The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 107


__ADS_3

“Tuan, anda harus segera ke apartemen Nyonya!” Kalimat itu bagai petir disiang bolong.


Darren tidak bertanya lagi, dia segera berangkat ke apartemen Valerei . Tidak memikirkan bahwa dia akan terkena denda karena menyetir dengan sangat cepat. Sementara Han dan Nola mengikuti mobil Darren dari belakang harus berhati-hati, jalan tidaklah sepi. Salah sedikit mereka bisa menabrak pengendara lain atau mobil itu terlempar ke trotoar.


Mobil mewah memasuk ke area parker di baseman, dia tidak memarkirkan mobilnya dengan baik dan hanya berhenti di depan pintu kaca menuju lift. Segera dia keluar dari mobil sembari berlari.


Lalu, mobil yang dikendarai Han dan Nola baru sampai 2 menit setelahnya. Nola turun dan memarkirkan mobil Darren tadi. Bahkan kuncinya masih menggantung manis di sana.


“Apa yang terjadi?” kata Nola. Begitu selesai mereka naik ke atas.


TING


Bunyi lift terbuka mengalihkan perhatian semua orang yang berada di lantai itu. Saat Darren keluar, Are juga keluar dari apartemen. Mereka terkejut. Tidak ada waktu menyapa dan mengenali mereka Darren menerobos masuk.


“Tuan.” panggil Are.


Tidak ada satupun dari mereka yang menghentikan, bosnya mereka telah memberikan selembar foto Darren agar dapat dikenali.


“Kau sudah datang?” ujar seorang pria, dia duduk di kursi makan meihat punggung Darren.


Pria yang di sapa itu berbalik, dia mengenali pemilik suara.


“Apa--"


Pria itu memotong. “Masuklah, istriku sudah memeriksa, dia baik-baik saja.”


"Istri?"


Darren terkejut, apa maksudnya istri? Namun, dia tidak berlama-lama dalam rasa penasaran karena keadaan istrinya juga tidak baik. Darren kembali berjalan ke arah kamar istrinya. Pemandangan yang pertama dilihat adalah tubuh kecil Valerei terbaring. Lagi dan lagi.


Wanita bernama Kim Hye Na bergeser memberikan ruang kepada Darren. Mengambil tangan istrinya dan menenggelamkan di wajahnya. Darren bernafas lega, istrinya masih bernafas.


Beberapa saat diangkat wajahnya, tangannya terangkat mengelus kepala wanita itu sayang, dia mendekatkan wajahnya.


CUP


Darren mengecup pelipis istrinya, setetes air jatuh di sana. Darren menangis.


“Tadi sudah sadar, terlalu lelah menangis dia tertidur.”


Hye Na keluar dari kamar setelah berbicara. Dia ikut bersedih dan akan menangis, suaminya tesenyum menarik pinggang wanita itu lalu memeluknya.


“Tidak apa-apa, kau bilang tidak ada masalah dia dan bayinya.” ucap dia menenangkan.


“Hem, aku tahu. Hanya merasa dia menjalani kehidupan yang sulit, aku merasa sedih.”


“Valerie akan menjalaninya dengan kuat dan berani, walau terkadang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, setidaknya kali ini dia tidak lari.”


Istrinya setuju. Wanita itu bukanlah wanita lemah, dia tahu apa yang dia lakukan.


Sementara Di dalam kamar, Darren tidak berhenti memandang wajah pucat sembab istrinya.

__ADS_1


“Sejak dulu, kau selalu melindungi dirimu sendiri. Pria yang mengucapkan janji suci bersamamu hanya menjadi nama saja. Dia berpikir, ketika kalian menikah apa yang harus dia lakukan. Membawamu atau tetap berdiri jauh agar mimpimu tidak menjadi khayalan semata. Lama berpikir akhirnya dia mengambil jalan penuh duri,”


“Sejak itu, dia harusnya tahu kehidupan kalian akan lebih sulit dari pada pasangan lain, tetapi dia tetap teguh pada pendirian yang salah. Alih-alih memikirkan dirimu, sebenarnya dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Karena luka masa lalu, dia menjadi takut dan berakhir menjadi pengecut.”


“Ibunya bertanya, apa alasan kalian menikah. Kau ingin tahu apa yang dia katakana? Dia bilang, bahwa aku mencintai pengantin wanitaku. Apa kau percaya?”


Darren menunduk, dia menggengam erat tangan istrinya.


