The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 92


__ADS_3

Hyuk memegang teguh janjinya. Namun, keadaan tidak berpihak, jika dia tidak segera menghubungi Darren dan kemungkinan terburuk terjadi pada Valerie, dia tidak bisa menjelaskan apapun pada sahabatnya. Berada pada ambang dilema, Hyuk mencoba tenang dan berpikir sejenak.


Saat itu, suara kecil nan serak melewati indra pendengarannya. Wanita itu masih menutup matanya, Hyuk beranggapan bahwa Valerie sedang mengigau memanggil nama suaminya. Dia berdiri melangkahkan kaki menjauh dari Valerie.


Ponselnya menerima panggilan telepon, nama yang tertera membuatnya terdiam sebentar. "Darren!"


Melihat nama pemanggil, Hyuk menggenggam erat ponselnya tanpa menerima panggilan itu. Membiarkan alunan dering menemani kepergian dia dari kamar Valerie.


"Jangan berbohong!" tekannya pada diri sendiri, cukup ketidakjujuran dia saat menemui Darren.


...🖤...


Darren meminta Are mendekat bersamaan dengan itu dia mematikan panggilan teleponnya kepada Hyuk. "Apa yang kau dapatkan Are!?"


Are diam sebentar dan memberikan tabnya, di sana terdapat data beberapa orang.


"Siapa?" dia menggeser layar ponsel hingga terakhir


"Mereka dokter yang keluar dari kediaman Tuan Hyuk semalam, salah satu dari mereka adalah dokter kandungan. Saya hanya merasa itu aneh Tuan."


"Pastikan lagi!"


"Baik Tuan." Are pergi.


Darren sudah curiga pada Hyuk saat mereka berbicara bersama, karena itu dia meminta Are dan anak buahnya untuk menyelidiki aktivitas kediaman sahabatnya itu.


Saat berbicara, Hyuk hanya memintanya menunggu, tidak ada raut khawatir. Mengingat hubungan keduanya, sikap Hyuk terlalu santai.


Otak cerdas Darren sedang berpikir untuk membawa Valerie kembali tanpa memaksa kehendaknya. Sebelum dia menemukan soluli hebat, bunyi interkom dari ruangan pengawal berbunyi.


Sang pemilik rumah menekan tombol dan suara Are memenuhi ruangan. "Tuan, Lim sujong sudah bergerak. Targetnya mungkin Tuan Frederick."


Tentu saja benar, siapa lagi yang akan dia temui pertama kali, pastilah itu Frederick! dalam hati Darren.


Tidak perduli juga terlalu santai, masalah rumah tangganya tidak akan serumit ini, jika mereka tidak ikut campur. Jalan terbaik adalah memastikan semua kembali pada tempatnya.


"Kalau kau masuk dengan bantuan Frederick, aku juga akan mengeluarkan mu dengan bantuan Frederick!" katanya, setelah itu dia bangkit dari kursi kerjanya.


...🖤...


Kediaman Kang


Gelap telah beralih, dimulai dari suara alarm semakin lama semakin keras menghantam telinga Valerie. Dia telah tidur cukup lama, kepalanya berdenyut menandakan sebab aktifitas itu. Mata indahnya perlahan terbuka bersamaan dengan ingatan terakhir kali dia sadar. Mengeluh sakit saat menggerakkan badannya. Dia baru sadar tangannya dipasangkan selang infus.


"Sakit lagi?" Keluhnya sembari mengelus punggung tangannya dengan hati-hati.

__ADS_1


Valerie menatap langit-langit kamar yang putih, tangannya memegang perut yang agak membuncit itu dengan pelan. Memori satu persatu mendatanginya, moment bahagia dalam hidupnya adalah memilikinya.


Dia tersenyum lembut.


...🖤...


Terbang ke itali menemui Frederick adalah salah satu langkah Darren menyambut tantangan Lim Sujong. Sebelum itu, dia sudah menyiapkan hadiah menarik. Hadiah yang tersimpan lama baik secara fisik maupun ingatan.


Dia melihat jendela pesawat. Cuaca cerah.


Sekali ini saja Hyuk, tolong jaga istriku!


Meninggalkan Valerie di kediaman Hyuk juga merupakan langkah terbaik. Dia lebih aman dari pada di mansion miliknya, pikir Darren.


Mansion yang dia kira punya keamanan terbaik. Dia perlu melakukan pengecekan ulang saat pulang. Semuanya harus dibersihkan sebersih-bersihnya.


