The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 85 : Dihadang


__ADS_3

Satu minggu setelah mereka pulang dari jeju, Valerie meminta Nola menemaninya kerumah sakit, sebab tiga hari tidak tidur nyenyak. Awalnya, dia tidak memikirkan perkara obat itu. Namun, semakin hari, semakin aneh tingkah suaminya. Contohnya saat Valerie lupa minum vitamin. Absen sehari saja tidak apa-apa, vitamin pikirnya. Ketika sang suami menanyainya, dia menjawab dengan santai bahwa tidak meminum vitamin. Alhasil Darren yang mendengar itu murka sampai Gadget miliknya disita, memangnya dia anak kecil, pikir Valerie dalam hati.


Lalu kemarin, Darren yang meeting pulang karena mendengar istrinya sedang lari pagi. Asik-asik menikmati jajanan pagi sehabis lari di pinggir lapangan, Valerie diangkut tanpa basa-basi. Karena adegan itu dia malu untuk joging di tempat itu lagi, semua orang melihat. Jangan pikir sudah selesai, kamar mandinya yang putih dengan marmer marmer indah ditutupi oleh karet anti licin. Semua ujung meja atau barang-barang dengan ujung lancip ikut dilapisi. Valerie mengira dirinya anak kecil yang aktif seketika melihat pengaturan suaminya.


Mobil hitam sudah memasuki lobby rumah sakit. Valerie tidak pergi ke rumah sakit tempat Han Yu Ra bertugas, Nola mengajaknya pergi agak jauh dari Incheon. Meski rumah sakit ini tidak besar tetapi Nola diberitahu bahwa peralatan mereka cukup lengkap. Nola berharap bahwa rumah sakit yang mereka datangi tidak ada campur tangan keluarga Lee. Dia hanya ingin tahu kebenaran seperti apa yang terjadi kepada majikannya.


"Nola, jangan sampai suamiku tahu." ucap Valerie kepada Nola yang dibalas anggukan mantap.


"Ayo masuk!" katanya lagi.


Valerie berjalan dengan pelan, beberapa orang berlarian dari dalam ke arah pintu sebelah UGD. Dia berbalik melihat mobil Ambulance datang. Orang-orang yang berada didalam mobil turun dan membuka pintu belakang. Dokter dan perawat sudah menunggu dengan cepat mereka membawa pasien itu masuk kedalam.


Dia kembali berjalan, masuk ke dalam lift menuju lantai 3. Didalam lift selain Valerie, Nola dan Han, beberapa dokter dengan jas putihnya sedang berdiskusi. Salah satu dari mereka melihat Valerie sebentar dan kembali mengobrol. Valerie sempat berpapasan pandang saat orang itu juga melihatnya. Tetapi Valerie tidak memperhatikan lebih jauh, hal yang biasa saat kita berpapasan seperti itu.


Pintu terbuka, mereka keluar. Valerie berjalan lebih dulu lalu diikuti kedua pengawalnya.


"Nyonya, duduk dulu! biar saja yang urus!" Nola menujuk sofa kosong di ujung. Dia berjalan ke arah perawat.


"Saya ada janji temu dengan dokter Michael." ujar Nola kepada perawat itu.


"Nona Nola? Ah, dokter Michael selesai 20 menit lagi. Silahkan menunggu."


Nola melihat jam. Berdasarkan janji, seharusnya mereka sudah bertemu. Namun, dia juga mengerti, waktu seorang dokter tidak bisa diprediksi.


"Ada pasien tambahan ya?"


Perawat itu tersenyum dan mengangguk. Dokter Michael adalah saudara Nola, lebih tepatnya keluarga Dokter Michael mengadopsi Nola dari panti asuhan. Nola kecil bahagia akhirnya mendapatkan keluarganya baru, hingga umurnya menginjak 18 tahun Nola memutuskan untuk hidup mandiri. Dia menyukai bela diri sebab ayah Dokter Michael adalah pelatih tinju. Disanalah dia dibentuk menjadi lebih kuat dan berani.


"Nyonya, 20 menit lagi." Nola duduk disamping Valerie sedangkan Han berdiri mengawasi sekitar.


.

