The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 122 : Teman seangkatan


__ADS_3

Tiga orang berdiri di depan Museum sains yang berada di kawasan Bangchuk-ro, Gyeyang-gu, Incheon. Valerie mendengar anak bisa bermain sembari belajar di sana. Jadi dia melakukan reservasi online sebelum datang agar lebih mudah. Mereka melihat bangunan itu agak lama lalu Valerie melirik Leon. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan anaknya.


"Apa Leon mau masuk?"


Leon masih diam, setelah itu dia mengangguk. Darren melihat istrinya sembari memegang tangan Leon. Valerie yang sibuk karena ponselnya terus berdering meminta mereka masuk lebih dulu karena dia harus mengangkat telepon. Darren setuju, dia menggandeng Leon ke dalam.


Leon terpesona melihat bagaimana interior bangunan itu. Dia melihat Darren lalu sang ayah mengangguk. Setelahnya dia berlari pelan ke arah layar yang menampilkan pesawat. Leon fokus menonton hingga seorang anak laki-laki berusia 8 tahun mendekatinya.


"Hai adik kecil," Sapa dia.


Dari belakang Darren melihat keduanya. Dia membiarkan Leon berinteraksi dengan anak itu.


"Hallo!" Jawab Leon sopan.


Anak laki-laki itu tersenyum lebar melihat Leon dan berbicara. "Disana ada pertunjukan robot kau mau melihatnya?" Tanya dia.


Leon langsung menganggukkan kepala, dia digandeng ke kerumunan orang. Darren mengikuti mereka tanpa berniat ikut campur. Hanya memandang dari belakang.


Tampak anak laki-laki itu menunjuk sebuah robot yang berada di arena dengan 3 robot lainnya yang bergerak dengan lincah. Dia terpesona dan bertepuk tangan pelan agar tidak menganggu anak yang lain. Pertunjukan singkat, lalu dia dibawa pergi ke tempat lainnya.


Sekarang Leon berdiri di depan area hewan. Dia masuk dan kembali sekitar 5 menit. Dia berlari dan menunjukkan gambar kepada Darren. "Wah, Leon sudah pintar menggambar! Bagus!" Darren mengelus rambut Leon dengan sayang.


Anak laki-laki yang mengajaknya tadi sudah ditidak ada. "Kakak tadi mana?" Tanya Darren melihat anaknya keluar sendiri.


"Kakak tadi? Leon juga tidak tahu sepertinya sudah pulang. Tiba-tiba dia menghilang." Jawab anaknya.


Darren mengangguk mengiyakan, dia mengajak Leon melihat bagian tubuh manusia. Saat dia berjalan matanya menangkap sosok istrinya sedang berbicara dengan seorang pria. Terlihat familiar tapi dia tidak mengenal orang itu. Kakinya otomatis berhenti mengundang perhatian Leon. Anak laki-laki yang digandeng mendongak, dan mengikuti arah pandang Darren. Ekspresinya sama persis seperti Darren.


Valerie merasa dingin entah mengapa. Ada aura yang dia tidak bisa menjelaskan. Dia tersenyum kepada orang di depannya yang terus berbicara. Matanya berkeliaran sesekali melihat sekeliling dan saat itu dia melihat Darren dan Leon yang melihatnya dengan tajam. Tahu penyebab aura dingin ini datang dari mana, dia menghentikan pria tadi berbicara dan mengajaknya ke tempat suami dan anaknya berada.


"Bagaimana? apa Leon suka?" Tanya Valerie tapi Leon terus menatap pria yang berada di samping sang ibu tanpa menjawab.


Melihat tatapan anaknya dia memegang lengan suaminya. "Oh maaf, ini Kekasihku Lee Seok Hoon dan anakku Leon Lee."

__ADS_1


Pria itu tampak terkejut, sangat. Darren dapat melihat itu dengan jelas dan membuatnya cemburu. Masih dengan ekspresi terkejutnya pria itu mengangkat tangan ingin bersalaman dengan Darren. "Im Siyoon" Kata dia.


Namun, lama tangan itu melayang tanpa di gubris oleh Darren. Terasa canggung, Valerie mendekatkan diri kepada suaminya dan menarik lengan prianya sedikit. Dia tidak ingin image suaminya jelek di hadapan temannya. Baru saja orang itu berniat menurunkan tangannya, tangan Darren sudah menggenggamnya. "Lee Seok Hoon. Darren Lee!" Tegas.


"Siyoon adalah teman kuliahku, satu angkatan"


Pantas saja, dalam hati Darren. Dia seperti mengenali pria itu tapi dia tidak mengingatnya. Ternyata juniornya.


"Aku tidak tahu kau sudah punya anak dan kekasih!"


Lega, pria itu menunjukkan ekspresi lega saat Valerie menyebut Darren Kekasih. Aku kira suami.


"Ah, itu cerita yang panjang!"


Lalu seorang anak datang menarik tangan Siyoon. "Ayah, siap--? Oh!"


