The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 27 : Sugar Daddy vs Larry kesepian


__ADS_3

Di perusahaan, cerita tentang Darren yang menjadi sugar Daddy menyebar dengan cepat. Hampir semua departemen menjadikan itu bahan perbincangan. "Yang mana sih?" laki-laki yang berusia sekitar 30-an bersuara.


Semua orang di perusahan menjadi penasaran, terbukti banyak yang mencari tahu siapa wanita yang menjadi kekasih bosnya.


"Aku dengar dia masih muda, lihat barang yang dia pakai branded semua." ujar wanita yang membawa gosip itu masuk ke departemennya.


"Apa salahnya pakai barang branded? gaji disini juga besar, jadi kalau pakai barang mahalkan biasa saja." ujar laki-laki lainnya.


"Justru itu, gaji besar tapi kalau dikurang biaya hidup sebulan, gak akan cukuplah. Lagipula, barang yang dia punya dari ujung kaki sampai kepala semua branded dan yang lebih penting dia bukan berasal dari kalangan atas, yang artinya hidupnya susah. Aku dengar orang tuanya makan saja susah." tambah wanita itu lagi.


"Iya, benar. Aku juga suka beli tas branded atau sepatu, cuma kalau aku gak sebanyak itu, yang kebeli baru 2 sepatu sama 3 tas, selama kerja jadi asisten direktur. Bayangin coba, aku aja yang kerja jadi asisten direktur, gaji lebih besar dari departemen administrasi tapi gak akan bisa beli banyak barang branded sampai ganti setiap hari, bisa pingsan!" wanita yang baru saja datang bersuara, dia turun ke departemen riset dan pengembangan menemui temannya untuk makan siang, tapi mendengar gosip yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan, dia malah ikut nimbrung.


"Iyakan? Pastilah, dia punya penyokong dana." beberapa yang mendengarnya terlihat jijik. Tidak menyangka ada orang seperti itu dalam perusahan.


"Gosip ini, awal mulanya dari mana?" ujar Kepala departemen riset dan pengembangan yang baru saja membuka pintu kaca ruangannya.


"Saya dengar nya dari So young pak, bagian keuangan, katanya waktu ke toilet, dia dengar kalau orang-orang di bagian administrasi lagi gosipin wanita itu."


"Lah, sampai bilang sugar Daddy nya pak Darren, ceritanya bagaimana?" tanyanya lagi, gosip yang tidak berdasar ini harusnya dihentikan.


"Bapak tahu Pak Jun? security baru, yang sering keliling parkiran atas?” Ketua departemen itu mengangguk sebagai jawaban.


Dia pernah lihat perempuan itu turun dari mobil pak Larry sahabat pak Darren. Awalnya Pak Jun kira wanita itu pacar pak Larry Tapi beberapa menit setelah wanita itu keluar dari mobil, Pak Darren juga turun sambil berbenah, katanya." dia berbicara dengan suara yang dibiarkan kecil.


"Berbenah? pindahan kali ah" ujar Yoon si an asisten kepala departemen.


"Ihh bapak, maksudnya lain loh pak, itu kalau-- gitulah pokoknya. Malu saya jelasinnya." semua orang antara percaya dan tidak. Jika itu Larry mungkin mereka hanya ber oh ria, tapi ini Darren.


"Sudah, sudah. terlalu banyak gosip, bisa gawat departemen kita." Kepala departemen itu menyudahi percakapan yang bisa membahayakan ini. Dia bisa menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap scandal yang terjadi.


"Yuk makan siang" semua orang bubar, sudah waktunya makan siang, tapi karena terlalu asik bergosip mereka sampai lupa.


...πŸ–€...


Sementara pria yang dibicarakan sedang sibuk mengomeli istrinya yang susah makan. Sejak tadi dia tidak berhenti berdebat karena masalah makan.


"Makan dulu!"


"Sudah."


"Makan!"


Valerei sudah berkaca-kaca, dia akan menangis dan ini sudah untuk kesekian kalinya.


"Tidak." melipat tangannya, memandang sinis Darren.

__ADS_1


"Kamu kerja sana!" usir Valerei pada suaminya.


"Libur."


"Mana ada!"


β€œAda, aku bosnya.” Dia duduk di dekat tempat tidur.


"Aku malas tahu!” Valerie bersikeras tidak ingin makan.


β€œIni loh makan, kamu belum makan sejak tadi.”


Makanan yang berada di tangan Darren sudah dingin. Dia meletakkannya di nakas dan menelepon pengurus rumah untuk membuatkan makanan baru untuk istrinya.


β€œAh-β€œ kesal, dia membuang wajahnya kesamping.


"Maaf, makan dulu ya?"


"Ihh, malas." dia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menyelimuti dirinya hingga tertutup


Darren membuka selimut yang menutupi istrinya. "Mau makan atau ikut ke kantor?”


Dia membuka matanya, "Aku sakit, Darren. Malas keluar, kamu aja yang ke kantor."


