
Suasana malam ini begitu sunyi, Darren tidak memungkiri bahwa perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Dia melihat istrinya yang sedang tidur, wajahnya damai. Tangannya menjulur ke depan menyentuh pelipis Valerei.
Mereka tidak kembali dan menginap di sebuah villa beberapa kilo meter jauhnya dari villa milik keluarga Lee. Villa tempat mereka menginap adalah Villa yang menjadi salah satu favorit Darren. Lebih kecil dibandingkan dengan Villa miliknya. Area tempat mereka menginap bernama Cheon Village.
"Aku keluar sebentar." Katanya. Namun, wanita yang tertidur itu tidak dapat mendengar perkataan Darren.
Darren mengambil ponselnya, menelepon satu persatu orang yang dekat dengan Ho Young tapi tidak ada jawaban, bahkan ponsel Ho Young sendiri tidak aktif. Lalu dia memanggil Are.
Selang beberapa lama, Are datang.
"Are, cari cara untuk menghubungi Yun. kita harus tahu dimana keberadaan Ho Young."
"Baik tuan" Jawab dia dari seberang sana.
.
Are pergi dan menghubungi beberapa orang dari Kelompok KOM tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawab atau pembalas pesannya. Dia kembali mencoba dan akhirnya menemukan fakta bahwa Ho Young sedang dalam perjalanan. Dia tidak diberitahu perjalanan seperti apa tetapi dia menyadari bahwa ada yang tidak beres dari informasi yang diberikan kepadanya soal Ho Young. Dia kembali menemui Darren
...🖤...
Datang lagi, Valerei duduk di sebuah kebun penuh buah jeruk, matanya memperhatikan sekeliling, mencari-cari seseorang yang mungkin dia kenal.
"Hai," tangan kecil melambai di depan sana, tepat kabut datang, dia tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas.
Suara khas anak kecil terdengar lucu di telinga Valerei. Dia bertanya apakah wanita itu merindukannya dan baru datang setelah dia menunggu sekian lama. Jelas itu mimpi.
"Tidak, aku terus jatuh dalam dimensi ini, kenapa kau terus muncul?" balas Valerei, berdiri dan berjalan ke arahnya.
"Karena belum dibiarkan bertemu." Kalimat itu tidak nyaman di telinga Valerei. Dia tidak melanjutkan langkahnya, dan berbalik berlari sampai disebuah pintu, Valerei membukanya.
Cahaya yang masuk memecah fokus matanya, lengan menjadi pelindung.
Keringat membanjiri wajah putih milik wanita itu, kepalanya pusing, tangannya terkepal di samping badan yang gemetar. Perlahan-lahan kedua matanya terbuka, menariknya dalam kesadaran.
"Mimpi itu," Helaan nafas berat.
Dia mendengar sumber suara, pintu terbuka dari luar memperlihatkan Darren yang datang dengan semangkuk sup hangat.
"Kau sudah bangun?" Katanya dan meletakkan sup itu di nakas.
Valerie memperhatikan sup yang berada di nakas, lalu dia melihat Darren. Sekejap pandangannya menjadi kabur, dia menangis. Tangisan tanpa suara.
__ADS_1
Darren terkejut, dia ingin bertanya tapi bibirnya tertutup rapat. Bertanya-tanya apakah ada lem yang merekatnya. Sama seperti terakhir kali mereka mengunjungi Hyuk di kantor sahabatnya itu.
"Aku tidak pantas,"
"Apa yang tidak pantas?" Tanya Darren.
"Semuanya," Kepalanya di angkat menatap mata Darren. "Kebencian itu datang dari mana? Dari hati yang terlukakah? Atau hati yang ingin memiliki tetapi tidak tersapu waktu?"
Dia diam, begitupun Darren. Hingga semakin larut hari, Darren membuka mulutnya. "Kenapa?
"Hmm."
"Kenapa?"
"Apanya?"
Matanya tidak fokus dan itu mengundang pertanyaan Darren.
"Apa yang terjadi? kau baik-baik saja?" Dia mendekati istrinya dan duduk di sampingnya.
Wajah yang memerah, keringat itu masih bersarang di sana. "Adakah yang kau sembunyikan dariku?"
"Ap-"
Muntah, tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Valerei merasa pusing dan mual di saat bersamaan.