__ADS_1


Dokter Michael menerima telepon setelah pasien terakhir selesai. Dia terlihat tidak nyaman saat mendengar informasi yang di terima. Sesaat, dia memanggil perawat dan memberitahu bahwa ada jadwal operasi mendadak yang harus dia lakukan dan meminta adiknya bertemu denga Dokter Jeong di sebelah. Dia akan memberitahu Dokter Jeong. Perawat itu mengangguk dan segera keluar.


Perawat itu tersenyum dan menyampaikan keadan sesungguhnya. "Kami mohon maaf, dokter Michael harus melakukan operasi darurat karena itu Dokter Jeong yang akan memerika anda."


"Dokter Jeong?"


"Ya, silahkan!" kata perawat itu


"Dokter Jeong, teman kakakku. Dia dokter terbaik di rumah sakit ini. Anda tenang saja!" Nola memberitahu informasi yang mungkin berguna.


"Baiklah!"


Ruanga Dokter Jeong Da Bin, tertulis di papan. Valerie dipersilahkan masuk bersama kedua pengawalnya.


"Kita akan memeriksa secara keseluruhan, dokter Michael sudah memberitahu saya yang harus dilakukan." Silahkan ikut perawat.


Valerie dibawa keruangan pemeriksaan, sebelum itu dia diharuskan mengganti baju pasien. Sementara kedua pengawalnya menunggu dengan tenang. Sebelum menutup ruangan periksa, dokter Jeong melihat sekilas kedua pengawal itu dan tersenyum ramah.


"Nyonya, ada apa?" tanya Nola melihat gelagat bosnya. Valerie menggeleng menjawab pertanyaan Nola.


"Perasaan ku tidak enak."


...🖤...


Hill Co.


Darren sedang rapat, setiap divisi yang bertanggung jawab sedang mempresentasikan hasil kerja mereka selama 4 bulan proyek berjalan. CEO baru yang ditunjuk oleh Darren mulai aktif memberikan saran dan opininya terkait persentasi, saat dia dimintai pendapat, Are datang. Terlihat tergesa-gesa, dia menyampaikan melalui bisikan.


"Nyonya sepertinya pergi kerumah sakit swasta Hua universitas. Saya sudah menelepon Direktur rumah sakit."


Kalimat yang baru saja disampaikan oleh Are, membuatnya terkejut. Dia meminta Are untuk menunggu rapatnya selesai. Are yang mengerti undur diri.

__ADS_1


Darren kembali fokus, toh Are sudah menelepon Direktur rumah sakit yang artinya dia bisa bernafas lega untuk kali ini.


...🖤...


Rumah sakit Hua Universitas


"Bagaimana hasilnya dokter?" tanya Nola saat melihat dokter Jeong datang


Dokter Jeong tersenyum, dia duduk dan membuka komputernya. "Tidak ada masalah, semuanya normal saja. Hanya anda perlu menambah berat badan, ada riwayat maag kan?"


Valerie mengangguk


"Makan sedikit-sedikit saja, tapi rutin. Jangan sampai karena kerjaan jadi lupa untuk makan. Saya resepkan vitamin."


"Saya baik-baik saja dok?" dia bertanya dengan tidak percaya yang terlihat.


"Yah, anda baik-baik saja!"


"Lalu," Valerie berhenti bertanya, dia meminta kedua pengawalnya untuk keluar dari ruangan. Awalnya Nola menolak tapi valerie memastikan dia baik-baik saja. Mereka berdua keluar.


"Saya harus menambah berat badan dok? bukannya harus diet? berat badan saya naik, dokter lihat perut saya saja sudah buncit manja seperti itu."


Mendengar Valerie, dokter Jeong tertawa kecil. Dia mengerti maksudnya tapi bagaimana lagi, Direktur menelepon bahwa dia harus menutupi perkara kehamilan pasien didepannya. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita ini hingga harus dibohongi dengan tidak berperasaan soal tubuh yang berimbas pada masa depannya. Namun, tidak banyak bertanya dokter Jeong mengiyakan permintaan Direktur rumah sakit.


"Anda perlu, sebab dokter lebih tahu!" saat dia mengatakan matra itu, Valerie otomatis mengangguk, menganggap omongan dari dokter adalah benar. Bagaimanapun seorang dokter telah melalui pendidikan yang panjang untuk gelarnya. Dokter Jeong bukan lupa sumpahnya saat menjadi dokter, tapi dia bisa apa. Dia hanya karyawan sementara permintaan itu datang dari atas.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2