
Ruang makan ini terasa berbeda, ada yang hangat dan merekah. Darren yang biasanya akan diam saat berada di meja makan, kini berbicara dengan aktif bersama Leon. Sampai Valerei sendiri merasa tidak mengenal suaminya, bukan tanpa alasan. Dia mengangkat gelas menyadari bahwa isinya telah habis dia minum sambil memperhatikan keduanya.
Hal itu menjadi fokus kepala pelayan, dia meminta pelayan yang lebih muda untuk menuangkan air kedalam gelas kosong dihadapan Valerei. Selesai dengan gelas kosong, tangan lincahnya menjalar ke arah toples keripik kentang dengan taburan bumbu kesukaannya, rasa sapi panggang. Namun, bukannya mendapati kebahagiaan dia harus menerima kenyataan bahwa toplesnya ikut bersedih telah kehilangan teman-teman yang dia tampung.
Helaan nafas Valerei yang berat, menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di area meja makan. Darren memperhatikan istrinya lalu turun melihat jari-jari yang telah ternoda bekas bumbu kripik. Dia menyadari helaan nafas tadi berasal dari habisnya keripik kesukaannya. Darren mengambil toples kosong itu dan memberikannya kepada pelayan yang tadi menuangkan air ke gelas istrinya.
"Tolong ambilkan lagi." pintanya, walaupun dia seorang bos tapi kata 'tolong' dan 'terima kasih' yang diajarkan ibu Deora selalu diingat. Mungkin hal itu menjadi aset Darren, selain karena masalah keluarga tidak pernah ada pelayan ataupun pengawalnya yang keluar tanpa kabar ataupun karena ketidakmampuan dia sebagai majikan yang baik.
"Terima kasih!" Kembali dia ucapkan, saat pelayan itu datang dengan toples penuh keripik. Valerei bahagia, kali ini suaminya peka kata dia dalam hati. Tangannya ditarik pelan oleh Darren, dia kaget mendapati suaminya mengambil tisu.
"Mau apa Darren?" tanya Valerei, mencoba menarik tangannya tetapi tidak bisa, tanganya masih dipegang.
"Sini!" tegur Darren.
"Aku masih mau makan!" Wajahnya dibuat seimut mungkin, agar suaminya mengerti.
"Aku tahu, maju dulu." bersikeras Darren.
"Ih, apa sih! ini tuh bisa dijilat! Mubazir, bumbunya enak!" dengan mode cepat, dia bisa melepaskan tangannya dari Darren.
Leon memperhatikan semuanya berlangsung, dia mendapati hal menarik dari sikap Darren kepada Valerei. "Papi"
Kedua orang dewasa yang akan berdebat soal sisa bumbu ditangan Valerei menengok Leon bersamaan. "Ya nak?" balas Darren.
"Apa mami sering membuatmu kesal?"
Valerei yang mendengar pertanyaan Leon, membuat ekspresi tidak percaya, pupil matanya mengecil dengan alis yang menyatu. Apa telinganya tidak salah dengar?
Darren bergantian melihat keduanya. "Mami?"
Leon mengangguk. "Kau sabar sekali!"
Seperti jatuh tertimpa pohon mangga, Valerei merasa sedikit kecewa. Kalau anaknya saja merasa dia orang yang sering membuat orang kesal bagaimana dengan Darren yang mengalaminya langsung.
Awan mendung yang baru saja selesai dengan hujannya kembali menerpa kediaman Lee. Valerei diam, pandangan matanya kosong tertuju pada toples kripik. Dia tidak berkedip, sekalinya berkedip air mata itu jatuh di pipinya.
Kaget dengan respon istrinya. Secepat kilat, memeluk Valerei, menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya. "Valerie!" panggil Darren. Tadinya dia sempat berpikir jika Valerei akan mengamuk mendengar perkataan Leon tapi, ternyata istrinya malah menangis.
Para pelayan melihat interaksi antara keluarga kecil itu ikut panik. Namun, berbeda dengan ekspresi kepala pelayan di rumah itu. Senyum simpul kepala pelayan yang sudah puluhan tahun bekerja untuk keluarga Lee menjadi salah satu hal menarik. Jika diingat dulu, dia tidak pernah melihat suasana meja makan begitu berbeda.
Tangisan Valerei tidak mereda, akhirnya makanan yang baru saja akan disajikan tidak dicicipi. Darren meminta kepala pelayan untuk membantu Leon makan. Mengingatkan Leon agar makan dengan baik jika tidak Valerei akan marah. Sementara dia, akan mengurus Valerei dikamar.
Sepeninggal keduanya, Leon makan dengan baik dibantu oleh pelayan keluarga Lee, dia tidak bisa mengikuti keduanya karena beberapa hal tentang hubungan suami Istri tidak bisa dia campuri. Dalam sana, dia merasa bersalah telah membuat mami kesayangannya menangis. Tetapi, dia mengetahui bahwa kecurigaan pada tubuh maminya adalah benar.
Valerei bukan wanita yang mudah terbawa suasana, hanya satu hal yang dapat membuatnya berubah dengan cepat dan itu hal yang Leon cari tahu tadi. "Mami tidak pernah berbohong padaku, hari itu juga tidak!"
