The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 123 : Memilih setia atau berkhianat


__ADS_3

Seorang pria duduk memandang hamparan luas ilalang. Sore yang berangin, langit mendung selalu menjadi teman baiknya beberapa hari ini. Matanya menatap tepat pada ilalang yang tertiup angin, mengikuti gerakan kemana angin membawanya. Dia iri. Begitu mudahnya mengikuti angin yang menghempasnya kencang padahal itu tidak mudah. Beberapa dari mereka patah dan tergeletak tak berdaya.


Akankah dirinya sama seperti ilalang jika mengikuti angin? Patah dan tak berdaya? Namun, patah dan tak berdaya itu seperti apa? Lalu siapa dia, hingga bisa patah dan tak berdaya? Status seperti apa yang dia miliki, dia juga tidak tahu. Hanya saja perasaan tertipu ini mengapa berat sekali didadanya. Pria itu banyak berpikir.


Pria itu melihat awan putih bergeser menjadi abu-abu. Kaki besarnya membawanya masuk ke dalam sebuah villa di tengah perkebunan anggur di belakang hamparan ladang ilalang. Dia menutup pintu dan jendela. Hujan lebat akan datang sebentar lagi. Nampak tua tapi terawat, begitulah gambaran interior rumah itu.


Dia duduk ditengah karpet bercorak bunga, didepannya ada meja kayu kecil berwarna coklat tua. Meja itu cukup sederhana tetapi punya harga yang mahal. Sewaktu kecil, dia pernah membawanya untuk di jual ke tempat kolektor barang aktik tetapi bukannya mendapat uang. Sang pemilik yaitu kakeknya menarik telinganya dan membawanya pulang.


Usut punya usut, ketua pemililk rumah barang antik itulah yang memberikan meja itu kepada Kakeknya. Saat anak remaja nakal membuka bungkus barang, dia terkejut lalu menelepon teman baiknya. Mengatakan bahwa cucu kesayangannya akan menjual hadiah yang dia berikan. Malu tentu saja, jika dia mengingat kembali masa lalu.


Larry meringis, dia masih mengingat masa paling nakal dalam hidupnya. Hampir semua barang antik kakeknya habis dia jual. Merasa bersalah dia membawa meja itu ke villa yang di bangunnya berdasarkan imajinasi terhadap kakeknya. Villa ini adalah gambaran dari sang kakek, tua tetapi hangat. Larry menyebutnya pria tua keras kepala yang hangat.


Petir menyambar, dia sudah mengira akan datang hujan lebat. Suara gemuruh bersautan di luar, kilat menjadi teman bermainnya. Ada beberapa orang yang bilang, hujan dapat menutupi kesedihan. Dia juga tidak tahu, mungkin beberapa orang sangat menyukai hujan hingga bisa menekan perasaan. Tapi, baginya tidak begitu, hujan membuatnya bersedih. Sebab wanita yang di sukai sangat menyukai hujan.


Belum cukup seminggu setelah dia pulang dari Swiss. Disana dingin, hatinya juga. Pria yang dia ingin temui berpindah-pindah tempat. Hampir saja tidak mendapatkan jawaban, dia beruntung. Namanya Sir, Alex. Nama yang sama dengan mantan pelatih club bola favorit Hyuk. Begitulah orang memanggilnya, dia tidak tahu nama Koreanya. Salah satu pemegang saham teman baik kakek Darren, orang berperan penting baik diperusahaan juga pada kehidupan sahabatnya.


Larry mengingat. Seminggu yang lalu.


Larry masih berada di ruang kerjanya. Saat dia memikirkan kemana di harus mencari jawaban atas pertanyaan dikepalanya. Ada pesan masuk ke ponselnya. Dia tidak mengetahui sang pengirim karena menggunakan nomer pribadi. Pesan itu padat dan jelas.


'Temui Sir, Alex. Swiss sp 2.077. Jawaban atas pertanyaanmu ada di sana.'


Tanpa pikir panjang Larry terbang ke Swiss.


Dia tidak beristirahat, dan langsung menemui orang yang dipanggil dengan sebutan Sir, Alex. Perumahan itu sunyi. Terdapat beberapa rumah dengan gaya yang berbeda-beda. Saat dia turun, disalah satu rumah tertulis '077' dia mengetuk dan seseorang wanita muda berusia 15 tahun menyambutnya.


"Cari siapa?" Ketus perempuan itu, melihat Larry dengan seksama. Merasa belum pernah melihat tamu yang berkunjung, ujung matanga memicing.


"Apa Sir Alex tinggal disini?"


"Sir, Alex? Anda mencari pelatih sepakbola? Seharusnya itu ada di Inggris."


