
Keduanya berada didalam kamar setelah acara dadakan yang diadakan oleh istrinya. Darren duduk di sofa tunggal yang Valerei letakkan di kamar dan wanita itu duduk di kasur, pinggir kasur tepatnya. Sedang asik berselancar dalam pikirannya. Perkataan Darren padanya tadi membuatnya tersentuh. Dia tidak pernah membayangkan akan ada hari dimana dia mendengar Darren mengatakan hal seperti itu. Namun, setelah 6 tahun-dia mendengarnya dengan banyak orang yang menjadi saksi pula. Jakpot.
"Semalam, apa yang kau katakan? kenapa kalian melakukan semua ini padaku? Aku salah apa? Apa maksudnya?”
Seharian dia penasaran, kenapa istrinya berteriak padanya.
“Aku bicara seperti itu? ah aku lup—“
“Jangan bilang lupa, aku tahu kamu ingat!”
Dia diam, dia tidak sedang haid tapi dia sangat sensitif. Valerie juga mengetahui perubahan sikapnya sangat mendadak dan tidak terkontrol.
“Tapi,”
“Atau aku minta Are yang cari tahu?”
“Hah!?”
“Jadi?”
“Hem, Darren! Apa kau berselingkuh?”
Dahinya mengerut. “Aku apa?”
Kesal, dia harus mengulang perkataannya. Nah, seperti sekarang ini. Dia menjadi sensitif hanya karena Darren bertanya.
“Aku bilang, apa kau berselingkuh?” dengan suara yang lebih stabil.
“Tidak!” tegas Darren mengatakannya.
Dia tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Tidak tahu dari mana Valerei mendengar gosip tentang dirinya, tapi itu tidak benar. Dia tidak ingin kesalahpahaman ini melebar, akhirnya membuat hubungannya dengan Valerei semakin renggang. Padahal waktu terlama mereka bersama adalah saat ini.
Bagi Valerie yang terlalu sensitive, bantahan Darren secara langsung bisa menimbulkan dua opini. Salah satunya adalah dia benar selingkuh, saat dia ketahuan langsung membantah dengan keras. "Yah, siapa yang tahu!"
"Kau percaya?"
Dia tidak ingin ketika menjelaskan, istrinya sedang dalam mode sudah memilih jawaban yaitu tidak percaya. Dia tidak akan didengarkan meskipun itu kebenaran.
"Aku tidak tahu! orang it--" salah. dia salah bicara, Valerei membuang mukanya dengan perlahan menghindari tatapan Darren.
"Orang itu?" Darren berdiri, berjalan dan berhenti tepat didepan Valerei.
Matanya melihat ponsel milik Valerei tergeletak di sampingnya, saat dia ingin mengambil, Valerei langsung menjauhkannya.
__ADS_1
"Bawa kesini ponselmu!" Valerei menggeleng, Darren menjangkau tangan Valerei dan mengambilnya. Tidak tinggal diam, dia meloncat ingin merebut ponsel, apa daya. tenaga tak sebanding kuat. Tinggi tak sejauh itu.
Darren mulai membuka pesan Valerei dan beberapa aplikasi chatting lainnya yang terinstall di ponsel istrinya tapi nihil dia tidak menemukan apapun, lalu dia beralih ke media penyimpanan foto dan video tapi sama, hasilnya nihil. Dia melihat Valerei yang sedang melihatnya.
Dia memajukan wajahnya menatap tepat pada iris mata Valerei. "Kita ke dokter besok!"
"Apa!?" dia mendadak bingung, apa hubungannya, batin Valerei
Darren memberikan ponsel Valerei kembali, lalu dia berajalan keluar kamar. Valerei mengejar Darren tapi saat diambang pintu kamar, dia ingat tidak memakai pakaian yang layak, yang biasa dia pakai keluar. Dia hanya memakai pakaian pendek sebagai dalaman, untunglah tidak ada yang melihat. Dia kembali terburu-buru mengambil baju.
Karena terburu-buru, kaki Valerei tersandung kaki nakas. dia terjatuh, "Aaa sakit." memegang lalu mengelus jari kakinya yang sakit.
Darren sudah keluar dari apartemen, dia tidak mendengar apa yang terjadi pada Valerei. Pengawal juga sudah tidak ada di apartemennya, salahnya karena Darren meminta mereka kembali ke mansion atas permintaannya sendiri.
...🖤...
