
Valerei tertidur pulas di rumah bergaya tradisional, berbanding terbaik dengan pengawal disampingnya, mereka tidak tahu bagaimana menjelaskan situasi ini, dan bagaimana bosnya akan bereaksi.
Istrinya telah diculik oleh seorang Pria tampan, batin Nola. Oke ini terlalu berlebihan.
"Apa yang akan Tuan Darren katakan?"
"Kau bertanya padaku? situasi kita sama, perempuan!" Han menjadi sensi seperti Valerei. Nola hanya bertanya dan dihadiahi pedas nya kata-kata.
"Dasar!"
.
Sebelumnya di Villa. Cheon Village.
Setelah kepergian Are dan orang-orang Ho Young, Valerei menikmati kesunyian di dalam ruangannya sendiri, bahkan Nola tidak bisa masuk.
"Tolong jaga suamiku!" Doa dia panjatkan.
"Kau tahu doa juga tidak akan terkabul tanpa usaha?"
Suara asing memenuhi ruangan Valerei. Merasa ada yang aneh dia bergerak perlahan menuju pintu dan membukanya, tapi setelahnya itu dia menutup mulutnya, rasa mual karena bau pekat amis tercium menusuk rongga penciumannya. Di sana, dua orang sudah tidak sadarkan diri, tangannya gemetar. "Nola!" dan gelap.
.
Valerei dibawa ke dalam kapal feri entah kemana tujuan Pria itu. "Kelemahan Darren adalah wanita itu?"
"Ya!"
"Kau yakin?"
Anggukan mantap yang dia dapatkan.
"Setelah masalah itu, Darren tidak pernah lagi bersinggungan dengan wanita manapun, dan sekarang kau bilang wanita itu adalah kelemahannya? Itu tidak terlalu menyakinkan!"
Dia merasa curiga akan dikelabui oleh orang ini.
"Kalau tidak percaya kirim saja dua orang itu ke hadapannya. Aku yakin, kau tidak akan kecewa!"
"Itu tergantung bagaimana reaksi Darren!"
Orang itu tahu reaksi seperti apa yang akan keluar dari teman lamanya.
"Kita semua adalah teman lama, sangat manis memberinya kejutan seperti ini bukan?"
"Bergurau! kau pikir dia akan tersenyum saat melihat TEMAN LAMA dan kata TEMAN LAMA itu tidak tepat. Memangnya Darren mengenalmu" Sindirnya.
"Boleh aku tahu, kenapa kau ingin ikut campur?" Tambah dia lagi.
"Hanya bermain-main, aku tidak pernah memihak siapapun, hanya saja kakakku dan temannya sangat mengasikkan jika di ajak bermain."
"Pantas saja kau tidak diakui, kelakuan mu seperti ini!" Katanya tanpa takut.
"Dan kau membantuku!" Lalu selanjutnya, dia hanya mendengar suara tawa sang penculik.
"Gila!"
.
Sang penculik melihat dari jendela kamarnya, situasi di seberang sana, tepatnya di kamar yang di tempati Valerei. "Pastikan dia tidak bisa kabur! aku ingin melihat bagaimana Darren memilih kali ini!" Senyum tersirat singkat dari bibirnya.
"Anak itu bagaimana?"
"Tuan tenang saja, dia ditempat yang aman!"
"Jangan sampai orang tahu! minta Min mundur, setelah ini Ho Young akan tahu ada yang berkhianat di dalam kelompoknya!"
__ADS_1
"Baik Tuan!"
"Oh, hampir terlupakan, bagaimana wanita itu?" Tanya kepada orang didepannya.
"Aman Tuan."
"Pastikan itu benar-benar aman!"
"Mengerti Tuan!"
Staff nya pamit undur diri. Sang penculik kembali membuka gorden kamarnya dan memandang ke depan. "Kau harus berterima padaku, bayar hutangmu!"
...🖤...
Kedua pengawal itu dibawa ke peristirahatan terakhir oleh rekan-rekannya. Mereka tahu pekerjaan seperti ini sangat dekat dengan kematian, tapi jika berpikir dengan sempit mereka tidak bisa mendapat pekerjaan di zaman yang sulit ini. Semua pekerjaan punya resiko masing-masing, begitulah pikiran yang benar.
Ketua Sayap Timur tertunduk, ini sudah hal biasa, katanya dalam hati. Namun, nyawa tetaplah nyawa, berharga. Karena ketidakmampuannya dua orang yang baru saja bergabung kini telah beristirahat lebih dulu.
Ho Young berada di depan bersama dengan Darren. Kata-kata Ho Young sebelum mereka memasuki area pemakaman masih tergiang.
"Ada yang berkhianat, berhati-hatilah!"
Kacamata hitam bertengger manis di hidung Darren. Dibalik sana, dia memperhatikan setiap gerak-gerik manusia yang berada di lokasi pemakaman.
