The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 56 : Kesempatan


__ADS_3

Min, mata-mata yang bekerja untuk sang penculik tergantung tidak sadarkan diri disebuah gudang tidak dipakai. Orang-orang yang dekat dengan Min merasa tertipu, mereka menganggapnya sebagai keluarga dan berakhir dengan penghianatan.


"Sampah busuk!" Seorang senior dari tengah meludah kelantai lalu berlalu dengan marah. Dialah yang paling dekat dengan Min, semua orang di sana tahu hatinya pasti pilu melihat pria yang telah bersamanya dari tahun ke tahun harus berakhir menyedihkan.


"Lebih baik dia tidak datang." kata teman di seberang.


"Dia pasti kecewa, orang yang dia pungut berkhianat dan membawa anak dari Tuan Ho Young!"


"Jika tidak, dia tidak punya hati!"


"Kau bicara pada siapa soal hati?" Mereka tertawa.


Ho Young masih berdiri di depan, berapa lagi yang harus dia hancurkan, tanya dia dalam hati.


Tangan kanannya memainkan pemantik gas, biasanya dia akan melemparkannya ke depan setelah itu, tapi dia tidak melakukannya dan meminta Yun untuk mundur bersama anggotanya yang lain. Dia bersandar dan melihat Darren.


"Kau tahu, Yun pernah bilang kalau aku tidak bisa lagi memimpin! perasaan ku dan semuanya telah berubah." Ho Young merasakan kehilangan dirinya.


Darren mengangguk. "Itu benar, kau tidak lagi seperti Ho Young sejak beberapa tahun lalu tapi Ho Young, aku rasa itu bukan hal yang buruk."


Keduanya diam setelah perbincangan singkat, Ho Young melihat lagi pemantik gas ditangannya.


"Menjadi lembut adalah hal besar bagi setiap mafia, itu bukan sesuatu yang baik."


"Dulu kau menggunakan senjata untuk menyelamatkan orang, tetapi berubah setelah belasan tahun, itu hal yang mungkin. Lalu sekarang kenapa tidak mungkin?"


"Hatimu menjadi lembut bukan karena kau tidak bisa berlaku kejam lagi. Jadi, jangan menolaknya, terimalah secara perlahan." Tambah Darren.


Sejak kelahiran Yun kecil, Ho Young merasa dunianya berubah. Dia tidak lagi sekejam dahulu dan beberapa keputusannya selalu salah perhitungan akibat banyak faktor yang dia pikirkan.


"Pembicaraan kita ini, bagaimana mengatakannya? canggung!" Ho Young memasukkan kembali pemantiknya dan keluar dari gudang itu. Sementara Darren melihatnya dari belakang, dan tersenyum.


...🖤...


Perasaan aneh apa ini? Nola membatin.


Dia melihat seseorang berdiri tepat di balik jendela, perlahan dia berjalan memberi kode pada Han melihat bayangan itu. Tapi Valerei melarang untuk mendekati jendela..


"Kenapa Nyonya?" mode berbisik.


"Kalau hantu bagaimana?" Mendengar kata Hantu, Han mundur dengan cepat.


"Kita pukul kepalanya!" Ucap Nola, Valerei bergidik ngeri, dia berbalik dan mendapati Han berada di pojokan.


"Atau kita hantam pernafasannya saja" Ucap Nola lagi


"Mati dong?" kata Valerei polos.


"Memangnya hantu bisa mati lagi?" ujar Han yang masih di belakang.


Oh iya, benar juga. Valerei tertawa, bisa-bisanya dia berkata seperti itu.


Nola penasaran, memberanikan diri maju ke depan. Semakin dekat dengan jendela, detak jantungnya juga semakin tidak karuan. Langkah terakhir sebelum dia membuka gorden jendela.


Tuk,tuk,tuk

__ADS_1


Nola dan Han berteriak dan berlari mendekati Valerei, mereka lompat ketakutan mendengar suara pintu yang tiba-tiba.


Karena refleks keduanya Valerie ikut terkejut.


"Apa itu?" tanya Han yang sudah berdiri di belakang Valerei. Penakut.


"Suara pintu!" kesal Valerei, jantungnya bisa copot dekat-dekat dengan kedua pengawalnya.


Mereka menengok bersamaan saat suara sepatu bergesekan dengan lantai kayu. Terlihat bingung orang itu melihat ketiga sandera.


"Ada yang saya lewatkan?"


"Lain kali kalau mau mengetuk bilang dong, kedua pengawal saya kan penakut!" bersedekap marah pada orang yang baru saja masuk.


Lah?


