The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 76 : Rumah sakit, lagi


__ADS_3

Valerie memijat kakinya setelah bermain dengan Leon. Sejak Leon datang hingga hari itu, dia selalu menemani anaknya. Sementara Leon sudah beristirahat di kamarnya karena lelah.


Saat kakinya melangkah ingin masuk ke kamar mandi pintu kamar terbuka. Darren masuk ke dalam kamar, berjalan lurus ke arahnya. Matanya menatap intens Valerei yang juga melihatnya. Ketika, mereka sudah berhadapan, Darren mengangkatnya, dia digendong ala koala.


Terkejut dengan aksi suaminya, Valerei melotot. "Darren?" panggilnya. Suaminya aneh, tiba-tiba menggendongnya tanpa mengatakan apapun.


Namun, pria itu tidak menjawab.


"Aku kebelet!"


Ketika Valerie berteriak, Darren berhenti dan berjalan kembali ke kamar lalu masuk ke Toilet. Dia di tinggalkan di sana kemudian Darren keluar.


Valerie melotot atas perlakuan suaminya barusan. Dia mempercepat ritual di dalam kamar mandi dan segera keluar dari sana.


Hampir dia tergelincir karena kaget melihat Darren menunggu di depan pintu.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Valerie.


"Apa lagi?"


Tanpa menunggu jawaban, dia kembali mengangkat Valerie dan membawanya keluar kamar lalu turun ke bawah. Bukan hanya orang yang berada di ruang keluarga yang kaget melihat pemandangan itu tapi Valerei juga ikut terkejut mendapati siapa tamunya, alhasil pundak Darren di hadiahi pukulan.


Dia diturunkan sangat hati-hati, malu membuatnya menunduk. Dia tidak tahu seberapa merah pipinya. "Ibu, Ayah!" sapa Valerei.


Masih dengan mode menunduk, Ibu Deora mendekat padanya dan memeluknya. Punggungnya di elus sayang, walau Valerei adalah menantu tapi rasa sayangnya lebih dari itu. Pria yang walaupun berumur masih terlihat tampan itu hanya tersenyum.


"Ayah kira, setelah masalah Wang selesai, kalian akan tinggal dirumah kami?" tanya Ayahnya sembari mengangkat gelas kopi panas yang baru saja di buatkan oleh istrinya, Deora.


Diam-diam Valerei mengembangkan senyum. Dia punya dukungan. "Darren, mengingkari janji Ayah!" adunya.


Melihat sekilas istrinya dan tersenyum tipis. "Salahku Ayah, maaf!"


Deora berbisik ditelinga Valerei, bisikan itu membuat pipi Valerei merona. Haruskah dia lari?


Valerei mengangkat kepalanya dan melihat Ibu mertuanya. "Apa tidak apa-apa?"


"Tentu saja." jempolnya menjadi penguat perkataan.


"Ada apa?" Kedua pria itu merasakan perasaan tidak nyaman. Sepertinya, dia harus berhati-hati.


Darren dan Lee Jong Seok, ayah Darren, memperhatikan gelagat tidak asing. Saat, Valerei berdiri, Darren sudah waspada, memperhatikan setiap gerakan istrinya agar dia tidak masuk jebakan Batman.


Karena menantunya akan memulai, Deora berdiri menarik suaminya ke kamar yang biasa mereka tempati jika berada di mansion anaknya. Tinggallah, mereka berdua.

__ADS_1


"Darren!" panggil Valerei.


"Hah?" ini dia, datang.


Valerei duduk di samping Darren, perlahan-lahan dia mendekat mengikis jarak yang ada. Setelah itu, dia mendorong Darren hingga punggung lebarnya bersandar di sofa. Valerei menyusupkan tangannya ke punggung Darren dan mulai melakukan gerakan aneh.


Siapa yang lincah, dia yang akan menang. Darren berusaha bergerak, menangkap tangan Valerei. Namun, sulit baginya karena tekanan yang diberikan istrinya. Dia mencoba lagi, tetapi Valerei mendorongnya lebih dulu hingga dia terbaring di sofa. Banyaknya gerakan yang timbul untuk menjatuhkan Darren, perutnya terbentur lutut suaminya.


Dia diam mengerutkan dahi, setelah itu matanya menatap Darren.


Cepat dia bangun dan memegang pundak istrinya yang terdiam. "Ada apa!?"