“Aku penasaran jawaban apa yang akan keluar dari mulutmu, percayakah kamu pada pria yang sudah membawamu ke dalam neraka dunia?”


“Jika dipikirkan, aku tidak jauh berbeda dari Rey. Mungkinkah,,”


“Tidak,”


Suara lemah yang dia kenali membuatnya mengangkat wajahnya cepat.


Ah


Darren menangis, dia memeluk istrinya. Valerie menepuk punggung pria itu lembut. Dia ikut merasakan sakit saat air mata prianya keluar.


“Aku baik-baik saja, jangan khawatir.” kata dia lemah.


Darren menggeleng, dia melepaskan pelukannya. “Aku akan menelepon Yu Ra, biar dia memeriksamu.”


Wanita itu ikut menggeleng. “Tidak, aku baik-baik saja. Hye Na sudah memeriksaku,”


“Tidak, Yu Ra akan memeriksamu, itu tugasnya.”


Darren tetap bersikeras, dia melepaskan tangan istrinya dan mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dia menekan nomor Yu Ra.


“Apa karena anak ini?”


Hah!? Suaminya berbalik terkejut.


“Hallo? Darren?”


Suara Yu Ra terdengar.


Darren melihat panggilannya sudah tersambung, dia berbalik kembali menatap istrinya.


“Hallo? Apa kau salah menekan nomor?”


Katanya kembali.


“Apa karena anak ini, kau bersikap seperti itu?” Valerie mengigit bibirnya, menahan isakan keluar.


Seperti ada yang melemparinya dengan batu, Darren merasa sakit disekujur tubuhnya mendengar suara lemah istrinya menahan isak tangis.


“Sampai kapan kau berniat menyembunyikan ini padaku?”


Tidak ada yang bisa keluar dari mulut Darren, dia menjadi bisu dan hanya diam.

__ADS_1


“Kau merasa bisa menyembunyikan ini sampai kapan, AKU BERTANYA!!” teriaknya.


Darren meremas besi tempat tidur, menutup matanya bersamaan dengan air mata yang jatuh.


.


Dari luar Hye Na terperanjat, keduanya saling bertatapan.


“Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya dia pada suaminya.


Sang pria itu memeluk erat tubuh istrinya dan menenggelamkan kepala wanita itu di dadanya.


“Seseorang harus bertanggung jawab, semua berawal darinya. Klien yang marah dan Ibu yang hanya mencintai dirinya sendiri. Jika bukan Darren lalu siapa yang akan mengobati luka Valerie, aku hanya berharap tidak ada rasa sakit yang tertinggal. Untuk memulai kembali, dia harus berkorban”


Hye Na membenarkan perkataan suaminya.


.


“Kau berpikir, aku tidak bisa merasakan kehadirannya? Padahal ini tubuhku.” Sarkas dengan tatapan sinis dia menatap Darren.


Darren menatapnya sedih, berniat memegang lengan istrinya, dia menjangkau “Valerie,”


Tetapi tangannya di tangkis keras.


“Aku, meninggalkan rumah bukan hanya karena masalah Leon, kau benar-benar tidak tahu?”


Dia tida tahu bahwa Valerie meninggalkannya karena sudah mengetahui masalah kehamilannya.


Bersalah, dia mengakui bersalah. Sebagai pihak yang membuat luka di hati istrinya dia tidak pantas melakukan pembelaan. Darren memilih diam menerima semuanya.


“Setiap kali mencoba memahami jalan yang kau ambil, hatiku terbakar kecewa.” dia kembali menangis.


“Alasan kau memanggilku kembali ke Korea, apakah ada hubungannya dengan anak ini?”


Pria itu mengangguk tidak ingin ada kebohongan lagi. Dia sudah membesarkan hatinya menjawab semua pertanyaan Valerie.


“Sikapmu berubah juga karena anak ini?”


Sekali lagi dia mengangguk.


Valerie sesak.


“Setidaknya kau memiliki rasa tanggungjawab terhadap bayi ini. Sejak awal, hubungan kita memang berbeda, apa yang bisa diharapkan.”


Jarum tak terlihat menusuknya. Valerie terdiam cukup lama setelah mengatakan sebagian isi hatinya. Matanya turun melihat tangan yang terpasang selang infus. Dia selalu seperti ini, sakit dan sakit. Apa pantas untuknya menyandang status sebagai IBU?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2