
"Darren." dia yang dipanggil berbalik. Mata darren terbelalak, dia melihat sekeliling untung tidak ada laki-laki. "NAIK!!" Valerei yang sadar juga kaget lalu berlari naik. Saat dia sudah berada dilantai dua mansion, Darren bersuara dibelakang.
"Berhenti!"
"Apa?" sekilas Valerei berbalik tapi dia kembali melangkah menjauh. "Vaa!" panggilan andalan Darren. tubuhnya otomatis berhenti.
"Hah? katanya disuruh naik, ini baru mau jalan."
"Kemari!" dia memberi isyarat tangan, agar Valerei mendekat. Mereka sudah berada di lantai dua, di mansion darren tidak ada seorangpun bisa naik ke lantai ini kecuali yang diizinkan, jadi Valerei aman.
Valerei berjalan mendekat. "Ada apa?" dia sudah berada didepan Darren. tanpa basa-basi darren menyentil dahinya, yang disentil mengadu "Aduh"
"Tidak sakit!”
"Kaukan pelaku, jelas kau tidak tahu ini sakit atau tidak. Aku korbannya." Darren tertawa pelan, dia sudah tahu istrinya ini punya seribu kata untuk membalasnya. Lucu juga, batinnya.
"Apa tidak ada baju yang lebih tipis dari ini?" Dia menarik pelan ujung baju Istrinya.
"Kelupaan, maaf!” Cengar-cengir tidak jelas.
"Kenapa kamu mencariku." tambahnya. Dia menggenggam tangan istrinya lalu membawanya ke kamar. Darren mendudukkan Valerei di sofa.
Selama perjalanan singkat itu Valerei belum menjawab. Baru setelah dia duduk dia bicara. "Kau tidak kerja? ayo ke taman safari."
"Kebun binatang?" Darren mengernyit.
"Ya, aku ingin melihat panda." matanya melebar terlihat kagum.
Bukankah dia suka beruang? apa sudah beralih. "Baiklah. tapi hanya sebentar, aku akan menemui klien dia Next hotel."
"Bertemu klien? Em, boleh aku ikut?" dia memainkan kukunya sambil melihat Darren.
"Kau ingin?" tanya Darren, mendapati istrinya semangat lalu mengangguk. Darren memegang kepalanya. "Kau mengangguk terlalu bersemangat."
"Ayo. ganti bajumu." dia mengikuti Darren, tersenyum layaknya anak kecil yang mendapat permen dan coklat.
Darren sudah selesai, dia tidak memakai setelan jas. Hanya kaos berwarna putih dan celana pendek selutut.
Padahal Darren juga pakai baju biasa saat dirumah, kenapa sekarang terpesona? tapi Darren sangat tampan, batinnya memuji
__ADS_1
Valerei menikmati memuji suaminya dalam hati. "Ayo" panggilan Darren membuat lamunan indahnya buyar.
"Kau akan memakai itu untuk menemui klien mu?" tanya Valerei
"Tidak, aku bawa setelan jas di mobil." Valerei mengangguk. Dia jadi tidak rela suaminya menemui klien dengan sangat santai menambah ketampanan.
...🖤...
Valerei berlari dengan gembira, dia tidak sabar melihat panda. "Darren. lihat! wahh lucu sekali, ayo pelihara!" suaminya di buat tersedak. Bisa-bisanya istrinya meminta hal seperti itu. "Mereka dilindungi. pelihara kucing saja ya?"
"Aku takut kucing." dia menjauh beberapa centi
"Sayang?" dia memeriksa suhu tubuh Valerei, dia takut istrinya terserang demam karena berbicara aneh. Valerei tersadar beberapa kali Darren memanggilnya seperti itu. "Sayang?"
"Kenapa? kamu juga pernah panggil sayang." Darren mengingatkan jika istrinya lah yang lebih dulu memanggil dengan panggilan sayang.
"Sekali, waktu depan Pak Shin. Nah kamu bilangnya sudah berapa kali?"
"Memangnya kenapa? tidak boleh?"
"Bukan begitu."
"Terus?"
"Ayo makan." ajak Darren
.
Seorang pelayan datang memberi daftar menu. "Silahkan." pelayan itu tersenyum ramah
Darren menunggu istrinya untuk memilih makanan yang dia inginkan tapi beberapa menit istrinya belum memutuskan ingin makan apa. "Mau ku pilihkan?" tanya Darren, Valerei menggeleng sebagai jawaban. Darren meminta pelayan itu untuk melayani pelanggan yang lain, dia akan memanggil jika akan memesan.
