
🎼 alunan dering ponsel memenuhi kamar Valerie, tertera di layar nama penelepon Lee Seok Hoon. Orang yang ditelepon hanya memandang tanpa berniat menjawab.
Ketika bunyi alarm tidak lagi menjadi backsound, Valerie menutup badannya dengan selimut. Dia merasa bersalah dan frustasi untuk semua orang, menjadi egois ternyata hal yang sulit.
Bening air mengalir dari mata indahnya, bibirnya di tutup rapat, menangis tanpa mengeluarkan suara, sendiri memeluk dirinya setelah keputusan turun dari mulutnya.
Malam ini wanita itu kembali mencoba tidur, walau masih terbangun tengah malam bersedih dan kembali menangis. Dia masih bertahan.
Dibagian lain, Darren memijat keningnya pusing atas perilaku Valerie. Sejak tadi, panggilan yang dia lakukan tidak berhasil. Wanita yang disebut sebagai istri itu tidak berniat mengalah.
"Are!" panggil dia.
Ketua pengawal itu datang, dia berdiri tepat di hadapan Darren.
"Panggil pengacaraku! Minta dia menyiapkan perjanjian pisah dan daftar seluruh asetku." pinta pria dengan setelah jas di tubuhnya.
Are kaget, dia tidak salah mendengar perintah. "Baik tuan,"
"Jangan sampai ayah dan ibuku tahu, mengerti?"
Dia menunduk menjatuhkan kepala ditelapak tangannya.
.
Ruang kerja Darren di kediaman Lee Seok Hoon pukul 21.00 PM.
Pengacara Jeong menyerahkan dokumen yang diminta kliennya.
Beberapa jam lalu, saat Are menelepon dirinya agar datang ke kediaman Lee, dia kaget karena alasan pemanggilannya ke sana.
Penasaran apa yang terjadi hingga keputusan itu dibuat oleh orang yang dulu menentang perceraian. Bahkan untuk mencengah perkara haram, dia membuat perjanjian rahasia dengan Valerie.
Pengacara Jeong Jae Hwan menjelaskan hal-hal yang perlu kliennya ketahui jika dia menlanjutkan keinginannya.
"Jika memaksa bercerai, anda akan kehilangan seluruh aset anda termasuk rumah ini. Apa anda sudah memikirkan semua ini tuan Darren? Juga, jika keputusan sudah dibuat anda dan istri anda tidak bisa kembali tanpa memenuhi persyaratan. Tolong pikirkan kembali tuan. " katanya.
Dalam perjanjian itu jika suatu saat Darren melakukan hal yang bertentangan secara fisik dan non fisik dia akan membayar dengan mahal.
Sebenarnya, perjanjian itu sengaja dibuat untuk menguntungkan Valerie. Pernjajian itu mencegah sikap sewenang-wenang pria pada wanita, agar Darren tidak bisa dengan mudah berucap atau bertindak sembarangan.
Alisnya naik sebelah, pria itu hampir tertawa. "Pengacara Jeong, anda berpikir saya ingin bercerai?"
Darren tertawa kecil pada akhirnya.
"Ya? bukankah itu alasan Are menelepon?" ujar Jeong Jae Hwan.
"Bahkan jika ada seribu alasan, saya tidak akan melakukannya. Saya minta surat itu untuk mencari kesempatan."
"Kesempatan apa?"
"Kesempatan bicara, kesempatan bertemu dan kesempatan membalik keadaan. Tidak sering, tapi ketika dia sudah mengambil keputusan, wanita itu sulit ditahan. Saya selalu kalah."
Asisten pengacara Jeong yang bernama Kim Min ah berbicara lebih dulu mendahului bosnya. "Anda bilang Nyonya Lee orang yang keras kepala, apa itu berartinya walaupun bertemu tidak akan ada kesempatan?"
Darren mengangguk kecil, sementara Pengacara Jeong melotot pada asistennya. Menjadi takut jika kliennya tersinggung dengan ucapan sarkas dia.
__ADS_1
"Maaf tapi apa anda sudah menikah?" Tanya Darren.
Wanita itu menggeleng, sedangkan Darren mengangguk lagi mengerti keadaan wanita itu.
"Istri saya pernah mengatakan hal seperti ini kepada sahabatnya. Seberat apapun, sedingin apapun kondisinya, pasangan punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Hanya saja terkadang, ketakutan yang membuatnya menjadi rapuh. Mencoba, artinya saya punya kesempatan berhasil 50:50. Bahkan jika hanya 01:99 saya masih harus mencoba." jelasnya.
Wanita itu kagum, dia penasaran dengan sosok sang istri dari kliennya.
"Anda sangat beruntung." kata wanita itu.
Darren melihat cincin perak di tangannya, dia tersenyum setuju dengan ucapan asisten pengacaranya.
...đź–¤...