Darren membenarkan, benar dia sakit. Dia menggeser Valerei.


"Aku juga mau istirahat." ucapnya pada istrinya


Valerei menolak. "Dikamar kamu sana."


Darren rasanya ingin menarik pipi Valerei, geram dan gemas disaat yang bersamaan. "Kamar kamu, kamar kamu."


"Ada yang salah? ini kamarku, disebelah kamarmu!" ucapnya tanpa merasa bersalah.


Darren menyentil kening nya, tanpa basa-basi Valerei mengambil jari telunjuk Darren dan menggigitnya, tidak keras juga tidak pelan. suaminya, hanya mengerutkan keningnya samar. "Jari kamu nakal, mau diajar."


"Caranya?" Darren bertanya


Bahagia. Darren tersenyum melihat Valerei. "Kamu--" dia tidak menyelesaikan kalimatnya, dia mengangkat Valerei kembali ke kamarnya. kamar mereka berdua. "Darren!!!"


...πŸ–€...


"Kau tidak pernah bertemu Darren?" tanya Larry, membuka botol minuman yang dia ambil dari kulkas kantor Hyuk.


Pemilik kantor itu sedang sibuk membalik berkas dan menandatangani satu persatu sambil membaca dengan teliti. "Beberapa hari yang lalu Darren kesini."

__ADS_1


"Untuk." dia membuka toples makanan.


"Hanya bermain." ujarnya santai


"Bermain? Bilang saja dia bertanya soal pulau pribadimu."


Hyuk mengangkat kepalanya dan memandang Larry lama lalu dia berdiri dan duduk di sofa.


"Pulau pribadi apa?"


"Bukannya dia baru beli pulau pribadi darimu?"


"Kau tidak sakitkan? pulau pribadi apa? semua pulau disini milik negara." Bantah Hyuk untuk perkataan Larry, mulai ngawur.


Dia menaikkan bahunya. "Aku mendengarnya dari staff di kantor Darren."


"Kau terlalu banyak bergaul dengan orang-orang aneh Larry. Berhenti lah selalu bergosip dengan karyawan." Hyuk memberi nasihat kepada Larry


"Nanti aku pertimbangkan. Valerei juga susah dihubungi! aku mau ajak dia main." dia merasa bosan, wanita-wanita yang biasanya menemani Larry bermain, tidak menarik lagi untuknya. Inilah Larry.


"Kau bisa dihajar, jika Valerei mendengarnya." dia membayangkan bogem mentah Valerei, membuatnya merinding disko.


"Aku benar-benar bosan. Hyuk"


Hyuk merasa sahabatnya ini sudah lelah bermain-main. dia hanya memikirkan satu solusi. "Menikahlah."


Larry tertawa hambar. "Tidak, aku mungkin akan membuat istriku sangat kesepian. Kau tahu aku tidak bisa hidup jika hanya untuk satu wanita."


"Tapi selama ini kau hidup untuk adikmu."


"Itu berbeda" Tegas Larry membuat Hyuk berpikir dan mengeluarkan kata-kata bijak miliknya.


"Kau hanya tidak melakukannya dengan benar Larry, cobalah! jangan berharap pada Valerei terlalu lama," Dia tahu Larry selalu mencoba bertindak baik-baik saja.


Dia sudah melupakan perasaan nya, hubungan dengan Valerei lebih nyaman dari pada sebelumnya, itu yang dia katakan. Kepada sahabat-sahabatnya dia juga bilang pada dirinya sendiri, menyakinkan, tapi dia juga pria, dan dia tahu tidak mudah walau dia mencoba yang terbaik.


Larry tidak bergerak, bungkam atas perkataan tiba-tiba sahabatnya.


"Jika harus dikatakan, Valerie bukan perempuan yang tepat untuk jadi pengantinmu. "


Tentu saja Valerei wanita baik. Tetapi dia setuju, Valerei wanita yang tepat untuk darren.


Perselisihan antara Darren dan Frederick saja belum usai, bagaimana perasaan Larry saat dia tahu Valerei sudah menikah dengan sahabatnya dan dirahasiakan selama ini, batin Hyuk khawatir.


Tidak ada yang perlu dia katakan, dia tahu betul itu, tapi bukan salahnya jika dia tidak menyukai siapapun lagi. Larry ingin ini berlalu begitu saja. Tidak apa-apa jika harus hidup sendiri, tidak menutup kemungkinan suatu hari dia akan jatuh cinta dengan wanita lain. dia hanya belum menemukannya. Padahal dia sudah sombong mengatakan kapada banyak orang bahwa dia sudah melupakan Valerie.

__ADS_1


"Dan juga, ubah mindset mu. Kalimat aku tidak bisa hidup jika hanya untuk satu wanita itu terlalu gegabah. Kau selalu pro untuk hubungan yang tidak jelas, kenapa tidak coba pro untuk hubungan yang sehat? pada akhirnya, kau hanya akan berlabuh pada satu wanita. berpikirlah."


...πŸ–€...


__ADS_2