
Anak buah Ho Young tiba di villa milik Darren. Disana, sisa-sisa tembakan disetiap sudut dinding menjadi saksi nyata bahwa istri dari teman bosnya tidak baik-baik saja.
Salah satu senior mereka meminta untuk menemukan Valerei dengan cepat, setiap sudut dari villa ini telah diperiksa tapi mereka tidak dapat menemukan orang yang dicari.
Saat mereka memalingkan wajah menghadap taman, lampu di samping mereka berkedip beberapa kali lalu membentuk panah menuju ke belakang, dengan sigap mereka mengikuti petunjuk itu.
"Hati-hati! kita tidak tahu siapa yang akan ditemui, siaga!" Ketika dia sudah mengatakan siaga, artinya pistol yang berada di tangan mereka siap menembak kapanpun dan siapapun. Perlahan, sangat hati-hati.
Pria di depan meminta yang lain untuk berhenti, dia berjalan ke depan dengan pelan sampai menemukan lampu yang persis sama seperti yang mereka lihat sebelumnya. Warna lampu yang menyala berbeda dari sebelumnya, merah. Dia bergerak seperti sirine.
Tetapi anehnya, putaran lampu itu hanya 90° lalu kembali. dia memperhatikan dengan cermat, menemukan lampu itu berhenti mengarah ke sebuah semak-semak belukar.
Dengan kode tangan, dia meminta yang lain untuk mengikutinya. Sampai di tempat itu, tangannya memeriksa setiap semak-semak hingga ke ujung dan dia menyadari ada satu sisi semak-semak yang terlihat kosong pada bagian dalam.
Tangannya meraih ke dalam dan menarik satu pohon kecil di tengah, semua mundur memberikan ruang, seketika dinding batu bata di belakang mereka terbuka. Di sana, Ale berdiri didampingi Han yang memberi kode agar anak buah Ho Young masuk mengikuti mereka.
"Nyonya Valerei?" Tanya dia begitu dekat.
"Didalam! apa kita bisa pergi sekarang atau menunggu disini?"
Ale dan Han mengkhawatirkan tuannya.
"Sebaiknya tunggu di dalam, tim yang menjaga tuan muda tidak diketahui keberadaannya, begitupun tuan muda. Sebaiknya kita menunggu info selanjutnya dari tim yang lain."
Semuanya berada di dalam Villa, tepatnya tempat tersembunyi itu. Telepon ketua tim bergetar, dia melihat penelepon dan meminta semua orang untuk diam.
"Tukar anak ini dengan Nyonya Lee, aku memberi kalian waktu 4 jam sebelum dia ditenggelamkan." Suara itu disamarkan, dia hampir melempar teleponnya jika tidak cepat berpikir masih dibutuhkan.
"Sepertinya, mereka mengincar Nyonya Valerei." katanya pada Ale.
Keduanya saling pandang, mereka tahu itu dibuat untuk membuat mereka saling tidak percaya satu sama lain.
Mereka tidak bicara setelah Ale bicara, suasana berubah menjadi sunyi. Tidak lama Ketua tim sayap timur menerima telepon dari bos mereka.
Mungkin, telah sampai berita itu kepada Ho Young.
"Tuan." Sapa nya
"Apa yang terjadi!?" Tanya Yun dengan intonasi suara keras.
Kakak Yun?
__ADS_1
"Orang yang membawa Tuan muda meminta sandera di tukar."
"Siapa?"
"Nyonya Lee."
"Ho Young tidak mengizinkan, lindungi Nyonya Lee, urusan Tuan muda serahkan padaku!"
"Baik kak!" Tegas.
Dia bernafas legah, begitupula Are. Dia sempat berpikir, jika mereka ingin menyerah istri bosnya kepasa orang itu dia pasti akan melawan.
Ketua sayap timur mengusulkan berbicara dengan Valerie. Semua orang setuju.
.
Dalam Kamar, Nola yang sejak tadi mondar-mandir sembari mengomel dihadapan Valerei dihadiahi lemparan bantal. Nyonya sedang sensi, batin Nola.
"Nola! pilih salah satu, mau mondar-mandir atau mengomel! kepala saya tambah pusing tahu." Dia menggeleng, dia selalu sensitif terhadap apapun.
"Itu yang paling enak Nyonya, mengomel sambil mondar-mandir." Elaknya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu menyela perbincangan keduanya.
