The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 103 : Flashback, pertemuan Fed & Valerie


__ADS_3

...Flashback...


Frederick sedang melakukan pengecekan rutin di perusahaan design miliknya. Belum cukup 1 tahun berjalan, dia sudah memiliki 30 designer muda berbakat. Anak-anak berumur 18 tahun hingga 20 an dari panti asuhan juga beberapa yang dia temui di jalan diperkerjakan di sana. Mengingat dirinya sewaktu muda, dia ingin memberikan kesempatan bekerja ditempat baik.


"Bagaimana? sudah terbiasa?" tanya Frederick saat kelas usai.


Bukan hanya memperkerjakan, dia juga mendatangkan guru dari sebuah lembaga pendidikan agar mereka berkembang dari banyak sisi. Bagi perusahaan, hal itu merupakan upaya investasi masa depan.


"Saya biasanya hanya menggambar tanpa tahu satu gambar yang menarik bisa terlihat hidup."


"Bersyukur karena kau diberikan bakat, kembangkan lagi!" Frederick memberikan semangat.


"Terima kasih."


🎼 Alunan musik klasik terdengar.


Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan tersenyum melihat nama pemanggil.


Frederick menyingkir agak jauh dari kerumunan orang, masuk ke dalam ruang rapat yang sedang kosong.


Video call


"Hai" Sapa Frederick melihat wajah yang sudah beberapa minggu tidak dia lihat


"Fed, bisa aku minta waktumu sebentar?" Pelan, dia mengucapkan kalimatnya


"Yah, ada apa?”


"Berjanjilah tidak akan marah,"


"Ada apa?"


"Aku, aku, itu... "


"Hei, ada apa? aku tidak marah, katakan saja,"


"Aku menyembunyikan sesuatu darimu, aku tahu kau akan marah tapi Fed, bisakah kau mendengar sampai selesai tanpa menyela?"


“Aku sudah berjanji, seperti janji Hyuk padamu."


Janji Hyuk pada Valerie, 'Apapun yang terjadi, siapapun lawannya dia akan berada di pihak Valerie.'


"Aku hamil!"


Duarr


Petir menyambar disiang bolong, Frederick mengedipkan matanya berulang-ulang. Mengorek kupingnya, sekiranya ada yang menyumbat dia berniat melepaskannya.


“Kau apa?”


"Aku sudah menikah dan sekarang aku sedang hamil!"


Meski pelan, Frederick bisa mendengarkan dengan jelas


Pria itu terdiam, tangannya mengepal, wajah memerah, dia marah. Matanya tertutup bersamaan dengan itu dia menunduk


"Dengan siapa!?"


Valerie ikut menutup matanya, dia merasa bersalah

__ADS_1


"Dia, temanmu Darren."


"Kapan? KAPAN!?"


Valerie terdiam, dia juga sudah tahu bahwa Frederick tidak mungkin menjawabnya dengan gembira jika tahu siapa yang dia nikahi.


Masih tetap diam hingga beberapa saat, Frederick memukul meja, cukup keras hingga Valerie terperanjat.


"Kau!"


"Kau! bagaimana,"


Dia menggerakkan giginya lalu berdiri. Dari balik layar dia bisa menyaksikan amarah tertahan.


Perlahan seperti film trailer, mata yang memerah itu menatap mata Valerie lewat layar.


"6 tahun lalu, jauh sebelum aku dan Elena ke Je-"


PRANG


Entah barang apa yang dilempar, bahkan ponsel yang dia pakai video call ikut terjatuh setelah bunyi barang dilempar tadi.


"Frederick! kau baik-baik saja!?" panggil Valerie


"KALAU KAU KHAWATIR, HARUSNYA KAU TIDAK MELAKUKAN ITU PADAKU! BAGAIMANA BISA HAL SEPENTING ITU KAU SEMBUNYIKAN DARIKU!? APA? DENGAN SIAPA? DARREN!? ****, KAU BERCANDA!"


Mendengar pertama kali Frederick mengumpat di depannya. Walau melalui video call rasanya aneh. Namun, dia harus mengerti bagaimana menyakitkan kabar yang dia beritakan.


Sahabatku tidak memberitahu informasi penting, apakah dia tidak percaya atau kita tidak begitu dekat hingga tidak pantas mendengarnya lebih cepat. Semua orang mungkin akan berpikir seperti itu jika berada pada posisi Frederick.


"Aku," Valerie menangis, bukan rintik tapi mengalir deras seperti air terjun.


Sementara pria itu masih diam tidak menanggapi Valerie. Walau begitu Valerie wanita yang beruntung, jika Frederick adalah laki-laki diluar sana dia sudah mematikan ponselnya. Tapi dia masih memegangnya dengan wajah marah, terus menatap Valerie dalam diam, Frederick menghela nafas. Tiba-tiba perkataan Valerie sebelum dia mulai bicara terputar di kepalanya.


