The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 75 : Keluarga Kecil


__ADS_3

Setelah selesai makan, dia berlari naik ke kamar. Menunggu mami dan papinya. Tidak lama, pintu di depannya terdorong kedalam.


Saat di buka, pemandangan yang pertama kali di lihat adalah papinya. Darren berjongkok saat melihat Leon menunggu di luar kamar. "Mau lihat mami?"


Leon mengangguk, kepalnya miring kearah pintu yang sengaja Darren buka sedikit agar Leon bisa leluasa melihat.


"Mami tidak pernah mengajariku bersikap tidak sopan dan ikut campur urusan orang dewasa. Dia pasti kecewa padaku!? Tapi aku melakukannya untuk mencari tahu sesuatu, maaf"


Salahkan dirinya, jika Valerei marah besar.


Pria itu mengelus kepala Leon. "Mamimu hanya sedikit sensitif, dia tidak marah atau kecewa."


Leon tahu, kata yang diucapkan Darren hanya untuk membuat lega perasaannya. "Kalau aku menemui mami sekarang, dia pasti akan menangis. Nanti, jika perasaan mami sudah lebih baik, bisa papi beritahu Leon?" Kata dia lagi meminta persetujuan Darren.


"Ya! Ayo tidur, papi bacakan cerita!" Darren mengangkat Leon.


Pertama kali dalam sejarah Per-Darren-an, dia berinisiatif membacakan cerita untuk anak kecil. Selain dokumen kantor, dia tidak pernah bergelut dengan dunia anak-anak. Malam itu, Leon melihat sisi lain papinya. Daya tarik pria itu tidak ada habisnya.


...🖤...


Malam tanpa bintang, mendung yang tak hujan, Bulan menerangi berlangsung untuk waktu yang lama. Seorang wanita memegang bunga Daisy putih berlari ke arah Padang bunga yang belum mekar. Kakinya cepat, dia kuat.


Tiba-tiba, cahaya dari langit datang secepat kilat dan menyilaukan mata. Tersambar, dia terduduk di tanah. Cahaya itu mengelilingi tubuhnya dan lenyap. Berdiri dari keterkejutan, bisikan-bisikan aneh mulai menghantuinya.


"Mami"


"Mami"


"Mami!!"


Valerei terbangun dari tidurnya, biji-biji keringat membanjiri baju tidur yang dia kenakan. Melihat sekeliling terasa familiar, dia berada di kamar. Detak jantungnya tidak karuan, menghela nafas dan menghembuskan berulang sampai perasaan aneh itu sirna.


Baru menyadari jika kamarnya gelap, bahkan lampu tidur juga tidak dinyalakan. menggeser tubuhnya menjangkau tombol lampu di atas nakas. Dia melihat kesamping, namun tidak menemukan Darren.


"Kemana dia?"

__ADS_1


Valerei beranjak turun dari kasurnya, masuk ke dalam kamar mandi. Di sana, dia melihat pantulan dirinya dalam balutan kain satin dari kaca. Spontan, tangannya naik menyentuh lengan atasnya secara bergantian, lalu pipinya. Matanya tidak lepas melihat semua di cermin.


"Aku bertambah berat badan." Bergumam sendiri.


Perlahan, dia menurunkan tangannya menyentuh bagian paling penting, diraba-raba daerah perutnya membuat pupil matanya mengecil dengan alis yang bertaut. Rasanya seperti memegang bola? "Yah, Darren bilang tidak apa-apa menjadi gendut!"


Jemarinya memegang kancing kemeja, dia menarik ingin membuka dan....


Gedebug!


Suara benda jatuh, dia terperanjat dan berjalan keluar. Dibukanya pintu kamar, dia mengintip dan menemukan penyebab suara barang jatuh. Diujung lorong sana, tepatnya ruangan yang berada di samping ruang kerja Darren. Terlihat Are dan Han sedang membawa barang masih dalam kardus besar.


Valerei hanya melihat dari jauh, dan tidak menganggu. Begitupun keduanya yang sibuk mengurus barang hingga tidak waspada dan memperhatikan sekeliling. Han kembali mengambil barang yang tadi jatuh dan membawanya masuk ke ruangan. Dalam mansion, banyak sekali ruangan yang tidak diketahui kegunaannya termaksud ruangan itu. Dia tidak berniat ikut campur mengingat area itu milik Darren.


Valerei berbalik akan kembali ke kamar, memegang kenop pintu dan terdiam. Teringat mimpi tadi, kepalanya di arahkan ke kanan. Kakinya yang tadi ingin kembali ke kamarnya, akhirnya malah berbalik ke arah kamar yang tadi dia lihat.


