The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 58 : Bergerak


__ADS_3

Darren duduk sendiri di paviliun depan markas Ho Young. Walau sudah tahu lokasi istrinya tapi dia khawatir terburu-buru akan membahayakan Valerei dan kandungannya. Seandainya, dia tidak membahayakan orang lain, dia pasti sudah menerjang tempat itu.


Merindukan sang istri, dia melihat cincin di jari manisnya. Walau Min telah ditangkap dan di hukum atas pengkhianatan tetapi dia tidak bicara soal Valerie. Min bahkan tidak tahu menahu siapa dan bagaimana istrinya di bawa pergi. Entah itu bohong atau kebenaran dia tidak tahu.


Tidak ada bintang, malam gelap itu hanya di sinari cahaya rembulan yang redup di tutup awan. Cuaca dingin yang dibarengi angin kencang menandakan hujan akan segera mengguyur. Tapi Darren masih betah di sanasana.


Bahkan Ho Young tidak akan mendekat, dia membiarkan sahabatnya meresapi kesunyian malam itu. Are yang berdiri dari belakang melihat punggung tegak Bosnya. Dia ikut bersalah dan prihatin terhadap apa yang terjadi di Villa. Sesuatu yang harus dia tanggung sebagai kepala Pengawal Khusu Keluarga Lee.


Namun, tidak satupun kalimat yang keluar dari Darren yang menyalahkan kepimpinannya. Sebaliknya, dia menunjuk dirinya sendiri sebagai alasan kemalangan menimpa keluarganya. Dia menyalahkan dirinya atas hilangnya sang istri.


Suata gemuruh dari langit terdengar, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan membasahi tanah. Seseorang dari belakang Are memberikan payung kepadanya sementara dia mengawasi Darren tanpa berteduh. Orang itu ketua sayap timur. Sebelum pergi, dia menepuk pelan pundak Are dan menghilang.


Are tetap berdiri disana, ditempat semula tanpa berkata apapun. Begitupun Darren menghadap ke depan memandang hamparan tebing dari paviliun kecil. Tangannya di julurkan ke depan menadah butiran kecil satu persatu semakin lama semakin deras. Sebelum tangannya di turunkan dengan sempurna, Darren berbalik dan mendapati dirinya.


"Tuan." panggil Are.


Darren mengangguk. "Aku tahu."


Are berjalan ke depan memberikan payung kepada Darren tetapi Darren menolaknya.


"Sebaiknya anda berada di dalam tuan. Sepertinya hujan akan berlangsung lama." Saran Are tetapi Darren kembali menolak.


Tubuhnya tidak akan sakit jika terkena hujan. "Yang aku khawatirkan adalah istriku, apakah dia baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana jika melihat dia dalam keadaan terluka. Siapa orang yang membawanya, apakah dia baik atau jahat dan bagaimana istriku diperlakukan. Itu semua membuatku gelisah. Kejadian lalu, akan terulang kembali dan semuanya adala salahku!"


Are melihat tanah.


"Are, kalau nanti kau melihatku akan menembak seseorang, pastikan kau menghalanginya! Jangan biarkan aku melukai orang lain." Pesan dia kepada Are yang di balas anggukan kepala.


Beberapa detik setelahnya, Are berbicara. "Apa kita akan bergerak? Tuan Ho Young menunggu anda." Katanya jelas.


"Kita pergi!"


.


Ho Young memandangnya ketika dia sudah masuk ke dalam Villa. Semua orang sudah bersiap dan menunggu keputusan dari Darren. "Kau sudah siap?" Tanya dia.


"Yah!"


"Aku harap, istrimu dan anakku baik-baik saja!" Ho Young tersenyum tipis lalu keluar lebih dulu.

__ADS_1


Mereka pergi berkelompok.


...🖤...


Valerei duduk di ujung kasurnya. Melihat cincin di jari manisnya, dia tersenyum. Sebelumnya dia tidak pernah melalui masa itu karena hubungan rahasianya dan sekarang dia harus dihadapkan oleh omongan orang tentang rumah tangganya.


Ibu dan Ayah Darren menjadi salah satu orang yang terlintas di kepalanya. Valerei mengingat, keduanya adalah orang yang santai dan tidak pernah menyinggung soal cucu, walau bagaimanapun mereka pasti menginginkan penerus keluarga Lee berlanjut.


Terlalu lama tenggelam dalam pikirannya, Nola dan Han saling melempar pandang ke arah Valerei. "Apa Nyonya memikirkan perkataan orang tadi?" Han bertanya kepada Nola.


