
Are melihat nama seseorang yang menelponnya, Bitna
"Ada ap--?" terpotong oleh Bitna.
"Are!!" Sopan sekali, batin Are menjawab
"Nyonya sakit. dia demam!”
"Bicara pelan-pelan!" tegur Are.
"Nyonya sakit!"
Are langsung melapor pada Darren, tidak menghiraukan rapat yang masih panjang dan sangat serius itu, dia mendekati Darren dan berbicara dengan sangat pelan hampir seperti berbisik. "Nyonya sakit, tuan."
Darren meminta seorang kepala departemen untuk berhenti, dia mengangkat tangannya. "Lanjutkan rapatnya besok." dia pergi terburu-buru begitupuan Are yang mengikutinya.
Darren tidak pernah menghentikan rapat. ini pertama kalinya. Bisik-bisik mereka yang berada di ruangan setelah kepergian pemilik perusahaan.
...🖤...
"Ada apa?" salah satu asisten kepala departemen itu berbicara dengan temannya
"Kau tahu tadi, tuan Darren menghentikan rapat."
"Lalu?" jawab pegawai baru itu
"Masalahnya ini pertama kalinya Tuan meninggalkan rapat."
"Mungkin saja ada rapat lain. Kan perusahaan nya tidak hanya satu." dia ada benarnya juga.
"Issh, kau ini! Sudah dengar gosip tentang Tuan menjadi sugar Daddy belum? Katanya, wanita itu salah satu pegawai di bagian administrasi." dia sangat yakin.
"Heh, kau ini gosip saja, benar juga tidak, sudahlah! Aku mau kerja." ada beberapa yang percaya dan tidak. mengingat Darren sudah lama tidak pernah terlihat bersama dengan wanita.
...🖤...
Ekspresi kali ini asing, Are tidak ingat pernah melihat ini. Setelah Valerei kembali ke Korea, bosnya sering sekali menunjukkan hal yang dia tidak pernah lihat.
Are beranggapan bosnya hanya khawatir, apalagi Valerei adalah istrinya. Tetapi jika di teliti lebih dari itu. Bukan hanya khawatir. "Tunggu di luar, Are." yang diberitahu mengangguk.
Lebih baik disini, dari pada di dalam.
Dia masuk, suara hentakan sepatu Darren bergema memenuhi apartemen Valerei yang tidaklah besar. Yah, cukuplah untuk pengantin baru. Dia membuka pintu kamar, melihat istrinya terbaring dengan kompres di keningnya.
Saat melihat bosnya berjalan ke arah Valerei, Bitna sigap berjalan keluar, menemui Are yang menunggu didepan apartemen.
Darren mengambil kompres di kening Valerei dan menaruhnya di baskom kecil diatas nakas, lalu dia menggendong istrinya. "Engh" Valerei mengeluh dalam keadaan tidur saat Darren memindahkannya.
__ADS_1
"Kembali ke mansion."
Darren membawa istrinya kembali ke Mansion.
...🖤...
"Aku demam?" tanya Valerei
"Ya." hanya itu, selalu
Valerei mengingat, artinya tadi dia hanya mengigau karena sakit? biasanya jika dia demam dia akan mengigau. Terkadang merasa seperti tiba-tiba penglihatan nya menjadi aneh, kamar menjadi kecil, besar, terbolak-balik, kadang menjauh, kadang mendekat, aneh.
Valerei pernah membaca, dia juga tidak tahu itu reaksi normal atau tidak, yang pertama karena itu bukan keahliannya. Artikel itu bilang jika beberapa orang yang demam akan melihat dan mengigau hal-hal aneh seperti itu. katanya reaksi normal. Yah, semoga.
"Tadi--"
"Kenapa?"
"Tadi, aku sepertinya mengigau atau bermimpi. Entahlah. ketemu anak laki-laki, mungkin umurnya sekitar 3 tahun?" dia diam, sedang berpikir, apa bisa memberitahu Darren.
"Lalu?" lembut
"Mirip denganmu." Valerei menutupnya.
"Mirip denganku? seperti itu?”
Pelaku yang memajang foto kecil Darren adalah Valerei. Ketika melihat foto itu, senyumnya merekah. Seperti bunga yang mekar atau seperti ibu yang melihat anaknya memanggilnya 'mama' untuk pertama kalinya.
Valerei melihat infus. "Yu ra, tadi datang?"