"Tadi perutku terbentur lutut, tapi---"


"Tapi apa?" dia menekan Valerei untuk mengatakan apa yang dia rasakan.


"Aku baik-baik saja kan?"


Darren mengangkatnya, dia berteriak memanggil Are dan Han. Semua orang yang berada di sana panik melihat Darren. Bahkan Ibu dan Ayahnya bergegas keluar dari kamar mengikuti Darren yang berjalan keluar dengan Valerei di pelukannya.


Are berlari membuka pintu mobil untuk bosnya. sementara Han sudah berada di balik kemudi menunggu. Sangat cepat, mobil itu sudah tidak terlihat.


Nola yang membantu Deora berlari tertinggal dibelakangnya, mereka naik mobil lainnya menyusul kerumah sakit.


"Sepertinya Nyonya terluka, melihat bagaimana tuan sangat khawatir, mungkin sebab itu." katanya lalu kembali fokus pada jalan di depan.


"Terluka?" Pasangan suami istri itu saling berpandangan. Dari tatapannya terdapat cerita menarik.


"Semoga mereka baik-baik saja!" Doa Deora.


.


Rumah sakit


Han Yu Ra tidak ada di rumah sakit saat mereka tiba karena perjalanan dinasnya. Darren marah, dokter pribadinya tidak memberitahu bahwa dia akan pergi minggu ini, padahal jelas Darren meminta dia melapor jika akan bepergian.


"Bawa kemari Istri Dokter Han, Sekarang!" kilatan marah itu tidak padam.


Istri Dokter Han yang dimaksud adalah Ibu Han Yu Ra, Jung Jong Ae. Dokter kandungan yang bekerja di rumah sakit Health center. Walau berbeda rumah sakit tapi mereka berada dalan perusahaan utama yang sama.


3 menit berlalu


"Kita periksa dulu!" Dia berjalan melewati pengawal Darren. Memberi kode agar orang-orang selain Darren keluar dari ruangan.

__ADS_1


Valerei sadar, dia memegang tangan Darren. Sebelum alat Ultrasonografi menyentuh perutnya dia memegang tangan Dokter paruh baya itu.


"Kenapa aku diperiksa dengan alat itu?” wajar jika bertanya.


"USG perut, kita perlu melihat apa ada bagian disana yang bermasalah!" Dia tenang, tidak ada keganjalan.


Darren mendekat, menghapus keringat di dahi Valerei. "Biar Dokter memeriksa dulu." Dia mengambil tangan istrinya dan menggenggam erat. Valerei tidak curiga, dia mengangguk dan menutup matanya.


Dokter Jung Jong Ae memeriksa dengan teliti, dia menunjuk dengan suara yang terpendam agar hanya Darren yang mengerti. Saat alat itu bergerak di perutnya sensasi dingin dan geli menyerangnya tapi Valerei menahan. Terakhir, Dokter Jung mengangguk. "Semuanya baik-baik saja!"


Saat mendengar itu, Valerei lega sembari menghela nafas, dia membuka matanya. Dokter menurunkan bajunya. "Aku akan memeriksa riwayat vitamin yang diberikan Dokter Han." tersenyum kepada Valerei dibalas hal yang sama. Dia pamit, dan meminta perawat membawa alat USG keluar.


"Darren?" panggil Valerei, suaranya parau.


"Ya?" Dia menutup ponselnya, baru saja membalas pesan dari ayahnya jika mereka berada di bawah.


"Apa benar baik-baik saja?" Dia masih merasa ada yang aneh.


"Tentu, dokter sudah periksa dan tidak ada yang bermasalah!"


Darren duduk di kursi mengelus lengan istrinya. Dia senang sikapnya menjadi manis saat bersama Valerei. Jika bersama wanita lain, dia tidak bisa membayangkan.


"Aku boleh minta minum?"


Dia tidak menjawab dan langsung melakukan apa yang diinginkan istrinya. "Hangat, pelan-pelan."


...🖤...


Sebelumnya


Deora berbisik ditelinga Valerei. "Kau tahu kelemahannya?"


Valerei menggeleng.


"Sentuh punggungnya, buat pola apa saja. Darren tidak akan tahan! cobalah." Tentu dia tahu semua hal tentang anaknya. Walau tidak lahir dari rahimnya, Darren telah bersamanya selama bertahun-tahun.


Valerei senang, dia mendapatkan satu lagi hal yang paling dia sukai.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2