
Pesan masuk ke ponsel Valerie, wanita itu sedang berada di kamar mandi. Darren yang baru saja masuk ke kamar mendapati ponsel istrinya berbunyi. Dia mendekat, melihat siapa yang mengirim pesan.
LarryWang
Nama itu muncul, beberapa pesan suara dan teks memenuhi layar ponse Valerie. Darren berbalik melihat pintu kamar mandi dan kembali melihat ponsel istrinya. Saat itu pintu kamar mandi terbuka.
Ceklek
Valerie sudah berpakaian lengkap. Dia menatap suaminya dengan bingung. "Ada apa?" tanya dia.
Pandangan mata Valerie terjatuh pada ponselnya yang berada dalam genggaman Darren. Dia mendekati sang suami, memegang lengannya.
"Kau Baik-baik saja?" tanya dia lagi pada pria yang masih setia menatapnya dan menggengam erat ponsel pintar di tangan.
"Hm, ada pesan dari Larry." Jawab Darren.
Darren menyerahkan ponsel itu dan keluar dari kamar. Valerie lalu beralih menengok jam di nakas. Pukul 12.00 malam. Semalam ini? Menghela nafas dia menyimpan ponselnya tanpa melihat pesan dari Larry. Dia keluar menyusul Darren.
"Darren?" panggilnya.
Valerie berjalan ke arah perpustakaan kecil di apartemennya. Disana, suaminya sedang duduk merenung. Tersenyum, bibirnya merekah melihat tingkah kekasih hatinya.
Dia duduk disamping Darren, mendekat dan lebih dekat. Tangannya yang bebas memeluk lengan suaminya. "Larry bilang apa?"
Prianya tidak menjawab. Masih setia diam. Mendapat ide cemerlang untuk menggoda, dia menjatuhkan tangannya di dada Darren, memainkan kancing kemeja tidur berwarna cream.
EHEM
Tenggorokannya mendadak gatal. Wajah dia buang kesamping, dan menjauhkan tangan Valerie dari dadanya.
"Aku belum baca pesan Larry. Karena kamu sudah baca, jadi kamu saja yang bilang. Apa katanya?"
"Hm?"
“Larry bilang apa?”
__ADS_1
“Larry ajak ketemu. katanya ada hal penting yang mau dia bahas sama kamu!”
“Oh, sahabat kamu tuh lagi butuh teman main. Sesekali ajak dia keluar, jangan cuma ajak Hyuk.” Sindir Valerie. Larry tidak mengadu kepadanya, dia hanya menebak karena selama ini Larry jarang betemu berdua saja dengan suaminya.
“Larry terlalu sibuk,” balas Darren.
Itu tidak benar, Larry tidak seperti sebelumnya, sekarang dia jarang bermain ke club. Valerie memilih diam, dia tidak berbicara dan hanya menggeleng.
“Mau izin?” tanya Darren
“Kalau di izinkan.”
“Dizinkan, tapi jangan ke tempat kemarin, ingat kamu---“
“Terima kasih!” seru dia semangat. Dia tersenyum dan memohon maaf karena memotong perkataan suaminya.
Malam indah yang dipenuhi bunga-bunga. Valerie menikmati setiap detik bersama suaminya. Dia paham betul bahwa suaminya cemburu terhadap teman baiknya. Tetapi dia bisa menyakinkan bahwa apapun yang terjadi dia akan tetap menjadi istrinya hingga surga atas izin sang maha pencipta.
Sebelum waktu subuh datang, tiba Darren terbangun dari lelap tidurnya. Keringat membanjiri kening dan sebagian dari tubuhnya. Baju tidur sudah basah, dia melangkah ke arah lemari pakaian dan menggantinya dengan yang baru. Sementara sang istri masih terlelap tidur, bersyukur bahwa sang istri tidak terbangun.
Langit gelap tanpa bintang, berbeda dari langit kemarin. Entah sejak kapan air matanya terjatuh. Pria yang selalu dingin dan bersikap kaku itu meneteskan air mata. Dia tidak tahu sampai kapan kebahagiaan ini berada dalam pelukannya dan jika sang maha pencipta menginginkan itu naik lantas bagaimana dirinya. Dia menggeleng menjauhkan pikiran-pikiran buruk lalu bersaksi bahwa pernikahan itu di dasari oleh ketertarikan pada kebaikan dan bukan pada hal buruk ataupun yang haram.