Pintunya tidak tertutup rapat, lalu didorong kedalam. Dia masuk perlahan agar tidak membangunkan penghuni kamar. Valerei menajamkan penglihatannya, akhirnya mendapati jawaban kemana suaminya pergi. Dia mendekat, dan duduk ditepi kasur.


Buku cerita masih berada di dada Darren, dia membacanya dan tertidur. Mungkin ceritanya belum selesai lalu suaminya tertidur, pikir Valerei tersenyum.


Tangannya mengelus lembut rambut Leon. "Maaf, mami minta maaf!" ucapnya. Dia mendekat dan mencium kening dua prianya dan ikut berbaring. Dia sedih melihat pelipis putranya.


Pria yang berpindah tidur ke sisi Valerei itu mengangkat wajahnya. Hal yang terjadi kemudian membuat Valerei terkejut. Suaminya menangis, wajahnya basah. "Ada apa?" Wanita itu berbalik memegang wajah suaminya.


"Maaf!" singkat.


Darren hanya mengatakan permohonan maafnya. Dia kembali berbaring, membalik tubuh Valerei membelakanginya dan memeluk dia dari belakang. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Istrinya.


Darren telah memikirkan banyak hal. Semuanya, bahkan potensi negatif pun sudah dia simulasikan dalam pikirannya. Entah bagaimana keadaan mereka jika waktunya telah datang. Amankah hubungan dia atau jarak itu kian menguat.


Kebahagiaan yang baru dirasakan pasangan ini mampukah bertahan atau akan menjadi yang terakhir?


.


Pagi datang, Ketiga manusia itu masih terlelap dalam tidur masing-masing. Leon bergeser ke sisi kiri kanan karena ruang luas yang diberikan oleh papinya semalam. Sementara posisi kedua sejoli itu masih sama, Darren masih memeluknya, tetapi sang istri bergerak sedikit membuat ruang untuk bernafas lega. Untunglah AC di kamar Leon menyala. Jika tidak, Darren sudah dipastikan akan terdampar di lantai.

__ADS_1


Mata Valerei terbuka lebar, saat tangan Darren berpindah ke perutnya. Ada rasa berdesir saat dia berada di sana, juga bersamaan dengan itu rasa tidak nyaman menyelubunginya.


Dia memindahkan tangan suaminya pelan. Namun, lagi-lagi kembali bertengger di sana dengan nyaman.


"Apa boleh buat!" Valerei mengambil telapak tangan Darren, dan menggigitnya lumayan keras.


Sang empunya tangan terbangun. Dia tidak bersuara untuk protes. Hanya diam menunggu hingga Valerei selesai dengan misinya. Tidak beberapa lama, tangannya selamat.


Darren memperhatikan tangannya dan melihat istrinya secara bergantian. "Kalau masih mau, aku kasih tangan yang satu." Caranya memamerkan tangannya tampak lucu. Valerei tertawa.


"Mami? papi?"


Oh, dia membangunkan anaknya. Darren bangun berpindah posisi ke sebelah Leon dan memeluknya erat. "Sudah bangun?"


Leon mengangguk sembari mengucek matanya lucu, bibirnya monyong ke depan, kebiasaan dia saat bangun tidur. Valerei melebarkan kedua tangannya, kode itu dimengerti Leon, dia berhambur masuk kedalam pelukan maminya.


"Leon mimpi indah?" tanya Valerei mengecup puncak kepala Leon.


"Iya, mimpikan mami!" dia memperlihatkan gigi kecilnya tersusun rapi. Darren setuju, mimpi indah \= mimpi tentang Valerei.


(Bisa aja penutup kaleng! jokes tertuju pada Darren)


.


Di meja makan


Valerei makan banyak pagi ini, Darren senang-senang saja. Baginya, lebih baik makan lahap dan banyak dari pada dia diet. Ini juga merupakan balasan karena semalam dia tidak jadi makan dan malah menangis yang menguras banyak tenaga. Dipangkuan Darren, Leon ikut tersenyum.


"Mami! mau sosis?" mata Leon bersinar polos. Dia sangat menyukai sosis dirumah Darren, mereka dibuat sendiri oleh pelayan di mansion. Sosis daging dan sayur agar Leon tidak kekurangan gizi dari sayur-mayur.


Valerei mengangguk atas pertanyaan Leon, dia mengangkat piringnya ke arah Leon. Merasa senang, Leon bergerak maju mengambil sosis lalu diletakkan di piring Valerei atas bantuan Darren.


Meraka makan dengan suasana hangat keluarga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2