamaan pada suara priai itu, Valerie tidak menyadari jika mereka sudah selesai bicara. Anna membuka pintu kamar mandi dan memintanya untuk keluar.
"Orang tadi yang membawaku ke sini."
"Oh, kau dibawa dari mana?"
"Indonesia."
"Hah!?"
Teriakan Valerie itu mengagetkan Anna, refleks dia menutup mulut wanita di depannya.
"Jangan terlalu keras!"
"Oh, maaf! Sebaiknya aku turun, jangan sampai orang tadi melihatku." Valerie bergegas keluar, sebelum membuka pintu dia berbalik. "Semoga kita bisa ketemu dengan leluasa, jaga dirimu baik-baik!" dia melambai meninggalkan Anna yang tersenyum membalas perkataan Valerie.
Valerei kembali ke ruangannya, memilih untuk diam dari pada ikut campur adalah pilihan terbaik saat ini. Sudah hampir 1 minggu dia meninggalkan kediaman Darren, melihat jam di pergelangan tangannya mengingatkan dia bahwa suami tercintanya itu akan berada di ruang kerjanya. Apa dia makan dengan baik atau dia sedang sakit atau tidak, Hyuk tidak mau berbagi informasi. Valerie cemberut mengingat Hyuk menyuruhnya bertanya sendiri, padahal dia tahu permasalahan. Walau dia tahu itu bercandaan tapi Valerei cukup gemes ingin menyentil ulu hatinya.
Tiba-tiba merasa mual. Dia berlari ke kamar mandi dengan tangan yang membekat mulutnya. 20 menit berlalu, barulah dia selesai dengan urusannya. Kepalanya pusing, dia bersandar pada dinding merasakan penglihatannya buram. Beberapakali menggeleng agar kembali normal, tetapi tidak membuahkan hasil. Valerie menutup matanya sebentar lalu kembali menajamkan indra penglihatannya dan melangkah ke arah tempat tidur, baru dua langkah dia sudah terjatuh tidak sadarkan diri.
...🖤...
Mansion Lee
Darren tidak tenang, dia membuka satu persatu dokumen tetapi tidak ada yang dia baca. Sejak tadi, pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu istrinya. Kesal tidak menemukan wanita itu 1 minggu lamanya, dia melempar dokumen tadi ke depan. Are yang berdiri tidak jauh darinya melangkah memungut semuanya dan menyimpannya di meja kecil agak jauh dari Darren, takut-takut bosnya melempar lagi dan dia harus memungutnya lagi, begitu seterusnya. Lebih aman disimpan agak jauh, dalam hati Are.
"Bagaimana? ini sudah 1 minggu!" dia berbicara pada Are, marah.
"Belum ada Tuan," Are menimbang apakah dia harus mengatakan kalimat berikutnya atau dia simpan sampai semuanya pasti.
Mendengar kalimat Are menggantung. "Bahkan jika informasinya tidak penting, laporkan semuanya!"
"Sebelum Nyonya menghilang, beliau menerima paket. Tapi, saat kamarnya digeledah, saya tidak menemukan paket itu!"
"Valerie tidak pernah pesan paket! siapa yang terima?"
"Sang, Tuan. pegawal area depan."
"Minta dia menemui say--," Darren tidak melanjutkan permintaannya, baru saja terlintas ucapan Valerie, 'tidak boleh ada wanita yang masuk ke ruang kerjanya apapun alasannya!" dia ingat Valerie membuat penekan.
"Lakukan tugasmu Are," setelah itu Are keluar, Darren sibuk memukirkan kemungkinan lainnya agar istrinya ditemukan.
...🖤...
Bangunan ala Eropa berdiri tegak di atas lahan luas, siapapun tahu orang yang menempati rumah itu pastilah bukan sembarangan. Dua wanita sedang mengobrol di halaman penuh bungan dan pohon. Yang satu terlihat gembira dan yang lainnya nampak khawatir.
"Kalau kak ipar tahu kau masih menyukai pria itu, dia akan membuangmu! Bukannya pria yang kau sukai itu sudah menikah?" tanya seorang wanita berambut hitam pekat duduk di atas kursi roda.
"Walau aku harus kehilangan nyawaku, Darren tetap milikku! lagipula pernikahan keduanya belum diketahui publik. Itu berita baik, Darren hanya harus mengumumkan pernikahan kami!"
__ADS_1
"Kau tidak bisa kembali ke Korea, bagaimana bisa mendekatinya!?"
"Bagaimana jika Frederick tahu Valerei sudah menikah dengan orang yang paling dia benci? keuntungan yang aku dapatkan tidaklah sedikit."
Wanita di sampingnya benci melihat senyum Lim Sujong. Dia merasa kakaknya tidak pernah bersyukur atas semua yang dia miliki. Cantik, cerdas dan yang penting dia tipe wanita yang disukai pria. Sewaktu mereka sekolah, kakaknya adalah primadona, memangnya apa yang menyebabkan pertikaian dua sahabat? Frederick dan Darren. Dua pengusaha bertengkar hanya untuk wanita ular ini sungguh luar biasa, pikir Inha.