Dia juga tidak tahu sampai kapan ingatan istrinya akan kembali atau terkubur selamanya. Darren hanya berharap jika memang waktunya, dia tidak ingin perpisahan melainkan keteguhan hati sang istri untuk menerimanya dan memaafkan kesalahan karena sebagai suami dia tidak melindungi dirinya dari keburukan dan fitnah.
Darren tahu dia berdosa dan memohon ampun. Ketika suaranya terdengar lirih, sayup-sayup langkah kaki terdengar dari kamar mengarah ke tempatnya. Dia bergegas menghapus air mata dan berbalik menatap sumber suara. Valerie terlihat bingung, dia berdiri di sana dan tidak mendekat lagi.
"Apa aku membuatmu terbangun?" Tanya Darren masih dengan suara parau sehabis menangis.
Valerie menatapnya terus lalu dia menganggukkan kepalanya pelan. "Kau baik-baik saja? Kau ingin sendiri?"
Giliran Darren, dia menggeleng. "Tidak, duduklah!"
Valerie belum duduk, dia terus menatap suaminya. "Aku tidak akan nakal," dengan wajah polosnya dia mengatakan itu kepada Darren. Tatapan tulus itu membuat terenyuh hati Darren.
"Aku tahu."
__ADS_1
"Lalu apa yang kau tangisi?"
"Ketidakmampuanku!" Jujur dia katakan.
"Ketidakmampuanmu? Dari perkara apa?"
Valerie selalu melihat suaminya orang yang percaya diri dalam hal apapun. Dia pria yang tahu mana baik dan buruk.
"Menjaga Kehormatan istriku di hadapan ibuku dan orang-orang."
Pria itu paham, istrinya tahu lebih jelas dibandingkan dengan siapapun.
"Kalau suamiku bicara soal kehamilanku yang disebabkan oleh rencana ibunya, maka aku sudah ikhlas dan berterima kasih padanya. Ini sudah berlalu, marah padamu bukan hal yang benar."
Darren tidak berkutik, dia rasa tepat untuk menyembunyikan masalah yang lalu tapi dia juga takut ketika masalah itu terbuka dalam ingatan istrinya. Apakah benar perkataan sang ibu bahwa Valerie tidak bisa menanggung beban mental karena siksaan yang terjadi atas ulah rekan bisnis yang berkhianat?
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya dia lagi. Valerie menyangka masalah ini sudah selesai dibicarakan. Berulang kali dia mengatakan bahwa itu sudah berlalu dan seharusnya suaminya tidak memikirkan lagi dan menjadi beban berat di hatinya. Namun, sepertinya dia salah. Beban sebagai suami yang diemban sangat berat.
"Kemarin, aku tidak bisa memutuskan untuk menghukum ibuku atau tidak tapi sekarang sepertinya dia harus mempertanggungjawabkan semua kesalahan yang dia lakukan padamu." Jelasnya tapi hal itu mendapat pertentangan dari Valerie.
"Jangan sampai menghina ibumu dengan berbicara seperti itu. Menghukum? Anak macam apa yang akan berbicara tidak hormat pada ibu yang telah melahirkan dan memberinya makan dan minum untuk tumbuh? Jangan berkata hal yang menyakitkan, aku tahu suamiku tidak ingin melakukan hal itu dalam hatinya."
"Lantas apa yang bisa kulakukan agar dadaku tidak sakit?"
"Berdoa, hal yang selalu di ajarkan kepada kita. Seorang suami adalah kepala rumah tangga, aku mengikuti keputusanmu."
Valerie memeluk pria itu erat. Dia tentu terluka tapi dia telah menyerahkan segalanya pada maha pencipta. Ini sudah menjadi suratan takdir yang harus dia lalui.
Wanita itu ingin menyudahi rasa sakit suaminya.
.
.
.
__ADS_1