
Larry menjambak rambutnya frustasi. "Ji Hyo menyuruhku pulang, Dia pasti mendapat pesan lagi."
Ho Young mengangguk mengerti. Mereka lebih baik pulang dari pada berlama-lama di markasnya.
"Pulanglah, sebelum matahari terbit lusa pagi, akan diselesaikan." Ho Young meminta Yun memberi instruksi kepada orang-orang nya untuk bersiaga.
Larry mengusap kasar wajannya lalu mengangguk sekali. Dia melihat Valerie. "Valerie, ayo pulang" Ajak Larry.
Wanita itu tersenyum dan menggeleng. "Aku bawa mobil, pulanglah lebih dulu. Hati-hati."
"Mobil? aku tidak melihat mobilmu." Kata Ha Joon.
"Mobil ku ada di depan." Valerei tidak berbohong. Mobil yang dia pakai itu mobilnya, hanya saja orang yang membeli bukan dirinya melainkan Darren. Tentu mereka tidak tahu.
"Oh, aku mungkin tidak melihatnya dengan baik." Dia pamit tanpa merasa curiga. Elena melihat ekspresi Valerei dengan terang-terangan, dia tahu ada yang ganjal tapi belum bisa menemukan apa yang disembunyikan temannya.
"Sampaikan salamku pada Leon." Katanya sembari memeluk Elena. Dia mendapat anggukan.
Semua temannya sudah pulang, tinggallah Darren dan Valerie.
Ho Young melihat keduanya. "Apa tidak lelah?" Air dalam gelasnya sudah kosong.
"Lelah, tapi statusnya membuat Valerei bisa dalam berbahaya."
Dia ingin menyudahi rahasia ini tapi Valerei berada pada masa dia tidak bisa mendapat tekanan yang besar. Pelan-pelan, dia akan mencari jalan keluar setelah Istrinya melewati fase itu.
"Jika kau menundanya terlalu lama, luka yang ditimbulkan akan semakin dalam. Kau, bukannya kuat? kenapa harus khawatir."
"Kekhawatiranku sekarang bukan hanya untuk Valerei." Ambigu, Valerei menyadari belakangan suaminya sering berbicara dengan kalimat yang memiliki arti ganda.
Dalam pikiran Valerei terlintas seseorang. "Estela itu, dia pernah tinggal di rumah sakit?"
"Dia menerima banyak perawatan, setelah hubungannya dengan Darren kandas karena kecanduan narkoba dia harus di rehabilitasi dan mendapat perawatan seorang psikiater. Yun memeriksa, dia mungkin sedang tidak stabil sekarang yang artinya dia bisa sangat berbahaya."
Ho Young menerima email dari seorang kenalannya yang berprofesi sebagai psikiater di lapas tempat dulu Estela berada. "Dia tidak meminum obat yang dianjurkan, malah menerima obat dari orang lain tapi dia tidak tahu itu obat apa."
"Saat diperiksa, seseorang dari dalam membantunya, jadi tidak ada yang bisa memeriksa obat apa yang dia minum. Kita mencurigai kelompok Hari, mereka punya banyak orang-orang yang bekerja sebagai pelayan publik, termaksud dalam kepolisian." Dia menambahkan.
"Setidaknya kau dan dia tidak pernah tidur bersama," Setelah mengatakannya dia melihat ekspresi Istri dari temannya, Valerei. Namun, sepertinya dia harus bersabar karena ekspresi Valerei tidak berubah.
__ADS_1
"Atau aku yang tidak tahu?"
"Kau menyiram minyak di kobaran api, Tuan!" Yun lah yang berbicara, dia tidak suka suasana saat Ho Young menggunakan trik untuk mencari tahu kepribadian orang.
"Tidak apa, Darren lebih baik nakal dulu dari pada dia nakal sekarang. Jika dia melakukannya sekarang aku juga tidak akan tinggal diam. Jangan lupa, perusahaan dan keluarga Lee adalah titipan." Dia tersenyum.
Ho Young puas, Darren tidak berkutik. Dimana lagi dia bisa mendapatkan momen seperti ini. "Kau kalah Darren."
Valerei menggeleng, dia mengoreksi perkataan Ho Young. "Darren tidak pernah kalah dariku, dia selalu menang. Hanya saja, dia selalu mengalah."
Yun mengerti, kenapa Ho Young mengatakan bahwa dia wanita yang menarik. Aku menemukan teman baik, batinnya.
