The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 115


__ADS_3

Mobil hitam memasuki kawasan apartemen, Rey dan keluarganya dalam perjalanan menemui Valerie di apartemennya.


“Leon senang?”


“Senang!!”


“Nanti, dengar kata mami ya? Jangan bandel.”


Pesan Rey melihat anaknya dari balik kaca depan. Meski anaknya termaksud anak yang kalem tetapi namanya anak-anak dia terkadang bersikap selayaknya usianya. Mengingatkan adalah usaha Rey.


“Iya Daddy!”


Seteah menjawab Leon kembali bermain.


Elena melihat jam di tangannya.


“Apa tidak apa-apa menitip Leon pada kak Valerei tanpa berkabar?” tanya Elena kepada suaminya.


Rey menggenggam tangan istrinya, sementara mata dia sibuk melihat ke depan. “Valerie sendiri yang bilang, kita bisa menitipkan Leon kapan saja. Walau dia sibuk, dia senang jika Leon bersamanya.”


Elena juga mendengar Valerie mengatakan hal tersebut, tapi dia merasa tidak enak selalu menyusahkan wanita itu. Mungkin saat ini dia sedang tidur karena terlalu lelah, bisa ditebak karena Valerie tidak menerima panggilan Elena ataupun membalas pesan.


“Bagaimana kalau kita ke mart dulu? Sambil tunggu kabar kak Vi. Kalau dia tidak ada di apartemennya bagaimana?”


Rey melirik sekilas jam yang berada di layar mobilnya. “Sayang, paenerbangan kita sebentar lagi.”


Ya, Rey akan melakukan perjalanan bisnis. Awalnya, Elena menolak untuk ikut tetapi setelah mengetahui bahwa perusahaan yang akan bekerjasama dengan Rey adalah milik mantan tunangannya sejak kecil, Elena akhirnya setuju. Dia tidak ingin lemah seperti dulu.


“Atau, kamu saja yang pergi?” kata dia membuat Rey mengerutkan dahinya.


“No, kamu ikut!” tolak Rey begitu istrinya selesai bicara.


Tidak terasa, mereka sampai di bawah apartemen Valerie, Rey melepaskan sabuk pengamannya lalu membantu Leon untuk turun diikuti Elena setelahnya. Dia mengendong Leon dan menggengam tangan Elena. Sebelum mereka masuk ke lobby, tanpa sengaja Elena melihat sebuah mobil tampak tidak asing baru saja keluar dari arah parkian.


“OH!” Elena berteriak sembari menunjuk mobil yang baru saja keluar.


“Ada apa?” Rey bertanya. Cukup terkejut mendengar teriakan dari sebelanya.


“Hah? Oh, tadi sepertinya mobil Kak Fed,”


Elena tidak mungkin salah


“Frederick?


“Iya, itu mobilnya.” Dia menunjuk mobil yang telah meninggalkan kawasan apartemen.


“Mobil yang mana?” tanya Rey melihat ada dua mobil hitam baru saja melewati mereka

__ADS_1


.


“Itu!” tunjuk dia.


Rey tidak telalu yakin. Istrinya adalah orang terdekat Frederick selain Valerie. Jika dia berada di korea, Elena sudah mendapat kabar terlebih dahulu. Di sini, mobil yang sama persis dengan milik temannya ada beberapa di negeri ini.


“Tidak mungkin sayang, kamu pasti salah lihat. Frederick pasti memberi kabar jika dia berada di Korea,”


Benar, apa aku salah lihat? dia dalam hati. Elena sedikit ragu. Namun, dia membiarkan begitu saja. Mungkin memang dia salah lihat seperti kata suaminya.


“Ayo,” ajak Rey kembali menggandeng tangan Elena yang sempat terlepas karena perkara mobil mirip tadi. Dia berjalan masuk ke lobby apartemen menuju lift. Rey menekan tombol ke atas, setelah beberapa detik lift itu terbuka.


...🖤...


Kim Hye Na dan suaminya sudah meninggalkan apartemen Valerie. Ketika mereka memutar di area air mancur tengah, salah satu pengawal melihat seorang yang dia kenal. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan.


Hye Na masih merasa sedih, dia menghapus air mata dengan tisu yang diberikan oleh pria di sebelahnya. Dia ingin lebih lama disana tetapi kedua insan itu membutuhkan waktu berdua . Mengerti dengan situasi, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke hotel. Nanti, setelah semuanya tenang mereka akan kembali.


