
“Bagaimana dengan menjadi wanitaku?"
Tidak ada nada bercanda dari perkataan pria didepannya.
"Ayah dan kakakku memang seorang mafia, walau begitu aku dibesarkan dengan dilingkungan yang baik! Jauh dari sini. Jangan menjadikanku pelacur!"
"Siapa yang ingin menjadikanmu pelacur? Aku memintamu menjadi wanitaku!" Ho Young tidak beranjak dari posisinya.
Ri ingin meludahi wajah pria di depannya. "Kau telah memiliki seorang istri dan anak! Juga wanita yang berada di sampingmu sepanjang waktu, apa mereka tidak cukup!?"
Kemarahan terpancar dari setiap kata yang keluar dari mulut Ri.
"Sepertinya, kau tahu banyak tentang hidupku?"
Ho Young menyadari satu hal lagi, wanita ini tidak gemetar bahkan saat dia sangat dekat dengannya.
"Semua orang tahu!" sahut Ri marah.
"Jadi apa kesepakatannya?"
"Kau telah membunuh ayahku!"
Karena gelap, Ri hanya melihat ke depan, dia tidak tahu kearah mana pria ini memandang.
"Bagaimana aku harus bertanggungjawab?"
"Biarkan kelompok HARI menjalankan bisnisnya, jangan ikut campur!"
"Ayahmu dan kelompoknya lebih dulu mengusik keluargaku, itu hanya sebagian akibat dari apa yang mereka sebabkan! Jangan lupa, ayahmu menculik anakku!"
Ho Young mengingatkan wanita ini, bahwa apa yang dia lakukan kepada kelompoknya bukan karena kesenangan semata tapi karena orang-orang bodoh itu mengusik keluarganya.
Wanita itu diam, Ho Young bergerak maju menekannya ke dinding untuk kedua kalinya. "Apa yang dilakukan ayahmu, belum semuanya aku balaskan!"
Ri menutup matanya, sejak tadi indra penciumannya merasakan bau berat rokok dari nafas Pria didepan, membuat dia semakin pusing.
"Bisa kau mundur sedikit?" Ri berusaha mendorongnya mundur agak menjauh.
Ho Young menolak, dia semakin mendekat. "Kau butuh pass untuk memerintahku!"
Ri menghela nafas kesal, brengsek katanya dalam hati.
"Jangan mengumpat, aku bisa mendengarnya!" kata yang Ho Young keluarkan, membuat mulut Ri tertutup rapat.
__ADS_1
"Kau tidak punya cara bukan? Ikuti saja keinginanku, maka bisnis kelompok HARI bisa berjalan seperti biasa!" tambah Ho Young kemudian.
"Aku butuh kontrak, jangan sampai kau melanggar!"
Ho Young senang, wanita ini setuju. "Tentu saja!"
Pria itu melepaskan wanita didepan sepenuhnya, Dia mundur, membuka pemantik besi dan melemparkannya ke dalam tong, dan terbakar. Ruangan gelap itu, diterangi api.
Ri, masih tidak bisa melihat dengan jelas, dia mendekat ke arah Ho Young tapi pria itu mundur, semakin mendekat Ri, Ho Young mundur selangkah. Lalu, Ri berhenti melangkah, dia diam sebentar.
"Istrimu pasti tidak akan senang mendengar kau punya wanita lain!"
Dia punya tujuan untuk memprovokasi Ho Young agar pria itu mendekat. Namun, Ho Young yang terlalu tahu trik semacam itu tidak membuatnya jatuh dengan mudah.
"Istriku? Dia bukan wanita pencemburu! Tenang saja!"
Ri tidak mengerti, bagaimana mungkin ada wanita seperti itu di dunia ini. "Kau menganggap perasaan wanita tidak berharga! Sepertinya rumor tentangmu hanya omong kosong!"
"Rumor tentangku?"
"Kau pria yang selalu menghargai wanita, saat semua orang dalam industri ini memperlakukan wanita seperti pemuas nafsu, kau tidak melakukannya!"
"Siapa bilang aku tidak melakukannya? Memangnya sampai dimana kau bisa melihat caraku hidup?"
Ho Young memperhatikan setiap gerakan Ri. Dia tersenyum kecil sembari menepuk tangannya. Tidak lama lampu-lampu kecil di tembok menyala. Pria itu berdiri melihat flashdisk dan amplop diatas meja, Ho Young mengambil dan menyimpan di saku jaketnya. "02.00, Hotel Kingdom" itu kata yang dia ucapkan sebelum meninggalkan Ri sendiri.
