The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 110 : Lim Inha


__ADS_3

Lim Inha menjelaskan kepada kakaknya ide untuk mengelabuhi kakak iparnya.


“Kau yakin ini akan berhasil?” tanya Lim Sujong.


“Kita tidak tahu sampai benar-benar mencoba, tapi aku tidak bisa menanggung akibat dari kemarahan suamimu jika dia tahu.”


Lim Sujong tertawa. “Tidak akan, dia mencintaiku!”


Inha membuang wajanya ke samping.


Kau tahu tetapi berusaha menyakitinya? Apa yang tertinggal padamu hanya sifat jahat? Manusia setidaknya pasti punya rasa penyesalan, aku ingin melihat bagaimana penyesalan datang padamu ketika duniamu terbalik. Kakak, jangan menyalahkan orang lain untuk keputusan yang kau ambil.


Sujong melakukan panggilan telepon kepada seseorang yang berada di china, mereka akan masuk korea melalui china.


Inha melihatnya dan kembali ke kamarnya.


Dia berjalan menjauh dari kamar Sujong. Rasanya ada hal buruk yang akan terjadi saat dia menjabarkan ide untuk membantu Sujong. Dia mencoba mengabaikan segalanya karena permintaan sang kakak.


Agak jauh sebelum melintasi tangga.


“Inha?”


“Kakak ipar.” Sapa dia sembari menunduk hormat pada suami kakaknya.


“Aku sudah bilang jangan menunduk seperti itu! kita keluarga, bukan hubungan antara bawahan dan bos.” ucapnya menekan kata


keluarga.


Inha hanya tersenyum kecil, dia pamit kembali ke kamarnya tetapi pria itu menghalanginya.


“Ada apa kak?” tanya dia saat tangan besar membentang menghalangi.


“Ini,” dia menaruh kotak besar di atas pangkuan Inha.


Wanita ini bingung. “Ini apa kak? Oh kak Sujong ada di kamar, biar saya antarkan.”


“Bukan! Bukan untuk kakakmu, untukmu.” Imbuhnya.


Inha mengira barang itu milik Sujong, kakaknya.


Dia teringat masa lalu.


Kursi roda telah menjadi temannya sejak lama. Sehari setelah kakaknya menikah, kakak ipar panggilan dia kepada suami Sujong menghadiahkannya kursi roda otomatis.

__ADS_1


Namun, Lim Sujong membuangnya karena merasa adiknya tidak boleh bergantung pada kursi roda otomatis, dia harus terbiasa mengenakan yang manual. Saat suaminya bertanya kemana kursi roda yang dia berikan, Inha hanya bisa tersenyum mengiyakan jawaban kakaknya. Dia mengatakan bahwa Inha tidak terlalu menyukai kursi roda otomatis.


Inha masih ingat bagaimana perasaannya saat itu, dia terluka. Setiap kakak iparnya memberikan dia hadiah, Sujong tidak akan menyukainya.


“Sepatu, kau pernah bilang merasa iri melihat orang-orang memakai sepatu cantik setiap hari.”


Dia ingat.


“Warna kesukaanmu, pink.” Kata dia lagi.


Inha merasa gelisah, dia memberikan kotak itu kembali.


“Aku juga tidak bisa berjalan kak, tidak perlu! Inha hanya asal bicara waktu itu.”


Inha meninggalkan pria itu yang mematung.


.


Dalam kamar, Inha bersedih memandang kakinya. “Aku tidak pantas, itu kata kakakku!”


10 Tahun lalu di sungai Han. Inha menunggu kakaknya yang membeli minuman. Sehabis berlari Lim Sujong merasa haus. Inha yang duduk sendiri mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari seorang pria. Terlihat bahwa dia habis minum dan dalam keadaan mabuk berat, dipagi hari.


Dari belakang orang itu memegang dadanya, dia terkejut dan berteriak. Namun, orang-orang hanya melihat tanpa membantu. Pria itu masih menganggu, dia terus meyentuh inha. Seorang wanita yang duduk di kursi roda berteriak minta tolong dan berusaha menghindar juga menangkis tangan pria nakal itu tetapi kekuatan dirinya tidak akan sebanding.


