The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 119 : Dav membuat pilihan


__ADS_3

Kopi menjadi pilihan sembari dia menunggu kabar dari Korea. Wanita yang berstatus sebagai istrinya itu kini telah merencanakan hal buruk bagi orang lain. Tanpa melihat ke depan, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada rasa iba dalam perasaannya, juga rasa marah yang mendominasi. Apa dia menyesal telah mengenalnya?


Pertama kali bertemu, dia tidak merasakan apapun. Pertemuan itu terus berlanjut hingga dia menyadari bahwa ada yang menggelitik hatinya saat melihat wanita itu tersenyum. Senyum yang dulu menawan, yang memberinya harapan kebahagiaan keluarga. Dari semua batas yang dia pasang, wanita itu bisa menghilangkannya.


Tapi apa benar wanita itu yang merobohkan bentengnya? sekarang, perasaan itu mulai kabur. Sejak dia mengetahui kebenaran sang istri berniat kembali ke Korea, beberapa tahun lalu. Yah, dia sudah tahu. Bahkan ada waktu dimana dia ikut campur agar istrinya tidak masuk ke Korea.


Walau sudah tahu, dia tetap memaksa untuk percaya. Dengan kata lain, dia menutup mata terhadap keburukan Sujong. Mengutus Estela juga meruapakan hal yang telah istrinya rencana selama ini. Menghilangkan perasangka bahwa wanita itu telah meninggalkan janji suci dihadapan banyak orang.


Jika cinta begitu menyakitkan, mengapa pria itu ingin bertahan? Setahu kita, bertahan itu ada ketika ada harapan. Apa harapan itu? Bahkan anak mereka telah pergi lebih dulu. Sujong melakukan aborsi setelah tahu dia hamil. Lagi, pria itu tahu. Memang, menyangkut pengabaian terhadap masalah adalah keahliannya.


Hati nurani yang dibutakan oleh cinta. Cinta yang menghilang atau memang tidak ada sejak dulu. Dia menjadi ragu. Memutar kembali ingatan saat pertama kali bertemu. Hari itu cerah sama seperti hari ini. Apakah dia harus mengakhiri dengan cara yang paling menyakitkan?


"Aku mencintaimu? atau memang cinta ini bukan untukmu? tapi mengapa aku merasakan sakit sampai ketulangku!" Dia berbicara sembari menatap foto wanita yang tersenyum.


"Apa karena penghianatan atau karena harga diriku tidak rela kalah?"


Tok Tok Tok


Suara ketukan dari luar menarik dia keluar dari zona paling berbahaya. Seorang wanita masuk dengan kursi rodanya. Wajahnya tidak seceria dulu, pucat itu telah hinggap menjadi sarang yang nyaman. Dan dialah yang menjadi penyebabnya.


Kakak ipar.


"Aku,"

__ADS_1


Dav mengangkat tangan, menghentikan Inha bicara. Dia cukup mendengar semuanya. Orang yang dia percaya selain Sujong pada masa itu bergabung menghianati kepercayaannya.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan! bagiku, kita bukan lagi sebuah keluarga. Kakakmu menghancurkan pernikahan ini, dan kau menghancurkan kepercayaannyaku!"


Pria itu menggeleng.


"Sejak dulu, apa aku punya pilihan?" Tanya Inha.


Dia tidak bertanya kepada Kakak iparnya. Pertanyaan itu dia tujukan kepada dirinya sendiri. Menyadari bahwa dia tidaklah penting. Selalu saja seperti ini. Dia selalu menjadi tameng paling tebal untuk kakaknya. Pria yang telah membawa hatinya sejak lama itu memandang Inha dengan perasaan jijik. Dia bisa apa?


"Aku hanyalah gadis cacat yang bergantung kepada saudarinya untuk bertahan hidup. Membantunya melakukan hal buruk, menutup kasus dengan rasa kasihan. Pada akhirnya, ketika itu terbuka hanya aku yang dibenci. Kemana orang-orang yang dilukai Sujong? dia hanya mendapat permainan maaf dan lolos begitu saja. Kau benar, tidak salah memandang gadis sepertiku dengan tahapan jijik,"


Inha bisa melihat semuanya, bagaimana dia dipandang. Bahkan saat itu, dia dibantu karena rasa iba pada gadis cacat.


