The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 71 : Selesai, menjemput anak


__ADS_3

Darren bersandar pada tembok balkon kamar di rumah Ho Young. Istrinya sudah tidur sejak sejam yang lalu, sebab lelah bermain bersama Yun, anak Ho Young. Dia melihat bagaimana Yun sangat aktif, membayangkan anaknya lahir dan bermain bersama, senyum itu merekah tanpa dikendalikan.


Tidak terasa dua jam berlalu sejak dia berdiri tanpa melakukan apapun, badannya mulai dirasuki hawa dingin. Darren masuk ke kamar dan menutup pintu kaca penghubung. Saat berbalik ke arah ranjang, dia dikagetkan dengan sosok misterius yang melihatnya dari sofa.


Sosok itu memanggil, melambai agar Darren menghampirinya. Namun, pria itu tidak bergerak malah melihat ke arah ranjang yang kosong. Otomatis, sosok di sofa itu adalah istrinya, Valerei.


"Kamu lagi apa? Kok gelap-gelapan disana?" Darren menghampiri Valerei.


"Terlalu gelap, aku jadi takut sendiri!" omel istrinya.


"Hm? bukannya kamu sudah bisa tidur dengan lampu mati?" Darren ingat, istrinya sudah bisa tidur walau tanpa cahaya lampu.


Dulu, memang Valerei tidak bisa tidur jika lampunya mati tapi seiring berjalannya waktu, dia membiasakan diri dan akhirnya berhasil. Darren tidak tahu, jika kebiasaan itu kembali lagi. Merasa kurang perhatian pada kondisi istrinya, Darren mengutuk dalam hati.


"Tidak, itu terlalu gelap. Nyalakan lagi!"


"Iya"


Pasrah, dia mengikuti kemauan istrinya. Lampu tidur di atas nakas mulai bercahaya. Darren menepuk kasur. "Sini!"


Valerei berjalan dan duduk di samping suaminya. "Vaa?"


"Ya?"


"Nanti, kita tinggal dirumah Ibu Deora bagaimna?"


Dia merasa, setelah kepulangannya akan banyak hal yang harus diurus. Meninggalkan Valerei sendiri dirumah tanpa pengawasannya membuat dia khawatir, walau dua pengawalnya ada. Lebih baik jika dia bersama ibu dan Ayahnya di mansion mereka dengan keamanan yang jauh ketat.


"Kenapa? rumah kamu dilelang?" Polos wanita itu melihat pria di sampingnya.


"Lelang?" bingung.


"Iya, kayak di film-film, suaminya hutang sama Bank jadi rumahnya di lelang!"


Ya Tuhan ampuni istriku, dalam hati Darren berdoa.


"Perkataan itu doa."


"Maaf-maaf! aku kebanyakan nonton drama sama film nih, Kamu sih!"


Salah lagi. Darren perlu tidur.


.


Pagi hari cerah, Darren dan Valerei sudah bersiap untuk berangkat, kembali ke rumah.


"Aunty, serius mau pulang?" tanya Yun kecil menarik-narik dress wanita di depannya.


Valerei berjongkok. "Iya, nanti kalau Yun mau main, datang saja ke mansion uncle Darren, oke?"


"Baiklah." dia berbalik dan duduk di sofa, cemberut.


Valerei tidak tega, melihat Ho Young.


"Tidak apa-apa, nanti juga baik sendiri!" Ayahnya sudah bilang begitu, maka Valerei lebih tenang.


Valerei melambai sebelum masuk ke mobil. "Bye Yun, nanti kita ketemu lagi!" teriaknya, Yun yang mendengar langsung mengakat kepalanya. Setengah hati, anak kecil itu melambai.


Dia tidak menganggap ini akhir pertemuan, mereka masih bisa bertemu jika ingin. Tidak perlu bersedih, sebab sesuatu pasti bertemu jika sudah saatnya.


Dalam Mobil.

__ADS_1


"Aku mau jemput Leon!" Valerei memperhatikan jalan di depan.


"Leon?"


"Iya, nanti aku turun di apartemen ya?" minta Valerei.


Dia tidak menjawab, permintaan Valerei menggantung di udara tanpa penghalang dan menghilang.


"Darren!?"


"Hm."


"Bolehkan?"


"Iya."


Sama sekali tanpa ekspresi, nada bicaranya juga datar.


"Jangan marah lagi, kita baru baikan!" Valerei mengingatkan suaminya, dia tidak punya tenaga untuk bertengkar kali ini.


"Atau... kamu ikut saja!?"


Mendengar ide keluar dari mulut istrinya, dia menengok. "Leon tahu?"


"Apa? kalau kita menikah? tidak!" jawabnya.


Tidak? Leon sudah tahu, kamu saja yang tidak tahu. Dalam hati Darren.


"Terus?"


"Belok kiri nanti terus sampai ujung aku turunin! oke kan!?" Ini adalah contoh jawaban istri yang sedang kesal.