"Mungkin, bagaimanapun waktu telah lama berlalu. 1 tahun saja biasanya sudah banyak orang yang berpikir macam-macam, apalagi 5 tahun lebih." jelas Nola. Dia mengerti sebagai sesama wanita, meski belum menikah. Hal itu menjadi topik panas sesama wanita tidak perduli di negara manapun.


"Tapi, kalau di pikir-pikir Nyonya belakangan ini memang agak aneh kan?"


"Bukan belakangan ini saja sebenarnya, beberapa bulan yang lalu Nyonya sudah aneh! Apa sebenarnya, Nyonya sudah--?" alisnya terangkat.


"Kalian bicara apa? Kenapa bisik-bisik?" Valerei yang terganggu mendengar suara keduanya.


Nola tidak menjawab, dia tertawa cukup keras sambil memukul pundak Han. Sementara Han tersenyum kecut saja mendapat pukulan. Mode canggung, Nola mendadak gila.


"Kalian aneh," menggeleng. "Ngantuk, mau tidur dulu. Kalian istirahat juga ya!" Valerei bergerak naik ke atas ranjang, mencari posisi ternyaman lalu terlelap.


"Apa sudah 2 bulan ini Nyonya tidak mengikuti pemeriksaan rutin?" dia tidak ingat pernah ikut mengantar Valerei.


"Hussstt!" tangan kuat itu membekap mulut Han.


"Kenapa?"


"Kalau Tuan tahu bagaimana?"


"Heh! ingat, kita sekarang tawanan."


"Oh, iya lupa! Nyonya selalu sibuk, tidak sempat lagi pergi menemui dr. Han Yu Ra. Jangan sampai Tuan tahu, dia bisa marah!"


"Memangnya dr. Han tidak melapor?"


"Tidak! dr. Han dan Nyonya juga punya hubungan spesial. Setahuku mantan suami dr. Han itu teman baik Nyonya, tahukan? adiknya Tuan Hyuk."


"Ah, dr. Drew? aku tahu. Semua orang tahu dia dokter hebat. Sayang, dia gugur saat menjalankan tugas di Somalia"

__ADS_1


"Iya, padahal waktu itu mereka pengantin baru!"


"Tapi kalau dipikir-pik-----"


"Tolong kawan, jangan bilang kalau di pikir-pikir terus!"


"Pokoknya, Nyonya bisa punya banyak teman dari kalangan elit itu hebat!" Jempolnya tepat berada di depan muka Nola.


"Santai!" Nola memukul tangan Han.


Saking kerasnya mereka berbicara, Valerie terbangun. "Kalian juga hebat, bicara saat saya tidur! Saya tadi ngantuk tapi sekarang siapa yang mau tanggung jawab?"


Freeze!!


Biasanya Darren yang bertanggungjawab, tapi sekarang kondisinya bosnya tidak berada di sisi mereka. Habis.


Nola dan Han tertangkap basah sedang bergosip tentang Majikannya.


Perlahan-lahan kepalanya keduanya menengok ke arah ranjang Valerei, terciptalah senyum canggung nan tidak nyaman ini.


"Nyonya belum tidur?"


"Sudah, tapi punggung aku tuh dingin kayak ada yang ngomongin. Ehh tahunya benar ada!"


"Maaf Nyonya, lain kali suaranya kami kecilkan supaya tidak menganggu anda." jawaban polos Nola mengundang decak Valerei dan teguran dari Han.


"Lain kali apa! Maaf Nyonya, Nola lagi koslet!"


Han melotot, dia mengomel dengan matanya. Nola juga ikut mengomel, tetapi dia mengomel dengan tangan. Han mendapat pukulan kecil di lengannya beberapa kali. Valerie tertawa, keanehan mereka bertiga bisa di perlombakan. Sangat mirp, tidak asing.


5 menit, Selesai dengan urusan ketawanya, Valerei kembali bersuara. "Tidur, tidur. Sudah malam!" Dia kembali berbaring, beberapa detik kemudian dia sudah terlelap, Nola saja sampai terkesima.


Dia dan Han kembali saling pandang. "Apa yang baru saja terjadi?"


"Tidak tahu, sepertinya Nyonya sangat lelah!"


Mereka akhirnya mengangguk bersama dan bergerak ke tempat masing-masing untuk beristirahat.


.

__ADS_1


.


__ADS_2