
Seharian di kamar membuatnya frustasi. Beberapa hari ini rencananya gagal, dia harus kembali memikirkan cara yang tepat untuk masuk ke dalam mansion Darren atau lebih baik datang ke hadapan pria itu. Namun, kenyataannya sangat sulit. Mansion Darren di jaga ketat sementara perusahaan tidak membiarkan orang asing berkeliaran di sekitar bangunan.
Lim Sujong kehilangan kontak dengan informannya, Han Yu Min. Dia tidak berpikir ketika masuk ke Korea, orang itu akan mengkhianatinya. Uangnya untuk membayar orang juga tidak banyak lagi. Dia belum bisa menghubungi adiknya, lalu dia berpikir lebih baik seperti itu karena jika dia melakukannya, suaminya bisa tahu posisi akurat. Saat suaminya sudah menyadari kebohongan adiknya, rencananya akan gagal dan sekarang dia harus berhasil sebelum mereka ketahuan.
Kakinya di hentak-hentakkan, bosan. Suara klakson dari bawah selalu menganggu. Terlalu bising lingkungan tempat dia tinggal, belum lagi suara beberapa orang yang tertawa, dan suara pertengkaran. Dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.
Sujong berlari ke arah balkon dan berteriak ke bawah. Dia hampir menyiram air bekas cucian jika matanya tidak bertatap dengan seseorang dari seberang. Tubuhnya kaku, dia masih menatapnya dengan perasaan takut. Saat kesadaran membawanya kembali dia bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Membayangkan mata itu, Sujong menggeleng cepat. Dia masih mengatur detak jantungnya.
Tok Tok Tok Tok Tok
Tubuhnya otomatis terguncang karena terkejut. Suara ketukan yang aneh, dia pernah mendengar suara ketukan pintu seperti itu dalam film horor.
Sunyi, dia tidak mendengar suara lagi. Wanita itu pergi melihat dan mengintip dibalik jendela yang tertutup tirai.
"Lama sekali!"
Dari belakang, suara berat mengagetkan dia lagi. Tetapi bukannya berbalik, Sujong terpaku di tempatnya. Entah siapa yang memegang kakinya.
Karena wanita di depannya tidak berbalik, pria itu berjalan mendekatinya. Semakin dekat, tubuh Sujong menjadi jeli. Dia bisa terintimidasi hanya dengan suara, itu luar biasa.
"Kau datang sendiri rupanya!? Wanita gila itu pasti mengkhianatimu. Pasti sulit, kembali dengan ilegal. Padahal negara ini adalah kampung halamanmu."
Sujong masih diam, kepalanya tidak berani berbalik. Orang itu sudah berada di sampingnya. "Padahal aku membawa kabar baik!"
Tanpa aba-aba tubuh Sujong sudah menempel di tembok. Pria tadi menekannya di sana, memegang pundaknya keras dan tertawa. "Siapa yang menyangka kita akan bertemu lagi, sudah lama bukan?"
Sujong bisa melihat wajahnya tetapi dia tidak mengenal pria gila ini. "Kau siapa?"
"Ah, sangat di sayangkan. Kalau kau mengenalku, aku pasti akan membantumu masuk ke mansion Darren atau, bertemu dengan istrinya."
Suaranya semakin berat ketika dia menyebut kata terakhir.
"Siapa kau?" Dia bertanya lagi. Sujong benar-benar tidak mengenalnya. Dia pria asing.
"Kau mengenal Ho Young?" Tanya pria itu.
"Ho Young? Psikopat itu?" Tubuhnya gemetar, dia pernah berhadapan dengan Ho Young di masa lalu. Orang yang selalu menjaga Darren dari balik layar.
__ADS_1
Mereka menyebutnya kabut malam, bahkan Yu Min juga tidak berani mendekat ke arah Pria itu. Lebih baik mencari jalan panjang dari pada bertemu dengannya di persimpangan.
Seperti bayangan. Kau bisa melihatnya tetapi tidak bisa menyentuhnya. Ho Young.
"Siapa kau sebenarnya!?"
Sujong berusaha melepaskan kukugan pria itu dengan menggerakkan tubuhnya. Tapi apa boleh buat, kekuatan dia tidak akan sebanding.
"Sayang!"
Pria itu berbisik di telingan Sujong, dengan suara khasnya.
Tunggu! Dimana dia pernah mendengar. Matanya membulat ketika samar dia mengingat kejadian beberapa tahun lamanya.
"Kau ingat ya?"
HA HA HA HA
suara tawanya tidak bisa di redam. Dia suka mendominasi lawan yang terintimidasi. Kakinya tidak bisa menopang tubuhnya, dia jatuh tetapi tangan pria di depannya lebih cepat. Dia memegangnya dengan erat agar wanita itu tidak terjatuh ke lantai.
