The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 86 : Pesan


__ADS_3

Berkecamuk dalam pikirannya banyak pertanyaan yang punya jawaban tapi takut dia utarakan. Kebohongan dan kebohongan. Valerie memegang perutnya dan mengelus pelan disana. Sedetik kemudian dia menangis. Nola disebelahnya melihat tingkah sang majikan, dia pun merasa aneh dengan semuanya. Nola merasa iba mengelus punggung Valerie dan memeluknya.


"Nyonya, apa kita perlu memeriksa dirumah sakit lain?" cemas Nola.


Valerie menggeleng. "Nola, ayo pulang!" katanya.


.


Valerie melihat jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia belum tidur, suaminya juga belum pulang dari kantor. Are menelepon mengatakan jika sang bos membantu persoalan personalia, dia juga tidak mencari tahu persoalan apa, karena bagi Valerie itu bukan rananya bertanya dan tahu. Dia menangkup wajahnya, menenggelamkan diantara lutut. Dia tidak tahu apakah pikirannya terlalu jauh atau ada hal tersembunyi yang disengaja.


Tidak lama, bunyi teleponnya mengalihkan fokus. Tidak tertera nama pemanggil, dia menjadi bimbang untuk menerimanya. Jari yang ragu beberapa kali bolak-balik. Pada akhirnya, rasa penasaran mengalahkan.


"Halo?" Valerie menyapa sang penelepon.


Tidak ada suara selama 10 detik, Valerie hampir memutuskan panggilan, jika sang penelepon tidak berbicara.


"Bagaimana rasanya dibohongi?"


"Siapa ini?"


Dia ragu.


"Tebak?"


"Maaf, saya tidak kenal!"


Terdengar suara tawa dari ujung sana, tawa puas yang telah dinanti-nanti. Valerie memutuskan sambungan itu dan menerima pesan satu menit kemudian. Isi pesannya bukanlah hal yang baik. Dia kembali diteror lewat SMS. Valerie membaca pesan itu.


“Ketika bunga selesai dipetik, pohon menjadi biasa saja, dia harus bersama daun yang tidak tampak indah, kau akan menjadi seperti daun itu! Bersiaplah, roda berputar kearahmu!”


Apa orang yang dulu menerornya adalah orang yang sama atau ada virus gelombang baru dalam rumah tangganya.


...🖤...


Darren seharusnya tidak campur tangan lagi dalam pengelolaan perusahaan karena dia telah menemukan orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan perusahaannya. Urusan pribadi menjadi alasan utama, dia harus dan selalu berada disisi istrinya, lebih aman pikirnya. Apalagi setelah masalah kemarin yang melibatkan keluarga Wang & chat teror itu belum dipecahkan, juga yang lebih penting adalah masalah ibunya dan dokter Han.


Namun, urusan personalia menyangkut orang kepercayaan dalam perusahaan. Jadi dia harus mendengar dari mana asapnya berasal. Dokumen terkait sudah dia periksa, tidak ada yang valid untuk menuduh orangnya. Dia terlibat dengan urusan penyalahgunakan kekuasaan posisi sebagai direktur pemasaran saat perekrutan pegawai. Bagian pemasaran kekurangan orang untuk mempromosikan produk baru di supermarket cabang, mereka mencari seorang perempuan yang bisa di tempat disana.

__ADS_1


Tetapi saat perekrutan ke dua yaitu wawancara, direktur pemasaran sedang tidak ditempat, karena masalah mendadak mengakibatkan dia harus keluar untuk dinas. Jadi, segala urusan perekrutan harusnya menjadi tanggungjawab bagian Perekrutan di SDM. Tidak lupa direktur pemasaran itu juga meminta asistennya untuk menggantikan dia dalam memberi beberapa pertanyaan utama. Ditelaah, semuanya sudah sesuai dengan peraturan yang ada.


