
Valerei terbangun dengan posisi meringkuk memeluk diri sendiri. Dia sudah menangis beberapa jam lalu tertidur karena lelah. Saat bangun ada yang tidak nyaman dibagian perutnya ditambah kepalanya terasa berat.
Dia menelepon kamar Are menggunakan telepon hotel. "A--re" Valerei memanggil Are terbata-bata, tangannya meremas seprei dengan kuat, rasa sakit membuat keringatnya berjatuhan.
...🖤...
Are mendengar bunyi telepon. "Hallo" dia mendengar suara pelan terbata memanggil namanya. "Nyonya?" dia melirik bosnya yang juga sedang melihatnya.
Darren yang berada di sana mendengar Are lantas dia berbalik. Dia berdiri, mengaktifkan sepiker di telepon itu. Darren dapat dengan jelas mendengar suara erangan dari balik sana. "Are. perut---" tut tut tut, teleponnya terputus.
Darren sudah berlari keluar saat mendengar Valerei mengatakan perut, bahkan saking cepatnya Are tidak bisa mengejarnya. Liftnya sudah naik. Dia dan Pak Shin berlari lewat tangga darurat, saat berada di depan kamar pintunya sedikit terbuka, mereka menunggu.
.
Darren membuka pintu dengan tidak sabar, dia berlari masuk melihat istrinya kesakitan di tempat tidur. Darren menyibak selimut, jantungnya terasa akan keluar saat dia melihat ada darah. "PAK SHIN SIAPKAN MOBIL!!" Darren berteriak lalu Pak Shin pergi dengan cepat. Tidak butuh waktu lama dia langsung membungkus istrinya dan menggendongnya keluar. Are berlari disampingnya.
Di depan pintu IGD, Darren tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mondar-mandir. Bayangan noda darah tadi membuat takut, takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya. Dokter dan seorang perawat keluar dari IGD. "Bagaimana istriku, Yu ra?"
"Kita bicara di kantorku." Darren melihat ruangan tempat istrinya ditangani, dia khawatir.
"Ada suster, Valerei akan dipindahkan ke kamar perawatan." Dia mengangguk dan mengikutinya.
Ruangan Dokter Han Yu Ra
"Jadi istriku?"
"Dia tidak boleh stress Darren, aku sudah bilang sejak awal, keadaan istrimu tidak baik-baik saja." Dia sudah lama berteman dengan Darren, sudah sejak lama keluarganya yang berprofesi sebagai dokter menjadi dokter pribadi keluarga Lee.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Darren
Yu ra bisa melihat raut khawatir dari pria di depannya. "Jika terjadi hal seperti ini lagi, aku tidak bisa menjamin." Ucap Yu ra tegas, dia menghela nafas. "Aku tahu keluargaku berbuat salah pada istrimu, memohon maaf pun aku tahu akan sia-sia. Semuanya sudah terjadi. Jika bisa mengulang, aku berharap mereka tidak berbuat hal yang melanggar." Ucapnya lagi, karena beban itu dia menjadi tidak bisa menghadapi Valerei. Darren tidak ingin membahas itu, dia mengangguk dan pergi.
Darren marah, jelas. Dia ingin memenjarakan orang tua itu, namun memikirkan bagaimana ibunya akan ikut terjerat, semuanya buyar. Gelisah Darren dengan pikiran bagaimana nasib rumah tangganya jika Valerei tahu apa yang terjadi. Terlebih lagi, Valerei bukanlah wanita lemah yang akan ikut semua perkataannya. Dia wanita mandiri.
Semua pikiran dari A hingga Z bersarang di kepalanya, membuatnya pusing. Dia tahu, tidak mungkin menyembunyikan ini terlalu lama, Valerei akan sadar jika ada yang berbeda dari tubuhnya.
Beberapa meter darinya, dia melihat Are sedang berbicara dengan bawahannya, pembicaraan yang serius. Samar-samar, dia dapat mendengar percakapan Are "Perketat, tidak boleh ada informasi yang keluar." Sudah lama Are bekerja bersama Darren, tentu saja, dia sudah tahu cara kerja bosnya.
__ADS_1
"Tuan." Salam para pengawal melihat Darren berjalan ke arah mereka. Darren mengangguk dan memerintahkan mereka mundur beberapa meter. Are dengan sigap meminta mereka kembali ke posisi masing-masing.
...🖤...
Wanita itu terbaring dengan infus yang menancap di tangannya. Pucat, wajahnya.
Darren menggenggam tangan istrinya. mengelus kepalanya, "Valerei, apa yang harus kulakukan?" dadanya terasa sakit. Harusnya dia bisa memilih, bagaimanapun ibu dan dokter Han bersalah. "Bagaimana aku harus mengatakan semuanya kepadamu?"
Masa lalu itu selalu memberatkannya, dia berjanji akan melindungi ibunya tapi Valerei juga istrinya. "Aku tidak bisa mengabaikan bahwa dia adalah ibu kandungku," matanya memanas.
