The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 24 : Apakah kita baik-baik saja?


__ADS_3

^^^Nomor tak dikenal^^^


^^^- Image31.jpg^^^


^^^- Lubang dalam hatimu akan semakin membesar. Tunggu saja.^^^


Pesan yang mengusiknya.


Valerei meremas tangannya yang keringat, dia mengucap doa-doa kepada sang maha pencipta agar terhindar dari keburukan, iri dan kejahatan orang-orang. Lalu gelap.


Terlelap dengan air mata yang keluar dari sudut matanya. Valerie mendapati dirinya berada di ruang entah beranta. Semuanya terasa berputar.


Seseorang menepuk pundaknya, saat dia berbalik betapa kaget sosok yang dia lihat. "Aaaaaakkk."


Darren mendengar suara teriakan istrinya, dia berlari ke kamar dan mendapati istrinya terduduk, keringat memenuhi wajahnya. Dia mendekati istrinya dan memeluknya. "Kau bermimpi buruk?" tanya Darren membuat Valerei mengangguk sebagai jawaban.


Dia memang bermimpi tapi SMS itu nyata. Kemarin dia menerima banyak foto-foto aneh, karena terlalu memikirkannya jadi terbawa mimpi.


"Jangan tidur lagi, sudah masuk waktunya." perintah Darren. Mengusap keringat Valerei dengan telapak tangannya. Jika Darren flashback, sejak menikah hanya beberapa kali saja dia terlihat mesra dengan istrinya. Dia dan Valerei berpelukan saja bisa dihitung jari, hanya di beberapa momen. Perasaan berdesir yang dia rasakan saat menyentuh wajah istrinya sungguh asing tapi membahagiakan.


...đź–¤...


Pagi datang menjelang, Valerei sibuk mondar-mandir karena suamia TERCINTA membawa banyak pengawal ke apartemen. Dia tidak bisa keluar, PRIA itu memberi perintah.


"Dimana Darren?" tanya pada Are.


Saat di bangun tidur Darren sudah meninggalkan apartemennya. Betapa kagetnya dia, mendapati banyak orang dengan jas hitam ada di dalam, juga Are yang sedang merapikan barang-barang Darren? sungguh luar biasa Darren, katanya dalam hati.


"Sedang pergi Nyonya." jawabnya tersenyum, Are banyak tersenyum sekarang.


"Ya, saya tahu, kalau tidak pergi, dia ada disini dong!" dia masih sibuk dengan kegiatan bolak-balik, kesana-kemari. menghentakkan kakinya ke lantai. Melihat para pengawal dengan wajah sangar, dia jadi rindu kedua adiknya, "Nola sama Han mana?"


"Saya kurang tahu, Nyonya." lagi-lagi tersenyum.


"Are?" Valerei mengerutkan alisnya, "Kamu sedang jatuh cinta ya?"

__ADS_1


Are tersenyum, "Tidak Nyonya." Valerei merasa sebaliknya. Dia dulu jarang tersenyum walaupun tersenyum hanya tipis, benar-benar tipis. Sampai orang tidak tahu dia tersenyum atau tidak.


"Kamu kan tugasnya jagain Darren, kok disini? pengawal ku mana?" tidak mungkin kalau kau bilang tidak tahu, mereka juniormu kan?" Valerei menuntut jawaban. "Hemm??"


"Saya benar-benar tidak tahu Nyonya, Tuan sudah mengatur seperti ini. Saya hanya menjalankan perintah."


Valerei mendengus. "Dasar tukang perintah!" ejekan itu untuk suaminya. "Kamu juga, mau-maunya di perintah!" dia diam setelah bicara, seperti ada yang salah dari ucapannya. bodoh, jelas saja, dia kan pengawal Darren.


"Ehm." Valerei berdehem, tenggorokan nya terasa kering, dia malu akan kebodohan dalam bicara.


.


Seorang pengawal pria dengan setelan lengkap masuk membawa ponsel ditangannya, "Telepon dari tuan Darren." dia memberikan kepada Are tapi Valerei sungguh cekatan, dia mengambilnya dengan mudah. Ada kalanya para pengawal yang cekatan dikalahkan oleh perempuan yang sedang putus asa. "Darren!" jika Darren ada didekatnya dia sudah menggigitnya.


Terdengar helaan nafas dari seberang sana, "Berikan teleponnya pada Are."


"No!"


"Ada yang ingin kubicarakan dengan Are."


"Tidak, ad--"


"Kalau begitu, byee" tut, telepon nya Valerei putus secara sepihak. the power of istri yang marah. Dulu Valerei tidak akan seberani ini pada Darren, tapi sekarang dia cukup berani. Dia mengakuinya.