Yang menjadi masalah, salah satu pegawai yang diterima waktu itu adalah adik sepupu direktur pemasaran. Diperusahaan Darren, perektrutan calon pegawai yang merupakan bagian dari keluarga pegawai tetap di kantor punya lebih banyak syarat dan dipisah waktunya. Karena hal itu, Mereka menuduh direktur pemasaran memberi jalur khusus. Lalu bagian lainnya adalah, persoalan jurusannya tidak sesuai dengan bagian administrasi.


Padahal direktur pemasaran, Seo jang hyuk tidak tahu menahu bahwa sepupu jauhnya itu mendaftarkan di perusahaan. Dia juga tidak begitu akrab sampai harus dikatakan memberi jalur khusus. Akibat dari masalah itu, rumor tidak terbukanya jalur perekrutan menjadi imbas, perseteruan antara bagian SDM dan departemen lainnya menjadi lebih besar. CEO baru menjabat, karena itu Darren turun tangan.


Saking sibuknya Darren, dia lupa untuk makan malam. Bukti-bukti tambahan sudah di keluarkan, tetapi perseteruan antar mulut tidak bisa di padamkan. Darren menggeprak meja satu kali dan semuanya hening seketika. Dia membiarkan satu-persatu dari mereka bicara agar permasalah selesai dengan saling memahami tetapi saat mereka bicara semuanya keluar dari jalur permasalahan. Bahkan ada yang berbicara mengenai perselingkuhan, itu sudah melampaui batas kata Darren.


"Saya meminta kalian bicara untuk saling memahami bukan saling menjatuhkan! Apalagi membawa-bawa masalah pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembahasan. Karena bukti sudah ada, saya rasa masalah ini selesai!


"CEO yang akan memberi penilaian akhir!" tambahnya, sembari melihat CEO baru yang ditunjuk.


"Saya masih ada urusan." Darren pamit.


Darren keluar dari Hill co, sekitar pukul 12.00 malam, dia sampai 15 menit setelahnya, mengingat jalanan lenggang. Sepanjang jalan tadi dia memikirkan istrinya, bertanya dalam hatinya apa istrinya sudah curiga sampai pergi ke rumah sakit lain untuk pemeriksaan kesehatan. Dia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Di pintu, kepala pelayan sudah menunggu dan menunduk bersama pegawai lainnya, padahal Darren sudah mengingatkan untuk tidak melakukan aktivitas seperti itu ketika dia pulang.


"Valerie sudah tidur?" dia bertanya kepada Ibu Shin.


Para pegawai di belakang Ibu Shin saling berpandangan sekilas, hal itu tidak luput dari pengelihatan Darren.


Tentu itu bukan kesalahannya, dia hanya khawatir. Darren mengangguk, tidak lupa dia meminta mereka kembali ke ruangan masing-masing. Dia berjalan ke atas sendiri. Are dan Han kembali ke ruangan mereka.


Hal pertama yang dia dapati saat melangkah masuk kedalam kamar adalah gelap. Saat, Darren menekan tombol lampu, dia melihat istrinya duduk di sofa melamun. Perlahan Darren mendekati Valerie, dia duduk di depan istrinya. "Kenapa lampu tidak dinyalakan?"


Valerie belum menjawab, pandangan matanya saat ini fokus kedepan. Dalam diam, Darren menggenggam tangannya erat. "Ada apa?" tanya dia lagi, seperti sebelumnya, Valerie belum menjawab.


"Valerie?"


"Aku kerumah sakit," dia masih tidak melihat Darren. Sang suami masih menunggu istrinya melanjutkan kalimat.


"Mereka bilang aku baik-baik saja!" saat dia selesai, matanya melihat mata Darren intes.


"Syukurlah, bukannya pemeriksaan bulan ini sudah? Kamu periksa lagi, kenapa? Kamu sakit? Kenapa tidak bilang sama aku? Kenapa Yu Ra tidak bicara apa-apa ke Are!"


Valerie dibuat terpukau, suaminya bicara banyak sekali dalam satu tarikan nafas. Ingatkan dia bahwa suaminya bisa menjadi saingan dia dalam rap.


"Darren?"

__ADS_1


"Ya?"