'Berjanjilah tidak marah, seperti janji Hyuk'


Frederick menghempaskan kepalanya kebelakang, dia menarik rambutnya kesal....


"Kau! Kau benar-benar buruk! Bagaimana bisa kau minta aku tidak marah dan mengerti? wajar saja jika aku marah, kau menyembunyikan berita ini dariku. Kau ingin membuatku terlihat jahat? Karena aku sudah berjanji, tapi masih marah?


"Maaf, aku salah"


"Simpan maafmu, kau sudah menangis sambil minta maaf hampir 5 jam. Kau membuatku seperti pria jahat!"


Wajah dan perkataannya masih sinis tetapi itu lebih baik karena dia sudah ingin berbicara.


"Jujur saja! rasanya aku ingin terbang kesana menemui Darren dan memukulnya. Kau tahu!"


Valerie menunduk.


Frederick masih marah, dia hanya menahannya karena janji.


"Aku tahu salah!"


"Bagus! kalau tahu salah."


"Fed,"


"Cih, begini saja kau memanggil dengan lembut! mau apa!?"

__ADS_1


Walaupun dalam keadaan marah, Fed masih menjawab semua perkataan Valerie.


"Bisakah kau berjanji padaku?"


"Kau ini suka sekali membuat janji, aku sampai tidak bisa mengekspresikan diriku karena semua janji itu! Tidak, yang kemarin terakhir!"


"Terakhir, seperti kita tidak akan bertemu saja!"


Valerie memajukan bibirnya, cemberut.


"Valerie!"


Mendapat teguran dari Fed karena tingkahnya. Jika Valerie ada di sampingnya saat ini, sudah pasti dia akan mendapatkan jitakan PELAN di kepalanya.


"Aku tahu,"


"Cukup, aku tidak ingin berjanji apapun lagi."


Mendengar nada tegas dari Frederick, Wajah wanita itu menunduk, dia sedih. Frederick menolak tanpa mendengar perkataannya. Meski tahu egois, dia tetap berharap temannya mendengar dan mengambulkan keinginannya.


Lama itu berlalu, keduanya masih dalam mode diam. Sampai Frederick kesal sendiri. Dia hampir mengumpat jika tidak ingat yang di depannya adalah Valerie. Bagaimana tidak, dia sudah dibohongi, baru di beritahu setelah 6 tahun. Yang dia nikahi adalah orang yang punya trak record buruk dengannya. Apa mungkin dia tidak marah?


Bukanya seharusnya aku yang marah? dalam hati dia berbicara.


"Aku tidak mengerti!"


Frederick berbicara mengundang perhatian Valerie. Dia mengangkat kepalanya.


"Aku tidak mengerti! Kenapa aku merasa bersalah padahal kamu yang berbuat salah!"


"Hem?"


Valerie bingung.


"Dengar Valerie, aku marah, kecewa itu kebenaran. Tapi, aku tidak suka lihat wajahmu tertunduk seperti itu. Aku tahu, kau salah. Tapi, aku tidak suka kau minta maaf terus menerus. Aku tidak ingin berjanji, tapi aku merasa akan menyesal jika tidak melakukannya. Kau ingin aku bagaimana? membiarkan semuanya berlalu? padahal aku belum menyalurkan amarahku?"


"Kau akan memukulku juga?" Tanya Valerie entah mengapa. Padahal dia tahu itu tidak mungkin.


"Hei! kau masih bertanya padahal raut wajahmu saja yang berubah lain aku yang sedih!? Heran saja, dengan sifatku yang begini kenapa kita tidak menikah dan malah menjadi sahabat?"


"Kau akan mendapat amukan, jangan bicara begitu."


"Memangnya dia tidak tahu hubunga kita?"


Frederick menekan pada kata "dia"


“Tapi, jangan terlalu keras ya? Nanti dia sakit!"


"Kau masih khawatir. Cih. Tidak keras! aku hanya akan membuatnya masuk rumah sakit."


"Aku tidak pernah ingin berbohong, tetapi waktu itu, keadaannya---"


"Tidak usah dilanjut. Karena sudah berlalu aku juga tidak perlu tahu. Kamu sendiri yang bilang, masa lalu biarlah berlalu. Yang kulihat hanyalah masa kini dan masa depan."


"Tapi, sekali lagi kau berbohong padaku aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah! INGAT ITU! AKU BENAR-BENAR TIDAK AKAN MENGINGAT JANJIKU LAGI! INI TERAKHIR KALI!"


Frederick masih berteriak marah pada Valerie. Meski dia ingin menjelaskan tetapi Frederick menghentikannya dengan kalimat panjang.


Valerie terus meminta maaf dan berbicara dengannya lagi.

__ADS_1


...🖤...


__ADS_2