...🖤...
Dijalan Elena sedang tidak fokus. "Ada apa Elena?" Rey tidak berhenti memperhatikan Istrinya, sejak dia keluar dari Villa milik Ho Young, dia lebih banyak diam.
"Tidak apa-apa, Aku rindu Leon." Dia tidak menemukan hal aneh, tapi dia yakin ada yang ganjal dari sikap Istrinya.
Elena mengambil ponselnya, dia berpikir lebih baik menelepon Hyuk dari pada harus bertarung dengan pikirannya. Tapi, saat dia mencoba memanggil teleponnya tidak aktif.
Rey melihat sekilas karena harus fokus menyetir. "Siapa?"
"Ah, aku mencoba memanggil kak Hyuk, ponselnya tidak aktif." tertawa kecil sangat canggung.
"Kak Valerie memintaku menelepon Kak Hyuk, memastikan ponselnya aktif atau tidak. Dia mungkin menelepon tadi tapi tidak mendapat balasan dari Kak Hyuk." Jelasnya. Meski berbohong, Rey percaya membuat Elena merasa bersalah. Akan dia jelaskan saat dia sudah mendapatkan jawaban.
...🖤...
Sepasang suami istri berada jauh dari rumah, mereka memutuskan tidak kembali dan berkendara kearah pegunungan. Mereka turun dari mobil dan masuk ke sebuah rumah tua yang terurus.
Langkah Pria itu berat, tidak ada bagian dari badannya ingin bergerak masuk ke dalam rumah. "Ada apa?" Lengan bajunya di tarik lembut oleh wanita di sampingnya.
Darren menatapnya dalam dan menggeleng. Nafasnya di atur, dia tidak pernah berpikir akan kembali ke sini. "Tidak apa-apa. Valerei," Panggil dia.
"Hem?"
"Ada yang tidak kau sukai?"
"Hah!?"
__ADS_1
"Masalah Ha Joon mungkin lebih luas dari yang kita kira. Jika," Dia berhenti. "Jika aku yang berada di posisi Ha Joon apa yang akan kau lakukan?"
Itu membuat Darren penasaran, bagaimana istrinya akan bereaksi.
"Hoon~a!"
Keduanya menengok kesamping, disana ada seorang wanita yang mengenakan celemek berwarna pink motif bunga-bunga, memandang Pria itu dengan kaget.
"Itu kau?" Katanya lagi.
Darren tidak menunjukkan reaksi apapun, itu membuat Valerei diselimuti rasa khawatir. "Anda?" Istrinya bertanya menggantikan Darren yang diam.
Wanita itu bergerak maju, dia begitu bahagia terlihat dari senyum yang mengembang. "Kau sudah pulang, Ibu! Hoon pulang!" Teriaknya memanggil seseorang.
Valerei bisa mengendalikan ekspresinya tapi tidak dengan tangannya. Punggung Darren mungkin sudah lebam karena cubitan Istrinya.
Wanita parubaya berjalan dari samping rumah, dia membawa keranjang penuh tomat ceri. "Kenapa berteri, Hoon~a!?"
Oh, jangan bilang. Baru juga bahas hal yang serius, ini sudah datang, batin Valerei.
Wanita paruh baya itu membawa keduanya masuk kerumah, tentu saja dengan paksaan karena Darren merasa tidak nyaman. Setelah dia dan Valerie duduk, wanitanya tidak membiarkan Wanita muda itu duduk di dekat Darren. "Ini siapa?" Dia tersenyum.
"Istriku" katanya tegas.
Anak pintar, batin Valerei memuji suaminya.
Mereka saling pandang, ada tatapan kecewa saat Ibu itu melihat tangan keduanya bertaut. "Oh, Bibi kira kau belum menikah" canggung.
"Rumah ini, kalau bukan karena istriku, saya tidak berencana untuk kembali." Dia melihat Valerei di sampingnya. "Mau pulang?"
"Mau beli anggur di depan dulu." Bibirnya mengerucut imut.
"Baiklah, kami permisi"
"Hoon~a!" Ibu dan putrinya berdiri. "Ibumu, merindukanmu." katanya tapi Darren tidak menjawab, Valerei pamit pada mereka lalu keluar mengikutinya.
Berkhayal! Sejak kapan dia memikirkan anaknya.
.
__ADS_1
.
.