
"Darren tidak makan malam?" Valerie sudah dimeja makan, dia mendengar dari Nola bahwa suaminya tidak makan malam. Sebelumnya Nola mengirim pesan kepada Han dan menanyakan kabar Darren. Han langsung melaporkan semua kegiatan Darren dari keluar rumah sampai malam ini.
"Iya Nyonya, karena terlalu sibuk kata Han."
"Terus tadi pagi?" Dia merasa sedih, berharap suaminya sarapan.
"Tuan tidak sarapan," Sekarang ibu Shin yang menjawab. "Sarapan sudah siap tapi tuan terburu-buru untuk menemui klien kata Are."
"Ketemu klien dimana?"
"Di hotel blackm"
"Seoul?"
"Iya Nyonya."
"Telepon Han, sekarang mereka dimana!?"
"Tidak diangkat."
Saat Valerie ingin bicara, suara Darren memanggilnya terdengar. Senyuman dia merakah, Darren berjalan ke arahnya, dia berdiri. Sedetik kemudian Darren memeluknya menenggelamkan wajah sayu di ceruk Leher sang istri.
"Harum."
Valerie geli, dia ingin menjauhkan kepala suaminya tapi saat melihat wajah yang lesu dia tidak tega. Diusap kepala bagian belakang Darren, dia menyukai spot itu.
"Kamu sudah makan?"
"Belum!"
Darren melepas pelukannya. Valerie tahu dia akan marah.
"Ini baru mau makan,"
Sekarang giliran Darren yang lega. Valerie menarik tangan suaminya untuk duduk.
"Aku ambilkan."
"Aku sudah makan." kata Darren, dia menolak.
Are dari belakang berbicara. "Belum Tuan, anda belum makan apapun sejak pagi."
"Kita belum makan?" tanya dia dengan wajah bingung.
Valerie menggelang, masalah apalagi sampai dia lupa makan, dalam pikirannya.
"Kamu ini terlalu banyak kerja, makan juga kebutuhan!"
"Aku makan kamu saja!"
Uhuk
Valerie tersedak makanan. Wajahnya merah, di ruang makan ada banyak orang. Dia malu karena Darren mengatakannya dengan gamblang.
"Kalian makan juga, ini sudah waktunya." ujar Darren. Semua pengawal dan pegawai pergi ke ruangan timur untuk maka siang. Tinggallah mereka berdua.
"Awuh, geli!"
__ADS_1
Darren tersenyum, sang istri juga ikut tersenyum. Setelah acara makan siang itu mereka berada di ruangan kerja Darren. Valerie melirik suaminya yang duduk dimeja kerjanya. "Darren?"
"Ya?" jawab Darren
"Masalah antara kamu dan Frederick, kalian tidak bisa berbaikan?"
Valerie sudah lama tidak membahas Frederick, dia jadi penasaran bagaimana reaksi suaminya saat membahas persoalan mereka dulu.
"Kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa. Hanya, lebih baik kalau kalian berbaikan. Masalah juga sudah lewat, perempuan itu tidak memilih diantara kalian."
Darren tidak menjawab, dia menyibukkan diri dengan memeriksa file yang dibawa Are tadi.
"Lagipula, kamu sudah punya istri dan Fed jug- kecuali, kamu dan Fed masih punya rasa dengan perempuan siapa namanya? Ah Lim Sujong."
Darren kaget, dia mengangkat kepalanya. "Dari mana kamu tahu namanya?"
"Aku sudah tahu sejak awal, Fed yang cerita! Juga siapa pria yang menikahinya, aku pernah bertemu."
"Pernah ketemu?"
"Hem! Waktu itu di jepang, Fed mengajakku melihat sakura, disana kami bertemu. Aku rasa, saat itu Fed biasa saja, malah wanita itu yang tidak nyaman. Kita bahkan makan siang bersama, dia dan suaminya terlihat cukup mesra dan lagi, suaminya sepertinya tipe pria lembut?"
"Kau tidak kehilangan kemampuan analisa, kenapa bisa melewatkan banyak hal? Lembut? Cih!"
Reaksi Darren berlebihan, Valerie melihat itu. Dia cukup kaget sebenarnya, tidak menyangka akan menemukan sisi Darren cemburu pada pasangan lain.
"Walau usianya terbilang jauh dari Lim Sujong tapi dia bisa mengimbangi, kau tahu? waktu itu mereka pakai baju couple. So sweet kan!?" dia berbohong, saat itu mereka tidak menggunakan baju couple.
"Kenapa dia tidak melapor?"
"Harusnya dia bercerai!"
Kata yang keluar dari mulut Darren adalah belati yang menancap dihati Valerie. Penasaran yang berakhit tragis.
"Kau tahu alasannya dia tidak minta bercerai?" kata Valerie setengah bertanya. Malas langsung menghantamnya.
Darren menatap istrinya kala mendengar apa yang ingin dia utarakan. Valerie melihat ponselnya. Lagi dan lagi. Perlahan dia mengangkat kepalanya dan menatap balik Darren.
"Kekuasan! Dua pria sedang dalam masa pemulihan image. Kau tidak mungkin lagi, lalu Fed? walaupun dia seorang mafia saat itu, tapi perlahan mulai meninggalkan statusnya di kelompok. Sedangkan ada pria yang bisa membawanya masuk secara langsung. Mungkinkah dia tetap bertahan untuk salah satu diantara kedua pria tadi?"
