The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 87 : Kebenaran


__ADS_3

"Aku, "


"Tidak apa-apa, aku bisa pergi! Kau bisa bahagia dengan wanita itu!"


Ekspresi Valerie tiba-tiba berubah.


Darren diam. Apalagi yang di lakukan istrinya ini, kata dia dalam hati. "Hah? Kenapa?" bertanya agar Valerie mengulang setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Kau selingkuh kan?" tuduh Valerie


Darren tidak mengerti, dia diam lagi memikirkan perkataan istirnya barusan. Dia mendengar kisah yang mengharuskan tadi dan sekarang istrinya menuduh dia berselingkuh?


"Selingkuh apa? Aku cuma punya kamu!" Ungkapnya. Valerie terharu hanya sedetik, setelahnya dia kembali memicingkan matanya, manatap tidak percaya.


"Bukannya kamu aneh belakangan ini karena mau ninggalin aku? Kamu kasihankan? Sebenarnya juga tidak perlu, aku bisa hidup sendiri!" Pura-pura kasihan. Valerie tidak sungguh-sungguh.


"Kamu ini!" Darren geram, istrinya bicara hidup sendiri dengan santai tanpa memikirkannya. Dia bagaimana kalau Valerie pergi, pikirnya.


"Berapa kali aku bilang, aku tidak punya wanita lain setelah menikah, kamu satu-satunya. Cukup untukku!"


"Terus kenapa? --" saat dia ingin melengkapi kalimat, bunyi ponselnya mengalihkan sehingga dia emosi.


"Apasih!" lalu ponsel itu sudah melayang kebelakang.


Darren terkejut, dia mengambil ponsel terbang tadi lalu diperiksa, apakah rusak ternyata tidak, hanya layarnya saja yang pecah di bagian ujung.


"Dasar gila!" omelan Valerie pada ponselnya yang dikembalikan Darren setelah mendarat di lantai sehabis terjun payung.


Darren mendengar itu membekap mulut istirnya, tidak baik didengar. "Bicara baik-baik!"


"Itu, nelepon terus. Aku malas!"


"Siapa?"


"Tidak tahu! Dia terus bilang yang aneh-aneh. Katanya, bagaimana rasanya dibohongilah, inilah, itulah dan bla bla bla!"


Darrren mengambil ponsel itu dan membawanya ke bawa, dia bertemu dengan Are.


"Periksa nomor terakhir, temukan kesamaan dengan orang yang dulu meneror Valerie."


Lalu dia kembali naik ke kamar. Valerie masih duduk di sofa.


"Aku pakai apa?"


"Nanti beli!"


"Beli terus, nanti isi rumah hp semua!"


"Ponsel kamu yang dulu mana?"


"Kamu ambil, waktu itu belum dikembalikan!"


"Oh, nanti beli saja kalau begitu!"


"Sudahlah, aku malas juga pakai ponsel. Nanti di teror lagi!"


Valerie jalan ke tempat tidurnya, meninggalkan suaminya, dia berbaring.

__ADS_1


"Kamu tidak tidur?" tanya Valerei melihat suaminya masih di sofa.


"Mau mandi dulu!"


"Apa mandi, ini sudah jam 2. Besok saja!" mode istrinya on lagi. Kalau Darren tidak menurut, dia akan mendengar omelan Valerie sampai besok pagi.


"Ya sudah!"


Darren masuk ke dalam wall on closed mengganti baju dan tidur disamping istirnya. Malam pergi dengan cepat.


...🖤...


Pagi cerah, kata Nola.


Nola menemani Valerie di halaman depan mansion menyiram tanaman. Dia ingin bertanya tetapi melihat wajah Valerie tidak mendukung akhirnya dia urungkan niat itu. Saat dia kembali menyiram bunga dengan semprotan, Darren keluar bersama pengawalnya. Mereka berada di samping mobil sedang bersiap. Nola memperhatikan Valerie yang tidak tertarik pada aktivitas suaminya, memiringkan kepalanya. Majikannya sejak tadi, melamun tanpa perduli sekitar.


"Nola!" panggil Darren.


Nola berlari kecil, memberi hormat. "Ya Tuan?"


"Istri saya mau keluar?" walau sedang bicara dengan Nola, mata Darren melihat istirnya.


"Saya kurang tahu Tuan. Sejak tadi, Nyonya belum bicara apapun."


Semua orang memperhatikan Valerie. Darren beranjak menemui istirnya. Dia memeluk Valerie dari belakang yang mengundang keterkejutan sang istri. Tangannya yang sedang memegang selang air hampir mengenainya jika Darren tidak cepat memegang tangan itu.


"Tanamannya bisa mati kalau disiram terus!"


Dia memperhatikan, istrinya hanya menyiram pada satu tempat saja.


"Hem, kamu mau keluar?"


"Tidak tahu, aku malas!"


