The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 134 : Berat


__ADS_3

Darren belum juga sadar. Sudah 2 bulan berlalu sejak kejadian meledaknya mobil yang di identifikasi membawa Valerie. Hasil otopsi sudah ada sejak beberapa hari setelah kecelakaan tetapi hasilnya tidak diberitahukan kepada orang-orang, hanya keluarga Darren yang tahu. Mereka menunggu anaknya bangun.


Hubungan Darren dan Valerie juga belum terbuka ke publik. Larry tidak diketahui keberadaannya sampai hari ini sejak hari yang memilukan itu. Teman-teman Darren dan Valerie beraktifitas seperti biasa, sesekali mereka datang menjenguk Darren di depan kamar. Orang tuanya belum mengizinkan mereka masuk ke dalam kamar. Biarkan Darren istirahat dulu, kata Deora.


Hari Sabtu, semua pegawai Darren pulang lebih awal. Pesta perusahaan yang seharusnya di adakan hari ini batal. Untuk sementara Are mengawasi Hill Cor, selama Darren belum sadar. Lee Jong Seok menyerahkan semuanya kepada Are karena dia adalah orang kepercayaan anaknya. Selama bekerja bersama Darren, dia tidak melakukan kesalahan yang merugikan anak dan perusahaan. Begitupula dari segi penilaiannya sikapnya.


Deora duduk di samping kasur, menggenggam tangan putranya sembari menangis. Setiap hari, hatinya hancur melihat anaknya seperti ini. "Kapan kami bangun nak!? Kenapa lama sekali." Katanya. Dia gemetar, tidak sanggup menghadapi cobaan ini. Namun, dia harus tegar mengingat perkataan sang suami. Darren pasti sadar.


"Nyonya,"


Panggil seseorang dari belakang. Sebelum Deora berbalik melihat orang itu, dia menghapus air matanya terlebih dahulu.


"Ada apa?" Tanya Deora.

__ADS_1


Pengawal itu memberitahu Deora jika seseorang bernama Hyuk datang ingin menjenguk Tuan muda.


"Katakan bahwa aku menolak kunjungan siapapun." Dia kembali melihat Darren tapi pengawal itu belum beranjak dari tempatnya.


"Sudah Nyonya, saya sudah memberitahukan kepada Tuan Hyuk, tapi dia menolak pergi dan memberikan surat ini kepada anda dan tuan besar. Katanya, ketika anda atau Tuan besar melihatnya--kalian akan setuju."


Surat putih dengan cetakan bunga timbul berwarna merah maroon di tengah sudah berpindah ke tangan Deora. Dia mengangguk dan meminta pengawal itu untuk kembali ke depan kamar.


.


Hyuk masih menunggu di depan kamar saat Lee Jong Seok datang. Pria paruh baya itu menatap Hyuk dan mempersilahkan dia masuk ke dalam kamar. Hyuk menyapa Deora dengan menundukkan kepalanya sopan pada ibu dari temannya.


"Keadannya tidak pernah berubah, sejak hari itu." Kata Deora.

__ADS_1


Hyuk menatap pria yang tertidur sangat lelap di sana. Dia mendekat. "Darren memintaku tidak ikut campur dan aku mengiyakan perkataannya. Dia pergi sendirian dan terjadi kecelakaan di tengah jalan. Apa--" Tenggorokannya terasa serak dan pahit. Dia tidak bisa mengutarakan apa yang dia rasakan. Cekikan di lehernya tertarik dengan keras.


"Apa hasil otopsi 2 bulan lalu itu milik-- milik Valerie?" Pertanyaan Hyuk mengundang dua ekspresi yang berbeda. Deora menutup matanya dan duduk di kursinya, dia menangis. Sementara Lee Jong Seok menganggukkan kepalanya pelan.


Dulu bulan lalu hasilnya di sembunyikan, dia tidak tahu bahwa teman Darren akan mengetahui semuanya secepat ini. Di sana Hyuk terdiam, wajahnya sendu menatap lantai keramik putih. Tidak pernah terbayangkan, dirinya mendapati akhir yang begitu menyakitkan.


Di remas jari-jari tangan erat hingga memutih buku jarinya. Dia tidak memperdulikan tangannya yang akan terluka. Rasa sakit dan kepahitan datang mengucapkan selamat datang. Lembah lembab yang dalam.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2