
Jam dinding berdetak menunjukkan pukul 2 malam. Deburan ombak menabrak karang memenuhi pendengarnya Elena yang terjaga dan sedang duduk manis di ruang tengah penginapan kecil depan laut. Ditemani gelapnya ruangan, dia melamun memikirkan adegan yang terlihat matanya. Seorang wanita dipeluk dengan mesra tanpa dia merasa risih, bagaimana hubungan itu? apa namanya? Dia berusaha memikirkan segala macam hal dari yang memungkinkan sampai ketidakmungkinan itu.
Tentu, bukan salah jika seseorang memeluk orang lainnya, tapi dia melihat orang yang seharusnya tidak diperlakukan seperti itu. Wanita yang tidak seharusnya dipeluk tanpa status pernikahan, bagaimana mungkin dipeluk oleh seseorang yang bukan suaminya? Dia memikirkan itu sejak tadi tanpa menemukan jawaban. Padahal, dia bisa saja mengatakan, Ah dia telah menikah! Namun, itu berada di area ketidakmungkinan yang terjadi, sebabnya dia memalingkan wajah dari jawabannya.
Elena memegang ponselnya, dia bersiap menelepon Frederick tetapi keraguan lebih besar menahan rasa penasarannya. Jika saja itu benar, bagaimana dia dan teman-temannya akan bereaksi? Dia juga memikirkan Frederick, entah bagaimana hubungan baik itu akan berakhir, mengingat keadaan pada keduanya tidak begitu hangat. Dia kembali melihat ponselnya, mencari kontak yang mungkin bisa membantu lalu nama Hyuk dia temukan diantara mereka. Tetapi, lagi-lagi harus menanggung kecewa, telepon Hyuk tidak bisa tersambung. Elena pasrah, dia berharap penglihatannya bermasalah.
Entah berapa lama dia duduk, alarm berbunyi, menandakan subuh akan segera tiba. Sejak dia tinggal di Jepang bersama Valerie sudah kebiasaannya menyetel alarm jam 4.30 untuk membangunkan Valerie. Dia bangun dari singgasana tempatnya melamun, berharap anak dan suaminya tidak terganggu karena suara bising alarm. Elena mendorong pintu mengecek kedua prianya, lega melanda sebab mereka tidak terbangun. Lelah semalaman tidak tidur, dia naik ke atas kasur, tepatnya disebelah Leon, membaringkan tubuhnya masuk ke dalam mimpi indah.
...🖤...
Valerie melihat Darren yang berada di samping sedang menatap tabnya dalam pesawat yang baru saja lepas landas dari Bandar Udara Internasional Jeju. Mereka akhirnya pulang setelah pertemuan yang memakan waktu itu berakhir. Drama antara suami dan istri ini mungkin akan berlanjut.
"Darren?" panggil Valerie pelan.
"Hem?" Pria itu menengok.
"Apa Are dan Han punya istri?"
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Oh, tidak apa-apa! Hanya bertanya." dia tertawa canggung. Dalam hati Valerie bertanya-tanya, untuk siapa obat itu jika keduanya belum memiliki pasangan? atau Nola hanya berhalusinasi, mungkin saja obat itu bukan milik Are ataupun Han tetapi milik orang yang terjatuh saat berpapasan dengan dia.
Walau istrinya mengatakan tidak apa-apa, Darren tahu ada yang disembunyikan. Tangannya menggenggam tangan Valerie, dia menatap istrinya. "Ada apa?"
"Apa?"
"Kenapa bertanya seperti tadi!"
"Oh aku cuma bertanya, tidak boleh?"
"Bukan. Hanya saja, sekarang kalau kamu bilang tidak ada apa-apa, artinya ada apa-apa!" kata Darren.
"Aku ngantuk!" dia berbalik memunggungi Darren.
__ADS_1
Sang suami hanya bisa menghela nafas pelan, dia harus bersabar lebih saat menghadapi istrinya. Dilihatnya jam ditangan sudah menunjukkan pukul 10 malam, lalu dia arahkan pandangan matanya menghadap ke arah jendela pesawat, gelap. Pantas saja istrinya mengantuk, sudah waktunya dia tidur.
...🖤...