"Ya, memeriksamu."
"Dia bilang sesuatu? aku sakit apa? maag ku kambuh?"
"Kau terlalu sering begadang!" sekarang Darren juga punya keahlian lain selain berbisnis, adalah mengomel, dia bisa mengalahkan emak-emak kompleks jika sudah mengejar anaknya dengan sapu saat pulang terlambat.
"Aku sibuk!" sanggahnya
Darren juga tidak ingin mengalah. "Semua orang sibuk, cuma kamu yang sakit!”
"Kan banyak urusan." ngeles yang dipaksakan, jelas dia hanya mengarang.
"Urusan apa? Jangan ngeles." kan, dia terlalu menghayati peran barunya.
“Mirip ibu-ibu komplek anda.” Suara kecil itu masih terdengar oleh Darren tetapi dia tida begitu mengerti karena Valerie memakai bahasa Indonesia. Merasa diejek, Darren hanya bisa menggeleng melihat tingkah Valerie.
Suara ketuka pintu kamar membuat Darren beranjak. Menemukan Are disana sedang membawa map berwarna hitam. Saat melihat Darren, dia langsung memberikan map itu tanpa berbicara lalu dia pergi ke bawah.
__ADS_1
Darren kembali ke kamar dan duduk di meja kerja Valerie memeriksa isi map itu. Sementara Valerie melihat suaminya dengan posisi berbaring miring. Apa Darren selalu tampan saat sedang fokus? Matanya tidak teralihkan bahkan saat Darren juga menatap matanya dan yang lebih membuatnya kaget, suaminya itu tersenyum.
Valerie mengubah posisinya menjadi duduk. “Apa yang kau lakukan?” matanya membulat meminta jawaban tapi pria itu tidak menjawab dan kembali melihat isi map tadi.
“Aku bertanya apa yang kau lakukan?”
Darren menyisir ke belakang rambutnya. Istrinya selalu melakukan hal-hal aneh belakangan. Dia menjawab tanpa berbalik. “Tersenyum.”
“Aku juga tahu, tapi kenapa?”
Iyakan?
“Saat seorang suami tersenyum apa itu salah?” tanya Darren, dia kembali sibuk.
Valerie menggeleng sembari mengedipkan matanya sekali. Dia juga tahu tidak ada yang salah. Namun, ada yang berbeda dari tubuhnya saat melihat pria itu tersenyum. Seperti sesuatu yang menggelitik perutnya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Valerie, Darren mengangkat wajahnya melihat wanita itu. Di tempat tidur dalam posisi duduk, Valerie terdiam memegang perutnya. Pemandangan itu membuat Darren tersentak dan berjalan cepat kearah istrinya.
Duduk di samping wanita itu dan memegang tangannya. Khawatir. “Apa yang salah?”
Gelengan kepala istrinya membuat dia semakin khawatir. “Valerie apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” tanya dia lagi dan seperti sebelumnya.
Valerie hanya menggeleng lemah.
“Akan kupanggilkan dokter!” Dia beranjak ingin menelepon Yu Ra tetapi perkataan Valerie setelahnya membuat tubuh dia mau tidak mau berhenti.
“Darren, aku sepertinya cacingan!”
Hah? Cacingan? Kepalanya dia miringkan, mendengar keabsuran sang istri.
“Aku merasa perutku seperti di gelitik, bukannya karena aku cacingan? Ah! Aku makan apa sampai cacingan? main tanah waktu masih kecil, sekarang sudah tidak pernah. Cacingnya dari mana?”
“Valerie, aku boleh bertanya?”
“Oh, silahkan!”
“Apa aku menikahi wanita yang sama?”
Sekarang gantian Valerie yang bingung. Wanita yang sama? Memangnya ada wanita lain? Tapi kemudian dia menjawab dengan santai.
“6 tahun lalu dan sekarang adalah aku. Yah, itu wanita yang sama!” katanya polos tanpa merasa terbebani.
“Syukurlah!”
Darren hanya belum terbiasa. Dia harus menghabiskan banyak waktu dengan Valerie untuk lebih memahami satu sama lain. Waktu yang dia habiskan kemarin dengan sia-sia, tidak ingin dia ulangi. Suaminya kembali duduk di samping istrinya. “Nanti minta Yu Ra resepkan obat cacing.” Kata Darren yang diangguki semangat oleh Valerie.
...🖤...
__ADS_1