
Valerei menghirup udara malam di penginapan tempat mereka memancing. Perasaan bersalah itu semakin besar dalam hatinya, sekali lagi menjadi skeptis pada dirinya, benarkah dia seorang istri. Saat setelah teriakan sah menggema dia berjanji akan menjadi istri yang baik pada suaminya, tidak pernah berbohong, selalu menjalin komunikasi yang baik dan selalu menaatinya tetapi sekarang dia mulai mengingkarinya. Dadanya sesak, bulir-bulir air matanya keluar tanpa permisi, dia menekan suaranya. tangisannya menyatu bersama deru angin malam.
...🖤...
Valerei mendatangi kantor Hyuk, ada yang ingin dia sampaikan pada sahabatnya, "Apa Hyuk di dalam?" tanya Valerei pada seseorang di meja sekretaris Kang hyuk.
"Bapak sedang ada tamu, anda sudah membuat janji? atas nama siapa?" sekretaris itu bertanya dengan arogan. "Anda sekretaris baru? Ji min kemana?" ujar Valerei
"Ji min sedang cuti hamil, nama anda?" tanya lagi sekretaris bernama Monika kim, nama yang Valerei lihat di meja kerjanya.
"Valerei, tapi saya tidak membuat janji." ucapnya santai
"Anda harus membuat janji sebelum bertemu dengan Pak Hyuk, anda tahu bos saya sangat sibuk. Silahkan." dia menunjuk lift dan mempersiapkan Valerei pergi.
Valerei tidak pergi, dia mengambil ponselnya dan menelepon sekretaris lama Hyuk.
"Ji min? maaf aku mengganggu. bisa aku minta tolong? sambungkan ke Hyuk, aku di meja sekretaris tapi Hyuk mungkin sedang ada tamu?'
"Tentu mbak Valerei..."
"Terima kasih."
Belum sampai 2 menit setelah valerei menutup telfon, bunyi interkom di meja sekretaris berbunyi. Dia menekan tombol lalu suara Hyuk terdengar. "Dia adik saya, persilahkan masuk." mendengar kata adik, lutut Monika lemas.
"Maaf" buru-buru dia membuka pintu ruangan bosnya. "Silahkan Nona." dia tersenyum. sekretaris ini cantik jika tersenyum seperti ini.
Valerei melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Hyuk, dia terkejut melihat seseorang yang sudah beberapa hari tidak dia temui, suaminya.
"Duduk, Va" Dia dipersilahkan duduk oleh tuan rumah.
Darren terlihat santai dan biasa saja. Valerei melihat itu, seperti ada yang mencubit hatinya. Darren tidak melihatnya atau menghiraukannya. Tidak ada yang salah dari sikap Darren, seperti itulah resiko karena hubungan mereka menjadi rahasia, tapi kali ini Valerei merasa sangat aneh dengan perasaannya. Dia akan menangis.
"Jika kau sibuk, aku akan datang nanti." Valerei menunjukkan gesture tubuh tidak nyaman. Meski dia berusaha menyembunyikannya, hal itu tidak luput dari pandangan dua orang yang merupakan senior Valerei saat berkuliah dulu, mereka junior-senior di fakultas psikologi.
"Kalian--" Hyuk berhenti sebentar. "Ah, bagaimana aku katakan, terkadang sikap cuek dalam hubungan berlaku benar tapi terkadang itu juga membuat hubungan menjadi renggang. Kita bicara tentang dua insan dengan hubungan yang erat, bagaimana jika pasangan mu tidak jujur?" Saat hyuk berbicara Valerei melengos, dia belum bicara apapun pada Hyuk.
__ADS_1
Apa Darren sudah bilang padanya, batin Valerei.
Tidak mendapat jawaban dari Darren, dia melihat Valerei dengan alis terangkat meminta jawaban. "Bagaimana menurutmu Va?" bukannya menjawab dengan kata-kata, Valerei malah menangis tanpa bersuara. dia menunduk, air matanya tidak berhenti menetes.
Darren melihatnya dalam diam. Ini pertama kalinya dia melihat Valerei menangis, istri yang telah dia nikahi selama 6 tahun. "Darren, kau bisa temani Valerei sebentar?" Hyuk melihat jam di tangannya, "15 menit, aku harus meeting." dia pergi dengan terburu-buru, tidak menunggu jawaban Darren.
Hyuk tidak ingin menerima tamu karena dia ada jadwal penting tapi saat dia tahu bahwa tamu itu sahabatnya, tidak mungkin dia menolak lalu jadwalnya harus ditunda sementara waktu.
Valerei masih menangis, sedangkan suami tercintanya tidak mengambil inisiatif apapun, dia hanya diam seperti sebelumnya.
Tring, Pesan masuk di ponsel Darren.
^^^KangHyuk^^^
^^^- Tolong antar Valerei pulang, meeting ku butuh waktu lebih lama. Jangan bertengkar! aku akan memihak Valerei. Masalah yang terjadi pada hubungan antara SUAMI-ISTRI seharusnya diselesaikan dengan cara yang sama seperti statusnya.^^^
Hyuk tahu. sejak awal dia tahu hubungan antara keduanya. Valerei dan Darren tidak pernah menceritakan apapun pada siapapun. kita tahu bahwa cara memandang Hyuk pada sesuatu, tidak sesederhana beberapa sahabatnya. Keduanya memutuskan belum membuka hubungan didepan umum maka Hyuk tidak punya pilihan selain ikut andil berdiam diri pada kabar bahagia.
