
TK
Anak-anak sedang asik menyusun puzzle masing-masing, begitupun Leon yang mendapat Puzzle bentuk hewan. Dengan lincah dia menyelesaikan semuanya tanpa tersisa lagi. Lalu memeriksa teman yang berada di sebelahnya.
"Apa kau butuh bantuan?" tanya anak manis ini.
"Boleh, tapi apa ini tidak sulit untuk mu?" Anak perempuan kuncir kuda merasa bersalah harus menyusahkan temannya. Tetapi walau begitu, dia tetap menyerahkan puzzle miliknya yang sulit di selesaikan.
Leon menggeleng. "Tidak, aku menyukai hal seperti ini, biar aku bantu!" ujarnya mengisi bagian yang kosong.
Guru kelas pelangi melihat interaksi kedua anak didiknya. "Untuk yang sudah selesai, kalian bisa membantu teman yang belum selesai.”
"Baik bu" seru murid-muridnya.
Tidak lama setelah itu, Leon sudah berhasil menyelesaikan misinya untuk membantu temannya. Anak perempuan itu berterima kasih dan memberikan permen pelangi kesukaannya kepada Leon. Dia tersenyum lebar. "Aku sangat menyukai lollipop ini, anak baik boleh mengambilnya!" imbuh anak perempuan tadi.
Orang dewasa yang melihat adegan itu merasa lucu dan tertawa pelan. Dia mendekat dan melihat puzzle yang di susun Leon. Tidak ada yang salah di sana lalu dia berbalik memeriksa pekerjaan murid didiknya yang lain. Pekerjaan ini selalu menyenangkan baginya.
Leon cepat beradaptasi dengan teman-temannya. Dia anak yang cerdas, keputusan Elena menyekolahkan dia di sekolah biasa sangat tepat. Anaknya yang lebih suka sendiri kini punya banyak teman.
...🖤...
Elena kembali ke ruangan Rey. Lift itu terbuka menampakkan wajah cemas Rey. "Ada apa?" Tanya Elena.
"Astaga Elena, kau dari mana saja? aku khawatir!"
Elena mengelus lehernya dan dia memamerkan kue yang dia bawah. "Aku beli kue di seberang."
Rey menutup matanya sembari mengangguk. Dia bersyukur, tidak terjadi apa- apa dengan Elena.
"Ayo, kerjaanku sudah selesai. Kita kencan!"
Di perjalanan Elena menceritakan apa yang terjadi tadi ketika dia keluar. Rey mendengarnya tanpa menyela. Tersenyum mengetahui bahwa istrinya begitu perhatian dan baik kepada karyawannya.
.
Belum 4 jam dia meninggalkan Leon di sekolah. Orang tuanya mendapat mendapat telepon dari TK Leon jika anaknya mengalami kecelakaan. Mereka yang sedang berkencan tidak memperdulikan tiket yang sudah di bayarkan, anak lebih penting.
Rey memacu mobilnya dengan cepat, dia mengelus surai lembut Elena yang tidak berhenti menangis sejak mendapat kabar.
"Sabar sayang, kita sudah dekat!"
.
TK
__ADS_1
Mobil itu berhenti di depan bangunan putih mirip istana yang ada di Disney. Mereka tidak punya waktu untuk memarkirkan di tempat yang seharusnya. Tangan Elena tidak pernah dilepas Rey, dia terus menggenggamnya hingga masuk ke ruang kepala yayasan.
"Dimana anak kami?" tanya dia langsung begitu sampai di sana.
"Biar saya jelaskan Pak."
"Nanti saja penjelasan buk, kami ingin melihat Leon dulu!" Rey tidak bisa menunggu.
"Ada di sebelah, ruang kesehatan."
Tanpa menunggu, mereka berdua bergegas keluar dan masuk ke ruang kesehatan. Di sana, ada banyak guru dan beberapa anak didik. Kaki Elena sudah lemas, dia akan jatuh jika Rey tidak memeluknya.
"Permisi, kami orang tua Leon!"
Semua orang berbalik dan membuka jalan. Elena berlari melihat Leon terbaring di kasur dengan luka yang sudah dibalut di keningnya.
"Astaga, nak! Apa yang terjadi?" dia tambah menangis, Leon merasa bersalah.
"Mommy, tidak apa-apa" ujar dia agar ibunya tidak khawatir. Leon bisa melihat tangan ibunya bergetar. Mommy pasti terkejut, pikirnya.
Rey, mengelus kepala keduanya. "Sekarang bisa kami mendapat penjelasan?"
Kepala yayasan tadi mendekati Rey. "Begini pak, kita mengadakan kelas outdoor baru-baru ini, karena terlalu antusias beberapa peserta berlari, salah satu dari mereka tidak sengaja menyenggol Leon dan terjatuh menghantam batu. Saya benar-benar minta maaf, ini kesalahan dari kami karena tidak bisa mengehandle situasi."
