
Ainun masih terbayang pembicaraan dengan Umminya tadi siang, membuat ia benar benar kalut.
Pikirannya terlalu riuh memikirkan semuanya, hingga rasanya hatinya pun ikut lelah.
Sepoi angin sore seakan mengantarkan kesejukan dan membuat pikirannya sedikit ter refresh.
Tanpa sadar bulir bulir air matanya pun mulai membasahi pipinya.
Ainun pun segera menghapus bulir air matanya di pipinya dan menghembuskan nafas cukup panjang.
Baginya, menjalani pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah, karena begitu banyak hal yang perlu di pertimbangkan termasuk kesiapan mental juga jiwanya.
Ah, apa bisa ia tetap melangsungkan pernikahan ini, sementara hatinya pun sedang tak menentu seperti semerawut.
Untuk sejenak, dalam beberapa detik hingga menit, Ainun menghembuskan nafas pendek berulangkali untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
Mengapa ia bisa sekacau ini, dengan keputusan yang telah di ambilnya.
Tadi siang, ketika Umminya bertanya mengenai pernikahan tersebut agar si percepat, tak ada kata yang bisa Ainun berikan kepada Umminya kecuali perkataan "iya" agar Umminya tak kecewa padanya.
"Gimana? kok gak jawab? Eh malah ngelamun ... kamu setuju kan bila di percepat? toh kalian saling mencintai kan?, nduk gak baik jika kamu dekat dengannya sementara kalian belum resmi menjadi pasangan halal, yang ibu takutan itu akan berakhir dengan zina dan dosa nantinya. Bukan hanya kamu, Ummi dan Abah juga akan kena dosanya, oleh sebab itu Ummi mengingatkanmu.
Terlebih bila Abahmu tau, duh Ummi gak bisa bayangkan, bisa berabe.. selain bisa marah Abahmu pasti juga akan kecewa padamu dan merasa gagal menjadi orang tua, seorang ayah yang telah gagal mendidik anak gadisnya hingga berakhir pacaran seperti itu." tegas Umminya Kembali saat tak kunjung ada jawaban dari Ainun.
"Ummi, Ai sama Aa' Ahmad Rafiq gak ada hubungan apapun, kecuali perjodohan yang sudah di rencanakan itu.
Jika pun kami bertemu tak lebih membicarakan tentang seputar perjodohan, hal yang memang penting harus di bahas.
, setelah obrolan penting itu selesai kami juga akan pulang kok ummi, dan gak akan obrolan itu menjurus ke mana mana, karena kami juga tau ummi bagaimana batasannya.
Kami tidak pernah hubungan lewat chat ummi, aku pun gak tau nomernya Aa' Ahmad Rafiq, begitupun dia Ummi... oleh sebab itu jika ada hal yang benar benar penting kami akan bertemu untuk membicarakannya." ucap Ainun yang mencoba menjelaskan kepada Umminya.
"Hemm begitu ya, oke ummi percaya.. Tapi kalau ummi boleh tau pembicaraan apa sih yang kalian bicarakan atau obrolin itu? sampai kalian harus ketemuan?" tanya Umminya yang masih ingin tau mengenai anak gadisnya.
__ADS_1
"Humm, ada deh ummi ...intinya masih berhubungan dengan pernikahan kita kok ummi. Jadi ummi jangan khawatir, karena kami gak akan membicarakan hal hal yang aneh." ucap Ainun.
"Hemm, baiklah ummi percaya. Tapi..." jeda Umminya menghentikan ucapannya.
"Apa ummi?" tanya Ainun yang bingung.
"Ummi tetap ingin pernikahanmu di percepat, Abahmu juga pasti setuju.
Terlebih bila Abahmu tau kamu ada hubungan dengan Aa' Ahmad Rafiq sebelum halal, pasti ayahmu akan marah besar padamu dan sangat kecewa juga pastinya." jelas Umminya pada Ainun, yang membuat Ainun terdiam untuk sejenak.
"Bagaimana? toh sepertinya kamu juga sudah dekat dengan Ahmad Rafiq dan mungkin sudah tumbuh cinta di antara kalian, ummi rasa.." ucap Umminya.
"Humm, dekat bagaimana ummi? dan apalagi tumbuh cinta? Ah, ummi ngaco." ucap Ainun di iringi tawa kecil.
"Ya, buktinya kalian sering bertemu, sudah dekat kan? dan ya secara otomatis kalau sering ketemu akan tumbuh benih benih cinta Seiring berjalannya waktu.
Mungkin sekarang bisa saja sudah ada kan, benih benih cinta itu?
Bila pun tidak sekarang, mungkin nanti.
"Hemmm, terserah ummi sajalah." ucap Ainun lemah.
"Kok terserah ummi sih Ai? kan kalian yang menjalani hubungan tersebut." ujar Umminya kembali.
"Iya tapi kan ummi yang maksa Ai terus untuk mempercepat pernikahan tersebut." ujar Ainun lemah.
