The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 77 : Bosan, mencari jalan kabur


__ADS_3

Valerei terus berbaring, kebosanan yang dulu melanda saat masuk rumah sakit datang lagi menemaninya. Setiap kali, dia menggerakkan badan, suaminya yang super protektif itu menegur, atau jika Valerei tidak mendengarkan dan terus melakukan gerakan tambahan, dia akan diangkut kembali ke tempat tidurnya dengan paksa.


Matanya memicing melihat tingkah lebay pria itu. Mertuanya tidak bisa digunakan sebagai tameng, kali ini. Siapapun yang membantunya akan dibuat menyesal, seperti Nola dan Han kemarin. Awalnya, rencana kabur dari suami tampannya berhasil tapi mereka pada akhirnya ketahuan. Alhasil, Han dan Nola mendapatkan sangsi. Apa hukumannya dia juga tidak tahu, karena Darren langsung menyuruh Are membawa keduanya pergi.


Karena hasutannya yang luar biasa berpengaruh untuk kedua pengawal itu, mereka dihukum. Valerei bertambah bosan sebab dua orang yang lucu nan menggemaskan tiada. Badannya pegal, kakinya sudah gatal ingin bejalan tanpa ditegur. Dia kembali melihat Darren yang duduk di sofa, memikirkan ide-ide lainnya.


Setelah diingat-ingat hanya Hyuk yang tahu soal pernikahannya, jadi dia hanya bisa mengandalkan Hyuk, tapi lagi-lagi rencananya tidak akan terlaksana. Hyuk entah berada dimana sekarang. Jika dipikirkan, sudah lama sekali dia tidak melihat teman bijaknya itu. Bagaimana kabarnya sekarang dia juga tidak tahu.


Selesai dengan pemikiran tentang Hyuk, dia kembali kepada kenyataan, Darren masih sibuk mengetik diatas laptop putih imutnya. imut? lebih imut aku, dalam hati dia. Berdehem satu kali, tetapi tidak ada hasil. Darren sudah hafal akal-akalan istrinya. Dia tidak akan terjatuh pada perangkap yang sama.


Melihat kesibukan suaminya, Valerei menggerakkan kaki sedikit, dia berniat turun dari kasur dan berlari keluar. Satu kakinya sudah berada di lantai, sedikit lagi dia sudah bisa merasakan kebebasan. Kedua kakinya menyentuh lantai dingin lalu mengangguk-anggukkan kepalanya senang, bibir terkatup rapat agar tidak menimbulkan suara lain.


Ketika, dia berhasil turun, Valerei menengok kebelakang, suaminya masih berkutat dengan pekerjaan. Dia melangkah pelan, satu persatu sampai batas pintu. Bersyukur bahwa pintu kamarnya tidak tertutup, memiringkan badannya keluar sepenuhnya dari kamar.


Saat melangkah lega, Are datang terkejut melihat istri bosnya berada di luar. Takut ketahuan, telunjuk Valerei langsung bereaksi meminta Are untuk diam dan jangan mengatakan apapun. Dia melihat kaki polosnya dan beralih melihat Are.


"Sandalku ketinggalan Are." kata Valerei memanyunkan bibirnya dan menunjuk sendal imutnya yang berada di dalam kamar.


"Pakai ini Nyonya." Are memberikan sendal yang mirip dengan sendalnya dikamar.


"Kamu beli?" tanya dia kepada kepala keamanan Darren.


"Hadiah untuk Nyonya." singkat, padat, jelas.


"Hadiah? Wah, Are! terima kasih." terharu, Valerei sedikit melebih-lebihkan ekspresinya.


Dia memakainya, mengulangi gerakan telunjuk diatas bibir membuat sang pengawal suaminya mengangguk yang dari anggukan itu Valerie percaya Are tidak akan bicara pada Darren.


"Oke, lain kali akan ku belikan es krim!" Valerei melambai dramatis, meninggalkan Are yang sedikit tersenyum.


Lalu dia buka pintu lebar, Are masuk ke dalam kamar. "Tuan, saya sudah memberikan sandalnya ke Nyonya."


"Ya, kerjamu bagus!" Darren melihatnya singkat dan fokus lagi pada pekerjaannya.


Setelah itu, Are kembali berjaga diluar. Yah, itu tadi adegan dramatis yang diperankan Valerie, menganggap suaminya tidak akan tahu gerakan dia keluar dari kamar. Terkadang bagi Darren, istrinya itu terlalu polos.


Darren mengangkat kepalanya melihat kasur yang kosong karena penghuninya sedang kabur. Dia berdiri, melihat keadaan diluar dari balik kaca besar. "Tidak ada yang tahu, hati seseorang akan mendarat kepada siapa!"


Valerei mengelilingi rumah sakit, dia bersenang-senang sendiri. Saat melewati taman yang dibatasi kaca, dia melihat Leon bersama mertuanya sedang menikmati makanan ringan. Tingkahnya, luar biasa lincah. Valerie bersenandung berjalan ke kiri-kanan, kedua tangannya bahkan dia masukkan ke kantong baju, sangat menikmati rupanya.

__ADS_1


Semua orang melihatnya dengan mata membulat. "Bisa keluar nak?" kata Deora.


Cekikikan Valerei mengangguk. "Bisa ma"


"Caranya?"


"Aku kabur!" Dia tertawa.