"Ada yang bilang, setiap kali kau merasa sakit setiap luka harus diingat, tetapi aku tidak ingin mengingatnya, jika itu berkaitan dengannu. Membenciku juga tidak ada artinya, hidupku selalu berada dalam lingkaran ini, kau mau bagaimana?"


Mendapati Suasan semakin redam, Inha menghela nafas pelan dan pendek. Dia menatap lurus kedepan. "Jangan terlalu marah kak, jika pada akhirnya kau juga sama seperti pria lainnya. Luluh pada saat mata kakakku menatapmu."


Dulu, dia berpikir akan ada kesempatan. Namun, dia hanyalah boneka. Hidup tanpa rasa. Persis ketika dia ingin mengungkapkan perasaannya pada pria di depannya.


Dav mengangkat kepalanya dan menatap Inha yang juga sedang menatapnya. Tidak menyangka akan mendapat pandangan seperti itu. Sama seperti sebelumnya, dia menutup mata dan telinga terhadap kegilaan sang istri.


"Kalau kau hanya akan tersenyum dan kembali menutup matamu sama seperti dulu, tolong redah amarahmu. Aku bukan Sujong dan aku tidak berkewajiban mengikuti semua keinginanmu. Katakan saja kemana aku harus pergi, perjalananku panjang dan melelahkan."

__ADS_1


Katanya dengan ekspresi acuh. Inha sudah tidak perduli bagaimana dia akan dipandang oleh pria itu. Dia benar, dirinya tidak punya kewajiban apapun kepada Dav.


"Kau semakin mirip dengan kakakmu! Sudah tahu salah tapi berlagak kuat seolah-olah kau bisa menghindari kemarahanku. Bagus sekali Inha." Sindir Dav.


Inha tersenyum tipis, dia sakit. Dia tidak bicara dan hanya menunduk melihat lantai. Semakin hening ruangan itu sampai suara langkah kaki memakai sepatu fantofel terdengar berjalan ke arahnya. Pria itu berhenti di depannya dan nha masih menunduk, hanya melihat sepatu pria itu.


"Kau akan tinggal di mansion utama bersama adikku!" Ujar Dav.


Mendengar itu Inha kaget, adiknya?


Dia gemetar, tapi masih bisa di kontrol. Tangannya di tarik kebelakang, Inha mencengkram ujung baju belakangnya.


Mendadak takut, sampai ingatan-ingatan buruk itu terulang. Jika dia tidak segera menyadarkan dirinya, Inha yakin dia bisa pingsan. Namun, pria itu masih berada di depannya. Dia harus terlihat kuat. Tidak perduli bagaimana hancurnya dia. Pria yang dia kira akan melindunginya ternyata lebih kejam dari pada yang dia bayangkan.


"Sepertinya kakak akan meninggalkanku lagi, tinggal di mansion sama dengan membunuhku." Inha berbicara dengan sangat kecil, hingga terdengar seperti gumaman. Jelas, Dav tidak dapat mendengar apa yang di katakan Inha.


Apa yang harus dia lakukan, haruskah dia mengatakan kepada kakak iparnya bahwa dia tidak ingin kembali ke Mansion atau dia akan berpura-pura kuat dan menerima semuanya. Sisi dirinya memintanya memohon maaf dan melepaskan dia pergi tapi sisi lainnya tidak ingin terlihat lemah hanya karena dia kekurangan dalam banyak hal. Inha tidak bisa lepas dari dari harapan masa lalu. Upaya yang dia lakukan akan tenggelam bersama keputusan Dav memintanya kembali ke Mansion.


"Kapan aku akan berangkat?" Ucapnya tanpa menatap mata Dav.


Dav bertambah kesal, dia pergi meninggalkan Inha yang mematung. Setelah mendengar suara langkah itu menjauh Inha memegang dadanya. Dia tidak ingin kembali ke Mansion utama. Dia tidak ingin mengalami hal serupa yang terjadi beberapa tahun silam, sehingga menguntungkan sang kakak dan menempati kursi sebagai Nyonya Dav. Inha ingin berteriak sekencang-kencangnya. Utang itu belum dia tagih. Utang itu mungkin tidak bisa dia tagih sampai akhir.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2