The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 137 : Valerie ver.


__ADS_3

...🖤...


Kejadian ver.


Valerie kesakitan. Dalam keadaan setengah sadar dia melihat ponsel Bin berada di samping tempat duduk dekat tisu kering. Dia melihat Bin yang fokus membawa mobil. Dengan sisa tenanga, dia berusaha mengumpulkan keberanian menjangkau ponsel itu.


Saat tangannya menggenggam erat ponsel Bin, hantaman dari sebelah membuat Valerie kaget hingga dia terpelanting ke atas. Dia memegang apapun dari jangkauannya dan menutup matanya. Saat membuka mata, dia sudah terbalik. Bin di depannya tidak sadarkan diri.


Bau asap dan darah tercium menyengat di penciuman Valerie, matanya kabur di kedipkan berulang kali. Pusing di kepalanya bertambah parah. Dia mual. Valerie membekap mulutnya dengan tangan yang bebas dari himpitan jok mobil.


Namun apa daya, dia muntah. Tangannya memegang sandaran kursi depan dan menyadari bahwa Bin berada di sana. Valerie tidak begitu melihat keadaan Bin karena dia berada di belakang dengan posisi ada di bawah, sedangkan Bin masih memakai seatbelt.


"B--bi--binn!" Panggil Valerie.


Pria itu tidak bergerak. Valerie kembali memanggil namanya denga susah payah. Dia sampai memeluk pelan belakang tempat duduk pria itu. Tapi seperti yang pertama kali, Bin masih belum merespon.


Nafas berat, penglihatan wanita itu mulai tidak beraturan. Mobil itu seperti terguncang di penglihatannya. Dengan darah yang turun di dahinya dan juga di pangkal pahanya menarik kepalanya kebelakang menjerit kesakitan. "Tidak!"


Dia merasakan sakit luar biasa. Air matanya jatuh dengan deras. Menyadari bahwa ada awal dan akhir. Dia memegang perutnya seperti di remas kuat, menggeleng. Valerie berusaha keras untuk keluar dari mobil tapi tubuhnya tidak berdaya. Dia menarik tubuhnya tapi tidak bisa bergerak seperti keinginannya. Menyadari dia masih menggenggam ponsel Bin.


Sebelum kesadarannya di renggut, Valerie menelepon Darren. Ponsel suaminya tidak bisa dihubungi. Lalu dia mencoba menelepon Hyuk, mewanti-wanti pria itu sedang bersama sang suami. Tapi lagi-lagi, dia harus menelan kekecewaan.


Tidak kehilangan harapan, dia kembali menelepon Darren dan Hyuk. Namun untuk kesekian kalinya selalu dalam mode teralihkan. Dia pasrah, mungkin tidak bisa mengatakannya secara langsung. Valerie hanya bisa merekam apa yang dia ingin katakan.


Sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri, dia melihat pergerakan dari depan. Bin mulai sadar. Valerie melihat ke depan. Memori-memori kembali terputar didepan matanya seperti kaset lampau yang dibentangkan di bawa cahaya lampu.


.


Cahaya pagi menyilaukan mata. Di bawa kaki gunung. Wanita bernama Valerie duduk santai menikmati kabut yang menyapa melewati kemah-kemah di area penginapan tempat dia tinggal selama 2 minggu.


Dia baru saja mengambil cuti tahunan dan berlibur ke italia. Liburan kali ini berbeda dari biasanya. Dia benar-benar menikmati liburan tanpa memikirkan soal pekerjaan. Ponsel yang biasanya di aktifkan sekarang sedang tertidur pulas di bagian paling jauh ransel di dalam tenda.


Banyak dari pengunjung yang sedang menjemur pakaian mereka, Valerie sudah siap dengan cucian kotor di baskom kecilnya. Kakinya melangkah ke arah area cuci mencuci. Dari banyak tempat, dia memilih tempat paling ujung.

__ADS_1


Awalnya, Valerie tidak memperhatikan barang di atas keran air. Setelah dia selesai barulah matanya menangkap sosok hitam berbentuk kotak di sana. Wanita itu melihat sekeliling, dia melihat dompet asing yang tentu saja bukan miliknya.


"Punya siapa?"