.
Ri keluar dari gedung, dia berbalik melihat pintu besi yang baru saja tertutup kembali.
"Aku membantunya tapi dia bersikap seperti itu, brengsek!"
Kakaknya datang dari belakang. "Kau ini!"
Jika bukan karena statusnya sebagai pimpinan, dia sudah mendapat jitakan manis dikepalanya. Kakaknya tahu bagaimana harus bertidak untuk menjaga martabat Ri sebagai ketua.
"Aku sudah bilang! jangan sembrono, dia bukan orang yang bisa kau dekati!" tambahnya lagi
Ri, menepuk pundak kakak angkatnya, dia sedang tidak ingin diceramahi. "Kak, bisa kita bicara nanti? aku lelah!"
Ravi menghela nafas, dia mengangguk dan mendorong punggung pemimpin baru kelompok HARI.
...🖤...
__ADS_1
Ho Young berada di ruangannya sendiri, dia tidak mengizinkan siapapun untuk masuk. Amplop coklat itu sudah dibuka, isinya berhamburan diatas meja, begitupula flashdisk masih menggantung di laptopnya.
Tidak menyangka, bahwa pemimpin baru kelompok HARI membantunya, dia tidak perlu bersusah paya mencari lebih lanjut. "Dia tidak sesederhana itu rupanya!" Ho Young menyukai wanita itu, senyum miring khas menghiasi wajahnya.
.
Kingdom Hotel, Pukul 01.58 AM. Ri sudah menunggu di lobby hotel, mengenakan jaket biru navy dipadukan kaos putih polos dan celana jeans. Beberapa kali melihat jam di tangannya.
Walau sudah menunjukkan dini hari, pengunjung yang lalu-lalang tidaklah sedikit, banyak dari mereka yang bercengkrama di luar dan lobby hotel. Ada beberapa pelanggan yang datang dalam keadaan mabuk dan beberapa lagi datang untuk bersenang-senang. Lalu, dia? apakah alasannya ada pada salah satunya. Dia juga tidak tahu, hanya mengikuti perintah dari pria brengsek itu.
Tepat, waktu sudah menunjukkan pukul 02.00. Dia belum melihat keberadaan Ho Young, menunggu memang membosankan walau hanya beberapa menit. Kepergiannya kali ini tanpa ketahui oleh kelompok HARI, bahkan wakil ketua sekaligus kakak angkatnya.
"Lama sekali!" gerutu Ri, kakinya bergerak-gerak hingga menimbulkan suara bising dari gesekan heels dan lantai.
"Jangan menggerutu, kau akan terlihat tua!" Ho Young berdiri gagah di belakangnya.
"Aku tidak bisa lama, mereka pasti mencariku, kenapa kau memintaku kemari?"
"Naik dulu, kita bicara!"
"Hanya bicara!"
"Memangnya apa yang bisa kulakan jika bukan bicara?"
"Mana aku tahu, kau kan pria berengsek!"
Ri, menjulur tangannya, meminta kartu kamar yang Ho Young pegang. Tanpa basa-basi, Ho Young menyerang kunci kamarnya dan mengikuti wanita itu naik.
Banyak orang di dalam lift, posisi Ri berada di belakang Ho Young, sempit. Ho Young memberikan batas jarak agar mereka tidak saling bersentuhan tapi hal yang akan terjadi tidak bisa dihindari saat di dalam lift. Saat lift menunjukkan angka 10, pintunya terbuka dan menampilkan beberapa pelanggan, mereka naik. Otomatis, Ho Young harus mundur.
Dia berbalik menghadap Ri, menjadikan tangan kirinya sebagai tumpuan pada dinding agar tubuh besar miliknya tidak menghimpit wanita kecil ini. "Makan yang banyak, kau bisa terbang dibawa angin."
Tidak tahu sopan santun, kata Ri dalam hati. Semua orang di dalam lift menertawakan perkataan Ho Young.
Celetuk cewek pirang yang dikepang itu membuatnya geli. "Suaminya baik sekali, kalau saja suami ku yang kerjanya hanya judi itu berhenti mencari masalah!"
"Apa urusanmu!" bisik Ri, dia menendang kecil kaki Ho Young, yang mendapat tendangan itu tersenyum tanpa merasa marah.
.
.
.
__ADS_1