Ho Young memberi kode Darren bahwa orang yang berada di depannya adalah pengkhianat dalam kelompok. Darren ingin memukul wajah orang itu tapi dia menahannya dengan banyak pelayat yang datang.
"Ho Young, kalau orang itu berani menyentuh istriku, dengan cara apapun pasti akan kuhancurkan tidak perduli siapa dia! Anak buahmu, aku berhutang pada mereka dan keluarganya!"
Dia menepuk pundak Ho Young dan pergi dengan mobilnya. Ho Young hanya melihat tanpa mengatakan apapun.
"Sudah sejak lama Darren meninggalkan dunia gelap, tapi baru kali ini aku melihatnya dengan tatapan seperti itu! Kali ini 'dia' dalam bahaya!" Katanya diperuntukkan kepada Yun meski pandangan masih berada di depan.
.
"Mereka tidak meninggalkan Korea, Tuan! lokasinya berada disekitar villa milik keluarga anda."
"Maksudmu danau itu?" Dia ingat
"Iya Tuan, lokasi terakhir berada di danau tempat anda dan Tuan Ho Young pertama kali bertemu." Jelas Are.
"Kelompok HARI akan diambil alih Ho Young, dia memberi kita waktu untuk mencari Valerei. Mata-mata selalu ada disetiap organisasi, Ho Young mungkin tidak akan berbelas kasih jika menyangkut para penghianat."
...🖤...
Sayup-sayup Valerei mendengar suara Nola dan Han sedang berbicara, dia membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. "Ah!" pekiknya, kepalanya terasa pening.
"Nyonya!?" Teriak Nola membuat kedua orang di sana kaget.
"Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Han khawatir bosnya itu menahan sakit di kepalanya.
"Oh ya, maaf Nyonya. Minum, minum! Han minum, tolong!" menunjuk gelas di atas nakas.
Han menggeleng, tingkah Nola semakin hari semakin absurd.
"Ini di mana?" Tanyanya.
Merasa asing, jelas bukan apartemen atau mansion Darren.
"Kit----"
"Sudah bangun rupanya?" Seorang Pria masuk ke dalam kamar berjalan menghampiri Valerei.
Valerei mengerutkan dahinya tidak menanggapi pria itu, dia menghadap Nola. "Nola, Darren mana?"
"Manis sekali, setelah bangun mencari suami. Membuat iri saja." Kata lagi.
__ADS_1
Sok akrab, dalam hati Valerei.
"Anda siapa?"
"Teman, ah katakan saja seperti itu. Suamimu pasti mengerti!?"
"Maaf tapi suamiku tidak punya teman yang masuk ke kamar istri temannya dengan sembarang."
"Sepertinya kamu lupa siapa saya?" Dia tersenyum memancarkan aura yang tidak disukai Valerei. Playboy nih bos.
"Siap----" sakit kepalanya membuat dia flashback bebrapa jam lalu, saat dia berada di Villa. Setelah itu dia mual.
"Auuw, wanita hamil sangat merepotkan!" Lalu dia pergi.
Jika dalam keadaan normal mungkin suara Sang penculik akan terdengar jelas. Namun, kondisi kedua pengawalnya yang panik dan sang majikan sedang mual membuat keadaan tidaklah kondusif untuk mendengar perkataan itu.
2 Jam kemudian
"Nyonya, apa semuanya baik? Masih ada yang sakit?" Nola sudah banjir air mata.
Mengangguk lemas. "Tidak apa-apa. Kalian berdua pasti lelah, istirahat saja."
"Saya dan Nola sudah berganti untuk tidur saat anda juga tidur Nyonya, anda tidak perlu khawatir!"
"Kalian ini sudah seperti adik-adikku, istirahatlah!" perintah.
"Kalau begitu biar aku dan Han bergantian." Dia menggeser Han hingga menjauh, lalu dia duduk disofa samping kasur Valerei.
"Nola.."
"Ya Nyonya?"
"Kau pernah jatuh cinta?"
"Pernah Nyonya."
"Dengan Ketua bagian keamanan hotel itu ya? Bagaimana rasanya?"
Pipi Nola memerah. "Rasanya? aku hanya merasa bahagia saat melihatnya."
"Sesingkat itu?"
"Lalu, bagaimana dengan Nyonya?"
"Aku? (menunjuk dirinya) Hem... menurutmu apa pernah?"
"Tentu saja Nyonya!" Dia mulai bersemangat.
"Tentu saja?"
"Iya, pasti dengan Tuan Darren ya kan?"
"Karena kami menikah?"
"Tentu saja, untuk apa menikah kalau tidak saling cinta."
Valerei terdiam, setelah lama bertatapan dengan Nola dia tersenyum. "Kau sudah seperti ahlinya." Mereka tertawa, begitupun Han yang mendengarnya samar.
Setidaknya kedua orang ini ada di sampingku. Aku tidak begitu gelisah. Dalam hati Valerie berkata.
.
.
.
__ADS_1