The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 139 : Arti kata bersamamu


__ADS_3

...🖤...


Mulai datang lagi pagi setelah 2 hari yang lalu keluarga Lee mengalami serangan kejut secara bersamaan. Deora sudah pingsan ketika mendengar suara monitor samping ranjang anaknya. Badannya lemas, ditarik jatuh ke bawah.


Keajaiban datang kepada Keluarga Lee. Sebelum alat monitor dimatikan, detak jantung Darren kembali. Mereka melihat banyak kemungkinan di dalam rumah sakit. Seperti orang yang habis tertidur malam lalu bangun keesokan harinya, begitulah kondisi Darren. Semuanya baik.


Tetapi bagaimanapun dia harus beristirahat sebelum menemui Keluarganya. Para dokter, perawat selalu mengecek dan memeriksa kondisi pasien yang sudah koma selama 2 bulan lebih beberapa hari.


Diluar luar ruangan Deora dan Lee Jong Seok sudah menunggu giliran bertemu anaknya. Mereka keluar bersama Hyuk ketika Dokter selesai memeriksa, karena pengacara Jeong- pengacara pribadi Darren datang. Entah apa yang mereka bicarakan, Deora agak terganggu dengan kedatangan pengacara.


Dia menjadi khawatir, lalu mendekati suaminya "Apa yang harus kita katakan kepada Darren?" Jelas dari ekspresinya.


Lee Jong Seok menghela nafas. "Katakan apa yang seharusnya, dia mesti tahu bahwa istrinya telah tiada. Aku takut untuk berbohong. Sebagai suami, dia pasti merasakan kehilangan dari dalam dirinya." Kata Lee Jong Seok.


Di sana, Hyuk membenarkan perkataan ayah sahabatnya. Lebih baik mengatakan kebenaran dari pada berbohong dan melukai bagian yang tidak seharusnya ikut terluka, jika terlalu lama di pendam. Sama seperti pernikahan sahabatnya itu.


Rela atau tidak, bukanlah jawaban. Manusia tidak bisa menerka takdir atau bersembunyi. Pria itu berharap anaknya tidak menyesatkan diri dalam kebimbangan yang panjang. Kesedihan datang dari hati, semoga tidak akan bertahan lama. Itu adalah harapan.


"Tapi bagaimana jika Darren tidak bisa menerimanya?"


Lee Jong Seok juga tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan sang istri. Sebagai keluarga, tugasnya adalah melindungi anaknya.


"Dia harus ikhlas. Perasaanku sama dengan perasaanmu, dia anak kita."


Setelah pembicaraan itu Pengacara Jeong keluar dari kamar lalu Hyuk masuk ke dalam. Sebelum pengacara Jeong pergi, dia menemui Lee Jong Seok dan berbicara di depannya pelan sampai Deora tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Ayah Darren mengangguk mengiyakan.


"Terimakasih tuan Lee, saya permisi." Ucapnya.


Lee Jong Seok masuk ke dalam di ikuti Deora.


Dalam kamar, Darren terdiam memandang langit-langit kamarnya. Pemandangan itu menusuk hati Deora sebagai ibu. Sementara Hyuk tenang duduk di sandaran tangan sofa.


Sejak siuman, Darren belum membuka mulutnya kepada orang tuanya dan Hyuk. Darren diam tanpa memandang mereka sampai pengacaranya datang. Pandangannya terus fokus ke satu arah. Dengan sorot mata penuh kepiluan.


"Nak," Panggil ayahnya.


Pria itu tidak merespon, senduh pandangan itu masih bertahan.


"Nak?" Panggil lagi.

__ADS_1


Deora meneteskan air mata yang tergenang cukup lama di pelupuk matanya. Dia tidak bisa menahan kesedihan yang merobek perasaannya. Kebahagiaan yang dia tunggu kini menjadi ladang ranjau. Kemanapun dia pergi, dan dimanapun kakinya berpijak. Dia merasakan hal yang mengerikan.


"Darr--"


"Dimana makam istriku?" Katanya masih memandang ke atas.


Ketiga orang yang mendengar perkataan Darren tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kesedihan di saat yang bersamaan. Mereka menunduk.


Mata pria itu menatap bergantian orang-orang di depannya. Meminta jawaban yang jelas tentang keberadaan sang istri.


"Aku, bertemu Valerie. Dalam mimpiku, dia memelukku dan mengatakan akan selalu bersamaku. "


Mereka terdiam. Darren melanjutkan kalimatnya.