Setelah 13 jam akhirnya Darren sampai. Tanpa basa-basi, dia langsung menemui Frederick di markas besar bekas kelompok mafia yang dia pimpin, sekarang mereka mengelolah bisnis keamanan, bodyguard pribadi.


Langkahnya terhenti saat dia memasuki gedung. Seseorang pria tinggi besar dengan tato elang di sepanjang lehernya menahan Darren.


"Hanya orang yang diperbolehkan yang bisa masuk, anda punya akses?" tanya dia, suara berat berpadu serak.


"Beritahu Frederick, saya membawa kabar wanita bernama Lim Sujong!" Darren lalu berbalik dan duduk di sofa sambil menatap Pria itu dengan alis terangkat.


"Anda tidak memberitahu dia!?" katanya lagi.


Dia terlihat berbicara dengan seseorang melalui HT, matanya tidak meninggalkan Darren yang santai memainkan ponselnya.


Perintah dari atas mengejutkannya, dia mendengar Frederick berteriak marah.


"Tuan, silahkan!" Pria itu membawa Darren menemui bosnya.


.


Frederick mendengar berita dari bawahannya, dia memeriksa CCTV dari ruangannya untuk melihat siapa tamu yang berkunjung tanpa membuat janji terlebih dahulu. Matanya cukup baik hingga melihat Darren duduk dengan santai di sofa.


"Tidak nyaman melihatnya!" Frederick berbicara dengan keras.


3 menit berlalu, ketukan di pintu mengalihkan fokusnya. "Masuk!" perintahnya.


Wajah yang membuatnya tidak nyaman tepat berdiri di hadapannya.


"Mungkin terlalu lama atau sudah tidak berguna tapi ini untukmu," Darren meletakkan USB di meja kerja Frederick.


"Untuk apa?" Frederick tidak perduli, cuek membalas Darren.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya untukku! Mungkin kau membutuhkannya, bukankah karena itu kau marah!?"


Dia mengangkat wajahnya. "Kau tahu? tidak ada yang berubah darimu, semuanya masih menjengkelkan seperti dulu!"


Emosinya naik saat berbicara dengan Darren.


"Itu aneh! kalau aku masih seperti yang dulu, artinya kaulah yang berubah menjadi jahat!" Darren membalas.


"Kasihan sekali wanita yang bersamamu!"


"Urus urusanmu!"


"Untuk apa kau datang!?" Frederick tidak suka pada pria ini, semakin dia pikirkan semakin marah dia.


Darren menunjuk USB di atas meja. "Pengantar paket!"


"Bawa pulang, aku tidak membutuhkannya." Tolak Frederick, dia bahkan tidak melihat USB itu.


Tuan rumah kembali duduk, dia melihat Darren. "Hanya karena ingatannya terkubur bukan berarti semuanya menghilang, kau terlalu meremehkan. Mungkin karena kau tidak pernah belajar dari pria yang benar!"


Kata-kata menusuk milik Frederick, tentu saja Darren tahu hal itu ditujukan kepada siapa. Dia menarik kursi di depannya. "Apa yang kau coba katakan?"


"Bahkan untuk masalah keluargamu saja kau tidak kesini menemuiku saat aku bisa membantu. Lalu, masalah apa yang kau hadapi sampai terbang ke itali?"


"Sepertinya seseorang mendahuluiku."


Darren membaca setiap ucapan yang Frederick keluarkan. Dia tahu tujuanku menemuinya, dalam hati pria itu.


"Pulanglah, aku tidak akan membantu, masalah Lim Sujong bukan lagu urusanku, dia tidak akan bisa menginjakkan kaki di itali."


Frederick berbalik, dia meminta Darren untuk pulang. Sementara pria yang diminta pergi itu menghela nafas, setidaknya Frederick tidak akan membantu Lim Sujong. Dia beranjak.


"Darren,"


Sang pemilik nama berbalik saat memegang handle pintu.


"Beberapa tahun setelah masalah itu, seseorang datang menemuiku dan meminta maaf atas namamu. Apa yang istimewa darimu dan kenapa kau selalu mendapat dukungan terbaik, saat itu aku bertanya padanya dan jawaban yang tidak kusukai keluar dari mulutnya. Menganggap memaafkanmu akan melukai harga diriku. Jadi, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah marah, melimpahkan semua kesalahan padamu untuk melindungi harga diriku."


Darren teridam, dia cukup paham bagaimana karakter Frederick.


'Seseorang'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2