Kediaman Wang mendadak sunyi, kembali pada keadaan yang sebenarnya. Adiknya yang meminta kembali ke rumah Ha Joon bahkan tidak berbalik saat kakaknya memanggil untuk tinggal beberapa hari lagi. Sungguh bukan niat Larry menjauhkan adiknya dari sang suami, dia hanya suka membuat sahabatnya, Ha Joon merasa kesal. Tetapi, sepertinya dia tidak punya teman untuk menjahili Ha Joon sebab adiknya telah sadar dari kerasukan. Maafkan dia yang mengejek adik sendiri.
Meskipun sendiri lagi tanpa kekasih yang menemani, adik maksudnya. Larry lega, masalah adik dan sahabatnya sudah selesai. Dia berjanji akan membalas kebaikan Ho Young dan Darren untuk itu, walaupun dia tahu mereka berdua sudah punya segalanya, bantuannya mungkin tidak berguna tetapi siapa tahu? mungkin saja dia dibutuhkan. Kita harus optimis kalau kata Larry.
"Menikah juga butuh calon kan?"
"Iya juga, mana bisa menikah sendiri!"
"Tapi, kalau menikah sendiri bisa kali ya?"
"Ah, sinting!"
Jangan kira dia bicara dengan seseorang, tidak. Larry sedang bertengkar dengan dirinya sendiri, yang artinya dia sedang berbicara sendirian. Bertanya dan menjawab sendiri, benar-benar mandiri.
...🖤...
"Kamu masak apa?" tanya Rey, matanya sayu habis bangun, dia duduk dikursi melihat istrinya sedang sibuk memotong sayuran.
"Wortel, aku buat omlet." katanya tanpa berbalik melihat sang suami.
"Enak!"
Satu kata itu keluar dari Rey dan hening. Elena berbalik, saat dia rasa suaminya cukup lama diam. Di sana, Rey tertidur menopang kepalanya dengan tangan di meja. Elena gemas sembari tertawa kecil. Dia ingat dulu, Rey punya kebiasaan sebelum dan sesudah kerja, dia harus menyaksikan Elena memasak. Kata Rey, saat dia melihat seseorang yang memasak, dia teringat pada wanita yang telah membesarkannya. Rey telah menganggapnya sebagai Ibu.
Elena tidak menegurnya dan melanjutkan memasak. Satu-persatu dia selesaikan, terakhir susu kesukaan Leon dan kopi untuk Rey sudah terisi di gelas masing-masing. Saatnya membangunkan mereka. Dia bergegas ke kamar yang semalam mereka tempati, Leon tertidur nyenyak memeluk bantal pemberi Valerie.
"Sayang, ayo bangun."
Elena hanya mengatakannya satu kali dan Leon sudah bergeser perlahan membuka matanya.
__ADS_1
"Mommy?"
"Bangun nak, sarapan."
"Iya"
Elena mencium kening Leon lalu merentangkan tangannya. Leon yang mengerti, menyambutnya dengan senang. Dia berada di gendongan sang Ibu.
Diluar, Rey terbangun. Melihat Elena tidak ada di dapur, dia menebak istrinya berada di kamar membangunkan Leon. Tidak lama terdengar suara pintu terbuka menunjukkan wajah kedua orang yang dia sayangi. Rey tersenyum dan mendapat balasan yang serupa.
"Ayo makan." sahut Elena sembari menurunkan anaknya dikursi.
"Oh iya, kamu sudah dengar?" tanya Rey baru ingat persoalan Ha Joon.
"Ingat apa?"
Elena tidak tahu kelanjutan masalah Ji Hyo dan Ha Joon.
"Masalah Ji Hyo, kata Larry sudah selesai!"
"Hah? kok dia baru kasih tahu sih!?"
"Larry bilang kita jarang ada waktu liburan, jadi waktu mau berangkat dia tidak bilang apa-apa."
"Kapan dia kasih kabar?"
"Semalam, maaf aku lupa kasih tahu kamu." cengiran khas orang yang bersalah. Dia terlalu senang bermain dengan Leon dan akhirnya lelah lalu tertidur.
Elena mengangguk, dia tidak bisa marah apalagi ada Leon. "Nanti aku telepon Ji Hyo saja." pasrah.
Rey terselamatkan oleh anaknya.
.
__ADS_1
.
.