
Aku seorang perempuan yang sulit jatuh cinta dan tak terlalu berharap akan cinta.
Tapi semenjak pertemuan pertamaku dengan seorang lelaki yang bernama Aldo, membuat sudut hatiku bergetar.
Rasa yang tak pernah ku rasakan dan yang tak pernah ku mengerti.
Dia lelaki pertama yang membuatku jatuh cinta dan merasakan perasaan tak biasa.
Tapi hatiku seakan tak menentu dan seperti di sambar petir ketika Abah mengatakan akan menjodohkan ku dengan anak dari sahabatnya, pengasuh pondok pesantren di Jombang.
Ya dia Ahmad Rafiq, nama lelaki itu.
Entalah aku pun belum mempunyai perasaan sedikitpun dengannya mungkin karena kamu belum bertemu.
Iya aku belum pernah bertemu dengannya dan tak terlalu berharap akan pertemuan itu.
Yang aku tau Ialah menjadi penyebab kegagalan pernikahan ku dengan Aldo.
Tapi aku pun tak bisa menyalahkannya sepenuhnya.
Bagaimanapun ini terjadi susah ketentuan dari takdir Allah.
Ya bukankah Allah sudah menetapkan takdir manusia tentang jodoh, kematian, rezeki sebelum 50.000 ribu tahun penciptaan langit dan bumi? terlebih ini juga keinginan Abah .
Bagaimana mungkin aku menyalahkannya sepenuhnya? meski aku pun kecewa.
Aku tak bisa menentang Abah dan menolak keinginannya. Meski aku bisa saja, tapi jujur aku tak ingin mengecewakan Abah oleh sebab itu aku menerima dan diam saja walau aku sangat terluka dengan perjodohan ini.
Aku fikir, Abah akan tau melihat sikapku bagaimana menerima perjodohan ini yang tak terlalu antusias.. Tapi sepertinya Abah tak memahami ku sikapku mungkin karena aku mengatakan telah menyetujui nya dan diam saja ? entalah aku juga bingung.
Tapi jujur saja kini aku tak banyak berharap dari lelaki itu dan tentang perjodohan ini.
__ADS_1
Iya, aku hanya berharap jika memang ia jodohku semoga Allah mendekatkan kami, ntah bagaimanapun caranya.
Namun bila tidak semoga Allah menjauhkanku dari dia sejauh jauhnya dan menghilangkan perasaan ini.
Karena jujur saja hingga kini aku masih menyimpan perasaan dengannya.
Lalu salahkah aku bila tetap melangsungkan pernikahan ini dengan lelaki pilihan Abah tetapi aku masih menyimpan rasa dengan Aldo dan masih sangat mencintainya hingga detik ini ?
Aku ingin jujur dengan Abah, tapi aku tak ingin mengecewakan Abah dengan apa yang sudah aku utarakan nantinya, karena perasaan ku yang tidak jelas ini .
Perasaan yang tak harus ku turuti.
Karena aku pernah dengar jika cinta datang karena terbiasa, bukankah begitu?
Pernah bukan kalian mendengarkan ungkapan begitu ?
Ya,oleh sebab itu aku yakin bila pernikahan ku dengan sahabat Abah, Ahmad Rafiq lelaki itu bisa menumbuhkan cintaku padanya akhirnya meski kini perasaan itu belum ada sedikitpun untuknya karena perasaanku masih di penuhi oleh Aldo, lelaki pertama yang membuatku bergetar dan jatuh cinta.
Lalu salahkah bila aku berharap ia menjadi pendamping ku ?
salahkah bila aku berharap perasaan ini terbalaskan ?
salahkah bila aku berharap ia datang ke rumahku dan meminta izin kepada Abah untuk melamar dan meminang ku ?
Salahkah bila aku ingin memulai kisah cintaku dan bahagiaku dengan lelaki yang ku cintai ? lelaki yang untuk pertama kali membuatku bergetar?
Meski aku tau tentu akan ada suka dan duks dalam pernikahan tersebut.
Tapi sayangnya, aku yang terkenal selalu menurut dan diam , tak mungkin membantah dan mengecewakan Abah hingga membuatku menerima lamaran dan pinangan dari lelaki yang tak ku cintai, lelaki dari anak sahabat Abah dan membuatku harus merelakan dan mengikhlaskan lelaki yang ku cintai .
__ADS_1
Ya, aku hanya mampu berdoa kepada Allah.
Ku serahkan kisah cintaku ini kepada Rabb ku
Biarlah Allah yang menentukannya.
Bila Aldo, lelaki yang ku cintai baik untukku semoga Allah mendekatkan kami.
Namun bila Aldo bukan yang terbaik untukku semoga Allah menjauhkan kami dan menghilangkan perasaan cintaku ini padanya.
Begitupun dengan Ahmad Rafik, lelaki yang akan di jodohkan denganku.
Bila ia baik untukku semoga Allah mendekatkan kami, semoga kami segera bertemu dan ia meminangku.
Namun bila tidak , semoga Allah jauhkan bila bisa tak perlu aku bertemu dengannya,
tak perlu ada pertemuan itu.
Ya, aku berpasrah kepada Tuhanku, Allah.
Bukankah terkadang yang kita anggap baik bisa saja bukan tentu yang terbaik menurut Allah untuk kita ?
Dan bila kita menganggap buruk sesuatu tersebut, bukankah Allah lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita ?
Lalu aku punya hak apa untuk mengatur Allah menentukan kisah cintaku seperti yang ku inginkan, sedangkan Allah, Tuhanku lebih mengetahui segalanya.
Dan punya hak apa aku untuk kecewa dan membantah sedangkan Allah tau yang terbaik untuk ku dan tentu saja sudah merencanakan yang terbaik untukku, bukankah begitu ?
Ya kini aku hanya bisa mencintainya dalam diam dan mencoba mengikhlaskannya..
Kini aku pun hanya bisa berpasrah dan berdoa.
__ADS_1
Biarlah kini kisah cintaku, ku pasrahkan pada Tuhanku.