Dengan gesit, Darren menepuk punggung Valerei. "Muntah saja, nanti selimutnya diganti."
"Kamar mandi!" teriak Valerei.
Dia menyibak selimut yang menutupinya, mendorong Darren menjauh. "Aku ingin ke kamar mandi, minggir!" katanya.
Darren langsung mengangkat dan membawa dia ke kamar mandi.
"Keluarlah."
Kali ini Valerei berkata dengan lembut. Suaminya tidak menggubris, dia sibuk memijat belakang leher wanita itu.
"Darren, bau parfum mu menyengat, aku mual!" Dia di dorong sekuat tenaga tapi apalah daya kekuatan Valerei yang sedang lemas tidak bisa dibandingkan dengan Darren. Pria itu tidak bergerak sama sekali saat Valerei mendorongnya kebelakang.
Melihat Istrinya yang kesulitan, Darren berdiri dan bergerak menjauh, dia keluar dari kamar mandi. Rasa lega pada perutnya mulai terasa, dia tidak mual lagi.
__ADS_1
Diluar Darren mencium bajunya, Apa seaneh itu? batinnya. Namun dia mencoba mengerti, lalu mengambil baju kaos baru dari lemari dan mengganti bajunya. Setelah di pakai dia mencium bajunya lalu mengangguk. "Oke, seperti ini tidak masalah."
Dibuka pintu kamar mandi, Valerei berada di sana di depannya dengan alis terangkat. "Ada apa?"
"Aku sudah ganti baju, tidak bau." Dia maju memegang lengan atas Istrinya, saat dia melihat pergerakan Valerei akan mundur.
"Licin." suaminya memperingatkan dengan suara rendah yang lembut.
Diangkat tubuh istrinya. "Nanti parfumnya kamu yang ganti, supaya tidak mual lagi." kata Darren setelah menurunkan Valerei di atas ranjang dan duduk dilantai memijat kaki istrinya. Dalam keadaan seperti itu, adakah perempuan yang tidak merasa spesial?
"Darren," telunjuknya menoel-noel pundak Darren. "Ayo ke dokter, sepertinya aku sakit!"
Darren tahu, waktu itu pasti akan datang, saat dimana Istrinya dapat merasakan perbedaan pada dirinya. Dia tahu tapi belum siap menghadapi itu, rasa gelisah kali ini tidak dapat dia tutupi, tangannya tidak lagi menari di atas kaki Valerei.
"Sejak beberapa bulan terakhir, kau seperti orang lain, aku tahu ada yang aneh. Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Valerie.
Dia tidak menjawab, Darren tenggelam dalam pikirannya.
Tetapi Valerie tidak bergerak dan menunggu jawaban dari sang suami. Dia memperhatikan setiap inci dari wajah pria itu. Sejak datang ke Korea, dia selalu memperhatikan wajah Darren. Semakin diperhatikan dia semakin tampan. Dia terheran mengapa dulu tidak pernah ada inisiatif untuk pindah dan tinggal dengan pria itu, malah memilih karir dan tinggal berpindah-pindah di negara orang. Pada akhirnya, hubungan dengan Darren selalu sama setiap tahun. Walau beberapa kali bertemu, tetapi tinggal bersama itu berbeda. Dia juga tidak tahu, mengapa memutuskan dengan egois. Bukan hanya dia, tetapi sang suami juga memilih hal yang sama.
"Leon anak yang manis kan?" Ujar Valerie.
Darren mengangguk, dia setuju. Mungkin karena istrinya yang merawat anak itu jadi dia merasa ada bagian dari Valerie yang tinggal bersama Leon.
"Leon mirip dengan ayahnya walau aku tidak ingin mengakuinya!"
"Dia mirip denganmu!"
"Aku?"
"Elena bilang, dia pernah mengidam ingin bertemu denganmu tapi karena masalahmu dan Frederick dia tidak mengatakan apapun. Untuk meredakan ngidamnya itu dia melihat fotomu hampir setiap hari! Ah, aku juga baru tahu dari Elena."
Darren terlihat biasa saja. "Oh, benarkah?"
Valerie tertawa, bisa-bisanya Darren mendengar bualannya tentang kemiripan dengan anak Sahabatnya. Pria di depannya sedikit tercengang, istrinya mudah menangis dan mudah tertawa sekarang. Dia ikut tersenyum.
.
.
.
__ADS_1