The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 57 : Kesempatan mendapat kesepakatan


__ADS_3

Malam semakin larut, tetapi wanita itu tidak bisa tidur. Dia memikirkan apa yang Pria tadi katakan. Sedih, bagaimana suaminya akan memilih. Sebagai suami, dan sebagai seorang yang akan menjadi ayah nanti. Darren pasti di landa kesulitan.


Tangannya membelai kaca yang lembab dan dingin karena percikan hujan di luar, semakin deras sejak dia berdiri di sana. Kakinya enggan beranjak, suasana itu membawanya melalui banyak pemikiran.


Dia memutar kepalanya melihat dua pengawal yang sedang beristirahat. Senyum ke ibuan terpancar disana. Sesaat sebelum dia kembali memandang hujan, matanya menangkap jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


Dia tidak merasa mengantuk. Walaupun dia berusaha tidur, tidurnya tidak nyenyak dan terus bermimpi. Darren tidak ada di sampinya dan itu membuat dia khawatir. Semakin lama, semakin berputar jam itu.


Sebelum dia menyadarinya, Nola bangun dari tidurnya. Terkejut melihat seseorang berdiri di depan jendela, dia kucek matanya pelan. Menajamkan penglihatannya.


"Nola atau Han?." kata Valerie merasakan gerakan dari salah satu pengawalnya.


"Ya Nyonya?" segera bangkit menghampiri Valerei.


"Aku tidak bisa tidur." ujarnya.


"Apa anda ingin sesuatu?"


"Kita sedang jadi tawanan, apa bisa minta sesuatu?"


"Nyonya mau apa memangnya?"


"Tidak ada, hanya aku merasa tidak enak badan!" Katanya.


Nola ikut sedih dan lompat ke arah Han yang sedang tidur. "Han!"


Menengok ke arah Valerei. "Sabar ya Nyonya, Kebonya baru mau di bangunin." Sembari tersenyum Nola memukul keras pundak Han yang belum bangun.


Valerie melihat Nola bingung. "Kenapa kau membangunkan Han?"


"Minta dia masak Nyonya!"


"Aku minta?"


"Tidak, tapi Nyonya pasti lapar dan tidak berselera! masakan Han enak, bisa membuat nafsu makan bertambah." Panjang lebar dia jelaskan kepada Valerei.


Wala masih dalam keadan bingung, Valeris mengangguk saja tanpa banyak bicara.


"Apa?" Kata Han, suaranya serak khas bangun tidur


"Apa, apa! Bangun, di panggil Nyonya! pengawal kok tidur kek kebo!" Sindir Nola untuk Han yang sulit di bangunkan.


Han tidak menghiraukan Nola yang sibuk dengan sindirannya, dia bergerak ke arah Valerei dan menunduk sopan. "Nyonya cari saya?"


"Hem? Oh, Nola bilang masakan kamu enak. Apa boleh aku mencoba?"


"Tentu Nyonya, saya akan menanyakan kepada mereka."


Berusaha menahan keinginannya tetapi akhirnya dia kalah. Han langsung berbalik ke arah pintu lalu membukanya dan berbicara ke arah penjaga yang bertugas di depan pintu.


"Bisa tolong sampaikan ke bos kalian, Nyonya kami ingin menggunakan dapur, apa bisa?"

__ADS_1


Penjaga itu mengangguk, dia meminta temannya mengawasi dan pergi menemui Sang penculik. Han kembali masuk.


"Nyonya, saya baru meminta izin, penjaganya baru pergi."


Valerei tersenyum berterima kasih.


15 menit kemudian, Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Suara ketukan di pintu terdengar nyaring. Han bergegas membuka pintu, dia berbicara dengan seseorang di sana dan kembali masuk.


"Nyonya, kita bisa menggunakan dapur, bahannya juga lengkap, terus penjaga yang biasanya berjaga tidak akan ada lagi, kita bebas ingin melakukan apapun di rumah ini."


Han meminta Nola untuk membantu Valerei turun dari kasur. Hatinya senang, dia bersemangat menyambut tangan Nola. Han tidak paham pada pikiran pria itu, dia tidak tahu status mereka di sana apa? Sandera atau tamu.


Di dapur, Valerei berdiri di depan meja melihat Han memulai dengan mengeluarkan bahan-bahan di dalam kulkas, ayam dan beberapa bumbu-bumbu serta tepung di dalam tempat penyimpanan telah di tata rapi. Sebelum itu, dia mencuci tangannya hingga bersih dan memakai sarung tangan elastis.


"Mulai!" katanya.


