The Secret Bride

The Secret Bride
Episode 32


__ADS_3

Elena masuk ke dalan kediaman keluarga Wang, saking tergesa-gesa dia meninggalkan anak dan suaminya dibelakang. Rey menggendong Leon. "Apa ibumu selalu bersemangat seperti itu?"


"Tentu saja, Ayah tidak tahu? Ayahkan suaminya." balasan Leon menghantam ulu hatinya. Rey hanya bisa menertawai kebodohannya.


...🖤...


"Nona Elena." pelayan itu memberi hormat. "Saya ingin menemui Ji Hyo." ungkapnya sembari tersenyum sopan kepada kepala pelayan itu.


"Nona muda sedang di kamarnya, silahkan." dia mempersilahkan.


Elena berjalan mengikuti pelayan itu. "Apa kak Larry di sini?" pelayan itu berhenti. "Tuan baru saja pergi Nona."


"Kalau kak Ha Joon?" tanya Elena. ragu-ragu dia menjawab. "Tuan muda? emm--"


Elena bisa melihat kepala pelayan itu ragu. "Apa kak Ha Joon di sini?" dia mengulangi pertanyaan yang sama.


Dia mengangguk. "Tuan muda, ada diatas." mereka melewati lorong panjang sampai di sebuah tangga, kepala pelayan itu mempersilahkan Elena untuk naik sendiri. "Silahkan." Elena mengangguk lalu pergi. dia bahkan tidak ingat di mana suami dan anaknya.


Elena menaiki tangga, diujung tangga itu dia belok kanan, dari sana dia bisa melihat Ha Joon sedang duduk di depan satu kamar yang dia tahu milik Jihyo. "Kak Ha Joon?" panggil Elena membuat dia menoleh.


"Elena. Ji Hyo pasti meneleponmu." mendengar itu dia hanya bisa tersenyum tipis sembari mengangguk.


"Saya masuk dulu ya kak." Elena mengetuk pintu. "Ji Hyo"


...🖤...


Ji Hyo bisa mendengar suara Elena, dia berjalan dan membuka pintu, saat membuka pintu dia bersembunyi di belakangnya, elena masuk. Ha joon hanya bisa menghela nafas panjang dan berat.


Mereka duduk, wajah Ji Hyo sembap karena air mata. Elena memeluknya erat memberi dia kekuatan. Jihyo merasa dia gagal, hubungannya dengan Ha Joon yang dia pikir akan bertahan lama akhirnya menjadi seperti ini. elena memegang bahu Jihyo dan mendorongnya menjauh sedikit darinya. "Jihyo, aku tahu kau sedih, itu wajar. tapi apa benar memang seperti itu?" Elena belajar dari kesalahan masa lalu, seperti Rey yang meninggalkannya karena hasutan pihak lain.

__ADS_1


"Aku melihat fotonya, itu asli." dia mengusap air mata yang jatuh. "Aku benar-benar seperti dilempari kotoran saat melihat itu." Ucapnya lagi.


"Kau sudah mengecek itu asli?" tanya Elena. Walau Ji hyo dari kalangan atas, dia dimanja layaknya seorang putri. Dia tidak akan bisa mencari informasi sendiri, selalu meminta bantuan kakaknya atau orang kepercayaan kakaknya. Jika dia meminta bantuan kakaknya maka larry sudah pasti akan memukul Ha joon hingga babak belur, tetapi saat dia melihat Ha joon, wajahnya masih terlihat baik-baik saja. Elena menganalisis keadaan. saat seseorang pernah berada dalam situasi serupa, maka dia akan lebih ahli.


"Aku menemui seseorang ahli. dia melihat foto itu asli." jawab Ji hyo


"Seorang ahli? dimana kau menemukannya?"


"Samping Cafe tempatku bertemu dengan orang yang memberikan foto itu. Ada cafe bernama Hanama, di sampingnya ada studio foto besar. Aku melihat di papan promosi, jika mereka punya ahli yang bisa mengetahui foto dan video palsu. Lalu aku kesana dan mereka bilang foto itu asli."


"Kamu ketemu orang itu dimana? maksudku, orang yang memberimu foto Ha joon berselingkuh?" terlalu kebetulan jika seperti itu ceritanya.


"Dia mengirimiku Pesan, lihat" Ji hyo membuka pesan orang itu lalu memperlihatkannya kepada Elena.


"Aku akan menelepon Kak Valerie." Ji hyo mengangguk. Elena menekan nomer valerei, dia menunggu hingga tersambung tapi valerei menolak teleponnya. Apa kak Valerei sibuk? batinnya.