Dibawah, Nola gelisah sejak dirinya mendapati pengacara pribadi Darren, Jeong Jae Hwan sedang berada di kediaman Lee. Bahkan kedua pengawal yang berada disisinya juga ikut khawatir.
“Are, kau pasti tahu apa yang terjadikan?” tanya Nola.
“Tuan Darren akan mengurus semuanya, kau tidak perlu khawatir.” Balas pria itu.
Bagaimana tidak khawatir, dalam hati Nola.
Ketika Nola bersiap memberi pertanyaan, dari lantai dua Darren memanggil.  “Nola!” panggil
Darren.
Sembari turun dari lantai atas dari berbicara. “Temui istriku, bawa dokumen ini bersamamu. Katakan padanya dia harus menjawab sebelum
besok pagi!”
Darren lalu memberikan dokumen itu kepada Han. “Kalau begitu kau saja Han yang pergi, Nola akan kembali ke markas.”
Pengawal wanita itu tersadar dan mengambil dokumen yang hampir di ambil Han.
“Saya yang akan pergi tuan, biar saya yang menemui Nyony-a”
Dia pergi, tangannya gemetar meremas ujung amplop putih.
“Tuan,” Are melihat Darren.
“Pastikan Nola tidak mengacau. Han! Ikut bersama Nola, kabari saya keadaan Valerie.”
Mendapat misi, Han mengangguk dan pergi mengikuti Nola.
“Jika saya boleh tahu apa yang akan Tuan lakukan?”
Are mendengar pembicaran Darren dan pengacaranya.
“Kau juga khawatir? Padahal rencanaku kau juga sudah tahu.” tersenyum dia menepuk pundak ketua pengawal khusus.
Darren kembali ke ruang kerja, sementara Are terdiam di tempatnya.
Dia hanya mengetahui bahwa Darren tidak akan bercerai tetapi hal lain yang direncanakan Darren masih menjadi misteri.
.
__ADS_1
Nola dan Han berdiri di depan pintu apartemen Valerie, mereka belum mendapat keberanian untuk mengetuk apalagi masuk ke dalam. Dia kembali melihat amplop yang berada di tangannya lalu menunduk. Memikirkan bagaimana perasaan wanita di dalam, sedih mendatanginya.
Dia ingin menghindar, kakinya otomatis mundur tetapi Han menghalangi dan memegang tangan Nola.
“Kau tahu akibatnya jika tidak mematuhi perintah tuan Darren, sebaiknya kau ingat!” tegas Han.
Dia mendorong kembali Nola pada posisi semula.
Nola kembali berpikir, Han benar. JIka dia mengabaikan Darren kali ini, hidupnya akan dalam bahaya sama seperti dulu. Urusan dengan Frederick saja belum selesai. Dia masih harus menerima hukuman karena gagal menjalankan misi.
TING DONG TING DONG
Belum ada jawaban selama 15 menit mereka menekan bel rumah. Keduanya saling berpandang, menerka-nerka pikiran masing-masing.
Han kembali menekan bel dan belum ada jawaban dari dalam.
TRING
Pesan masuk pada ponsel Han dari Lee Seok Hoon. Bosnya mengirim password apartemen dan meminta mereka masuk tanpa menunggu. Jika Valerie ingin keduanya menunggu sampai pagi, dia akan melakukannya.
“Pindah!” dia meminta Nola untuk menjauh.
Han menekan tombol sesuai dengan password yang diberikan oleh Darren, setelah dia menekan tombol pagar, bunyi suara pintu terbuka. Keduanya masuk mendapati ruangan apartemen itu gelap.
Han mencari saklar lampu.
“Apa yang kalian lakukan!?”
Suara wanita mengagetkan keduanya. Ruangan gelap tadi kini terang, Valerei dengan santainya duduk di sofa sambil makan es krim.
“Aku tanya, apa yang kalian lakukan disini?” tanya Valerei lagi.
“Nyonya?” Nola berhambur memeluk Valerei.
“Aduh, es krim!” teriak Valerie.
Ketika Nola memeluknya, es krim kesayangannya jatuh ke lantai.
“Han, jauhkan anak ini!” pinta Valerei kepada Han sambil menjauhkan dirinya dari pelukan maut Nola.
Han mengangguk dan menarik bahu Nola agar menjauh tetapi bukannya berhasil, dia terkena pukulan tepat di wajahnya. Han mengeluh dan terjatuh memegang wajahnya.
Mendengar suara rintihan, keduanya menengok ke samping. Nola sudah melepaskan pelukannya.
“Han?” panggil Valerie. “Kau baik-baik saja?” tanya dia lagi.
Han mengangguk. “Hanya sedikit mimisan Nyonya!" ujarnya sambil menahan darah keluar dari hidungnya.
“Nola, kau harus bertanggung jawab!” kata Valerie
.
.
.
__ADS_1