Larry tidak percaya, perempuan ini bisa mengatakan lelucon pada orang yang baru saja dia temui.


Hah!?


"Siapa Bella!?" Teriak wanita dari dalam.

__ADS_1


Perempuan itu menjawab dengan berteriak. "Tidak ada Nek, hanya orang bertanya, dia salah alamat."


"Oh, siapa yang anda cari tuan?" Wanita paruh baya itu datang dan berada dibelakang perempuan bernama Bella.


"Seseorang bernama Sir, Alex. Nyonya." Jawab Larry.


"Sir, Alex? Boleh saya tahu mengapa anda mencarinya?"


"Saya ingin bertanya padanya, mungkin dia satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan saya. Anda mengenal Sir, Alex? Sepertinya begitu,"


Wanita tua itu mempersilahkan di masuk. Bella menyingkir dan memberikan Larry jalan.


Sempat bingung terpancar dari raut wajah Bella, dia baru saja mendengar nama Sir, Alex.


"Silahkan duduk, Bella tolong buatku minuman hangat." Pintanya.


"Tidak perlu repot-repot nyonya, saya hanya ingin bertanya." Tolak Larry sopan.


"Sir, Alex adalah suamiku. Kim. Sayang sekali, mungkin anda tidak bisa bertanya dengan leluasa, "


"Anda ingin bertanya, saya bisa menjawabnya untuk anda. Jika saya tahu." Katanya tersenyum.


Lama, Larry baru bisa berbicara. "Apa anda mengenal Darren?"


Tuan rumah itu tersenyum. Senyum yang membuat Larry bingung.


"Sepertinya suamiku menyimpan banyak rahasia Hoon."


"Ya?"


"Tidak, selama dia hidup. Banyak orang yang datang bertanya soal keluarga Lee. Mulai dari wartawan hingga klien. Sekarang anda datang sebagai apa?"


Larry tidak tahu, Keluarga Lee se-terkenal itu. "Teman Valerie,"


"Anda mengenal Valerie? Oh, ini hal yang baru. Apa yang anda ingin tanyakan?"


Yah, dia benar.

__ADS_1


"Anda mengenal Valerie?" Tanya Larry balik.


"Tentu saja, aku dan suamiku datang di pernikahan Darren dengannya. Darren beruntung menikahi wanita sepertinya."


Larry menggenggam erat sofa disampingnya. Dia berharap itu tidak benar tetapi jawaban itu mengiringnya ke masuk ke laut. Dia hanya memancing dan dia mendapat ikan besar. Beruntungnya.


"Oh tunggu sebentar, saya memiliki foto pernikahan keduanya."


Dia berdiri menunju sebuah kabinet kecil di bawah TV. Dia mengambil album foto dan menyerahkannya kepada Larry.


"Itu ada di paling belakang."


Mendengar itu, Larry membalik album dan membuka lembar terakhir. Matanya melotot, keduanya tersenyum. Gaun yang di kenakan Valerie adalah gaun terakhir yang dibuat oleh desainer terkenal asal belanda. Dia ingat.


Karena gaun itu Larry terbang langsung ke Belanda untuk mendapatkannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Valerie. Tetapi, seseorang telah lebih dulu membelinya. Dia tidak tahu bahwa orang itu adalah Darren.


"Darren bahkan terbang ke italia untuk menemui Hans, dia menukar saham perusahaan dan sebuah villa di pesisir California dengan sebuah gaun. Yah walau kita tahu itu sudah sepantasnya mengingat ini adalah gaun terakhir sebelum dia berhenti dari dunia fashion. Setelah itu dia berangkat ke belanda menjemput gaunnya sendiri, padahal waktu itu Hans berjanji akan mengirimkannya segera tetapi pengantin pria nya memilih untuk mengambilnya. Romantis sekali."


Jelas wanita itu sambil tersenyum. Tidak bagi Larry, dia mengangguk dan pamit pada Grace terburu-buru hingga menabrak Bella yang membawa minuman untuknya.


"Maaf, saya masih ada keperluan, terima kasih jamuannya dan jawaban atas pertanyaan saya."


Larry menghilang dibalik pintu.


Grace dan Bella menghela nafas. "Nek, sepertinya tidak benar kita mengatakan rahasia yang disimpan kakek."


"Jika aku tidak mengatakannya, kau akan kesulitan. Kakekmu tidak pernah mengatakan apapun saat dia hidup, sekarang setelah dia tiada, aku hanya memilikimu. Melindungi mu adalah tugas ku sebagai orang tua. Kakekmu akan mengerti."


Dia mendapat ancama, nyawa cucunya menjadi taruhan. Dia lebih baik mengatakan hal itu, toh itu kebenaran.


Back to .


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2