"Masuk!" Suruh Valerei.
Semuanya sudah berkumpul, mereka menunduk sedikit.
"Nyonya, Ada yang ingin kami bicarakan." Kata ketua tim yang tadi menerima telepon
"Silahkan!"
Entah apa yang akan Nyonya katakan soal keputusan yang sudah diambil, pikir Ale. Mengingat pembicaraan mereka dengan Ho Young.
Ketua sayap timur menjelaskan soal telepon dan keinginan Ho Young melalui Yun tadi. Mendengar itu Valerie gelisah. Dia menutup matanya dan terdiam setelah mendengar anak dari teman suaminya, Ho Young menghilang. Tangan wanita ini berkeringat, dia menggenggam erat keduanya.
"Bagaimana mungkin, orang dewasa berdiri di belakang seorang anak? Seharusnya orang dewasa lah yang menjadi tameng, bukan sebaliknya!" lirih.
"Saya hanya mengikuti perintah Tuan Ho Young, urusan Tuan Muda akan kami selesaikan Nyonya, silahkan anda beristirahat dengan baik!"
__ADS_1
Mereka keluar meninggalkan Valerei dan ketiga pengawalnya yang memandang sendu pada lantai keramik. Banyak hal yang ingin dia katakan, tapi kalimat itu menghilang saat berada di ujung lidahnya.
"Perasaan tidak nyaman ini tidak bisa dibawa untuk beristirahat!" Valerei melempar pandangan bergantian ketiga orang didepannya.
"Kecuali Tuan Ho Young, mereka tidak akan menuruti perkataan siapapun." Nola mengangguk setuju pada ucapan Are.
'Perkataan Ho Young' kalimat itu bagai listrik, lampu-lampu di kepala Valerei mulai menunjukkan eksistensinya. Ide-ide gila itu datang saling menyapa. Lama tidak bertemu, katanya. Membasahi tenggorakan yang kering dengan air. Valerei berdiri dan berjalan keluar menemui anak buah Ho Young.
"Pergilah!" PERINTAH Datang dari wanita itu.
Mereka berbalik melihat Valerei, tanpa ekspresi yang jelas.
"Aku bilang kalian boleh pergi!" ucap Valerei lagi.
Ketua sayap timur bagian luar (wakil ketua sayap timur) berjalan ke depan, hanya selangkah. Dia berbicara dengan sopan. "Kami tidak bisa melanggar perintah. Mohon Nyonya kembali istirahat."
"Suami saya sedang diluar, saya tidak tahu bagaimana keadaannya, dengan siapa dia disana. Bukannya mereka lebih membutuhkan bantuan?"
Dia tahu, tidak mungkin baginya untuk berdebat. Namun, keselamatan suaminya lebih penting untuk sekarang. Dia berada di tembok tinggi nan kokoh, lalu bagaimana dengan suaminya? Entah dengan siapa dia berhadapan dan dimana dia bersembunyi jika terjadi serangan.
"Tuan Darren bersama dengan Ketua sayap barat, mereka tim yang dibentuk langsung oleh ketua. Semua anggotanya adalah pilihan terbaik dan merupakan anggota paling lama di kelompok. Anda tidak perlu khawatir." katanya lagi.
"Walau saya bicara banyak, kalian juga tidak akan mendengarkan, apa boleh buat!" Valerei tersenyum tipis.
Dia duduk di sofa dan membuka rekaman di ponsel lalu meletakkan ponsel itu di meja. Rekaman berdurasi 2 menit itu didengarkan.
"Oh, saya baru ingat! rekamannya berguna, TANPA PENOLAKAN!" Valerei menekan kata itu agar mereka mengerti.
Satu lagi wanita yang sulit ditangani, kata mereka dalam hati.
Sementara Are menghela nafas berat. Dia tidak menyangka ucapnya tadi berubah menjadi lampu-lampu ide di kepala Valerie menyala.
"Aku beri kalian waktu untuk berpikir dan menemukan rencana agar kalian bisa menyusul Darren dan tetap membuatku aman di Villa ini."
Setelah itu dia masuk kembali ke kamar. Valerie tidak enak hati mengganggu tugas masing-masing kelompok tapi dia lebih mengkhawatirkan sang suami yang pergi sendiri.
.
.
.
__ADS_1