"Dulu ada seorang temanku, dia menikah dengan seseorang yang ternyata menjadi penyebab orang tuanya berpisah. Selama bertahun-tahun hingga dia memiliki seorang anak, dia tidak mengetahuinya sampai dia menemukan kebenaran dari seorang tetangga. Semakin dia gali semakin jelas faktanya. Akhirnya, dia mengetahui semua perbuatan suaminya. Tapi,


yang membuatku tidak percaya. Dia ingin menutup masalah itu dan hidup bahagia-ah bukan, lebih tepatnya pura-pura bahagia. Kau tahu apa yang dia katakan padaku?"


Valerie bertanya pada Daren. Tatapan mata itu menunjukkan ketidaksetujuan.


"Kenapa aku harus percaya pada tetanggaku dan bukan suamiku! Dia orang yang selama ini menemaniku dan satu-satunya keluarga yang kumiliki. Dia menutup matanya pada kebenaran dan menlanjutkan hidupnya seperti itu dan dia bilang ini adalah kebahagiaan. Kebahagiaan apa yang dimulai dari kebohongan? Aku bertanya padanya."


Darren terus mendengar cerita sang istri. Valerie menunduk lalu melanjutkan kisah itu.


"Dia terus menatapku dan memagang pundakku dengan kencang. Tatapan matanya masih aku ingat dengan jelas. Walau itu dimulai dengan kebohongan, dia bahagia. Apa yang terjadi kepada orang tuanya adalah ujian yang tidak bisa mereka jalani. Jika saja pernikahan orang tuanya kokoh, hanya karena goncangan kecil dari luar tidak akan merobohkan sebuah bangunan yang dibangun bertahun-tahun lamanya dengan Manteniece yang baik. Orang tuanya memang menginginkan rumah itu hancur sebab itu dia hancur. Jadi bukan 100% karena kesalahan suaminya,"


"Dia juga mengalami hal yang sama, mendapat ujian untuk rumah tangganya dan dia memilih jalur berbeda dari orang tuanya. Dia memutuskan bertahan. Saat itu, aku berpikir apakah perempuan ini benar-benar bisa melupakan fakta bahwa pria yang tidur bersama dengannya setiap malam adalah pelaku yang memisahkan kedua orang tuanya hingga dia dan adik-adiknya terlantar dan harus hidup di jalanan, menikmati kerasnya kehidupan sejak dia kecil dan harus mengalami perbuatan orang-orang dewasa."


"Dia hanya tersenyum saat aku mengajukan pertanyaan lagi. Lalu, dia mengambil tanganku dan mengatakan sesuatu yang membuatku tidak paham kala itu. Valerie, luka itu sakit. Tapi kau harus yakin bahwa hal itu bukanlah akhir hidupmu. Luka bisa sembuh, pergilah ke dokter dan mendapat perawatan. Selesai. Jangan terpuruk dan jangan tertekan. Jika besok lusa kau mendapatkan masalah mengenai kebohongan, pastikan tidak menilainya hanya dari sisi korban. Dua sisi itu berbeda juga bisa sama."


Darren masih diam sementara Valerie bernafas lega setelah menceritakan kisah dari masa lalu yang tidak pernah dia lupakan. Teman masa SMA-nya itu masih hidup bahagia bersama dengan suaminya, hingga sekarang. Lantas, bisakah dia melakukannya? Dia berpikir keras.


Valerie benar, saat itu akan datang meminta pertanggungjawaban. Darren menggenggam erat lengan sofa, matanya masih menatap Valerie dalam. Bersedia atau tidak bukan lagi masalahnya. Kala itu, dia dengan gampang memilih tanpa mempertimbangkan konsekuensi dengan matang dan ternyata itu berat. Sekarang jika tidak berani mengakui itu akan lebih melukai istrinya.


Keduanya dalam pikiran masing-masing.


"Aku selalu berpikir, mengapa Darren tidak bilang sejak awal?" pandangan tersakiti istrinya menusuk dadanya.


"Valerie dengar!" Darren maju menggenggam tangan wanita itu, dia sedang jongkok di hadapan istrinya.


"Aku,"


Aku?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2