"Aku pikir, kata selalu bersamamu itu dalam artian dia masih bisa kupeluk tapi sepertinya Valerie mengartikan kata bersamamu itu dengan berbeda."


Hyuk menatap tangan Darren yang menggenggam erat seprei di sisi tubuhnya. Dan kembali melihat pria itu.


"Dimana kalian membawa istriku beristirahat?" Tanya lagi Darren kepada orang tuanya.


"Setelah tubuhm--"


Darren berusaha bangun, Hyuk cepat membantunya bersandar. "Jangan memaksa tubuhmu, kau terluka saat mobil itu meledak." Kata Hyuk.


Darren mengerti. "Kau benar, aku terluka. Luka di tubuh yang bisa di sembuhkan dengan operasi, tapi luka di sini," Menunjuk dadanya. "Hanya bisa disembuhkan ketika aku bertemu dengannya."


Darren memperhatikan ekspresi tiga orang yang berada di ruangan. Dia melihat infus yang tergantung di tiang. "Kapan infusnya bisa dilepas?" Tanya dia.


"Setelah habis."


"Ibu, ayah. Tolong beritahu dokter. Aku akan datang lagi mengambil infus setelah melihat istriku." Jelasnya.


Sang ibu terdiam lalu memandang suaminya meminta persetujuan, Lee Jong Seok mengangguk. Ibunya pergi sendiri karena dia khawatir jika suaminya juga Ikut bersamanya, Darren akan kabur sebelum dokter setuju. Dia segera menemui dokter yang bertanggung jawab padahal dia bisa saja menemui Direktur rumah sakit bahkan pemiliknya.


Hyuk mengangkat wajahnya. "Darren, aku belum menyampaikan kondisimu pada teman-teman kita. Menurutmu bagaimana?"


Darren tidak langsung menjawab. Hyuk mengerti, dia butuh waktu. Memberitahu keadaannya pada teman-temannya artinya mereka akan mengetahui soal Valerie.


"Pertama, aku akan menemui Valerie setelah itu baru aku berbicara dengan mereka."

__ADS_1


Dia melihat ayahnya. "Aku meminta pengacara Jeong ke perusahaan. Kabar pernikahanku dan Valerie akan diumumkan dan media mungkin akan mencari tahu siapa Valerie."


"Kau belum bertemu dengan Are?" Tanya Hyuk.


"Are sedang mengawasi seseorang."


"Siapa?"


"Kedua saudaraku berada di Incheon. Apa yang mereka lakukan disini aku ingin tahu. Itu hal yang tidak mungkin terjadi saat aku masih hidup."


Deora datang. "Mengapa saudaramu menjadi seperti itu, kalau bukan karenamu mereka tidak akan tenang selama bertahun-tahun. Kau mencari nafkah dan membayar pendidikan mereka lalu setelah mendapatkan harta warisan ayahmu mereka meninggalkanmu."


Hyuk ikut pusing, belum selesai masalah satu datang lagi gangguan lainnya. Namun, dia menggeleng setelah memikirkan semuanya baik-baik, belum pasti apakah benar ini gangguan atau bantuan.


"Jangan marah bu, mereka punya hak memilih dan aku menghormati keputusan mereka."


"Ibu tahu, dokter bilang besok kau sudah harus kembali ke rumah sakit."


"Terima kasih."


Saat itu seorang perawat datang dan meminta mereka menunggu setengah jam sampai infus habis lalu mereka boleh pulang.


.


Darren duduk sendiri di samping gundukan tanah yang baru saja dibersihkan. Hyuk dan orang tuanya tidak ikut dan hanya menunggu di bawah.


"Valerie, aku datang. Maaf, butuh waktu untukku datang melihatmu."


Air mata pria itu turun tak henti hingga membuat dadanya sakit. Menundukkan kepala, bulir-bulir jatuh ke tanah. Dia memeluknya, menumpahkan kepiluan, kesedihan dan rasa bersalah teramat dalam. Tidak lama hujan turun mengguyur area makam. Tubuhnya di penuhi tanah yang basah. Percikan-percikan air yang mengenainya dia biarkan saja dan larut di dalamnya. Lama Darren dalam keadaan seperti itu.


Dari jauh Deora cemas, dia tidak tahu bagaimana keadaan anaknya karena tidak nampak jika dia berdiri di tempatnya sekarang. Lee Jong seok mengelus punggungnya, mengisyaratkan semua baik-baik saja.


Sementara Hyuk tidak bisa menyembunyikan kesedihan di matanya. Dia menggenggam erat spion mobilnya dan sekali menjatuhkan air mata, di hapus lalu jatuh lagi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2