The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 83 : Keluarga Wang & Keluarga Lee


__ADS_3

Kediaman Wang


Momen menegangkan saat Larry memberikan semua berkas yang dia dapatkan dari Darren kepada adiknya Ji Hyo. Bahkan sang suami yang berada di dekat Larry harap-harap cemas menunggu. Ji Hyo yang awalnya hanya melihat tanpa mau menyentuh kini membuka amplop coklat itu. Hal yang pertama yang mereka pastikan muncul pada ekspresi wajah wanita ini adalah kaget. Dia melihat foto dan beberapa laporan bahwa orang yang telah mendekatinya bekerja pada kelompok mafia. Lalu Larry menarik laptop, dia sudah memindahkan file dari flashdisk ke sana. Digeser ke arah Ji Hyo dan sebuah video percakapan beberapa orang di sana mengalihkan perhatiannya dari berkas tadi.


Matanya fokus melihat video itu. Tiba saat, dia melihat wanita yang datang dari belakang yang terekam video, wajahnya berubah. Dia tidak begitu mengenali Estela tetapi kasusnya dengan teman-teman kakaknya tidak mungkin tidak diketahui. Pembicaraan itu kembali terjadi, dia mengepalkan tangannya dan mengumpat dalam hati, wanita lembut ini. Estela dalam video itu, menjelaskan rencananya untuk menghancurkan Darren dengan membawa satu-persatu keluarga dari teman baiknya ke dalam 'jurang'. Dia akan menargetkan semuanya mulai yang termudah untuk dimasuki. Di sana dia menyebutkan nama target pertamanya yang membuat ketiga orang itu terhantam batu.


Elena, nama itu disebut. Mereka kembali mengingat masalah yang dialami sahabatnya beberapa tahun lalu, tidak ada yang menyadari seberapa buruk masalah itu hingga saat ini. Mereka beranggapan jika Rey hanya terbakar cemburu dan kehilangan kemampuannya dalam berpikir saat itu. Tidak disangka, semuanya terbuka dengan jelas bahwa itu merupakan salah satu dari sekian banyak rencana matang Estela. Jessica, wanita itu adalah keluarga jauh Estela yang dibayar untuk menghancurkan rumah tangga Rey. Bertambah geram Ji Hyo, setelah mendengar namanya. Secara otomatis, dia menjadi target berikutnya.


Semuanya terdengar dan terekam jelas. Ada yang bertanya siapa yang merekam percakapan itu? orangnya telah terbujur kaku dan telah dikubur, ayah Ri. Semua ruangan dalam markas kelompok HARI telah dipasang kamera tersembunyi. Untuk orang-orang yang selalu berada dalam dunia berbahaya seperti itu, mereka harus lebih waspada dalam melangkah atau bekerjasama, adapun kegunaan lainnya yaitu untuk mengancam jika terjadi perselisihan nantinya yang akan menghancurkan kelompok. Siapa yang bisa dipercaya? Ji Hyo tidak percaya, dia bisa terjatuh begitu saja dalam rencana busuk Estela. Dia menutup matanya merasa bersalah.


Larry menghela nafas, dia menepuk pundak adik iparnya dan keluar dari sana. Tidak baik baginya yang jomblo itu untuk berlama-lama disana. Dia bisa terkena serangan panik saat melihat kemesraan pasangan, sudah terpikir jelas akan ada adegan meminta maaf dan saling berpelukan ala Teletubbies karena itu dia harus berlari sebelum menjadi satu-satunya yang sial. Tidak berselang berapa lama saat Larry keluar, apa yang dia takuti terjadi. Ji Hyo mengangkat wajahnya perlahan, malu untuk melihat sang suami. Ha Joon tahu bagaimana istrinya merasa malu dia mendekatinya lebih dulu.


...🖤...


Rey tidak bisa berhenti tertawa melihat tingkah anaknya, Leon. Baru saja keluarga bahagia itu piknik di sebuah taman besar di pulau, sudah lama mereka tidak menyempatkan waktu untuk pergi bertiga, akhirnya kesampaian juga. Sekarang posisi mereka berada di sebuah cafe anak tidak jauh taman tempat ketiganya piknik. Di pulau yang terkenal ramah ini, fasilitasnya lumayan lengkap, mereka tidak perlu menghabiskan banyak tenaga dan waktu untuk mengunjungi berbagai tempat yang berjauhan. Leon masih berdiri di atas area permainan seluncuran, melambai pada kedua orang tuanya kemudian meluncur ke bawah, begitu hingga dia lelah.