Setelah waktu lama yang dia lalui di luar negeri, akhirnya kembali juga meski kepulangannya karena berita yang tidak mengenakkan. Tangannya menggenggam lengan sang suami, bersandar pada bahu kokohnya.


Pria itu menengok sekilas dan mengecup kening wanitanya. Dia tahu ketakutan Hye Na, meski begitu dia yakin suami dari Valerie akan menjaganya dengan baik. Walau mereka ingin tinggal, tidak ada yang bisa dia lakukan. Yang paling dibutuhkan wanita itu adalah rasa aman dari sang suami.


.


Pesan masuk ke ponsel Are. Nomor tidak di kenal berisi informasi bahwa ada tamu yang akan berkujung ke apartemen Valerie. Are melihat pintu apartemen telah tertutup, dia tidak mungkin menganggu bosnya. Setelah dipertimbangkan dia mengirim pesan kepada Darren.


Han mengangguk membenarkan jasnya dan ikut melangkah ke apartemen milik Darren, baru saja berpindah tangan.


...🖤...


Elena merogoh tasnya karena suara dering ponsel itu terdengar. Dia tersenyum kecil menemukan Valerie yang menelepon.


"Oh? Kak Valerie!"


Elena mendapat telepon dari sang kakak.


Segera dia jawab.


"Elena,"


Panggil Valerie dari seberang.


"Kak?"


Elena mendengar suara aneh dari seberang


"Kau sakit? mengapa suaramu menjadi sengau?"

__ADS_1


tanya Elena, mereka baru saja bertemu dan Valerie baik-baik saja.


Valerie tidak menjawab, dia bertanya soal lainnya.


"Leon jadi kesini? aku lihat pesanmu."


"Kak, maaf sebelumnya. Aku merepotkanmu."


"Tidak, aku senang ada Leon. Aku sedang bekerja, nanti ada bibi yang menunggu di depan pintu. Kau bisa memberikan perlengkapan Leon.”


"Oh, aku pikir bisa melihatmu sebelum pergi. Baiklah."


"Memangnya kau pergi jauh? minggu depankan kau juga pulang. Elena, aku akan lanjut kerja."


"Baiklah kak, maaf sekali lagi dan Terima kasih!"


Valerie lebih dulu menutup teleponnya. Suaminya menatap wajah Elena menunggu. Elena menyadari itu dan berbicara pelan menghadap pria itu.


"Ah, kak Valerie kerja, tapi dia sudah meminta seorang bibi menemani Leon sementara dia bekerja."


Rey mengangguk. Perjalanan mereka kali ini akan memakan waktu, harus berpndah-pindah tempat. Membawa Leon mungkin bukan ide yang baik. Dia berjanji kepada Leon akan membawanya ketaman bermain saat mereka pulang.


Lift berhenti, mereka berjalan keluar berbelok kanan, disana ada seorang wanita paruh baya menuggu di depan pintu apartemen Valerie. Rey dan Elena tersenyum padanya, bibi itu membalasnya dengan senyum ramah pula. Dia menyodorkan tangan mengambil tas yang berisi beralatan Leon.


“Valerie meminta saya menjaga adik kecil ini sampai dia selesai dengan urusannya.”


“Terima kasih, semua kebutuhan Leon ada di tas itu” Elena menunjuk tas yang telah berpidah tangan.


Bibi itu mengangguk dan menggandeng tangan Leon masuk ke apartemen, Leon melambai kepada kedua orang tuanya sebelum pintu itu tertutup.


“Anak kita selalu seperti itu?” tanya Rey membuat Elena tidak mengerti.


“Selalu seperti apa?”


“Dia tidak seperti anak kecil,”


Elena tertawa, dia sekarang mengerti apa maksud suaminya.


“Dia mirip denganmu.” Ujar Elena.


Kalau masalah itu dia setuju. Berapa kali dia bilang, semakin dia perhatikan semakin hari Leon makin mirip dengannya. Apalagi saat dia sedang tersenyum. Keduanya melangkah menjauh, sudah waktunya untuk berangkat, mereka mesti berada dibadara sebelum jam keberangkatan yang terrtera di tiket. Rey juga harus menemui sekretarisnya sebelum itu. Sekretaris yang biasanya menemani Rey kemanapun tidak ikut, dia harus mengurus keperluan di kantor jika ada hal yang urgent lainnya. Untuk sementara Elena yang akan menggantikan pekerjaanya sebagi sekretaris sang CEO.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2