
Pak Shin menerimanya tapi masih terlihat bingung, ekspresi itu tak luput dari pandangan Valerei. "Ini hadiah untuk putrimu, Darren bilang pak Shin boleh cuti sampai besok, iyakan sayang?" dia meminta persetujuan suaminya. Valerei menengok menatap Darren yang ditatap bukannya menjawab malah diam, wajahnya terlihat lucu sekaligus menyeramkan bagi Valerei.
Pak Shin mengangguk, "Terima kasih Nyonya, Tuan" Valerei tersenyum lalu Pak Shin turun dari mobil, dia memberi hormat setelah itu pergi. Are menggantikan Pak Shin mengemudi.
...🖤...
Mansion Darren terpantau ramai, banyak orang yang lalu lalang mengerjakan tugasnya masing-masing.
"Kita bicara." lagi, Darren menjatuhkan perintah yang tidak bisa dibantah.
"Darren, tapi kau janji tidak akan marah ya?" dia menunduk, takut menatap suaminya. Darren maju selangkah.
"Kau takut padaku?" valerei refleks mengangguk. Kejujuran yang mengundang tawa tertahan para pekerja yang berada di mansion. Saat dia ingin mengangkat kepala melihat pria yang berdiri tepat di depannya, sebuah pesan menghentikan gerakannya, dia melihat lalu menyimpan kembali ponselnya setelah selesai.
Valerei diam. Maaf darren, batin valerei. "Kamu tidak capek? istirahat saja dulu." dia berniat kabur menghindar dari darren.
"Kau ingin kita bicara disini?" Valerei melihat sekeliling, banyak pegawai di mansion. Dia menggeleng lemah. Dia kalah, Darren tidak mudah kali ini. Berjalan mengikuti suaminya, melihat punggung tegap dengan setelan jas yang membungkus nya terlihat sangat tampan. "Dia bisa jadi model" suara kecil itu masih terdengar oleh Darren, dia berbalik, "Duduk!" Darren memintanya duduk, sejak kapan kita sampai.
"Aku tidak sibuk, sekarang bicara" ujar Darren.
Valerei diam, dia menunduk memainkan jari jemarinya. "Kamu ingin apa?" tanyanya lagi. tetapi Valerei tidak menjawab, dia malah mengalihkan topik. "Darren, aku lapar."
Darren tahu istrinya hanya ingin mengulur waktu, dia menatap istrinya membuat Valerei tidak nyaman. Jika Darren mengikuti kemauan istrinya saat ini dia tidak akan menemukan jawabannya lain kali.
Beberapa jam berlalu, Darren memijat keningnya. dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tidak ada satupun yang keluar dari mulut Valerei setelah pernyataan dia kelaparan, "Valerei, kita sedang berkomunikasi, pertanyaan ku padamu butuh jawaban."
"Aku sudah bilang, tidak ada apa-apa. aku hanya bertanya kau sibuk atau tidak." yah akhirnya setelah sekian lama dia bungkam tapi tetap saja Darren merasa istrinya punya sesuatu untuk dikatakan.
"Baiklah." bukan karena Darren menyerah, dia tidak ingin istrinya merasa tertekan. jika Valerei sudah siap, istrinya pasti akan memberitahukan semuanya.
Darren pergi ke ruang kerjanya, meninggalkan Valerei masih yang terombang-ambing oleh perasaan bersalah.
.
__ADS_1
Sudah beberapa hari Valerei berada di mansion. dia merenung di dalam kamarnya dan tidak memperbolehkan siapapun untuk menemuinya. Jika ada yang bertanya dimana Darren, jawabannya dia sedang bekerja. Dia yang begitu mencintai pekerjaannya sekarang sedang asik bermesraan dengan Dokumen-dokumen diatas mejanya.
Dia terus merasa bersalah mengingat terakhir kali berbicara dengan suaminya. Awalnya aku tidak berniat untuk merahasiakan apapun, aku ingin memberitahu semuanya tapi waktunya selalu tidak tepat. jika bukan karena SMS aneh itu, batinnya kesal.
Banyangan kembali berputar di kepalanya, segera setelah dia menjemput suaminya di bandara, Darren memintanya untuk bicara.
"Kau takut padaku?" Valerei refleks mengangguk, kejujuran yang mengundang tawa tertahan para pekerja yang berada di mansion. saat dia ingin mengangkat kepala melihat pria yang berdiri tepat di hadapannya, sebuah pesan menghentikan gerakannya.
