
Pantaskah aku menjadi seorang IBU?
Dia merasa bersalah pada anak yang dikandung, bagaimana dia menjadi ibu yang baik? apakah dia pantas menyandang status mulia itu?
“Aku akan sangat sedih, jika anak ini membenciku.” katanya, dibarengi air mata yang keluar
Darren mendekat. “Kau ibu yang baik, akan selalu seperti itu. Kenapa dia membencimu?”
“Karena membenci ayahnya,”
Darren tersenyum, tidak apa-apa, dalam hatinya.
“Beritahu dia bahwa aku bersalah padamu.
Ia tidak akan membencimu, bagaimana bisa sedangkan kau mempertarukan nyawa agar dia bisa melihat dunia.”
“Lalu dia akan membencimu.”
“Selama kau dan dia baik-baik saja, 1.000 tahun pun tidak masalah.”
“1.000 tahun? Terlalu banyak menonton drama aneh.” Valerie tertawa kecil, sampai lupa bahwa dia marah.
He He He
“Valerie,” panggil Darren setelah sesi tertawa cukup lama.
Wanita itu bergerak mengangkat wajahnya.
“Boleh aku memelukmu?” katanya, ada serak saat dia mengucapkan permintaannya.
__ADS_1
Valerie mengiyakan dengan mengangguk. Tidak ada bagian dari dirinya yang bisa menolak.
Pelukan Darren terasa berbeda, dia merasakan setiap rasa sedih pria itu ketika tubuh mereka bersentuhan. Dia takut pelukan ini menjadi pelukan terakhir, Darren memeluknya dengan erat, melepaskan semua kerinduan yang telah tertumpuk di hatinya.
Untuk semua kesulitan yang dialami istrnya, dia tahu bahwa semua itu berasal dari ketidakmampuan dalam mengurus rumah tangga yang telah diamanahkan kepada dirinya.
Dia mengaku salah dan menerima segala keputusan. Entah itu perpisahan atau tetap bertahan, dia bisa menerima segalanya. Kebodohan yang menjadi duri ini telah melukai siapapun yang menyentuhnya.
Bahkan anak yang belum lahir itu akan terluka karena ketidakmampuan orang tuanya. Dia membayangkan masa depan.
Ketika rencana yang disusun kemarin berhasil dia sangat gembira, dia berpikir Valerie belum mengetahui kehamilannya.
Namun, sekarang dia sadari rasa gembira yang muncul itu tetap bersemayam dalam dirinya atau telah menjadi buih dilautan.
Pelukannya semakin erat. Darren mengecup puncak kepala istrinya, tak tertahan air matanya semakin jatuh.
“Aku mencintaimu!”
.
Valerie mengerjap, remang. Hanya cahaya lampu tidur yang menerangi kamar. Dia terbangun dari tidur setelah adegan pelukan yang memakan waktu lama itu usai. Tertidur di pelukan Darren, tempat ternyaman baginya. Saat suaminya mengucapkan kalimat cinta, Valerie diam tidak membalas. Dia bukan tidak mencintai Darren, hanya saja dirinya dibuat kecewa atas perkara yang melibatkannya tetapi hal itu di sembunyikan.
Dia melirik ke samping. Benarkan itu kebohongan? Bagaimana definisi kebohongan? Jika Valerie mengetahui faktanya sejak lama apakah masih bisa dikatakan bohong? Atau hanya perkara yang tidak diketahui bisa disebut bohong jika ketahuan tetapi dia menyangkal. Mengapa dia berteriak, seolah-olah dirinya dibohongi?
Wanita itu memegang lengan Darren yang berbaring dengan kelopak mata tertutup. Nafasnya teratur, dia tidur seperti bayi. Dalam pandangan istrinya, tentu saja. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Darren, dielus lembut rahangnya. Dorongan yang di halalkan mengecup bibir suaminya. Hanya sebentar.
Lalu, dia berpindah ke arah pelipis Darren, memberikan kecupan manis disana sekali lagi dan dia menjauh. Valerie turun dari kasur, berjalan keluar kamar. Dia tidak ingat, apakah dia sudah makan malam atau belum. Perutnya lapar.
Kulkas apartemen tidak pernah kosong, Valerie merasa senang melihat banyak bahan di sana. Tangannya mengetuk pintu kulkas mencari ide akan memasak apa malam ini, atau lebih tepatnya dini hari ini. Setelah banyak pertimbangan yang menyenangkan, dia memilih membuat steak dan kentang goreng.