Valerei merasa tidurnya terganggu, dia bangun mendapati seorang anak kecil duduk di sampingnya tersenyum sumringah memegang tangannya. Sentuhan lembut itu terasa nyata. Dia menyipitkan matanya, menggosoknya pelan, anak itu masih berada di sampingnya. Ayo bermain, katanya. Valerei tidak mendengar suara, dia hanya membaca gerak bibir anak itu memintanya bermain bersama.
"Kamu siapa?" dia, antara sadar dan tidak.
"Aku? adalah aku."
"Kamu siapa?" tanya Valerei lagi.
Saat dia menyentuh keningnya, dia bisa merasakan dingin yang sangat. Anak laki-laki itu, menarik tangannya dan melambai, dia berniat pergi tapi Valerei menahan tangannya.
Alhasil Valerei terbangun, dia sadar sedang tidak berada di kamarnya. Dia melihat sekeliling ruangan penuh nuansa warna abu-abu seperti kamar milik Darren.
Dia bermimpi dalam mimpi?
Valerei menyentuh keningnya, Kompres? dia masih meraba-raba keningnya yang ditempeli kompres dingin. "Kau sudah bangun" suara maskulin itu.
"Darren?" Valerei mengerjap, takut salah mengenali orang.
"Kau ini bukan anak kecil! kalau sakit, kau tahu harus menelepon siapa?"
"Yu ra" jawabnya cepat
Darren menyentil keningnya pelan. "Kalau sudah tahu, kenapa tidak menelepon!"
"Kamu jangan marah, aku lagi sakit." Pintanya
Darren menggeleng, telat sedikit saja dia bisa kehilangan dirinya. Untung saja dia cepat meminta pengawal pengecek apartemen istrinya. Kepala dia pusing memikirkan adegan sebelumnya
__ADS_1
.
Darren menelepon Valerei, tidak di angkat. akhir-akhir ini, istrinya selalu tidak mengangkat telepon dari nya, bagus.
Dia akan rapat sebentar lagi, tapi Valerie juga penting. Darren memanggil Are dan memberinya tugas. "Minta bawahanmu mengecek Valerei, wanita!"
Lalu setelah itu dia berangkat untuk rapat, Are menelepon bawahannya seorang wanita untuk pergi ke apartemen istri bosnya.
Darren mendengarkan presentasi dari beberapa kepala departemen perusahaannya. Are yang sibuk berkomunikasi dengan Bitna lewat telepon.
"Bagaimana?"
"Seperti Nyonya tertidur, apa saya harus masuk saja?" jawabnya Bitna
Are melihat Darren, mendapat izin dari atasannya.
“Masuk saja.”
Telepon nya masih tersambung, Are masih mendengar Bitna menekan beberapa tombol. Kemudian dia masuk setelah terdengar bunyi klik.
Bitna berjalan sampai di depan kamar Valerei, dia mengetuk. "Nyonya" tidak ada jawaban, dia membuka pintu kamar Valerei, tidak terkunci.
Dari seberang sana Are mendengar suara pintu terbuka.
Gelap. lalu Bitna meraba-raba dinding untuk menemukan sakral lampu, terang menyerang matanya seketika. Dia melihat istri dari bosnya sedang tidur diatas kasur, dia menghela nafas. “Huff" Aman, batinnya.
"Nyonya sepertinya tertidur." dia berbicara pada Are ditelepon.
"Baiklah, kau bisa keluar." Are memutuskan sambungan telepon nya dengan Bitna.
Bitna bergegas keluar setelah mematikan lampu kamar Valerei. Dia berhenti berjalan ketika mendengar suara wanita.
"Darren." suara lirih membuat Bitna berbalik, dia mengorek telinga nya.
"Darren!" suara itu lagi. Darren kan nama Tuan!? masa setan kenal sih, gak mungkin, batinnya.
Dia berjalan kembali ke arah kamar Valerei, suaranya semakin jelas. "Apa Nyonya sudah bangun?" tanya pada diri sendiri. Baru sadar betapa bodohnya dia, mungkin saja itu suara Nyonya. agak mempercepat langkahnya, menyalakan lampu dia melihat Valerei merintih kesakitan, sedikit panik dia menelepon Are.
"Are!!" panik membuat otaknya tidak bekerja dengan baik, dia memanggil Are hanya dengan nama.
Yang berada di seberang juga terkejut bukan main.
...🖤...
__ADS_1