...🖤...
^^^Nomor tidak dikenal^^^
^^^- Jangan melangkah terlalu jauh, kau bisa kehilangan arah.^^^
Pesan aneh itu lagi, untuk kesekian kalinya. Valerei berada di apartemennya, setelah adegan lebay nan alay didepan sahabat dan suaminya, dia memutuskan berlari keluar saat Darren sedang mengangkat telepon. Terheran-heran oleh sikapnya sendiri.
Dia tidak mengaktifkan ponselnya, entah berapa panggilan atau pesan yang belum dia baca, rasanya ingin lari tapi tidak mampu. Sibuk dengan memikirkan mengapa sikapnya menjadi aneh Valerei terkejut mendengar gedoran dari balik pintu apartemen nya. Dia berlari kecil melihat siapa orang yang dengan tidak sopan membuat keributan. saat menekan tombol, kamera dipintunya menangkap sosok pria yang sangat dia kenal, pria yang kemarin dia tinggalkan di kantor Hyuk, bahasa halusnya. siapa lagi kalau bukan suaminya, Darren.
Valerei menjauh beberapa langkah, dia tidak ingin membukakan pintu untuk Darren tapi dia takut dosa, ditambah Darren akan membongkar apartemennya. Kalau dibongkar dia jadi tidak punya tempat bersembunyi ria.
Diluar, Darren menekan beberapa tombol yang dia tahu adalah sandi apartemen istrinya, tapi pintu tidak kunjung terbuka, sandi yang dia masukkan salah. Valerei mengganti sandi, pikirnya.
"Are, telepon security minta dia membawa teknisi untuk membuka pintu," Are menjawab lalu menelfon petugas keamanan yang berada di bawah.
Darren menggedor-gedor pintu tapi tidak ada jawaban, Valerei tidak juga membukakan dirinya pintu, lalu petugas keamanan dan seorang yang berseragam teknisi datang. "Tolong dibuka pak," pinta Darren
__ADS_1
Petugas keamanan itu mengenal Darren, dia tidak banyak bertanya. dia meminta teknisi itu untuk membuka pintu. "Maaf Bu Valerei, saya buka pintunya atas permintaan suami anda." dia meminta izin lewat camera security door, dia tahu Valerei ada didalam.
Dia bertemu saat Valerei masuk ke gedung dan belum terlihat keluar dari gedung apartemen sejak dia pulang tadi, artinya Ibu Valerei masih didalam, batinnya.
"Saya tidak izinkan siapapun masuk, tolong hargai privasi penghuni apartemen pak." suara Valerei membuat petugas teknisi berhenti, dia melihat temannya lalu beralih melihat Darren.
"Buka pintunya!" suara rendah Darren membuat bulu kuduk Valerei merinding.
Dia tidak menghiraukan Darren walau takut, "Kalau bapak buka apartemen secara paksa, saya bisa laporkan"
"Buka pak, saya yang tanggung jawab kalau ada apa-apa." Are mendengar perkataan darren lalu memberikan kartu nama miliknya atas nama perusahaan. Kedua orang itu saling berpandangan lalu mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Tidak cukup 5 menit pintu apartemen terbuka. Darren masuk, sendiri. Dia berterima kasih kepada kedua petugas itu dan meminta Are dan pengawal lainnya menunggu diluar.
Valerei marah, tidak ada satupun orang yang mendengarnya. "Keluar." kata itu keluar tanpa terkontrol, emosinya sudah akan meledak.
Bukan Darren namanya jika takut mendengar bentakan. "Ini bukan saatnya kamu marah."
"Lalu kapan?" dia merendahkan suaranya. menahan marah yang sudah meluap. "Kau tidak belajar dari kesalahan Elena?" ucap Darren, dia menyiram api dengan minyak.
"Apa!?" dia hampir berteriak
"Apa yang membuatmu sangat emosional. Kita tidak berkomunikasi dengan baik, kau melakukan apapun yang kau mau. Ini yang kau sebut dengan baik-baik saja?" Darren tidak menaikkan volume suaranya, dia tetap stabil. berbeda dengan Valerei, emosinya naik turun.
"Kenapa kalian melakukan semua ini padaku? Aku salah apa?”
Alisnya terangkat heran, "Apa maksudmu?"
Valerei menghela nafas berat, "Keluarlah, aku tidak ingin bicara."
"Jelaska--" belum darren melanjutkan, Valerei sudah berteriak marah. "Kau tidak dengar! aku bilang keluar!!" Valerei menangis. dia terlalu marah.
"Keluar, rasanya hatiku akan meledak. tolong." dia meminta sambil menangis, suaranya terdengar menyakitkan. Darren diam, "Kau tidak salah, aku yang membuatnya begini jadi kumohon pergilah." lanjut Valerei, dia duduk di sofa tertunduk menangis.
Darren jongkok, dia mengangkat wajah Valerei dengan kedua tangannya. "Aku tidak akan bertanya, jadi jangan menangis sendiri." dia memeluk istrinya. Valerei tidak melawan, dia menangis dalam pelukan pria yang dia cintai.
...🖤...
__ADS_1