Are tidak bisa berkata apa-apa, lagi dan lagi. Dia, Are lalu meminta pengawal itu untuk kembali ke tempatnya, sedang dia hanya diam melihat Valerei sibuk dengan ponselnya.


Valerei mengangkat kepalanya, "Apa yang kalian lakukan?" semua pengawal yang berada didalam melihatnya, "Duduk, duduk. minta yang di luar masuk. Kalau kalian lapar, disana ada dapur atau pesan saja biar lebih mudah."


Mereka tidak bergerak. Tentu saja, perintah Darren adalah prioritas. Valerei cemberut, dia sudah tahu itu, tapi masih bicara. "Kalau kalian mendengarkan Darren dengan baik, harusnya kalian juga mendengarku." nada bicaranya sedih. Memerankan istri bos yang tertindas.


Begitu Valerei selesai bicara, mereka saling memandang, lalu bersama-sama duduk, bahkan Are memberitahu mereka yang diluar untuk masuk lewat walkie talkie.


Valerei kembali tersenyum, "Ada yang mau pesan makan? Valerei memberikan beberapa lembar menu makanan." mereka hanya melihat lembar itu tapi tidak enak untuk memesan lalu Are mengawali dia menyebutkan pesanannya. "Jajangmyeon, tangsuyuk?"


"Oke, Jajangmyeon, tangsuyuk! porsi apa? next, siapa lagi?" Valerei bersemangat.

__ADS_1


Are meminta teman-temannya untuk memesan. "Jangan sungkan!" Katanya pada bawahannya. "Porsi biasa saja Nyonya." tambah dia kemudian.


"Oke" valerei mencatat, "Ada yang pesan di restoran yang sama?" tanyanya lagi.


"Saya nyonya" pengawal itu menunjuk menu yang dia inginkan.


"Saya juga nyonya....."


dan mereka semua memesan diberbagai restoran. Valerei menelfon restoran itu dan memesan makanan yang mereka inginkan lalu memberikan kartunya pada Are, jika pesanan sudah datang dia bisa membayarnya dengan kartu miliknya.


Tidak Sampai 1 jam semua makanan sudah datang. Mereka sedang asik makan sambil bersenda gurau. Hal itu menjadi pemandangan pertama saat Darren datang, kaget? pasti. Mereka berdiri memberi hormat. Ada yang sangat kaget sampai terbatuk-batuk karena makanannya tidak masuk ditempat yang benar, kasihan. Valerei memberikan minuman untuknya.


Darren? tidak kalah kaget, apartemen yang dia tinggalkan rapi tadi tidak tampak lagi seperti sebelumnya. Mereka bahkan menggelar tikar untuk makan dilantai, Valerei berdiri lalu menarik Darren duduk. Namun, Darren bergeming pada tempatnya


"Mereka sedang makan. kau membuat kaget." Ujar Valerie melihat wajah ketakutan mereka. Jadi, dia mencubit kecil lengan suaminya. Darren cepat sadar kemudian melihat wajah pengawalnya, "Makanlah."


Otomatis mereka mengangguk lalu kembali makan walau dengan tidak nyaman.


"Jangan disisahkan." Valerei membuka telapak tangan dan mengayun-ayunkan nya di udara meminta mereka makan.


Sang suami, ikut duduk di lantai samping valerei, "Aaa!" Valerei meminta pria itu membuka mulutnya, Darren membuka mulutnya sesuai perintah istrinya.


"Anak pintar!" dia memukul antara belakang dan bokong Darren pelan, sangat pelan.


Pengawal wanita memerah melihat tingkah istri dari bosnya itu, dan lagi Darren tidak marah. beruntung sekali Nyonya. Salah satu dari mereka membatin.


Darren memandang wajah berseri istrinya, dia berharap senyum ini tidak akan pernah berubah seiring waktu. Hatinya mendadak tidak tenang. Alasan sebenarnya mungkin akan terungkap, tidak terikat waktu kapan dan dimana. Dia berusaha mengambil inisiatif tapi selalu berada di jalan buntu. Resiko begitu besar, siap terhadap itu dia bisa mengatakannya adalah 0.


Tangannya tanpa sadar sudah berada di dagu istrinya. Dia megangkatnya memberi fokus mata Valerie melihatnya dengan bingung. “Darren?”


“Kau hanya akan menjadi istriku!”


Semuanya tertegun. Suara berat dan rendah milik Lee Seok Hoon terbang di setiap penjuru pendengaran mereka. Kuat dan tegas.


...đź–¤...

__ADS_1


__ADS_2