__ADS_1
Dengan lincah, tangannya mengeluarkan semua bahan yang dibutuhkan. Diletakkan di atas meja keramik, dia mulai mengerjakan satu persatu. Mulai dari memotong bahan-bahan dan menyiapkan bumbu-bumbu. Semuanya ditata rapi.
Sementara bahan-bahan sisa di masukkan kembali ke dalam kulkas dan peralatan yang telah di pakai dia cuci. Jika tidak mencuci peralatan segera, kemalasan akan datang padanya. Dia akan menunda-nunda pekerjaan hingga esok hari dan itu bisa menimbulkan ketidaknyamana bersama. Suaminya, seorang pembersih. Dia tidak akan menyukai banyak peralatan kotor di dapur.
"Hye Na menyiapkan daging sebanyak ini, seolah-olah aku makan banyak. Oh, memang makan banyak karena ada kamu." mengelus perutnya selalu menjadi kebiasaan. "Papi masih tidur, kita jangan berisik ya?" Ibu dan anak membuat kesepakatan.
Valerie bergegas, perutnya sudah lapar minta di isi makanan. Kentang jadi itu tinggal di masukkan ke dalam air fryer lalu daging di masukkan ke alam oven. Biasanya, dia akan memasak daging mengunakan pan. Takut menimbulkan suara desis daging bertemu minyak dia memilih cara paling aman.
Sembari menunggu mereka matang, Valerie mengangkat kentang yang sudah di rebus selama 15 menit. Ditiriskan ke dalam wadah kacakaca dan di hancurkan menggunakan potato masher atau alat penghancur kentang. Tangannya sibuk. Di dalam panci yang berada di atas kompor dia harus memanaskan susu dan mentega dengan api kecil. Setelah selesai dia menuangkannya ke dala kentang tadi dan diberi bumbu untuk menambah rasa. Selesai.
Dia tersenyum, mashed potato selesai. Tinggal menunggu daging dan kentang goreng. Ah jangan bertanya mengapa dia membuat dua hidangan kentang sekaligus. Valerie menyukai kentang goreng karena itu dia menyiapkan untuk cemilan setelah makan utama. Informasi pentingnya, dia berniat menonton drama setelah makan. Kentang goreng hanyalah pendamping.
Menunggu dan menunggu. Dia membawa laptopnya dari perpustakaan kecil di sebelah kiri dapur. Mencari drama yang telah dia tunggu-tunggu. Hanya tayang seminggu sekali. Drama itu menceritakan kisah seorang wanita yang mengalami mimpi yang sangat nyata, seperti tersedot kedalamnya dia menjalani hidup dalam mimpi itu hingga dia sadar kembali.
Walau terdengar tidak masuk akal, Valerie menontonnya hanya untuk kesenangan saja. Apalagi banyak adegan yang menampilkan skesta komedi. Dia tertawa melihat setiap adegan yang terjadi di dalam drama itu. Kakinya digoyang-goyangkan hingga bunyi oven yang menandakan dagingnya sudah matang.
"Makan!"
Bersemangat seperti biasanya. Dia berdoa sebelum makan dan mulai dengan potongan besar daging. Menikmati rasa beradu di mulutnya. Matanya terpejam sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Enak. Tidak ada yang sia-sia dari penantiannya selama hampir sejam.
Valerie mengunyah perlahan, hingga potongan daging terakhir masuk ke dalam mulutnya. Dia mengucap syukur, bisa makan enak hari ini. Piring kotor segera masuk ke dalam bak cuci untuk dibersihkan. Dan terakhir kentang goreng yang telah siap sudah berada di kerangjang sejak tadi. Dia menyisihkannya sebelum daging matang.
Berjalan ke sofa agar lebih nyaman, Valerie duduk di bawah bersandar di kaki sofa dan meletakkan laptop di atas meja. Tidak lupa cemilan malam ini adalah kentang goreng dan susu hangat. Dia belum minum susu tadi.
"Eh? Headset!" Lupa, headset nya berada di kamar. Menghela nafas, tiba-tiba mood yang tadi bagus kini anjlok. Valerie cemberut tidak ingin menonton lagi, kentang goreng di keranjang kecil juga masih setia duduk manis tanpa disentuh.
Di tutup kembali laptopnya. Dia malas jika harus kembali ke kamar, akhirnya selonjoran di atas sofa. Selimut hangat yang di sediakan di laci meja menjadi teman untuk menghangatkan diri. Jangan pernah lupakan susu yang wajib dia minum sudah tandas tanpa tersisa.
.
__ADS_1
.
.