Ingin dia buka tapi dia takut. Tapi aku utuh informasi untuk mencari pemiliknya, katanya berusaha membenarkan. "Bawa ke pemilik penginapan saja deh, mungkin orangnya sudah melapor." Valerie menyimpan dompet itu di saku jaketnya. Dia kembali ke tenda lebih dulu untuk menyimpan cucian lalu pergi ke arah kantor tempat pendaftaran.


Menikmati udara segar sembari berjalan, dia juga bersenandung. Dari tempatnya, dia bisa melihat bagaiamana ramai penginapan ini. Dia masuk ke kantor yang sepi karena semua orang sudah masuk mencari tempat bisa mendirikan tenda.


"Halo?"


"Halo!"


"Ada yang bisa saya bantu?" Kata resepsionis.


"Ah ya, saya menemukan dompet tertinggal d area cuci, bisakah anda membuat pengumuman?"


"Benarkah? Tunggu sebentar akan saya umumkan."


Dia menyalakan spiker yang sudah terhubung ke semua penjuru penginapan, bahkan jika dia berada di dalam kamar mandi pengumuman itu akan terdengar jelas.


Tidak begitu lama, datang seorang pria dan wanita yang menanyakan soal dompet tadi. Valerie memperhatikan mereka lalu menanyakan siapa yang memiliki dompet itu. Pria itu mendekati Valerie dan mengaku bahwa dialah pemilik dari dompet yang dia temukan.


Valerie mengangguk dan menanyakan namanya, saat itu terjadi pria tadi tergagap. "Itu benar dompet saya, warnanya hitam." Sahutnya tanpa menyebutkan nama.


"Ya, tuan jika benar ini milik anda saya akan memberikan dompet ini, jadi siapa nama anda?"


"Apa? Kenapa saya harus menyebutkan nama di depan orang asing!"


Valerie cuma tersenyum. Pria itu bukan pemilik dompet. "Tuan, mungkin dompet anda terjatuh di dalam tenda. Karena fot--"


Belum dia menyelesaikan perkataannya seseorang dari luar datang.


"Maaf apa ada yang menemukan dompet? Saya mendengar pengumuman tadi." Katanya.

__ADS_1


"Nama anda?"Tanya Valerie.


"Lee Seok Hoon, Darren Lee." Kata dia tegas.


Valerie terdiam. Dia benar tapi fotonya.


Pria pertama beserta wanita tadi menghilang entah kemana. Menyadari bahwa mereka sedang diperhatikan orang.


Sepertinya pria itu menyadari keanehan dari ekspresi wanita di depannya.


"Ah, itu dompet teman saya. Sebentar, Darren!" Panggil pria kedua.


Lalu ketika pria ke tiga datang, Valerie menatap dia dalam diam. Dia?


Karena ekspresi Valerie tampak seperti terpesona bagi pria kedua tadi. Dia tersenyum jahil. "Bisa saya ambil nona?" Ujarnya menggoda ekspresi Valerie.


"Ah? Oh, tentu saja." Dia memberikan dompet itu pada pria kedua yang sudah berjalan beriringan dengan pria ketiga pemilik dompet.


"Terima kasih atas bantuannya." Kata resepsionis yang mengagetkan Valerie.


"Oh ya tentu." Dia berbalik menuju tendanya.


Valerie melihat ke arah punggung dua pria yang menjauh dari kantor tempat mereka bertemu. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi. Meski hanya sekilas, tapi dia dapat mengingat wajahnya. Ditempat jauh ini mereka kembali bertemu, bisakah dia mengatakan ini sebagai takdir baik?


"Aku tidak menyadari bahwa tatapan mata asing itu membuatku ingin bertemu."


.


Valerie menutup matanya, meningalkan jejak-jejak masa lalu dalam ingatannya. Di batas akhir kesadarannya sebuah adegan dramatis muncul dari tidur panjang dengan jeruji besi yang tertanam di bawah sana dengan aman pada akhirnya terbuka. Jeruji besi meleleh dan membiarkan mereka keluar menyapa setiap inci di tubuhnya.


Gemetar Valerie dan terlelap. "Yang paling menyakitkan adalah ketika kau menyadari semuanya telah terlambat. Aku mengingatnya."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2