Pesan ancaman di tujuan kepadanya. Entah siapa orang itu, dia tidak ingin mengambil resiko. Dia membaca pesan itu lalu menyimpan kembali ponselnya setelah selesai. Valerei diam. maaf Darren, Batin Valerei.
Valerei bukanlah peramal tapi stiker anak kecil bersayap yang orang itu gunakan, dia tahu untuk siapa di tujukan. dia harus berhati-hati, orang ini mungkin berbahaya.
Dia mondar mandir. "Apa aku telepon saja? tapi malu, tapi kalau Darren marahnya lama gimana? ahk sudahlah." setelah bertengkar dengan dirinya sendiri, dia menelfon Darren. Beberapa kali mencoba, Darren tidak bisa dihubungi, dia sibuk.
Valerei merasa dirinya aneh, aku seperti anak kecil, batin Valerei. Dia menekan tombol interkom menyambung kelantai bawah tempat para pengawal. "Han panggil Nola, kita pergi keluar."
.
Nola dan Han saling memandang. Mereka sudah berada di area pemancingan.
"Boro-Boro dapat, umpannya saja tidak terpasang." mengayunkan Udang kecil yang belum terpasang dengan pancingan. Nola tertawa terbahak-bahak saat wajah Han penuh keringat.
"Udaranya tidak panas tapi kau berkeringat?" Diikuti dengan suara tawa, Nola ingin berguling rasanya.
"Kau pikir ini tidak butuh tenaga!?"
Cihh tenaga apa, Nola membatin.
Kedua pengawal sibuk bertengkar itu mulai menyadari ada keanehan pada wanita di sebelahnya.
"Nyonya diam saja." kedua pengawal Valerei mulai berbisik-bisik.
"Oh nyonya! ikan! ikan!" Valerei kaget saat Nola berteriak, dia mengambil pancing dan menggulung nya. Dia mendapatkan ikan tapi tidak begitu senang, justru kedua orang di sampingnya yang kegirangan.
__ADS_1
"Kita bisa membakarnya." sorak Han bersemangat, dia tidak sabar akan memakan ikan itu. "Hei, sadar ya. itu bukan ikan mu." decak Nola.
"Ini, ambillah." Valerei memberikan ikan kepada Han dengan tidak bersemangat.
"Nyonya, ini tidak adil, masa aku tidak dapat?" Ujar Nola tidak terima.
"Kau juga mau? Baiklah akan ku pancing satu lagi untukmu." dia kembali duduk. Han melihat Nola dengan mata melotot, "Kenapa kau mempersulit Nyonya."
"Aku bukan mempersulit, tapi lihat--" menunjuk dengan dagunya. "Nyonya seperti hidup tanpa roh"
Han memukul pancingnya dengan pancing milik Nola. "Sembarangan! kalau hidup tanpa roh, matilah namanya."
"Iya iya pintar, kaulah segalanya!" sindiran Nola pada Han.
Valerie di landa perasaan tidak nyaman, dia tahu salah tetapi tidak bisa berbicara jujur.
...🖤...
Sementara Badai sedang berhembus menerpa kehidupan Valerie, di sis lainnya kebahagiaan baru saja tercipta dalam keluarga Rey. Leon bernyanyi dengan riang, ayahnya mengambil cuti untuk menemaninya bermain. di dalam mobil Rey tidak kalah bersemangat dari Leon, dia ikut bernyanyi dan membalas setiap ocehan putranya. Elena tersenyum, setelah waktu yang di nanti-nanti datang juga.
"Kak Valerie tidak bisa di hubungi." pernyataan itu membuat Rey melihatnya sekilas.
"Teleponnya tidak aktif?" tanya Rey yang fokus menyetir.
"Teleponnya aktif, tapi di jawab. Tidak terjadi apa-apa kan?" Elena selalu merasa cemas jika Valerei tidak menjawab telponnya.
"Nanti kuminta Jason mencari tahu. Elena, kau ingin pulang ke mansion?"
"Tidak." Langsung di tolak.
Rey mengangguk mengerti, dia menghargai keputusan istrinya. "Kau ingin tinggal dimana?"
Elena mengangkat bahunya. "Dimana saja jika bersamamu dan Leon."
__ADS_1
Beberapa hari ini mereka tinggal di kediaman Hyuk, Elena belum mau kembali ke mansion. Trauma masih ada dan itu hal yang bisa di mengerti. Mereka akan mendiskusikan semuanya setelah Elena siap. Jika nanti Elena tidak ingin kembali, dia bisa menjual masionnya.
...🖤...