Elena yang tahu anaknya mulai lelah, memanggil Leon. Diusap keringat dengan sapu tangan dan menuntunnya duduk di samping. Disodorkan air minum dan cake, Leon makan dengan lahap. Saat Elena melihat jalanan dari balik kaca, matanya menyipit menemukan sosok familiar di seberang sana. Tidak begitu jelas, tapi dia bisa mengenali dengan baik. Dia fokus tanpa menghiraukan panggilan Rey, sementara sang suami yang agak kesal dicueki menarik wajah Elena dengan kedua telapak tangannya, tarikan pelan tidak akan menyakiti Elena.


"Tunggu dulu, aku lihat teman tadi!" kata Elena menjauhkan tangan Rey dari wajahnya. Dia bisa kehilangan momen jika tidak fokus.


"Apa yang kamu lihat memangnya?" tentu sikap Elena mengundang pertanyaan bagi Rey. Apa yang membuat dia begitu fokus sampai tidak menjawab pertanyaannya.


Dia kembali fokus tapi sosok itu telah menghilang, Elena berlari keluar menolak mendengar teriakan suami yang memanggil dirinya. Dia harus memastikan bahwa 'orang itu' tidak berada di sini atau itu benar-benar dirinya. Elena berputar melihat setiap sudut tetapi tidak ada petunjuk bahwa mereka adalah nyata. "Elena!" panggil Rey dari seberang, dia terlihat menggendong Leon khawatir.


"Ada apa?" tanya Rey melihat istrinya berlari kencang.


"Itu," nafasnya memburu, dia memegang dadanya karena sesak berlari.

__ADS_1


"Mommy kenapa?" Leon yang tidak mengerti bertanya pada ayahnya. Melihat ibunya yang berlari kencang ke jalan, dia cukup terkejut.


Rey melihat anaknya. "Mau turun dulu nak? Daddy bicara sama Mommy." pintanya, lalu Leon mengangguk mantap. Setelah Leon turun dari gendongan, Rey membawa Elena melihatnya, dia memegang agak memaksa pundak istrinya agar menghadap kepada dirinya.


"Lihat apa?" Rey menatap langsung sang istri.


"Aku, tadi, itu" tidak jelas.


"Pelan-pelan saja!"


Elena mendadak gagu, dia kesulitan dalam memilih kata yang akan keluar lebih dulu. Dia tarik nafasnya dalam dan dihembuskan keluar begitu hingga dirasa tenang.


"Tadi aku lihat Kak," Elena diam berpikir sebentar dan melanjutkan kembali. "Kak Darren!"


"Darren?" Rey bingung merasa aneh. Kalau Darren kenapa istrinya sampai kaget dan berlari seperti orang kesetanan? dalam hatinya dia bicara.


"Kamu se-akrab itu sama Darren? sampai berlari, kayak orang lihat mantan jalan sama doi baru!" tidak terima Rey.


"Apa sih sayang? tadi kenapa?" Rey bertanya lagi saat mereka sudah duduk kembali di cafe.


"Kak Darren lagi dekat sama orang ya?" tanya Elena. Dia begitu penasaran, terlihat dari ekspresinya.


"Dekat apa? wanita maksudnya? Tidak tahu, dia bukan tipe pria yang cepat jatuh cinta, apalagi setelah kejadian kemarin!"


"Susah move on?"


"Bukan."

__ADS_1


"Apa bedanya?"


"Bagi Darren, hubungan yang sudah berlalu, seharusnya dilupakan bukan dikenang. Karena kejadian kemarin, Darren lebih selektif dalam memilih pasangan. Jadi bukan dia susah move on."


"Oh," Elena mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Lalu pikiran aneh merasuki kepalanya, Elena menggeleng cepat mengundang perhatian sang suami. "Kenapa?"


"Aku mikir, siapa wanita yang bisa dekat dengan kak Darren!?"


"Mungkin tidak ada!"


"Lalu Estela itu bagaimana bisa dekat dengan Kak Darren?"


"Cuma Darren yang tahu." ucap Rey sembari mengangkat bahunya.


"Kamu belum jawab!" tambah Rey.


"Jawab apa?" Elena tidak mengerti.


"Tadi kenapa geleng-geleng?"


"Hah? Oh, apa ya? lupa aku!" berlaga lupa lebih baik dari pada nanti pikirannya bocor kepermukaan.


Elena tidak ingin membayangkan hubungan antara keduanya ke arah negatif. Dia berharap apa yang dia lihat hanyalah khayalan semata, mungkin dia terlalu rindu hingga melihat orang yang tidak seharusnya dilihat berada disini. Dia melihat wanita yang selama ini bersamanya mengurus Leon. Yaitu Valerie. Darren bersama dengan Valerie berada di Jeju.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2