Wanita itu berusaha berdiri, kakinya yang lumpuh tidak bisa bergerak. Dia merangkak menjauh dari pria itu.


BUG BUG


Semua orang melihat bagaimana pria tadi tersungkur dengan darah mengalir di wajahnya. Lim Inha terduduk menghapus air matanya.


“Bawa dia!” perintahnya kepada pria yang berada di belakang.


Dia mendekati Inha, memperbaiki posisi kursi roda dan mengangkat wanita itu kembali duduk di kursi rodanya.


Inha masih gemetar. “Terima kasih.” Lembut, suaranya terdengar indah di telinga pria yang menolongnya. Dia lantas tersenyum dan mengangguk.


“Dimana rumah anda? Biar saya antar.”


“Saya menun----“


“Inha?”


Dari jauh seorang wanita datang sambil berlari memegang dua botol minuman.

__ADS_1


“Apa yang terjadi!?” katanya khawatir. Melihat keadaan sekitar yang ramai, dia tahu itu bukan hal yang baik.


“Anda?” tanya pria itu menunjuk Lim Sujong.


“Saya kakaknya,” matanya langsung menatap mata pria itu.


*Pria itu mengangguk. "Orang-orang itu mabuk dan mengganggu adikmu. Sekarang tidak apa-apa, saya sudah membawa mereka ke kantor polisi."


"Ya tuhan! inha, maaf kakak ninggalin kamu sendiri tadi." katanya menyesal. Dia memeriksa tubuh adiknya.


"Aku baik-baik saja kak, jangan khawatir. Terima kasih kakak ini sudah membantu"


Inha tersenyum lembut pada pria yang membantunya tadi.


"Oh hampir lupa! Dav" pria itu mengulurkan tangan pada Inha.


Inha menyambut uluran tangan pria bernama Dav itu. Dia menggenggamnya dan menggoyangkan naik turun. "Inha, Lim Inha."


Mereka masih berjabat tangan, beberapa detik tangan mereka terlepas. Sujong menarik tangan Dav bersalaman dengannya.


"Lim Sujong, kakak Inha." senyuman itu lebih lebar dari biasanya. Dia sempat melirik pria berjas hitam di belakang Dav.


Pria itu mengangguk mengerti dan pamit pada keduanya. Dia terlihat sibuk. Orang-orang dibelakangnya berbalik dengan cepat menuju mobil yang terparkir jauh. Mereka masih bisa melihat.


Sebelum benar-benar menghilang, Dav berbalik dan melambai ke arah mereka berdua. Entah untuk siapa lambaian tangan itu dituju. Inha tersenyum sementara Sujong membalas lambaian itu dengan semangat.


"Inha, sepertinya kakak jatuh cinta!"


Kalimat yang keluar dari bibir Sujong merupakan tamparan untuk Inha. Dia hanyalah gadis biasa dengan kondisi khusus. Menyukai seseorang harusnya menjadi sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Mengingat kondisinya hanya akan memberatkan orang lain. Dia benci menjadi beban seperti dia sekarang pada Sujong.


Mengingat bagaimana orang-orang tadi tidak menolongnya, dia mencoba mengerti. Bukan berarti semua orang jahat. Hanya saja, ditempat itu orang baik belum muncul. Apalagi dengan ancaman, dia harus mengerti*.


.


Bulan berikutnya takdir pertemuan keduanya tidak berhenti. Inha dan Dav terus berpapasan ditengah jalan. Mereka berjalan dengan jalur yang berbeda, lalu bertemu di tengah. Inha mendapati dirinya jatuh pada perasaan suka yang dalam. Namun, takdir itu benar-benar tidak bisa ditebak. Kedua inhsan manusia yang bertemu oleh takdir harus berpisah juga oleh takdir. Pada akhirnya Dav harus menikahi dengan wanita lain. Inha terhempas sendiri lagi. Dia tidak menangis, hanya mengangguk setuju pada takdir.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan dirinya. Maka dia bukan pria yang ditakdirkan untuk menopangku. Mungkin, dia adalah sebagian dari takdir kecil agar aku lebih bersabar."


Kalimat itu sering menjumpainya sejak malam dimana semua orang bergembira atas takdir yang membahagiakan*.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2