
Keluarga Darren tiba di apartemen Valerie. Mereka bergegas keluar dari lift dan menekan bel apartemen. Tidak sampai 15 detik pintu terbuka, disana Darren berdiri menyambut keduanya. Deora tersenyum lembut berjalan memeluk anaknya.
Pelukan hangat yang selalu Darren rindukan, akhirnya menyapanya. Dia membalas pelukan itu tidak kalah erat. Menuangkan perasaan sedih dan bahagia dipundak ibu yang membesarkan dan merawatnya dari kecil.
Sang ayah yang berada di belakang sang istri ikut tersenyum. Menepuk pundak anak laki-lakinya memberikan semangat. Kasih sayang yang sama dengan cara yang berbeda. Ibu lebih mudah mengekspresikan dirinya dibandingkan dengan sang Ayah. Mungkin tidak semua, hanya beberapa.
"Ibu, Valeri--"
Huusstt
"Tidak apa-apa nak,"
"Biarkan ibumu bersama Valerie, mari kita bicara!" Sang ayah berjalan ke arah sofa di ikuti Darren. Sementara Deora menemui Valerie di kamar.
Deora menarik pintu dan berjalan masuk ke dalam, dia mengerutkan dahinya mendapati kasur kosong tanpa penghuni. Dengan gesit, dia mendorong pintu kamar mandi yang juga kosong. Kakinya cepat berjalan ke arah balkon dan kosong. Dia tidak menemukan keberadaan menantunya.
Tahu ada yang tidak beres, dia berlari ke luar kamar. Suami dan anaknya berbalik melihat Deora sebab suara gaduh wanita itu.
"Dimana istrimu? Dia tidak ada dalan kamar," mendengar ibunya, Darren melompat dan berlari ke arah kamar dan benar. Kosong.
Memeriksa ruangan lain dalam apartemen, tetapi Valerie tidak terlihat. Raut wajah Darren menjadi pucat. Istrinya menghilang. Ponselnya berdering, tertera nama Are.
"Are?"
"Tuan, Nyonya mengirim pesan kepada saya. Dia sedang berada di rumah temannya dan akan kembali malam nanti."
Teman? Siapa yang dia maksud.
Valerei selalu minta izin padanya jika dia ingin pergi. Hal yang aneh, dia pergi tanpa memberi kabar padahal dirinya ada di apartemen. Bagaimanapun dia berpikir positif, itu tidak benar. Dia merasa hal buruk sedang terjadi.
Tidak sampai 10 menit, waktu dia meninggalkan apartemen untuk mengambil paket di bawah. Apakah dengan waktu sesingkat itu, terjadi hal yang dia tidak ketahui.
"Are, periksa cctv gedung. Istriku tidak mungkin pergi begitu saja dan mengirim pesan padamu."
Are bergegas menemui bagian keamanan gedung. Dia meminta memeriksa rekaman CCTV sejak sejam yang lalu.
Di dalam apartemen Darren sibuk menelepon orang-orangnya, meminta mereka mencari keberadaan sang istri yang hilang secara misterius. Begitupun sang ayah, dia meminta bantuan temannya yang bekerja sebagai polisi. Dia meminta agar tidak ada yang tahu dan dilakukan dengan rahasia.
Bagi seorang pengusaha seperti Darren, informasi sekecil apapun sangat berguna untuk membuatnya jatuh. Apalagi jika itu menyangkut informasi keluarganya.
__ADS_1
Darren berpikir sebentar, dilayar terlihat nomor Frederick tetapi dia belum melakukan panggilan. Dan pada akhirnya dia tidak menelepon. Tetapi dia menelepon Hye Na, seorang perawat teman baik Valerie.
Terdengar suara terkejut saat dia menanyakan keberadaan Valerie pada wanita itu, dia tahu bahwa istrinya tidak berada di sana. Lalu, siapa? Siapa orang yang dia maksud dengan sebutan teman. Dalam hati Darren bertanya-tanya.
Darren berterima kasih padanya dan mengatakan agar dia tidak memberitahukan kepada suaminya, biarkan dia yang berbicara lebih dahulu. Setelah itu Darren mengirim pesan kepada Frederick agar mereka bertemu. Untuk Frederick lebih baik dia memberitahu secara langsung dari pada berbicara di telepon.
Pria itu kembali melihat-lihat apartemen, memeriksa apakah ada ada jejak pembobolan atau masuk secara paksa. Namun, semuanya seperti semula, dia juga tidak melihat barang-barang yang berserakan atau berpindah tempat. Tertata rapi seperti sebelumnya.