Dia melepaskan genggaman tangannya. "Bangunlah!"
...🖤...
Suara-suara datang dari ujung lorong tempatnya berdiri. Valerei berjalan pelan menuju tempat suara itu bersumber. Membuka pintu, sekelebat matanya menangkap sosok anak kecil laki-laki berlari, semakin dekat sehingga dia dapat melihatnya. anak itu menarik tangannya dan menatapnya lama, anak laki-laki yang tersenyum padanya berkata. "Kita ketemu lagi"
"Ketemu lagi?" kapan kita bertemu, batinnya. Valerei melihatnya dengan seksama, dia benar-benar tampak tidak asing. Namun dia tidak bisa mengingat apapun, ketika dia akan bertanya pada anak lelaki itu, suara tadi terdengar lagi, memanggil namanya. Matanya menatap ke bawah saat anak itu sedang menarik-narik ujung bajunya, lagi-lagi dia tersenyum dan menghilang. Dia mengucek matanya dan melihat, tidak ada siapapun di sampingnya. apa dia mengigau?
Valerei kembali berjalan, suara itu semakin jelas. "Bangunlah" dia menarik knop pintu kedua, saat pintu terbuka matanya silau oleh cahaya.
...🖤...
"Cari tahu dimana wanita itu, saya ingin semua informasinya lengkap sebelum hari ini berakhir." walau tidak begitu dekat, Valerei dapat mendengar suara tegas pria itu memerintah. Dia yakin itu suara suaminya, Darren.
Wanita itu? sejak tadi aku dibingungkan dengan perkataan orang-orang, batin Valerei.
Dalam mimpinya yang terasa nyata, dia bertemu dengan seorang anak kecil, rasanya tidak asing. Tetapi, mimpi tetaplah mimpi, itu bukan sesuatu yang nyata, pikirnya.
Dia berusaha bangun, tapi badannya terasa remuk, akhirnya dia kembali berbaring. Valerei mendengar suara langkah kaki mendekat, dia berpura-pura tidur.
Darren berbicara dengan Are, setelahnya dia berjalan kembali ke tempat Valerei. Sebelum dia membuka pintu suara Yu ra menghentikannya. "Darren." Darren lantas berbalik. "Aku sudah mendapat informasi soal ayahku dan ibumu, mereka ada di Okinawa."
"Mereka terlalu dekat untuk bepergian bukan?" Ekspresinya selalu sama. Sulit bagi Yu ra melihat apa yang akan terjadi. Dia tahu tidak mungkin untuk Darren membunuh, tapi menyangkut rumah tangganya dia pasti tidak akan tinggal diam.
"Apa yang akan kau lakukan?" keluarga tetaplah keluarga. Bagi Yu ra yang dibesarkan dalam keluarga, ayahnya berperan penting membentuk dia yang sekarang. Karena itu, kekhawatiran akan keselamatannya wajar. Mengingat dia seorang putri yang dicintai ayahnya.
"Sebagai anak dan sebagai suami, akan kulakukan kewajibanku." Tegas pria itu. Yu ra akan pasrah saja, Darren bukan orang yang mudah dipahami.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memeriksa Valerei sebentar." Dia berjalan masuk, dia melihat Valerei mengucek matanya. "Valerei?" Yu ra otomatis kaget berbalik melihat darren. Apa Valerei mendengarnya? batinnya berkata.
Valerei melihatnya dengan mata berat habis bangun tidur. "Yu ra?"
"Aku periksa sebentar." ujar Yu ra membuat Valerei mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Yu ra selesai memeriksa. dia melihat Valerei takut-takut.
Valerie melihatnya terus, dia tidak nyaman. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Valerie melihat tingkah orang yang dia perhatikan.
"Hah?" Yu ra kaget, dia melihat Valerei tapi hanya sebentar.
"Kau tampak aneh, seperti menghindari tatapanku?" Ujar Valerei.
Yu ra tidak heran walau dia dokter, tapi Valerei belajar soal psikologi manusia. "Tidak apa-apa, kau tahu, kadang aku selalu tampak aneh."
"Ya, kadang. (Tertawa)" Valerei tertawa lantas Yu ra tertawa mengikutinya.
"Ya sudah, istirahatlah." Sekarang Darren lah yang bicara.
Yu ra mengangguk, pamit. Darren berjalan ke arah istrinya, dia melihatnya dengan seksama. "Ada yang sakit?"
"Tidak"
"Benar-benar tidak ada?"
"Iya, kenapa"
"Jangan marah lagi, aku salah." dia membawa Valerei ke pelukannya
Valerei membalasnya. "Bukannya kau yang marah?"
"Hmm" Cuma itu?
"Aku salah, minta maaf." Valerei meminta maaf pada suaminya, dia bersalah tentu saja harus meminta maaf. Darren memeluknya semakin erat.
"Darren, jangan memeluk terlalu erat, aku tidak bisa bernafas." Darren tertawa kecil, dia merenggangkan pelukan tapi tidak melepaskannya.
__ADS_1
.
.