"Han benar-benar ahli!"


Valerie melihat kelihaian tangan Han.


"Seperti yang anda lihat Nyonya!"


"Kamu sama Han kayaknya cocok!" Valerei tidak ada niat menjodohkan, dia hanya mengatakan dengan spontan karena melihat kesamaan keduanya yang pintar dalam memasak.


"Aduh, saya punya tipe ideal Nyonya." tolaknya. Merinding, terlihat dengan tangannya yang memeluk diri sendiri, seperti kedinginan.


Valerei tertawa kecil melihat Han yang tidak merespon karena sibuk berkonsentrasi pada hidangan ayam gorengnya.


Han mengangkat kepala. "Kalau itu saya harus mengikuti aturan Tuan, maaf Nyonya. Nanti saat kita pulang, atas izin Tuan, saya akan membuatkan makanan seperti yang anda inginkan." dia menolak dengan sopan.


"Baiklah" pasrah Valerei.


Setelah perbincangan singkat, Han kembali fokus pada hidangannya. Dengan lincah dia sudah memotong dan membersihkan ayamnya, bumbu untuk Marinasi juga sudah siap, waktunya ayam didiamkan agar bumbunya meresap sampai ke dalam.


"Di tunggu berapa lama?" Tanya Valerei, dia sudah lapar.


"Normalnya 2 jam, paling sebentar 30 menit, tapi karena Nyonya sudah ingin makan, 15 menit aja deh."


"Han, tidak apa-apa kalau tidak meresap, saya pasti habiskan."


Senyumnya semanis gula, dia menggoyang kakinya terlalu senang keinginannya terpenuhi.


Han dan Nola ikut tersenyum melihat Istri bosnya.


.


"Wah, harum!" Suara tiba-tiba itu mengagetkan Valerei.


Mereka bertiga saling pandang. Tidak menyangka pria itu datang sepagi ini.


"Kakak penculik mau juga?"

__ADS_1


"Kakak penculik? itu aku?" menunjuk dirinya.


Valerei mengangguk masih dalam posisi memperhatikan sang penculik. Posisi badan mengarah ke Han, kepalanya saja yang bergerak melihat pria itu.


"Kau tidak mengidamkan?" katanya, beku badan Valerei dibuatnya.


"Apa? ngidam?"


Kakak penculik tidak menjawab dia menatapnya lalu duduk di depan Valerei. "Kau bertanya aku mengidam?" tanya lagi Valerei.


"Lalu? apa pertanyaan itu terlalu... tapikan kau sudah menikah, bukannya itu hal yang wajar?" Cerita apa yang tidak dia ketahui tentang Darren. Dia mencoba mendapatkan informasi dari Valerei soal kehamilannya.


Ekspresi Valerei sudah tidak karuan, padahal itu bukanlah pertanyaan sulit, dia tinggal menjawab tidak, karena baginya memang belum. "Sepertinya belum!" akhir katanya.


"Belum?"


Jadi dia memang belum tahu? Darren, Darren! Bisa dijadikan senjata kan, untung yang dapat aku sang orang baik, batin Pria itu.


"Iya! Kenapa? jangan seperti ibu-ibu kompleks ya!"


Dia ingat sewaktu di kampungnya dulu jika ada pasangan sudah menikah lama tapi belum memiliki momongan, empuk menjadi sasaran bagi para ibu-ibu tukang gosip.


"Aku cuma bertanya." pundaknya naik.


Valerei diam dan memikirkan sesuatu.


"Boleh aku bertanya?"


"Tentu!"


"Apa yang membuatmu membenci Darren?" Valerie penasaran.


"Dia membuatku kehilangan wanita yang kucintai! Aku harus sakit selama bertahun-tahun."


“Siapa wanita itu? mungkin aku tahu?”


Dia tertawa, suara tawa keras. Lalu dia kembali melihat Valerie dengan smirk di wajahnya. Dia tidak menyangka bahwa wanita ini tidak sepeka yang orang-orang katakan.


“Bagaimana bisa kau tahu sedangkan masalah yang penting saja suamimu tidak memberitahu denga jelas. Bahkan semua orang tahu, sedangkan kau tersesat sendiri.”


Jelas itu bahasa ejekan. Dia dapat merasakan hinaan dari setiap kata yang keluar dari mulut pria di depannya.


"Bertanyalah pada Darren. HANYA, jika dia memilihmu!" Tiba-tiba tatapannya menjadi gelap, bagi Valerei itu perubahan yang sangat cepat. Entah siapa dan darimana orang ini datang.


Siapa yang nanti Darren pilih?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2