Apa sih! Darren menggeleng, tingkahnya selalu absurd.


"Ya, aku sudah menghubungi Elena tadi"


...🖤...


Usai mandi dan berdandan cantik, Elena memilih baju. Hampir semua baju di dalam lemarinya ditarik keluar. Layaknya Mak comblang, dia memasangkan mereka dengan hati-hati. Jika ada yang terlihat serasi, dia akan langsung membawanya untuk di coba. Seterusnya seperti itu.


1 jam berlalu dan dia belum memilih apapun. Setelah skalanya diperkecil, tinggallah beberapa potong dress, baju dan celana beserta aksesoris. Dia hampir mengacak-acak rambut yang telah ditata rapi, untung saja ingat katanya dalam hati.


Suara getar ponsel mengalihkan perhatiannya, dia mencari-cari kemana perginya ponsel itu. Saking pelupa Elena, dia sampai mencarinya di bawa kolong tempat tidur. "Ponsel?"


Kebiasaan, dia memanggil ponselnya seolah-olah benda itu bisa bersuara. Kalau seperti itu, dia pasti akan pingsan sendiri, tiba-tiba ponselnya berteriak. "Aku ada di lemari!" Kelakuan Elena.


Semakin lama semakin besar getarannya, cara kedua adalah menempel telinganya di berbagai sudut dan benda dikamar itu, akhirnya setelah perjalanan panjang finding ponsel, dia menemukannya di antara tumpukan baju di dalam lemari.


Matanya terbelalak saat melihat siapa nama pemanggil. Valerei.


Buru-buru, mengangkat ponselnya.


"Kak?"


"Elena. nanti yang jemput Leon biar aku ya?"


"Kakak, mau jemput Leon?"


"Iya, dia nginap di apartemen aku ya?"


"Bolehkah kak, dia juga anak mu."

__ADS_1


Valerei tertawa.


"Oke, bilang sama Rey kalau bulan madunya di tunda-tunda terus, bisa-bisa duluan aku yang kasih Leon adik!"


Elena terpingkal-pingkal, mana bisa!


"Ah kakak ini bercanda aja, nikah dulu sana baru bilang mau kasih Leon adik!"


"Iya kan udah!" Dia kembali tertawa


"Ya deh."


"Sudah ya, aku ada kerjaan lagi! Bye"


"Bye kak!"


Sambungan telepon itu sudah mati, Elena memiringkan kepalanya. Baru ingat, dia ingin menanyakan banyak hal tetapi karena pembicaraan perihal anaknya membuatnya lupa. Menghela nafas, dia duduk di ujung ranjang.


...🖤...


TK


Awan mendung, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Valerei turun dengan payung di tangannya, sementara Darren menunggu didalam mobil.


"Are."


"Iya tuan?"


"Apa yang disukai anak lelaki?"


"Ya?"


Tampang bingung Are yang dia temukan saat bertanya. Dia menunggu jawaban dari bawahannya.


"Biasanya, robot atau dinosaurus?"


Dia juga tidak tahu. Terdiam sebentar dan mengingat jika variety show kesukaan Han yang menampilkan anak-anak kecil dan ayahnya, kebanyakan dari mereka menyukai mainan dinosaurus dan robot, sedangkan bagi anak perempuan, mereka menyukai boneka dan perlengkapan masak ataupun dokter-dokteran.


"Oh, bisa kita membelinya?"


"Tentu tuan, di depan sana ada toko perlengkapan dan toko mainan!"


"Oh ya?" Darren turun, dia berjalan meninggalkan Are, Han dan Nola yang saling melirik.


"Kalian tunggu Nyonya disini!" Are bergegas mengikuti bosnya, lalu meninggalkan Han dan Nola jika-jika istri bosnya sudah kembali.


Darren membeli banyak sekali mainan robot, mobil-mobil dan karikatur hewan-hewan. Anggaplah, dia membeli isi toko disana, saking banyaknya. Karena mendapatkan angka penjualan tertinggi hari itu, pengawai toko yang sedang berjaga memanggil bosnya yang kebetulan berada di lantai atas.


"Ini pertama kalinya, setelah toko dibuka ada individu yang membeli banyak barang, saya akan memberikan anda diskon!" Ucapnya ramah.


Darren mengambil kartu dan menyerahkan ke kasir. Dua orang yang berdiri itu, terkejut bukan main, mereka masih melihat kartu tanpa mengambilnya. Berencana memberikan diskon tapi kartu yang terpampang nyata di depannya adalah black card? Dia pernah melihat kartu itu di internet.


Wow. Mulutnya membentuk bulatan.


"Jika anda ingin memberi reward, berikan saja kepada pengawai anda yang telah bekerja keras." Darren meletakkan kartunya di atas alat kasir.


Perlahan dia menjangkau kartu meski tangannya gemetar. Bagaimanapun ini adalah kartu yang tidak mungkin dia lihat lagi secara langsung. Di negara ini mungkin hanya beberapa orang yang menggunakannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2