Dia tidak menegur istrinya, hanya menunggu sampai dia siap memesan. 5 menit telah berlalu, Valerei mengangkat kepalanya dan memberikan daftar menu itu pada Darren. "Aku sudah kenyang."
"Baiklah." Darren mengangkat tangannya, pelayan tadi datang. Darren memberi tip pada pelayan itu sebelum pergi. "Tuan, anda tidak memesan tapi kenapa memberi saya tip."
"Ini rasa terima kasih saya." pelayan itu masih terpaku bingung, saat dia sadar Darren dan Valerei sudah tidak di sana. dia memberi pelayan pria itu tip karena telah menunggu agak lama tapi istrinya malah tidak memesan. bukankah sudah dikatakan? Darren menghargai semua jasa orang.
Didalam mobil, "Kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Di hotel saja, aku mau pesan ayam goreng dua rasa." dia tidak berselera saat melihat daftar menu di restoran tadi.
Valerei mengecek tasnya, dia mencari ponselnya tapi tidak ketemu. "Makan di resto hotel?"
"Tidak. Pesan diluar nanti bawa ke kamar, Are bisa pesankan ayam goreng dua rasa? di tempat kau biasa memesan."
Are mengangguk. "Tentu Nyonya." dia menekan beberapa nomer telepon yang tertera di brosur kecil miliknya, para pengawal sering memesan ayam goreng dua rasa, setengah pedas dan setengah lagi rasa bawang putih ataupun original. Valerei pernah mencobanya dan rasanya enak. "Sudah Nyonya."
"Terima kasih Are. jangan lupa pesan untuk kalian juga, ini" Valerei memberi kartunya untuk Are pakai saat membayar makanan.
"Pak Shin juga tolong pesan." tambahnya. "Terima kasih Nyonya." kompak keduanya.
Are melihat tuannya tidak bicara lagi, dia diam menatap istrinya. "Tuan ingin memesan apa?" sebenarnya dia ragu ingin bertanya.
"Darren? dia makan ayam bersamaku!" ujar sang istri.
"Kau harus coba, ayamnya enak. Aku pernah coba saat para pengawal berkumpu--" mati, salah bicara! Disinilah kita akan berakting 'pura-pura bodoh'
"Pengawal berkumpul, lalu? kenapa tidak dilanjutkan." dia tidak menampakkan ekspresi apapun. Datar! kayak tripleks.
"Aku, ingin mencari Han dan Nola, eh mereka lagi mengobrol sambil makan ayam. Ditawari kan jadi tidak enak kalau ditolak, aku makan sedikit." dia tertawa kecil, lagi-lagi merasa canggung.
Hampir semua pengawal atau pegawai Darren bukan seorang muslim, tapi tidak ada kesenjangan. Mereka saling menghargai dan menghormati, bahkan jika mereka sedang berkumpul atau merayakan sesuatu, mereka akan memesan beberapa makanan halal agar teman mereka bisa makan. Bukankah itu indah.
menarik-narik lengan baju suaminya. "Darren jangan marah"
"Aku tidak marah, hanya bertanya." ekspresinya tidak berubah. "Kenapa ekspresi mu begitu" menunjuk wajah suaminya. "Eh, maaf" dia memukul tangannya karena tidak sopan, bersamaan dengan itu mobil berhenti di sebuah lobby hotel, mereka turun.
Saat di lift Darren menekan tombol 5, membuat Are dan Valerei saling pandang. "Darren, aku?" dia bertanya, takut Darren melupakannya.
"Ikut bersamaku!" itu perintah
"Kemana?" selalu, Valerei beberapa kali terlihat linglung. "Bertemu klien." mendengar Darren, bicara refleks dia ingin menekan tombol 17 tapi tangannya ditahan. Are hanya tersenyum dalam diam melihat interaksi keduanya. Bukankah sudah kukatakan? Are sering tersenyum.
"Darren, aku akan bicara dulu dengan sahabat kita, setelah itu baru orang lain." dia tidak bisa membayangkan betapa marahnya mereka jika tahu dari orang lain.
"Kau terlalu khawatir, mereka tidak seperti klien yang kau bayangkan." Darren tidak melepas tangan istrinya, dia menggenggamnya semakin erat.
Tring
__ADS_1
Lift terbuka, mereka keluar dari lift. Langkah Valerei semakin berat, semakin dekat dengan pintu besar itu membuat kakinya lemas, seperti jeli. "Aaahkk Darren, malu!" teriakan Valerei menggema di lorong hotel.
...🖤...