Dia kaget melihat Leon begitupun Leon dan Darren. Anak yang baru saja memanggilnya dengan sebutan ayah adalah anak laki-laki yang menemani Leon tadi.


"Ada apa?" Tanya Siyoon kepada anak itu.


"Leon!"


"Ah, iya Leon. Aku mengajaknya main tadi. Aku pikir kau sudah pulang, saat aku melihat tempat tadi kau sudah tidak ada!" Jelasnya.


Leon tidak menjawab anak itu, dia menarik tangan Darren. "Papi, Leon lapar! Ayo!"


Dia harus membawa Mami dan Papinya pergi. Melihat tatapan mata pria itu membuatnya tidak nyaman. Dia tidak suka.


"Oh iya, maaf kami deluan! anakku sepertinya sudah lelah." Sebelum Valerie bergerak mengambil tangan Leon. Pria itu menghentikannya.


"Kita juga akan makan, kau mau makan dimana? mungkin kita bisa makan bersama?"


Darren menggengam tangan Valerie erat. Sang wanita tahu jika dia tidak sengera pergi. Dia yakin, Darren akan memukul wajah Siyoon. Valerie ingin menolak tapi pria itu kembali berbicara.

__ADS_1


"Kita sudah lama tidak bertemu, hanya makan siang tidak mungkin memberatkan yakan?" Katanya tegas.


Siyoon tahu bagaimana dua pria didepannya tidak menyukai dirinya. Dia juga seorang psikolog. Jurusan yang sama seperti Valerie, Darren dan Hyuk.


"Dimana Leon ingin makan?" Tanya Darren, berusaha tenang.


Mereka berada di cafe tidak jauh dari Museum. Cafe itu adalah cafe favoritnya jika Rey mengajak dia ke Incheon. Makanan sudah disajikan. Valerie membantu Leon dengan telaten mengundang rasa cemburu anak laki-laki itu. Tanpa disadari dia bersuara yang dapat di dengar. "Aku iri, dia punya ibu!" Katanya.


Sang ayah tersenyum kecut. Valerie dan Darren saling pandang.


"Ibu anakku sudah tidak ada. 5 tahun yang lalu dia pergi setelah melahirkan anak kedua kami!" Katanya lalu tersenyum, dibalik senyum itu ada rasa sedih dan penyesalan.


"Aku turut berduka." Ujar Valerie.


"Bibi. Bisa kau memotong dagingku juga, seperti kau melakukan untuk Leon?" Tanya Jihoon.


Valerie terenyuh. Dia juga merindukan ibunya. Darren dapat melihat kesedihan di raut wajah sang istri. Valerie lalu menatap Darren. Dia tidak ingin Darren menjadi salah paham jika dia langsung melakukannya. Darren mengangguk memberinya izin, lalu dengan cekatan Valerie membantu Ji-hoon. Anak laki-laki itu tersenyum lalu berterima kasih.


Leon selalu melihat Valerie dengan kacamata transparan. Wanita yang membesarkan dirinya selalu terlihat menawan dan apa adanya. Dia tidak merasa cemburu ataupun iri pada sikap Valerie terhadap anak lainnya. Karena bagi Leon Valerie selalu berbeda dari orang lain begitupun dirinya dimata Valerie. Leon tersenyum saat Valerie menatap matanya.


Mereka makan dengan baik, sesekali bercanda ria. Jihoon bercerita tentang sekolah barunya begitupun Leon. Valerie baru mengetahui fakta tentang teman kuliahnya itu. Dia dan istrinya dulu tinggal dia Busan lalu pindah ke Seoul. Barulah untuk urusan pekerjaan dia membawa Jihoon ke daerah Incheon sekaligus berkunjung ke museum sains tadi.


Siyoon juga membeberkan siapa sosok ibu dari Jihoon. Lee Boram. Sosok primadona satu tahun dibawahnya. Valerie dan Darren mengenalnya. Semua orang, walau dia alumni juga mengenal baik sosok Boram. Valerie tidak menyangka bahwa pria yang mendapatkan cinta Boram adalah Siyoon. Jika dia pikirkan, mereka pasangan yang serasi. Boram ceriah, semua orang menyukai karakternya sedangkan Siyoon lebih cuek.


"Ah, Boram pasti memiliki waktu sulit saat kalian pacaran! Awuh, kau sudah seperti ikan kering yang dijemur bertahun-tahun."


Siyoon tertawa, tawa lepas. Dia tahu dirinya, semua orang selalu menegurnya seba sikap kaku dan cueknya melewati batas. "Aku juga berpikir seperti itu Valerie, seharusnya aku lebih baik padanya. Kau tahu, terkadang penyesalan itu lebih menakutkan dari apa yang kita bayangkan."


Entah mengapa mendengar itu Darren menunduk.


Valerie mengangguk, dia setuju. Mereka berbincang-bincang lebih lama dari pada waktu yang mereka tetapkan. Sebelum berpisah, Leon dan Jihoon saling bertukar alamat rumah dan nomor telepon rumah. Mereka belum mendapatkan ponsel pribadi sebab masih kecil.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2