Mertuanya tidak percaya, seorang seperti Darren tidak mungkin kalah cepat. Kalau Valerei kabur, tentu saja dia bisa mendapatkan dengan mudah. Deora lalu melihat sekeliling, takut-takut firasatnya benar bahwa anaknya yang super itu sudah tahu kelakuan istrinya yang mulai aktif.


"Bagaimana caramu kabur?" sekarang ayah mertuanya yang penasaran. Dia juga ikut tidak percaya tetapi jika menantunya sudah berada didepannya maka caranya pasti berhasil dan yah, dia ada disini tanpa Darren juga pengawalnya.


"Aku diam-diam keluar, Darren lagi sibuk sama pacarnya."


"Pacar? Darren punya pacar!?" Ibu Deora tidak terima, terlihat dari kemarahannya. Wanita paruh baya itu akan melangkah tetapi pundaknya di tahan Lee Jong seok.


Sebelum istrinya marah-marah tidak jelas, sang suami memberitahu apa maksud menantunya. "Sayang, yang dimaksud pacar itu dokumen kantor!"


"Aku tahu!"


Mulai sewot lagi, sepertinya dia tidak bisa masuk dalam pembahasan, bisa-bisa sampai dirumah dialah yang akan dihukum oleh Deora.


Oke, mari kita diam.


"Leon masih makan?"


"Sudah selesai!" Leon mengangkat tangannya ke atas, menunjukkan bahwa dia tidak memegang makanan lagi.


"Mau temani mami beli es krim?" Suara Valerei dibuat seimut mungkin, seperti menirukan nada anak kecil.


"Boleh mami!"


Valerei menjadi pusat perhatian banyak orang, Bagaimana tidak, dia masih dalam balutan baju pasien. Leon memilih es krim kesukaannya, lalu mencari-cari letak es krim coklat berbentuk love tapi matanya tidak menemukan spot. Dia lantas bergeser menuju freezer lainnya.


Tangannya menyusuri semua es krim yang ada dibalik kaca freezer tapi sampai ujung, dia belum menemukan apa yang dia cari. Valerei diam tanpa berniat membantu Leon. Saat Leon lelah dan berbalik, dia manyun menatap maminya. Es krim yang dia cari bertengger indah di tangan wanita itu.


"Dimana mami menemukannya?" tanya Leon.


"Di sana!" telunjuknya mengarah pada Freezer kecil dekat pintu masuk.

__ADS_1


Leon menghentakkan kaki dan menendang rak roti yang berada di depannya sebal. Dia seharusnya menjadi penemu pertama. Menyaksikan sikap anaknya, wajahnya jelas berubah, mode telah berubah menjadi mami yang tegas. Valerie tahu, sikap siapa itu ketika marah. Rey. Dia harus menarik telinga Rey karena memberi contoh buruk kepada anak yang dia didik dengan segenap hati menjadi pribadi baik dan manis. Tapi dia juga sadar bahwa Leon masih anak-anak yang bisa mengekspresikan dirinya ketika marah. Dia akan tetap tenang hingga batas wajar.


"Ayo bayar." Ajaknya.


Setelah keluar dari minimarket, mereka duduk di sofa lobby gedung. Valerei menepuk samping tempatnya duduk agar Leon pindah.


"Leon?"


"Ya mami?"


Mulutnya sudah belepotan es krim, dia sama seperti Valerei penyuka es krim.


"Nanti gosok gigi ya, kali ini mami izinkan makan manis-manis. Besok harus dikontrol lagi! oke?"


Leon mengangguk setelah menelan es krimnya dia menjawab. "Iya mami!"


"Tadi, kenapa Leon menendang rak toko?"


Dia belajar untuk tidak langsung menjudge sikap anaknya. Juga tidak boleh membentak atau langsung memarahi Leon saat banyak orang yang melihat mereka. Walau Leon masih anak-anak, perasaan peka terhadap masalah bisa bertahan lama dari yang kita orang dewasa pikir. Pertama-tama, dia harus bertanya kenapa Leon melakukan itu barulah setelah itu dicari solusinya.


Leon diam menatap mata maminya, tatapan Valerei tenang, tidak membuatnya tertekan. "Leon mau cerita, boleh kok. Mami dengarkan."


"Ak--, aku tidak sengaja mami, Leon harusnya mencarikan mami es krim itu tapi karena mami lebih dulu mendapatnya jadi Leon merasa tidak berguna, Leon kan laki-laki!"


Valerei mengerti lalu mengangguk. "Leon, tidak menemukan apa yang orang mau bukan berarti kita tidak berguna. Juga tidak semua hal yang kita mau selalu didapatkan, itu prinsip ya? Kita cuma berusaha yang terbaik tapi kalau keadaannya tidak mengizinkan maka Leon harus mundur selangkah, atur nafas lalu bersiap melangkah ke depan lagi."


"Kalau semua orang berpikir, tidak bisa membantu sama dengan tidak berguna, maka banyak orang yang tidak berguna dong? Kadang, tidak membantu bukan karena kita tidak berguna atau tidak mampu, hanya saja keadaan tidak selalu berpihak. Mungkin waktunya orang lain yang bekerja."


Leon diajarkan untuk bersikap tenang dan ramah. Namun, apalah daya terkadang hal yang diajarkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan.


"Mami, apa boleh aku tinggal denganmu saja?"


"Tinggal sama mami? lalu Mommy dan Daddy?"


"Swift? Gantian, waktunya aku menjaga mami!"


Valerei terharu, kali ini benar-benar pas. Dia memeluk Leon sayang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2