__ADS_1
.
Jepang, 2 tahun silam
Valerei berlari setelah turun bus dari tempat kerjanya. Waktu itu pukul 11 siang, Elena menelepon bahwa ada segerombolan orang yang datang ke rumah mencari dirinya. Elena tidak mengenal siapa mereka, sudah pasti bukan orang Frederick.
Dia bahkan mengabaikan beberapa sapaan ramah dari tetangga yang berpapasan dengannya di jalan. Tidak ingin berlama-lama, dia semakin mempercepat langkahnya.
"Elena!" teriaknya saat memasuki rumah.
Tetapi, bukannya Elena yang dia dapati melainkan Darren dan banyak bawahannya yang memakai setelan jas. Pria itu berdiri membelakangi dirinya, dia menghadap ke arah foto besar yang tergantung di dinding.
"Apa itu yang dimaksud foto keluarga?" Darren berbalik, untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka Darren terlihat begitu berbeda. Dia merasa Darren terlihat lebih asing dari biasanya.
Valerei maju menghampiri Darren, dia meremas tangannya yang penuh keringat, lelah berdampingan dengan gugup. Tepat di hadapannya Darren menunduk membisikkan kalimat. "Sampai aku melihat Frederick menyentuhmu lagi! Rey akan tahu posisi kalian saat itu juga! Frederick akan membayar mahal untuk apa yang dia lakukan! Sebaiknya kau ingat, jangan membuatku mengulang!"
Setelah dia mengucapkan kalimat panjangnya, Darren pergi membawa semua orang yang berada di dalam rumah keluar, lima menit kemudian semuanya bersih. Lalu, dari seberang jalan ada mobil yang akan memasuki pekarangan rumah. Saat berhenti, dari mobil turun Elena dan Leon dalam gendongannya.
Mobil yang baru saja pergi adalah mobil perusahaan milik Darren, dia tahu lambang bukit berada di belakang sebelah kanan.
"Mereka siapa kak? kenapa mereka mencarimu?" Elena mencercanya dengan pertanyaan.
Berusaha agar suasana tidak tegang. "Tidak apa-apa, mereka tidak akan menyakiti kita!"
Elena tidak bisa berhenti khawatir, melihat banyak orang yang berpakaian hitam membuatnya takut.
"Kau tidak apa-apa? kita perlu memberitahu Frederick?"
"Tidak usah, aku bisa mengurus semuanya! kau dan Leon tenang saja, oke?"
Walau Valerei mengatakan dia baik-baik saja tapi Elena tentu tidak tenang. Dia menelepon Frederick, berbohong tentang kekhawatirannya tentang Rey, dan Frederick mengirim anak buahnya ke Jepang untuk menjaga mereka.
Malam hari, Valerie duduk sendiri di meja makan sambil menenggelamkan kepala di antara tangan yang terlipat. Entah sudah berapa lama dia dalam keadaan seperti itu.
"Mami?" panggil Leon dari depan.
Valerie terkejut dan melihat jam di dinding. Dini hari. "Leon? ada apa nak? kenapa belum tidur?"
"Mami, tadi siapa?"
"Hah? siapa nak?"
"Orang-orang berjas itu, apa yang mereka lakukan di sini?"
"Oh?"
__ADS_1
"Mami tidak bisa memberitahu Leon. Tapi nanti jika saatnya tiba, Leon akan bertemu dengannya. Dia, orang yang akan selalu melindungi mami!"
.
Satu minggu berlalu.
Valerei menidurkan Leon, membaca buku kesayangan tentang anak kecil dan pohon apel. Halaman buku itu hampir habis tapi Leon belum menunjukkan sikap akan tidur, matanya masih bersinar. Maminya melihat jam dinding.
"Leon, sudah waktunya tidur." lembut maminya mengelus kepalanya.
"Leon...."
Valerei menunggu Kalimat itu selesai diucapkan anaknya.
"Leon melihat pria yang sama."
"Pria yang sama?" Tanya Valerie bingung
"Iya, pria yang sama dengan foto yang berada di buku." Leon menunjuk pintu sambung kamar Valerei.
Foto yang berada di buk---. Valerei ingat, dia menyimpan satu foto Darren saat mereka menikah. Dia pikir foto itu hilang teryata Leon menemukannya.
"Dimana Leon lihat bukunya?"
"Dibawah kasur!"
Dia mengingatkan saat mengambil buku coklat dari bawah kolong kasur.
"Leon bicara dengan pria itu?"
"Iya, dia bilang kalau mami sudah menikah!"
"Lalu, dia bilang dengan siapa?"
Leon menggeleng.
"Orang dewasa punya urusan yang tidak bisa dicampuri anak-anaknya. Jadi Leon, mami bukan ingin menyembunyikan apapun."
Leon mengangguk, dia tidak pernah memikirkan bahwa itu adalah kebenaran. Masa lalu yang diingat Leon mungkin telah dilupakan oleh Valerei.
.
.
.
__ADS_1