"Nanti, mau temani aku?"


"Kemana?"


"Pasar, "


"Pasar? Untuk?"


"Menemui seseorang, ikut ya?"


"Ya." entahlah, dalam hati dia tidak begitu antusias.


"Oke! Aku ke kantor." Darren mengecup pelipis istrinya dan berbalik ke arah mobil. Nola berlari, kembali menemani Istri bosnya.


"Nyonya, mau kencan dengan Tuan ya? Ih so sweet sekali" kata Nola menyenggol lengan Valerie. Namun Valerie hanya tersenyum tipis lalu dia kembali menyiram tanaman


...🖤...


Mobil mercedes-benz hitam itu melaju membelah jalan menuju sebuah hotel dikawasan Seoul. Dia sedang mencari seseorang, menemui kenalannya di hotel mungkin berguna.


Hotel nuansa hitam ini menjadi tempat tujuan Darren, mereka sudah sampai di lobby. Darren turun ditemani Are dan Han, belum dia bergerak ke dalam, seseorang dengan jeket kulit coklat memberinya amplop dan pergi begitu saja. Darren tetap berjalan masuk ke dalam dan duduk di sofa sementara Are dan Han pergi entah kemana.


Dia membuka amplop dan menemukan foto-foto wanita paru baya, mulai dari dia turun dari pesawat hingga bersantai di spa hotel bintang 5. Are kembali dan berdiri di samping Darren melihat sekeliling.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya besar ada di atas!"


"Beritahu Han, bawa dia dengan baik. Jangan sampai melukainya!" Darren berjalan naik ke atas. Are mengangguk dan berbicara dengan Han melalui alat komunikasi jarak jauh.


Tempat Spa


Han memberi isyarat kepada pengawal untuk masuk. Saat banyak pegawal wanita masuk, suasana di dalam ruangan menjadi gaduh. Han terpaksa harus masuk. Disana, Ibu Darren dan pria disampingnya sedang menikmati. Han meminta kedua pegawai hotel itu untuk keluar.


Lalu dia melihat Ibu dari bosnya. "Nyonya besar, saya antar!" kata Han tegas. Wanita itu mengerti kalau Darren sudah menemukannya.


"Lama sekali!" ujarnya. Dia duduk di hadapan Darren.


"Aku pikir seseorang sepertimu akan menemukanku dengan cepat, ternyata butuh waktu juga!?" sarkasnya pada putra sulungnya.


"Kenapa? Kenapa kau melakukannya?"


Mata Darren tidak bisa bohong, dia marah tapi harus menahannya bagaimanapun wanita ini adalah Ibunya.


"Sudah kubilang, bawa Valerie kesini, aku akan mengatakan yang sebenarnya."


"Kau tidak lihat bagaimana akhir rumah tanggaku?"


"Aku menyelamatkan rumah tanggamu, seharusnya kau berterima kasih. Berikan gedungmu di Jeju!" dia membuka bungkus rokok.


"Punya pemantik?" tanya Rania pada Are dan Han.


Darren mengepalkan tangannya. "Istriku sedang sakit!"


Rokok itu masih dibibirnya. Dia tidak menghiraukan perkataan Darren. Rania sibuk dengan aktivitasnya. "Kalau tidak ada pemantik ya sudah!" acuhnya.


Dia berdiri, melihat Darren. "Kalau aku tidak melakukannya, rumah tangga berhargamu itu akan hancur karena orang lain! Kau harus bersyukur! Kau pikir orang yang ingin menghancurkanmu hanya satu atau dua orang?"


Saat dia akan keluar pengawal menghalanginya tapi Darren mengangguk membiarkan dia pergi. Di pintu Rania berbalik. "Dia membawa satu nyawa lagi, tentu saja bukan hal yang mudah."


...🖤...


Valerie berdiri diatas balkon melihat ke bawah, angin kencang sedang berkeliaran di sana. Nola yang baru datang membawa buah di mangkuk, melihat majikannya sedang melamun lagi. Dia sudah menghela nafas untuk kesekian kalinya.


"Nyonya," panggil Nola.


Valerie berbalik menghampiri Nola dan duduk di kursi. "Nola, Ibu Shin masak apa di bawah?" setelah melamun dia menjadi lapar.


"Sup, ayam bumbu, spageti, salad dan steak." Nola menghitung jarinya mengingat apa dia tidak melupakan hidangan di atas meja.


"Oh, satu lagi, abalon!" lengkap, dia bangga bisa mengingat semuanya.


"Sebanyak itu? Kita ada acara?"


"Tidak, tapi Nyonya tidak request karena itu Ibu Shin buat banyak hidangan. Tuan pesan, katanya buat apapun yang bergizi untuk istrinya!"


Nola memberikan mangkuk yang dia pegang sejak tadi. Valerie mengambilnya dan memakan buah itu, dia jadi rindu suaminya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2