Ji hyo melihat Elena yang memiringkan kepalanya. "Tidak diangkat?"


"Hah?" Ji hyo lumayan kaget.


Valerei jarang menolak panggilan sahabatnya, hanya jika dia sedang mau naik pesawat atau dia sedang tertidur. Bahkan saat rapat valerei masih mengangkat telepon atau jika tidak, dia akan mengirim pesan bahwa dia akan menelepon setelah rapatnya selesai. Kali ini pesan itu tidak ada


"Aku akan mengirimkan dia pesan saja." Ji hyo mengangguk. dia mengetik pesan lalu dikirim ke valerei.


^^^To. Valerei^^^


^^^-Kak, aku di rumah kak Larry, jika kau melihat pesan ini, bisa meneleponku?^^^


...🖤...

__ADS_1


Darren bangun lebih dulu, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Setelah subuh tadi dia menunaikan kewajibannya, dia langsung pergi ke ruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda, beberapa dokumen perlu di cek. Tidak sampai sejam bergulat dengan pekerjaannya, dia memutuskan untuk berbaring kembali di samping istrinya.


Darren mengecek ponselnya yang sejak semalam dia tinggal. Disana banyak pesan yang belum terbaca, salah satu adalah pesan dari Yu ra. Dia membaca lalu menutup kembali aplikasi pesannya dan mengecek beberapa email yang masuk.


Pria itu memutuskan bekerja di rumah. Jika dulu dia lebih suka di kantor, maka sekarang dia akan berada dirumah sepanjang waktu. Sebenarnya dia tidak harus ke kantor sesering itu, tapi darren adalah orang yang sangat mencintai pekerjaan. Dia akan bosan jika harus berada dirumah. Lagipula sudah ada CEO dan para Direktur yang mengurus perusahaan.


Dia turun ke bawah, melihat para pelayan yang lalu-lalang. "Panggilkan kepala pelayan." perintah Darren pada salah satu pelayan dan duduk di ruang santai menyalakan TV.


"Tuan memanggil saya?" dia datang memberi hormat. Darren mengangguk dan memintanya untuk duduk. "Mulai hari, tolong beritahu Valerei apa yang ingin dia makan sebelum memasak. Pastikan tidak ada MSG didalam makanan yang dia makan, lalu jangan biarkan dia sering minum-minuman dingin atau soda dan juga ingatkan dia untuk minum obat yang Yu ra berikan." Kali ini Darren seperti ibu yang khawatir pada anaknya. Pelayan ini tersenyum sambil mengangguk. "Baik tuan, saya akan memberi tahu pelayan yang lain." dia pamit.


Darren kembali menonton berita di TV. "Tuan" Are berdiri tepat dibelakang Darren. "Sepertinya anda harus melihat ini." Are memberikan Tab miliknya.


Darren mengambil dan melihat berita yang tersebar di perusahaan. Di perusahaan Darren, Hill Group ada dinding yang berisi artikel yang dibuat oleh bagian informasi internal perusahaan. Semua berita tentang perusahaan termasuk pengumuman bukan hanya dikirim lewat email tapi juga di sebarkan lewat selembar kertas yang di tempel. Di sana tertempel foto wanita yang dia tidak kenal dan dirinya di sandingkan bagai pasangan ter-favorit. Judul yang membuat dahinya mengernyit "Wanita cantik dibalik suksesnya sang penguasa" .


Berlebihan. Karyawannya mungkin terlalu santai, hingga perkara seperti ini menjadi bahan pengumuman di dinding perusahaan. "Saya akan menelepon Pak Oskar." Are menyarankan. Darren mengangkat tangannya. "Tidak perlu. mencoba mengklarifikasi artinya mengiyakan gosip. itu yang akan di tangkap karyawanku."


"Kenapa begitu tuan? bukankah lebih baik jik--"


"Are, kau takut istriku tahu?"


"Nyonya mungkin tidak nyaman mendengar berita seperti itu, tuan." Bagaimanapun Valerei adalah bosnya. Istri dari bosnya adalah bosnya juga kan? itu pikiran yang selalu dia bawa, semenjak kejadian di apartemen Valerei.


"Sayang, dia sudah tahu!" Larry sahabat baiknya yang TERKASIH sudah lebih dulu memberitahu istrinya.


"Urus saja masalah yang lebih penting. Masalah ini tidak usah digubris, jika ada yang harus turun tangan, orangnya bukan kita." ucapnya lagi, dia merasa berita itu tidak penting, sama sekali!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2