Rey menahan amarahnya, tapi dia juga paham betul bagaimana sulitnya situasi seperti itu. Dia berbalik melihat Elena dan Leon.
Lihat, anaknya selalu baik, dia diajarkan dengan baik sejak kecil.
Elena mengulurkan tangan kepada suaminya, Rey menggenggam sebagai balasan. "Tidak apa-apa, Leon baik-baik saja."
"Baiklah, bisa kami bawa Leon pulang?"
Kepala yayasan mengangguk, dia membungkuk meminta maaf lagi.
Rey dan Elena menunggu Yu ra memeriksa Leon, genggaman tangan Rey tidak pernah lepas.
Setelah selesai Yu ra mengelus kepala Leon yang tertidur. Senyumnya mengembang, dia berbalik menghadap keduanya. "Dia baik-baik saja, jahitan di dahinya rapi, pastikan lukanya tidak terkena air. Nanti kita lihat lukanya dalan beberapa hari lagi."
"Kak, apa lukanya menimbulkan bekas?"
Ibunya khawatir.
"Tenang saja, sekarang sudah modern, alat medis dan pengobatan semuanya sudah canggih dan berkembang, Rey kan punya banyak uang! Untuk kondisi psikisnya atau trauma kita akan cek berkala."
"Aku keluar dulu ya, nanti ada suster yang bantu pantau." tambahnya pamit pada Rey dan Elena.
__ADS_1
Mereka berdiri di samping Leon. Melihat kekhawatiran istrinya, dia memegang pundaknya. "Yura dokter hebat, dia bilang Leon baik-baik saja."
"Aku tahu! tapi aku kasihan, dia masih kecil tapi lihat lukanya." Seorang ibu selalu mengkhawatirkan banyak hal, apalagi jika bersangkutan dengan anaknya. Dia mencium kepala Leon dan meminta maaf karena tidak menjaganya dengan baik hingga terluka.
"Ini bukan salah kamu!" Rey meyakinkan istrinya untuk tidak bersedih atas apa yang sudah terjadi.
...🖤...
TK, Setelah kepulangan keluarga Lee
"Bagaimana bu? Apa pak Rey ingin membawa masalah ini ke jalur hukum?" Seorang guru bertanya kepada Ketua yayasan.
"Kita belum tahu! Semoga saja tidak!"
"Lalu, bagaimana dengan Yoojin? apa perlu diberi hukuman?" Guru yang duduk dipaling belakang berbicara, dia adalah guru baru yang direkrut beberapa hari lalu.
"Bagaimana bisa! dia masih anak-anak! kita angkap saja masalah ini selesai kalau Pak Rey tidak membawa kejalur hukum!"
"Kenapa bisa seperti itu bu? seharusnya orang tua Yoojin diberitahu bahwa anaknya membuat temannya terluka, walaupun dia bilang tidak sengaja."
"Kita ini guru, sudah sepantasnya melindungi anak-anak!"
"Bukan karena orang tua Yoojin adalah pemilik sekolah kita?"
Guru baru bernama Nam Ji Hyuk terbilang berani, dia juga cukup tahu banyak tentang pekerjaan orang tua dari murid-murid sekolahnya. Dia selalu mengecek informasi setiap anak yang dia didik agar bisa lebih memahami situasi.
Ketua yayasan sekaligus pengajar membuang muka karena ketahuan ingin menutup kasus karena jabatan orang tua Yoojin. Mereka keluar dari ruangan dan kembali ke meja masing-masing, meninggalkan Ji Hyuk sendiri.
"Di mana-mana selalu seperti itu! Uang dan jabatan selalu nomor satu!" dia menggeleng, bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke meja kerjanya.
Nam Ji Hyuk mengejar kepala yayasan, dia ingin menanyakan satu hal lagi tetapi ketika sampai disana dia mendengar pembicaraan yang tidak pantas.
Kantor Ketua Yayasan
"Tenang saja Bu, sepertinya orang tua Leon tidak akan membawa masalah ini lebih lanjut!"
Senyumnya tidak pernah lepas saat berbicara dengan seseorang ditelepon, dia masih mendengar perkataan orang dibalik sana sembari menunduk hormat.
"Tentu saja Bu, baiklah."
Diluar seseorang mendengar semua perbincangan ketua yayasan dan seseorang yang dia tebak adalah orang tua Yoojin.
Ji Hyuk terdiam, saat dia melintasi kantor ketua yayasan menuju ruangan kerjanya. Dia menghela nafas. Alasan dia keluar dari rumah karena ingin bekerja tanpa campur tangan Keluarganya. Memandang semuanya secara positif dan memutuskan bekerja di sekolah ini, tetapi dia harus berpikir ulang apa harus dipertahankan atau tidak.
.
__ADS_1
.
.