The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 105 : Gagal menjalankan misi


__ADS_3

Darren berdiri di depan jendela kaca menghadap hutan di mansion sembari bersedekap, hal yang dia lakukan ketika sedang berpikir. Jika, prediksinya salah maka dia harus menyiapkan rencana lain. Memprediksi Valerie tidak akan membuka amplop itu. Lagipula jika benar, memangnya kenapa? amplopnya kosong, dalam hati Darren.


Dengan sengaja meminta kedua pengawal pribadi istrinya untuk menemui wanita itu di apartemen dan bukan Are adalah salah satu point penting. Darren yakin keduanya masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu pada Valerie. Walau Han terlihat lebih tegas dari sebelumnya.


Yang terlihat oleh Darren, Han menurutinya hanya sekedar kewajiban antara bawahan dan seorang bos. Namun, Valerie berbeda, dia adalah keluarga untuknya. Dia tampak tegas menuruti Darren karena tidak ingin kehilangan waktu bersama Valerie seperti kejadian waktu itu.


Apalagi Valerie dan Ibunda Han adalah warna negara Indonesia. Mereka dari kampung halaman yang sama. Otak cerdas pria ini bekerja dengan baik. Memanfaatkan kedekatan ketiganya agar rencana berhasil.


...🖤...


Valerie menggeleng. Dia tidak mengerti mengapa wanita di depannya ini lebih bawel darinya. "Nola, pilih salah satunya saja. Tanganmu sibuk merawat luka tapi mulutmu juga sibuk mengomel."


Han mengangguk membenarkan perkataan Valerie tapi sang pembela di abaikan, Nola masih sibuk melakukan aktivitas itu.


"Sudah-sudah, kalau kau terus marah Han bisa tambah berdarah. Aku tidak mau apartemenku menjadi TKP." katanya lagi. Mengerikan melihat Nola seperti itu.


Han mundur setelah selesai di obati.


"Astaga, wajahmu merah hidungmu berdarah. Nola kau ini punya kekuatan super atau bagaimna?" tanya Valerie.


"Nyonya, itu salah Han."


"Yah, bagaimana bisa itu salah Han sedangkan aku yang minta dia melepaskan pelukanmu."


"Oh, berarti itu salah Nyonya." dengan entengnya Nola bicara.


"Ya!"


"Salah saya Nyonya." ujar Han pada akhirnya, dia sudah cukup mendengar perdebatan antara Nola dan Valerie.


Valerie menghela nafas dan mengangkat dagunya sedikit. "Oke! Ada apa kalian kesini?"


Sejak tadi pertanyaannya belum di jawab.


"HAMPIR LUPA!" Nola berteriak sambil menepuk tangannya di udara.


"Nola! Tetanggaku ada yang punya penyakit jantung. Jangan membuat onar, cukup Han saja yang terluka."


"Nyonya bercanda ya? Mana mungkin apartemen ini mahal pasti kedap suara."


"Astaga, bicaramu. Apartemen mahal ada di gedung sebelah. Ini bukan punya Darren. Ah pokoknya, aku sudah bertanya berapa kali. Apa yang kalian lakukan disini?"


Han maju dia duduk di sofa. "Tuan meminta kami membawa dokumen penting." dia mengambil amplop di belakang Nola.


Nola yang melihat gerakan Han ingin ngambil lebih dulu tapi dia kalah cepat.


"Han," bisik Nola.


Han hanya melihat sekilas lalu kembali melihat Valerie. "Kami harus melihat anda membuka dokumen itu, agar anda bisa menandatanganinya jadi kami bisa membawa secepatnya ke mansion. Tuan dan pengacara Jeong sudah menunggu."


Valerie tampak terkejut, Han dan Nola bisa melihat ekspresinya dengan mudah sebab Valerie menunjukkannya.


Amplop putih sudah berada di tangannya. Mendengar nama pengacara Jeong membuat dia gemetar.


"Pengacara Jeong ada di mansion?" Valerie bertanya sekali lagi memastikan pendengarannya berfungsi dengan baik.

__ADS_1


"Nyonya," panggilan Nola membuatnya bertambah gemetar.


"Tuan meminta anda menandatangani surat itu agar pengacara Jeong bisa membawanya segera dan tuan baru saja mengirim pesan, "


Han memberikan ponselnya kepada Valerie. Wanita itu mengambilnya, raut wajahnya tidak karuan.


^^^Tuan Lee Seok Hoon^^^


^^^- Beritahu Valerie, dia harus menandatangani dokumen itu segera. Pengacaraku tidak bisa menunggu sampai besok pagi.^^^


^^^- Katakan juga padanya, semua asetku akan berpindah tangan, dia harus menemui pengacara Jeong untuk pengalihan.^^^


^^^- Saya akan dinas ke Thailand, bawa langsung ke firma S & L.^^^


Bibirnya manyun, wanita itu meletakkan ponsel Han di atas meja. Tidak pernah berpikir bahwa Darren akan menyiapkan dokumen perceraian.