Tetapi dia tidak bisa melawan kakaknya, sejak kecil lim Sujong menggantikan orang tuanya merawat dan menafkahi dirinya, dia yang terlahir cacat harus bergantung pada kursi roda. Diam-diam, Inha selalu berdoa agar kakaknya kembali menjadi pribadi yang baik, tidak terjerumus pada nafsu sesaat yang akan membawa kehancuran untuk diri sendiri.
...🖤...
Hyuk melihat Valerie tertidur di kamar. Wajahnya pucat, hampir saja kejadian tadi berbahaya untuk dia dan anaknya. Sakitnya temannya ini, apa karena terkait dengan pembicaraan mereka sebelum itu?
Mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya.
Hyuk dan Valerie duduk di meja makan. Beberapa hari tinggal di kediaman Hyuk, mereka jarak sekali bertemu dan tempat yang memungkinkan adalah meja makan.
"Bagaimana Leon?" tanya Valerie.
"Aku sudah bicara dengan Rey. Bukti bahwa anaknya sedang di ikuti sudah aku perlihatkan." katanya. Hyuk memegang ponselnya dan terlihat sibuk. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan jika berbicara dengan Valerie.
"Kau bilang situasinya?"
"Klien yang sakit hati, aku hanya bilang seperti itu."
Valerie menganggukkan kepala, dia tidak ingin Elena ikut khawatir padanya. Biarkan fokus dia ada pada keluarga kecilnya. "Terima kasih,"
"Tapi, kau ada masalah?" Valerie lanjut berbicara.
"Masalah apa? tidak ada." jawabnya.
"Oh, kau terlihat sibuk? kerja saja!"
"Tidak apa-apa, ini sudah selesai." ujarnya, dia mengangkat kepalanya dan menyimpan ponsel di atas meja.
"Hyuk?"
"Kenapa?"
"Kau, tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?"
Hyuk tidak menjawab, ekspresinya tidak berubah.
"Memangnya apa yang bisa kusembunyikan darimu!?" Hyuk tertawa kecil.
"Kemarin, kau tidak tidur di kamarmu? pindah ruangan?"
Valerie melihat Hyuk tidak naik ke kamarnya setelah pulang kerja, bahkan jika diperhatikan, dia tidak pernah menginjakkan kaki ke lantai 2. Dia baru menyedari, setelah pertemuannya dengan Aira, wanita itu.
Hyuk mengangguk.
__ADS_1
Ketukan dia meja makan, membuat Hyuk tidak nyaman.
"Kau tidak menyembunyikan wanita di ataskan?" sergap Valerie.
Dia terdiam mendapat seragan mendadak. Hyuk kembali melihat Valerie. "Memangnya aku Darren!?"
Mendengar itu, Valerie tersedak, lalu setelah itu tertawa kecil dan melempar Hyuk dengan serbet. Tidak menyangka akan mendapatkan seragan balik dari temannya.
"Kau bagaimana? Darren hampir gila mencarimu!"
"Apa sudah aman? bagaimana kalau orang itu mengganggu keluarga kita lagi?"
"Leon baik-baik saja."
"Itu karena aku menuruti kemauannya untuk meninggalkan kediaman Lee, makanya Leon tidak di ganggu!"
"Valerie! Rey, Larry, Ha Jonn, Fed dan aku, lalu suamimu. Kau pikir kita tidak memiliki kemampuan? karena itu kau khawatir?"
"Bukan begitu. Karena masalahku, keluargaku terancam bahaya, aku hanya merasa itu tidak benar!"
"Lebih baik dari pada menghindar?"
"Setidaknya orang lain tidak terluka!"
"Tapi Darren terluka!?"
"Leon masih kecil, kalau sampai dia...(menghela nafas) aku tidak tahu bagaimana menghadapi Elena."
Hyuk diam, rasa sayangnya pada Leon mungkin tidak seberat Valerie. Bagaimanapun dialah yang membesarkan Leon bersama Elena dengan susah payah.
Tapi kau dan anakmu terancam terluka, kalau itu terjadi bagaimana Darren bisa bertahan? Hyuk hanya bisa membatin melihat Valerie.
"Kalau kau terluka?"
"Aku bisa menghadapi semuanya, tapi tidak dengan melibatkan Leon!"
"Lalu Darren?"
Terbalik, sekarang Valerie yang terdiam.
"Aku mengerti kau mengkhawatirkan Leon, tapi bagaimana dengan Darren? kau pikir dia tidak terluka? Aku berada dipihakmu, kau juga tahu!"
"Ini!" Hyuk memberikan kantongan lalu dia pergi.
Tinggallah Valerie seorang diri merenung sembari melihat kantongan yang diberikan Hyuk, tangannya meremas kantong itu keras.
.
.
__ADS_1
.