"Setelah menikah, dia mendapat akses ke berbagai kelompok mafia. Dia melakukan banyak tindakan ilegal. Termaksud membawa adik sepupunya Estelle kembali ke Korea setelah dideportasi. Kata korban yang kamu ucapkan seharusnya tidak berlaku lagi."
"Ah dan jangan bilang itu perkara yang lain. Karena jika dia merasa itu menyakitkan dia tidak akan tinggal diam setelah apa yang suaminya lakukan, lagipula dia bukan perempuan lemah. Dia bisa saja melapor atau apapun. Dan dari mana suamiku tahu dia adalah korban kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah itu berarti kau mencari tahu? atau dia dan kau masih berkomunikasi hingga sekarang!?"
Dia berdiri, merasakan amarahnya naik sampai ke ubun-ubun.
"Seseorang yang kehilangan kemampuan analisa bukan aku tapi kau!"
Valerie melangkah pergi tidak menghiraukan panggilan Nola. Darren tidak mengejarnya, dia diam melihat kepergian sang istri.
Dia menutup pintu dengan keras, sekarang Valerie berada di dalam kamar pribadinya. Melihat jam dinding, seharusnya tidak ada penjaga dibangunan ini. Lalu dia membukan kotak penyimpanan dan menemukan ponsel model lama miliknya, menelepon seseorang yang telah lama pergi.
"Hyuk? Bisa kita ketemu? Ada yang ingin ku perlihatkan!”
“Ya sampai ketemu."
__ADS_1
Valerie meninggalkan dompetnya di kasur dan mengendap keluar dari pintu belakang yang terhubung dengan taman kecil di mansion. Mengambil jalur terjal, dia menuruninya dengan memegang tali yang dia bawa yang dikaitkan dipohon besar.
Dia melompat menyusuri jalan kecil yang terhubung dengan jalan besar. Setelah jam dia menunggu, mobil sport merah berhenti. Kaca jendela di buka menampakkan wajah Hyuk. "Masuk!"
Valerie bergegas masuk. "Leon mungkin dalam bahaya, kau sudah meminta orang menjemputnya pulang?"
"Sudah. Ada apa?"
"Seseorang mengirikan ku foto-foto Leon dan orang yang mungkin berhianat dalam mansion Darren. Aku harus keluar dari mansion Darren kalau tidak Leon bisa dalam bahaya!"
"Bagaimana dengan Darren? Dia ada di mansion?" tanya Hyuk, dia mengetahui bahwa Darren tidak akan terjun langsung dalam mengurus perusahaan kali ini. Dia memiliki orang kepercayaan.
Valerie hanya bisa mengangguk.
Mendengar helaan nafas, Hyuk melihat sebentar ke samping lalu kembali lagi fokusnya pada jalanan di depan.
"Aku membuat masalah lagi, seolah-olah marah terus aku masuk ke kamar. Kau tahukan, bagunan kamar pribadiku jarang dipakai lagi, jadi Darren minta waktu-waktu tertentu untuk pengawal berjaga."
"Kau buat msalah apa lagi?"
"Lim Sujong!"
Cukup terkejut, Hyul menengur. "Valerei!"
Hal itu cukup intens untuk dibahas, dengan Frederick saja sampai sekarang belum menemukan titik terang.
"Aku tahu, tapi masalah lain tidak bisa membuatku marah! Aku harus cari yang lebih WOW. Supaya meledak!"
"Dan Darren benar-benar marah sampai dia tidak mengejar kamu!"
"Hah? Kok kamu tahu dia cuma diam di kursinya? Peramal ya?"
"Peramal apanya! Aku cukup tahu. Seandainya Darren kejar kamu, mana bisa kamu kabur!"
Benar juga, dalam hati Valerie membenarkan.
"Nanti kita lanjut di mansion!" dia butuh fokus, menghindari setiap cctv di jalan agar tidak ada yang tahu dialah yang membawa Valerie keluar. Walau mobilnya baru dan tidak terdaftar sebagai milik pribadi tapi jika orang seperti Darren ingin mencari tahu pasti akan ketahuan juga. Lebih baik hati-hati sejak awal.
Mansion Hyuk terasa berbeda. Meskipun banyak pegawai yang tinggal di mansion, suasananya akan terasa lebih hampa, mirip-mirip mansion Larry sang Playbook, eh Playboy maksudnya. Namun, sekarang lebih mirip mansion Darren, penuh dengan sentuhan faminim.
"Nuansanya berbeda?"
"Ya, perlu di ubah."
Mereka tidak bicara sampai ruang baca Hyuk. Valerie mengikuti pemiliknya masuk dan duduk di sofa.
"Sini, aku lihat kiriman orang itu!" Minta Hyuk pada.
Dia memberikan kotak berwarna putih. Didalamnya banyak foto-foto Leon, mulai dari sekolah hingga saat dia sedang bermain di taman. Dan foto satu orang yang dia kenal, Ibu Shin. Juga selembar kertas yang berisikan pesan dari sang pengirim.
'Anak yang lucu, jangan sampai terbawa arus. Mungkin kau ingin mencoba atau memilih jalan lain? Tinggalkan mansion Darren dan rahasiakan ini.'
.
.
.
__ADS_1