"Ya kan ummi demi kebaikanmu Ai supaya gak terus menerus dalam dosa dan bisa jatuh dalam zina, ya kan? ini juga demi kebaikanmu Ai, ummi minta percepat pernikahan kalian itu, supaya hal yang gak di inginkan jangan sampai terjadi." ujar Umminya kembali.
"Iyalah ummi, Ai ngikut aja kata ummi dan Abah mana yang terbaik.
Karena sebagai anak kan Ai harus patuh dan gak ada hak buat bantah atau menyerukan pendapat?" lirih Ainun yang seakan lupa atas apa yang sudah di ucapkannya.
"Yaa Allah apa maksudmu Ai? jadi kamu menikah ini karena paksakan?" tanya Umminya.
__ADS_1
Ainun menunduk untuk sejenak dan mengalihkan pandangannya agar Umminya tak mengetahui tentang perasaannya dan apa yang ia rasakan.
Ainun pun menghembuskan nafasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya sebelum mengangkat kembali wajahnya.
Setelahnya Ainun pun mulai berbicara.
"Astaghfirullah, maaf ucapan Ainun ya Ummi.. Iya ummi, Ainun setuju karena Ainun tau pilihan ummi dan Abah yang paling terbaik untuk Ainun. Bukankah orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya? Dan itu yang Ainun percaya, Abah dan Ummi pasti menginginkan yang terbaik untuk Ainun." ujar Ainun berusaha tersenyum.
"Sekali lagi Ainun minta maaf ya Ummi atas pernyataan Ainun yang tadi..maaf..." lanjut Ainun penuh sesal.
"Iya gak papa, Ummi sudah maafkan.. Tapi ummi harap jika memang kamu tidak menyetujui pernikahan ini katakan saja, karena ummi gak mau anak ummi menikah dengan paksakan. Tapi kalau memang Ainun benar benar sudah mulai ada rasa dengan Aa' Ahmad Rafiq, sudah merasa nyaman juga dengannya meski belum hadir rasa cinta di antara kalian, sebaiknya di percepat saja karena takutnya setan masuk dalam hubungan kalian dan lama kelamaan tanpa sadar akan membuat kalian jatuh dalam dosa dan zina." jelas Umminya, yang menjeda ucapannya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Jadi.. Sekarang, ummi serahkan ke Ai aja bagaimana enaknya, mau di percepat atau gak?, mau lanjut atau gak?... Ummi gak mau maksa lagi karena ummi gak mau pernikahan kalian nanti kenapa napa, karena kamunya nanti toh yang menjalankan pernikahan tersebut? tapi Ummi hanya ingin bilang, pernikahan tanpa cinta gak selalu berakhir gak bahagia pernikahan tersebut atau gak mungkin, gak menumbuhkan cinta." ujar Umminya mencoba menasehati Ainun.
"Iya Ummi, ... tapi Ai emang ngikut dan percaya dengan pilihan Ummi juga Abah yang insya Allah terbaik buat Ai." ujar Ainun kembali berusaha tersenyum.
"Iya, kami memang memilihkan tapi keputusan sepenuhnya padamu Ai." lanjut Umminya.
"Iya Ummi, Ai paham..." ujar Ainun dengan tersenyum.
"Jadi bagaimana?" tanya Umminya kembali.
"Kamu fikirkan dulu ya, Ummi beri waktu.. Nanti coba Ummi juga bicarakan sama Abahmu atau setelah mendapatkan jawaban darimu, akan ummi bicarakan dengan Abahmu dan kita berdiskusi tentang hal ini, bagaimana? setuju kan? jadi di sini tak ada paksakan ya, kamu berhak mengutarakan pendapatmu juga, jangan hanya tergantung kami orang tua." ujar Umminya kembali.
"Iya ummi.. mungkin akan Ainun fikirkan dan renungkan terlebih dahulu. Beri Ai waktu untuk memikirkan dan istikharah ya Ummi, sebelum berbicara dengan Abah dulu kalau bisa Ummi." ujar Ainun.
"Oke, tenang, insya Allah Ummi gak akan. berbicara dengan Abahmu...ummi setuju dengan keputusanmu ini." ujar Umminya.
"Kalau sudah ada keputusannya, segera beritahu Ummi ya." lanjut Umminya dengan masih tetap tersenyum.
"Iya ummi.." ujar Ainun yang sejenak menunduk dan tersenyum kembali kepada Umminya.
"Assalamualaikum.. Ummi, Ai," ujar Abahnya yang baru pulang mengecek pondok pesantrennya.
__ADS_1
"Ternyata kalian di sini toh, mulai tadi Abah cari cari." lanjut ujar Abahnya.
Kedatangan Abahnya membuat mereka sedikit terkejut, dan Ainun pun cemas juga bertanya tanya takut Abahnya sudah mendengarkannya, begitupun dengan Umminya juga merasa cemas dan bertanya tanya.