"Aku datang untuk membantu, walau sangat di sayangkan kau tidak mengenaliku. It's ok, sudah biasanya."
"Kau kenal dengan Tuan Ho Young, artinya kau orang yang sama seperti dia. Saat orang lain tidak ingin menyebut namanya, kau menyebutnya seperti memanggil temanmu."
Lagi-lagi dia tertawa. "Teman? Jangan katakan seperti itu. Panggil saja dia saudaraku, itu jauh lebih enak di dengar."
Saudara? Saudara Tuan Ho Young?
Mata Sujong membulat sempurna. Tidak, kata dia dalam hati. Hanya ada satu orang yang dipanggil saudara tuan Ho Young. Psikopat sesungguhnya. Orang yang bahkan tidak tersentuh. Dia disini? Untuk apa.
"Orang-orang menyebut Ho Young sebagai kabut malam, lalu bagaimana denganku?"
Kepalanya mendekat, mencium aroma rambut Sujong. "Ah, kau harum. Seperti dulu!"
Kata seperti dulu itu ambigu, bagi Sujong. Artinya mereka pernah bertemu. Namun, dia tidak mengingat apapun soal pria ini.
"Kau bilang ingin membantuku? Bagaimana caranya?"
"Pertama, siapa yang ingin kau temui lebih dahulu? Darren atau istrinya? Aku sarankan untuk memilih yang paling lemah. Jika tidak, kau akan pulang dengan tangan kosong." Ucapnya, dia melepaskan Sujong dan berjalan ke arah tempat tidur.
__ADS_1
"Tempat tidurmu keras, aku dengar kau terbiasa tidur di kasur yang empuk. Ternyata keserakahan membuatmu bertahan."
Pria itu melihat Sujong setelah berucap. Dia memeriksa sekeliling dengan mata yang tajam. Ada yang menarik perhatiannya, peta dan beberapa foto terpasang di dinding samping tempat tidur. Melihat satu persatu, lalu dia tertawa.
"Rute itu tidak berguna, siapa yang memberitahu bahwa mereka adalah rute teraman? Kalau kau membayar orang, cari yang benar-benar ingin membantumu. Saat kau menggunakan rute itu, Hyuk teman baik Darren akan lebih dulu menemukanmu. Rute tercepat tetapi berbahaya. Wilayah itu melewati kediaman Kang."
Dia mengetahui Rute teraman? Sujong mendekat. Siapa yang akan membantunya tanpa iming-iming uang? Benar-benar ingin membantu? Dia bercanda, dalam hati Sujong mengejek.
Wanita itu sudah berdiri di depannya. "Lalu bagaimana denganmu? Kau membantuku tanpa imbalan?"
Cih, sudut bibirnya terangkat. "Membantu wanita yang kusukai, Cukup?"
Sujong tidak merespon, dia cukup tahu bahwa pria ini adalah psikopat yang akan berucap dengan mudah walau itu kebohongan. Dia bergeser sedikit dan duduk di samping Pria itu.
"Aku dengar, istri Darren bukan orang yang lemah. Dia bertahan dengan baik selama 6 tahun." Kata Sujong.
Bukan hanya itu, dia mendengar bahwa wanita yang berstatus sebagai istri Darren itu adalah juniornya di universitas. Mereka mempelajari psikologi manusia. Dia juga mendengar rumor bahwa wanita itu bisa mengendalikan lingkaran pertemanan Darren. Terutama Frederick.
Frederick baginya tidak mudah, selain dia adalah seorang mantan mafia. Dia mengenal pribadi Sujong dengan baik. Akan sulit menghadapi pria itu, kata dia didalam pikirannya. Baginya bertemu dengan Darren lebih dulu adalah pilihan paling menguntungkan. Tetapi pria ini mengatakan bahwa lebih mudah menemui yang lemah lebih dulu. Tidak mungkin Darren.
"Kau punya cara?"
Skeptis.
"Kau benar, dia bisa mengendalikan lingkaran pertemanan Darren. Bahkan Ho Young saja menyukainya. Ah, kalau pria tua itu tahu bahwa aku membantumu, dia bisa membunuhku. Karena sudah terjadi lebih baik kau memberiku jawaban? Karena aku bisa membawamu bertemu dengannya tanpa terluka."
Dia cukup tahu itu berbahaya tetapi tetap membantuku. Apa aku terlalu banyak berpikir?
"Baiklah, darimana kita mulai?"
"Harusnya sejak tadi, waktu kita terbuang."
Pria itu berdiri memperbaiki jasnya dan keluar lewat balkon. Sujong mengikutinya dan kaget saat pria itu melompat ke bawah. Sebelum pria itu menghilang dia memberikan ponsel pada Sujong. "Jawab jika aku menelepon."
.
.
.
__ADS_1