Beberapa menit ada telepon dari Are. Dia mengatakan kepada Darren, bahwa istrinya tidak terekam CCTV, sama sekali. Tidak ada bagian dari gedung ini yang merekam Valerie keluar.
Tidak mungkin, sekali lagi.
Kepala dia mendadak pusing, kenangan buruk menghampirinya. Banyangan-bayangan kecelakaan serta penculikan sang istri menghantui dirinya. Dia ditarik kebelakang dan membentur dinding dengan keras. Ibunya berdiri dan memeluknya yang sudah terduduk dilantai.
"Bangun! Istrimu menunggu!" Tegas sang Ayah kepasa putranya yang kehilangan kesadaran sekejap.
Darren menghela nafas berat dan panjang, baik dia dan Valerie mengalami mimpi buruk waktu itu. Ponsel yang ikut luruh ke lantai dia ambil, masih tersambung panggilan Are.
"Are! Ambil rekamannya dan ikut denganku ke markas setelah itu kita pergi menemui Frederick!"
"Ibu, Leon, dia sedang tidur di kamar sebelah."
"Ibu akan menjaganya, tenanglah!"
"Ada apa nak?"
"Sendal rumah Valerie,"
Deora bingung, lalu kenapa?
Darren berbalik melihat ayahnya. "Istriku tidak terekam kamera CCTV, tidak mungkin dia keluar tanpa terekam kamera. Sendal yang dia gunakan hanya satu dan tergeletak di bawah tempat duduk, pasangannya entah kemana. Aku akan menemui Frederick,"
Pria itu beralih menatap mata Ibunya. "Ayah, minta anak buahmu bantu aku mencari sendal Valerie yang hilang. Aku akan meminta Nola dan Han membantu. Terima kasih."
Saat Ayah dan ibunya mengangguk dia segera keluar. Tidak lupa membawa sendal sebelah kanan yang tadi dia temukan.
Dalam mobil Darren melihat rekaman CCTV. Dia melihat dengan seksama, tetapi benar-benar tidak ada. Istirnya tidak terekam keluar dari kediamannya. Untuk berjaga-jaga, Are juga meminta rekaman dari gedung sebelah. Takut, jika istri bosnya di bawa melalui udara lewat balkon. Namun, nihil. Semua rekaman itu tidak berguna.
Jika istrinya tidak terekam CCTV lalu kemana dia pergi? Tidak mungkin dia menghilang seperti magic. Apa di apartemennya ada ruang ajaib yang bisa membuatnya kemana saja, layaknya kantong Doraemon. Tolong jangan berkhayal berlebihan, memaki dirinya.
__ADS_1
"Tuan, saya mendapat kabar bahwa Lim Sujong bergerak dengan aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Sebelumnya dia berada didekat apartemen lalu dia menginap di dekat cafe, setelah itu keesokan paginya dia pulang dan pergi ke arah kantor. Saya mengikutinya tetapi dipertengahan jalan dia berhenti dan pergi melawan arah. Menurut supir taksi, dia ingat wanita itu karena pakaiannya yang mencolok. Setelah mendapat telepon dia meminta turun. Lalu saya tidak bisa menemukan dimana dia berada, seperti menghilang begitu saja."
"Dimana dia diturunkan?"
"Di depan Bank Yong."
"Dia masuk ke Bank?"
"Tidak tuan, cukup lama hingga supir taksi itu pergi. Jadi dia bisa melihat Lim sujong sesaat setelah turun lalu naik taksi lainnya."
"Apa supir taksi itu mendengar apa yang dia bicarakan?"
"Dia hanya mendengar bahwa penelepon seorang laki-laki, dan Lim sujong mengatakan dia akan menemuinya di sebuah cafe dekat pantai. Dia tidak ingat nama cafenya, hanya tahu bahwa nama cafe itu bukan bahasa korea."
"Cari tahu apa Lim sujong punya informan lain!"
Are mengangguk. Darren tidak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya.
Ponselnya berdering. Hyuk adalah penelepon kali ini. Dia lupa, ada Hyuk.
"Halo?"
"Ponsel Valerie tidak bisa dihubungi, dia bersamamu?" Kata Hyuk.
"Hotel M, aku akan bertemu Frederick. Valerie menghilang dari apartemen."
Suara Hyuk berubah menjadi berat.
"Apa yang terjadi?"
"Datanglah."
Ditutup sambungan telepon itu. Darren mengubah rencananya, dia tidak akan kemarkas dan hanya mengirim Are kesana. Dia sendiri akan menemui Frederick dan Hyuk di Hotel M.
.
__ADS_1
.
.