Menatap amplop putih, ide terlintas di kepalanya. Dia ambil amplop itu dan di masukkan kedalam mesin paper shredder. Setelah itu dia menepuk tangannya dan tersenyum pada Han dan Nola.


Han dan Nola berdiri, tentu mereka terkejut.


"Nyonya!?" Nola melihat kertas itu sudah menjadi potongan-potongan panjang. Dia melotot.


"Selesai," Valerie kembali duduk di sofa dengan santai.


Kedua pengawal itu tidak bisa berkata-kata lagi, sekarang otak mereka mendadak berhenti bekerja. Apa yang terjadi kepada mereka jika Darren tahu dokumen penting baru saja menjadi mie.


Nola menggigit bibirnya, dia takut juga senang secara bersamaan. "Bagaimana Han?" bisik dia sembari menyenggol lengan pria itu.


Entahlah dalam hati.


Nola memukulnya. "Sialan! kau masih bisa bercanda?"


Kedua orang itu masih di dunianya, berbeda dengan Valerie yang santai menyilangkan kaki sambil bersenandung.


"Kalian tidak duduk?" tanya Valerie.


Mereka saling pandang.


"Aku ada cara supaya Darren tidak marah, mau tahu?"


Valerie mulai, dia melihat keduanya mengangguk. "Sini!" dia melambai-lambaikan tangan meminta kedua pengawal duduk di sampingnya.


"Jangan pulang!"


Hah!?


"Kalau kalian tidak pulang Darren tidak akan bertanya, selesai!" katanya.


Mudah sekali, kata Nola dan hati.


He He He


Valerie tertawa kecil, melihat ekspresi wajah kedua pengawalnya. Dia menepuk pundak Nola. "Tidak perlu khawatir, jika kau dan Han dipecat, aku bisa menggaji kalian."


Han memijat pelipisnya, dia tidak tahu istri bosnya akan seberani itu. Dia berdiri dan menarik Nola. "Sepertinya kami harus melapor pada tuan Darren."

__ADS_1


Valerie tidak menahan mereka, dia mengangguk mengiyakan. "Baiklah," singkat padat dan jelas.


"Oh iya, bisa sampaikan pesanku?"


Nola menatap Valerie.


"Katakan pada Darren, dia tidak akan menandatangani surat apapun. Suruh dia kesini bicara padaku."


Berani-beraninya pria itu hanya mengirim surat untuk bercerai, pikir Valerie.


Han dan Nola pergi.


.


Mereka sudah berada di dekat kediaman Lee, tetapi Han menghentikan mobil. Dia menghembuskan nafasnya pelan di dalam mobil, keduanya menyusun kata-kata untuk menyampaikan kabar pada Darren.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nola.


"Apa lagi, kita bicara yang sebenarnya."


"Aku tidak tahu Nyonya akan melakukan tindakan ekstrem,"


"Nyonya sepertinya tidak ingin bercerai, dia bahkan belum membuka amplop itu. Bagaimanapun kita harus segera melapor." jelas Han.


Nola setuju, dia juga sependapat bahwa Valerie tidak ingin bercerai dan mereka harus segera menemui Darren.


Han melajukan mobilnya kembali ke kediaman Lee. Sampai di sana keduanya turun dan langsung menemui Darren di ruang kerjanya.


Saat ingin mengetuk pintu, Are keluar meminta mereka masuk. Seperti ketua pengawal sudah mengetahui kedatangan keduanya.


"Tuan," panggil Han.


Nola meremas tangannya, mendadak bisu.


"Saya berharap mendapat kabar baik." ujar Darren yang masih sibuk membaca berkas pekerjaannya.


Baik Han dan Nola terdiam, mereka tercekik ingin menyampaikan apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Darren karena kedua pengawal itu tidak menjawab pertanyaannya.


"Tuan, kami gagal menjalankan tugas." menunduk malu.


Gagal ya gagal, kenapa mesti malu. Dalam hati terdalam dia begitu senang, artinya rencana dia kali ini berhasil.


Dibalik misi yang gagal ada Darren yang tersenyum lebar.


Yang terlihat, Darren tidak menunjukkan ekspresi apapun tetapi suara helaan nafas pria itu menjadi sirine berbeda ditelinga keduanya.


Helaan nafas Darren menurut pandangan Han dan Nola sama dengan kecewa.


Namun, bagi Darren itu adalah kebahagiaan, dia akhirnya berhasil. Hore.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2