The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 138 : Darren ver.


__ADS_3

"Aku ada disini." Ucap wanita itu.


Darren berbalik menatap istrinya. Tersenyum merekah bibirnya. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya wanita itu. Di genggam erat lengannya, Darren menengok tempat anak kecil dan pria dewasa tadi.


"Aku tidak tahu, kamu sendiri sedang apa disini?" Kata Darren. Dia tidak mengetahui tempat apa ini, semuanya gelap. Tempat yang bisa melihat masa lalunya. Tempat dia bertemu dengan istrinya. Apakah ini nyata atau dia berada dalam mimpi?


Dia menggeleng, jika memang ini nyata seharusnya dia tidak bisa melihat masa lalunya secara langsung dengan tubuh dewasa. Tapi apakah ini? Dalam hati dia berkata.


Valerie terlihat cantik dengan dress kesukaannya berwarna biru langit dengan hiasan mutiara kecil di bagian bawah bahu yang memantulkan sinar dari lampu jalan ke arah mata Darren. Sang suami, menyentuh mutiara itu dan menyusuri satu persatu hingga ke ujung.


Valerie melihat apa yang di lakukan oleh pria itu, menarik sudut bibirnya ke atas. "Aku? Sedang melihatmu." Tersipu malu Valerie memegang kedua pipinya. Darren melihat semburat merah muda di sana.


Kedua tangan Darren yang bebas sehabis bermain dengan mutiara tadi di bawa ke wajah Valerie. Saat tangan besar itu menyentuh kulitnya, ada percikan-percikan listrik mengejutkan. Desiran aneh menerpa tubuhnya.


Dielus lembut pelipis, lalu turun ke pipinya- kemudian ibu jarinya berhenti di atas bibir mungil wanita itu. Dia diam menatap mata sang istri. Ketika wanita itu menutup matanya, Darren tertawa kecil. Hal itu membuat Valerie malu hingga memukul dada suaminya.


Tangan Darren menghentikan aksi istrinya, dia melepaskan dadanya dari pukulan maut. Menahan tangan Valerie di pinggangnya. Mulutnya terbuka akan berbicara.


"Tempat dimana aku bisa melihatmu dengan bebas dan tempat kita bisa selalu bersama. Aku ingin berada di sana."


Valerie terdiam lalu sedetik kemudian dia menganggukkan kepala antusias. "Dimana?"


"Dimana kau berada, disana aku berada."


Istrinya melihat ke bawah, tepat di perutnya. "Mengapa kau tidak bertanya?"


"Apa itu?"


"Keadaan dia." Mata Valerie masih berada di perutnya. Darren ikut melihatnya, lalu dia mengangkat dagu sang istri. "Karena dia bersamamu. Jika kau baik-baik saja maka dia akan baik-baik saja."


"Kau mencintainya?" Tanya Valerie.


"Aku mencintaimu!" Jawab Darren.

__ADS_1


"Kau mencintainya?" Tanya lagi Valerie. Hingga pertanyaan ketiga jawaban Darren tetap sama.


Lalu. "Karena kau ada hingga dia ada." Kata yang membuat air mata wanita itu merembes keluar.


Darren membawa sang istri ke dalam pelukannya, pelukan dalam menghanyutkan jiwa. Semakin erat pelukan itu, semakin patah keinginannya.


"Tutup matamu!" Kata Valerie. Darren mengikuti intruksi tanpa membantah. Kemudian, sosok yang dia peluk menghilang menjadi asap asap yang terbang menyatu bersama udara.


Istrinya menghilang. Darren berteriak memanggil nama sang istri tetapi panggilan itu tidak membuahkan hasil, malahan dia tertarik menjauh masuk ke dalam lorong gelap dengan cahaya terang di ujung yang paling tinggi.


.


Ketika dia sadar, dia sedang berada di depan pantai pasir putih. Dia duduk dan melihat sekeliling. Sepi, disana tidak di temukan manusia, satupun. Pria itu mencoba berdiri, memegang pasir yang habis di tangannya jatuh kembali ke pelukan kawan-kawan. Darren berjalan sempoyongan menjauh dari pantai tapi dia tidak menemukan jalan keluar.


Dari tempatnya berdiri dia tidak bisa melihat ujung pantai itu. Semuanya penuh dengan cahaya terang. Menyilaukan matanya, sampai di salah satu payung pantai besar berwarna warni menjadi tujuannya. Ada yang menarik dari tempat itu. Dari sekian banyak tempat yang berada di sekitar pantai.