"Situasinya bagaimana Nyonya? dia harus bilang sebelum mengetuk itu kayak gimana?" Han tertawa kecil, dia maju. Posturnya berubah, dia berjalan tegak dan berbicara dengan suara bass nya. "Ada apa?"


"Silahkan keluar."


"Apa?" Nola melihat Valerei cepat.


"Kalian mau apa? Jangan macam-macam ya!" Cepat dia melindungi Valerei di belakangnya.


"Tuan saya ingin bicara. Silahkan ikut!"


Dalam perjalanan menemui sang penculik, Nola terus menempeli Valerei, dia takut akan dipisahkan. Han yang selalu waspada memperhatikan sekeliling.


"Silahkan lewat sini." Pintanya sembari membuka pintu.


Mata elang memandang Nola yang sangat menempel pada Valerei. Alisnya naik. "Oh santai saja, aku tidak akan memakan majikanmu." Suara tawanya lumayan merdu ditelinga Nola. Sadar pikirannya kacau, dia memukul kepalanya.


"Kau bukan kelompok HARI, lalu siapa kau ini?"


"Menurutmu, aku siapa?"


"Tidak tahu! Kau ini musuh atau teman?"


"Tentu saja teman! Aku sudah membantu, bukankah waktunya kau membayar hutangmu?"


"Hutang?"


"Aku membawamu bukan untuk di siksa seperti kelompok HARI inginkan. Aku hanya senang melihat Darren membuat pilihan." Senyumnya tidak pernah hilang. Kemampuan Valerei dalam menganalisis mungkin sudah hilang, dia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Pria di depannya.


"Lantas, bagaimana kau membantuku?"


"Aku? menyingkirkan sainganmu!"


"Sainganku? Siapa?"


"Estela! Aku luar biasa kan?"


"Esteler termaksud saingan?" Dia berbalik melihat kedua pengawalnya sembari tersenyum. Sombong sedikit, bagaimana dia bisa disamakan dengan Estela itu, sedangkan suaminya tidak menyukai wanita itu. Itu bukan saingan namanya.


Han dan Nola tertawa.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Esteler siapa?" Dia terlihat bingung.


"Wanita yang kau bilang saingan."


"Oh! Jadi, kau tidak ingin membayar hutang?"


"Kau ini sebenarnya mau apa?" Valerei mulai bosan.


Sang penculik berpikir bagaimana caranya agar wanita ini mau bekerjasama. Lalu muncullah ide setelah mengingat dia punya satu lagi tawanan.


"Kalau kau mau bekerjasama, akan ku pastikan anak itu selamat! Bagaimana?"


Valerei melihatnya, dia gugup tapi tetap santai. "Anak siapa?"


"Kau tahulah!"


"Bisa saja kau hanya asal bicara!"


Dia menepuk tangannya, beberapa saat seseorang datang dengan membawa laptop. Sang penculik membuka laptopnya dan memainkan sebuah video. Valerei yang tidak begitu mengingat wajah anak dari Ho Young merasa skeptis, lalu dia meminta Han dan Nola untuk mendekat.


Sesaat, Han berdiri tegap dan mengangguk pada Valerei. "Lalu pengawal yang menemaninya?"


"Maksudmu tangan kirinya, Sen? Dia tidur! terlalu merepotkan. Ah, Ho Young punya dua tangan yang hebat." sang penculik memperhatikan ekspresi Valerei selama dia berbicara.


"Tenang saja, hanya tidur sebentar, nanti juga bangun."


"Bagaimana aku harus bekerjasama?" tanya Valerei terus terang, dia punya kesempatan menyelamatkan anak Ho Young.


"Tetap di sini, biarkan suamimu yang memilih!" tatapan itu berbeda, dia punya dendam dengan Darren.


"Kalau hal itu menyakiti Darren, aku tidak tertarik!" Valerei menolak.


"Justru kau akan tertarik! Darren harus membayar apa yang dia lakukan dulu."


"Kalau itu masalahnya, kau harusnya bicara baik-baik pada Darren."


"Tidak bisa!" Emosi terpancar dari tatapannya.


"Kau ingin dia memilih antara aku dan Esteler? Kau tidak salah? Aku istrinya sedangkan Esteler siapa? Lagipula, Darren tidak kesepian hingga harus bersama pelakor. Apa enaknya, mending sama istri sah.”


Wlek. Dia diejek.


Dia yakin Darren memilihnya, untuk apa memilih wanita yang telah menjadi masa lalu.


"Bukan!” kesal, dia mengatur nafasnya. Berbicara degan wanita ini membuatnya harus banyak sabar. “Aku ingin dia memilih antara kau dan anak Ho Young!"


Gila, bagaimana bisa! dalam hati Valerei.


Sekarang Valerie lah yang menghela nafas pelan. Kau dalam masalah Darren!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2