Dia terus melangkah dan menemukan bahwa ada seseorang selain dirinya yang berada disana. Darren memegang kepalanya yang sempat berdenyut kencang, dia memegang punggung kursi sesaat hampir jatuh. Ketika itu, dia melihat buku dan pulpen di atas meja berserta tas yang tergantung nyaman di sandaran kursi kayu.


Hanya hitungan detik, dari arah timur datang angin kencang menyapu pasir dari arah samping. Dia menutup matanya menunggu reda. Saat dia membuka matanya seseorang sedang duduk di bangku kayu tempat tas bergelantungan. Darren terkejut juga bahagia.


Panggilan itu tidak membuat respon apapun. Darren mengangkat tangannya menyentuh lengan sang istri yang sibuk menulis di buku. Namun, lengannya menembus lengan sang istri.


Dia melihat dirinya menjadi transparan. Ketika dia ingin memanggil lagi nama Valerie, wanita itu sudah berdiri membawa barang-barang yang tadi tergeletak sembarangan di atas meja.


Valerie berlari, dia mengikutinya. Valerie menjauh dari sisi pantai dan duduk di bangku taman. Wanita itu kembali membuka lembaran-lembaran tulisan di dalam buku. "Terima kasih sudah bersamaku selama ini,"


Valerie berbicara lagi. Lalu dia pergi entah kemana. Saat itu Darren yang menjadi transparan mengetahui dimana tempatnya berada sekarang. Pantai ini adalah tempat pertama kali dia menetahui wanita bernama Valerie.


Pria yang berada di belakang bangku kayu itu memungut lembaran kertas, setelah dia membacanya dia menjadi sangat tertarik. Dia kumpulan lembaran kertas itu dan memasukkannya kedalam jasnya. Dia pulang dan Darren mengikutinya.


Darren tahu, mengikuti dirinya akan membawa dia menemui Valerie lagi. Sebentar lagi hujan kata Darren yang telah menjadi transparan. Benar-benar hujan. Pria yang membawa lembaran kertas tadi berlari kecil menuju parkiran.


Saat itu dia melihat wanita mengenakan payung datang dari dalam menuju dirinya. Pria tadi melihatnya begitupun Darren. Valerie melewati mereka begitu saja setelah memperlihatkan wajahnya ketika mengangkat sedikit payung.

__ADS_1


Tidak lama, pria tadi juga pergi. Tinggallah Darren di bawah guyuran hujan yang tidak mengenainya.


.


Dia menutup mata lagi dan saat dia membuka kembali matanya. Dia berada di bawah lampu sorot di tengah jalan dengan Valerie di depannya. Valerie masih terdiam dan memandang lekat manik-manik hitam.


"Jika kala itu, aku menyapamu. Maka waktu kita tidak akan terbuang sia-sia." Ucap Darren.


"Dan saat itu kau dan aku akan menjadi berbeda." Lanjut Valerie.


"Valerie, apa kita akan bersama selamanya?" Tanya sang suami.


Wanita yang di panggil istri itu tersenyum manis.


Berusaha menggapai pipi Darren, Valerie berdiri dengan ujung jari kakinya. "Kalau begitu tempatnya bukan disini. Bangunlah! Aku akan berada disisimu!"


Tutttttttt.


...🖤...


Monitor disamping Darren tidak lagi memperlihatkan grafis naik turun, dia berhenti begitupun Hyuk yang sedang di sampingnya. Dokter dan perawat sudah sampai. Hyuk di terdiam di belakang memberi ruang agar mereka dapat menangani Darren dengan cepat.


Mesin-mesin yang mengguncang tubuh Darren di pasang. Dia melihat bagaiamana sahabatnya berjuang untuk hidup. Berjuang? Apakah Darren akan melakukan hal yang sama ketika mendengar Valerie pergi.


Hyuk menggeleng, keburukan apa yang sedang dia bayangkan. Salah satu dokter melakukan CPR ketika alat itu tidak lagi digunakan. Mereka berusaha mengembalikan detak jantung pasien. Bergantian hingga salah satu dari mereka berhenti.


Mereka terdiam masih dengan suara monitor yang berbunyi dengan satu nada. Deora dan Lee Jong Seok masuk dengan tertatih jatuh di samping Hyuk.


"Anakku!" Teriak Deora.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2